
Angin laut yang berhembus dan suara deburan ombak menemani kesendirian Vivian. Dia masih berada di pantai dan berdiri di sisinya.
Entah sudah berapa lama dia di sana dia sendiri tidak tahu karena dia ingin mencari jawaban atas kegelisahaan yang ada di dalam hatinya tapi semakin keras dia berpikir, dia tidak mendapatkan jawabannya.
Vivian menghela nafas dan memandangi laut malam, apa karena Matthew mafia sehingga membuatnya jadi ragu untuk belajar mencintainya? Atau karena nasehat kakeknya?
Dia tahu selama ini Matthew mencintainya dengan tulus, dia dapat merasakan semua yang Matthew lakukan terhadapnya begitu tulus dan tidak ada sedikitpun kebohongan, tapi kenapa perasaannya jadi seperti ini?
Dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia tidak mau kebersamaannya dengan Matthew berakhir begitu saja tapi jika mereka terus menjalin hubungan, apakah kakeknya akan menyetujui hubungan mereka saat tahu siapa pria yang dia pilih?
Inilah yang dia pikirkan sedari tadi, dia takut jika dia memilih bersama dengan Matthew, kakeknya akan kecewa dengannya. tapi jika dia meninggalkan Matthew, bagaimana dengan mereka berdua?
Vivian kembali menghela nafas dan memandangi ombak yang menggulung dan menerjang bibir pantai. Dia sungguh tidak bisa memutuskannya dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Dia bahkan tidak melihat data Matthew yang diberikan Patrik lagi karena dia takut hatinya semakin bimbang setelah melihat semuanya.
Pada saat itu, Matthew sudah tiba di pantai setelah mendapat laporan dari James jika mereka telah menemukan Vivian.
James sudah menunggunya dan menunjuk ke arah pantai dimana seorang gadis sedang berdiri di sisi pantai.
Matthew memerintahkan anak buahnya untuk pergi dan segera berjalan dengan cepat untuk menghampiri Vivian, entah apa yang terjadi dengan gadis itu dia sungguh ingin tahu.
Dengan perlahan matthew mendekati Vivian dan memeluknya dari belakang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Matthew sambil berbisik sedangkan Vivian sangat kaget dengan kehadirannya.
"Matth, kenapa kau bisa ada di sini?"
"Mencarimu sayang, ini sudah malam. Apa kau tidak mau pulang?"
"Entahlah Matth," jawab Vivian.
"Apa maksudmu entahlah? Ada apa denganmu hari ini?" Matthew memutar tubuh Vivian dan memandangi wajahnya sedangkan Vivian membuang wajahnya ke samping.
"Babe, ada apa denganmu? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Matthew heran. Sebelum pergi menemui rekannya Vivian tampak baik-baik saja tapi kenapa dia terlihat aneh sekarang?
"Tidak."
"Lalu?"
Vivian memandangi Matthew sejenak, dia jadi ingin tahu, apa Matthew mau berkata jujur dan mengatakan siapa dirinya jika dia bertanya?
__ADS_1
"Matth, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja! Sudah aku katakan bukan? Kau boleh menanyakan apapun yang mengganjal dihatimu."
Vivian tersenyum dan melepaskan dirinya dari pelukan Matthew, dia berjalan semakin mendekati bibir pantai dan memandangi laut.
Matthew mendekatinya dan masih belum mengerti, apa yang ingin Vivian tanyakan?
"Apa yang ingin kau tahu babe?''
"Aku...aku ingin tahu," Vivian memalingkan wajahnya dan menatap Matthw dengan lekat.
"Apa benar kau seorang mafia Matth?" tanya Vivian dan matanya tidak lepas dari Matthew.
"Ya!" jawab Matthew tanpa ragu.
"Aku memang seorang mafia, apa kau seperti ini karena kau sudah tahu siapa aku yang sebenarnya?" Matthew meraih pinggang Vivian dan mendekatkan tubuh mereka hingga tidak memiliki jarak.
"Aku?"
"Babe," Matthew mengusap wajah vivian yang terasa dingin dengan lembut.
"Aku memang mafia karena aku terlahir dari keluarga mafia. Ayahku, kakekku mereka juga mafia sejak muda, kami memang mafia tapi kami tidak seperti yang orang-orang pikirkan. Kami juga tidak menjual obat-obat terlarang dan melakukan penyeludupan. Semua itu tidak perlu kami lakukan karena tanpa melakukan hal itu semua, kami tidak kekurangan uang sama sekali. Aku memang membuat senjata dan menjualnya keberbagai negara tapi itu bukan senjata ilegal. Selebihnya kau tahu bukan tanpa perlu aku jelaskan panjang lebar?"
"Apa kau jadi seperti ini setelah kau tahu siapa aku?"
Vivian masih diam saja, memang itulah yang terjadi saat ini. Menjauhi Matthew tapi bukan karena dia benci dengan Matthew tapi karena dia ingin menenangkan hatinya.
"Maaf aku?"
"Sekarang aku tanya padamu, apa kau kecewa setelah tahu profesi lainku?" Matthew memandanginya dengan serius sedangkan Vivian menggeleng.
"Jawab aku babe, apa semua yang aku lakukan untukmu selama ini kau anggap palsu? Perasaanku, ungkapan cintaku, apa kau pikir aku bermain-main dengan hal itu?"
"Tidak!" jawab Vivian karena dia tahu Matthew begitu tulus.
"Aku pernah berkata padamu bukan? Aku bukan pengemis dan akan sangat berat dicintai olehku. Jika kau tidak bisa menerima aku yang seperti ini berarti kau tidak bisa menerima seluruh keluargaku," Matthew melepaskan Vivian dan melangkah mundur.
"Putuskanlah sekarang babe, jika kau tidak bisa menerima aku maka aku akan melepaskanmu dan melupakanmu untuk selamanya karena aku tidak mau memaksamu. Aku tidak seperti orang-orang yang suka memaksa wanita dan menyiksanya, tapi jika kau mau menerimaku maka bersiaplah karena aku akan mencintaimu sampai mati. Kau tidak akan aku lepaskan walaupun kau ingin pergi dan aku berjanji padamu jika kau tidak akan pernah menyesal menjadi wanitaku, menjadi bagian dari keluargaku. Aku akan bersumpah akan hal itu!"
Mata Vivian berkaca-kaca, dia senang mendengarnya tapi nasehat kakeknya kembali terngiang dan membuatnya kembali dalam dilema karena dia tidak mau mengecewakan kakeknya.
__ADS_1
"Bukannya aku tidak bisa menerimamu Matth," ucapnya seraya menutup wajahnya karena air matanya mulai mengalir.
"Lalu, apa yang menjadi permasalahannya?"
"Kakekku, dia tidak akan pernah menyetujui hubungan kita."
"Kenapa? apa kau sudah mengatakan hal ini padanya?"
"Tidak! tapi dia selalu berpesan padaku untuk tidak menjalin hubungan dengan pria yang menggeluti dunia hitam dan aku tahu dia tidak akan pernah menyetujui hubungan kita. aku sungguh tidak mau membuatnya kecewa Matth."
"Bodoh!" Matthew mendekati Vivian dan memeluknya kembali.
"Sekarang jawab pertanyaanku baik-baik, apa kau masih mau tetap bersama denganku? Atau kau mau menyudahi hubungan kita?Jika kau ingin menyudahi hubungan kita maka aku akan pergi dan tidak akan menggangumu lagi untuk selamanya."
Vivian memeluk Matthew dengan erat dan menangis, "Kau tahu jawabannya bukan?"
Matthew tersenyum dan mengusap kepala Vivian dengan lembut, "Jika begitu bersiaplah karena aku akan mencintaimu sampai mati dan mengenai kakekmu, kau tidak perlu menghawatirkan hal ini. Aku jamin dia tidak akan kecewa padamu karena telah memilihku."
Vivian mengangguk, dia sungguh tidak mau memikirkannya lagi dan lebih percaya dengan Matthew. Bagaimanapun dia sudah terjerat oleh Matthew Smith dan tidak bisa lari lagi.
"Maaf membuatmu khawatir," ucap Vivian seraya menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa," Matthew mengangkat dagu Vivian dan mengecup bibirnya.
"Jika kau masih ragu maka aku akan memberimu satu kesempatan lagi untuk memilih agar kau tidak menyesal."
"Tidak, aku tidak akan menyesal karena telah memilih bersama denganmu!" Vivian melingkarkan kedua tangannya di leher Matthew dan menerima ciuman darinya.
Seharusnya dari awal dia tidak perlu ragu karena Matthew begitu mencintainya. Jika kakeknya tidak setuju maka dia akan membujuknya dan dia harap keluarganya tidak akan keberatan dengan keputusannya tapi dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya karena keluarganya saat ini akan kecewa dengannya suatu saat nanti.
"Kau sudah memutuskan untuk memilihku jadi jangan menyesal karena aku akan mencintaimu sampai mati!" bisik Matthew di sela-sela ciuman mereka dan setelah itu mereka kembali berciuman dengan mesra.
Angin malam yang dingin membuat mereka semakin mengencangkan pelukan mereka dan setelah melepaskan bibir Vivian, Matthew menempelkan dahi mereka dan memandangi mata Vivian dengan senyum diwajahnya.
"Ayo pulang ke rumah kita," ajaknya.
"Gendong aku sampai ke motor dan aku ingin kau memboncengku malam ini," pinta Vivian seraya memberikan kunci motornya.
"Seperti keinginanmu sayang," Matthew meraih kunci motor yang ada di tangan Vivian dan memutar tubuhnya dan sedikit berjongkok.
Vivian tersenyum dan naik keatas punggung Matthew dan memeluk lehernya dengan erat, dia percaya dia tidak akan salah memilih.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju motor Vivian yang lumayan jauh dan setelah tiba, Matthew menurunkan Vivian dari gendongannya dan memakaikan helm di kepala Vivian dan naik ke atas motor.
Vivian duduk di belakangnya dan memeluknya dengan erat dan setelah itu Matthew membawa benda itu melesat pergi.