
Sebuah Bar menjadi pilihan Vivian dan rekan-rekannya malam ini untuk berkumpul. Mereka menuju Bar itu pukul tujuh malam dan tentunya, sebuah meja sudah mereka pesan sebelumnya.
Mereka berangkat dari kantor dan ini adalah malam terakhir mereka bersama karena besok, Vivian dan Charlie hanya menerima penghargaan dan setelah itu mereka tidak akan bekerja bersama dengan rekan-rekan yang ada di sana.
Vivian bahkan sudah mengembalikkan motor yang selalu dia gunakan selama dia di Amerika kepada kapten Willys. Mungkin nanti dia harus membeli motor baru karena dia lebih suka menggunakan kendaraan itu.
Dia pasti akan merindukan rekan-rekannya dan yang pasti dia akan rindu dengan aksinya saat menangani kasus.
Vivian dan rekannya sudah berkumpul di dalam Bar, puluhan minuman juga sudah berada di atas meja. Hadiah yang diberikan oleh rekan-rekannya juga sudah dia bawa. Malam ini dia akan menghabiskan waktu dengan mereka sebelum Matthew datang menjemputnya.
Minuman sudah dituang ke dalam gelas dan berada di tangan mereka, mereka mengangkat gelas minuman itu sambil berkata, "Cheers," kemudian mereka mengadukan gelas mereka dan meneguk isinya.
"Angel, apa besok kau dan Charlie akan langsung kembali ke Inggris?" tanya Patrik.
"Tidak, Patrik. Charlie akan kembali sendiri," jawab Vivian.
Dia memang belum mengatakan pada rekannya jika dia akan mengundurkan diri dan menikah.
"Kenapa? Apa kau mendapat tugas baru di tempat lain?"
"Tidak, aku mau mengundurkan diri karena aku mau menikah," jawab Vivian sambil tersenyum.
"Apa?" rekannya tampak terkejut dengan jawaban Vivian terutama Patrik.
Vivian ingin menikah? Dengan siapa? Jangan katakan nanti di altar akan ada dua pengantin wanita dan satu pengantin pria. Tapi bukan dua pengantin wanita yang akan menikahi satu pengantin pria tapi satu pengantin wanita akan menikahi satu pengantin wanita dan satu pengantin pria.
Ini terdengar rumit dan tidak terbayangkan olehnya bagaimana acara pernikahan itu nanti. Tapi etah kenapa Patrik jadi penasaran ketika dia membayangkan pernikahan aneh yang nantinya akan berlangsung.
"Hey, Angel. Apa kau serius akan menikah dengan mereka berdua?" tanya Patrik.
Rekan yang lain langsung melihat ke arah Patrik, apa maksud dari pertanyaannya? Vivian terkekeh, apa dia harus menjelaskan hal ini pada Patrik? Tapi jujur saja, dia suka melihat kesalahpahaman Patrik.
"Patrik, apa maksudnya menikahi mereka berdua?" tanya Ana.
"Hey, apa kalian tidak tahu? Dia itu 3 in 1," jawab Patrik.
"Apa?" semua mata memandangi Vivian, sedangkan Vivian tertawa.
"Tunggu ... tunggu ... apa maksudmu 3 In 1, Patrik?" tanya Ana penasaran.
"Kau tahu bukan jika dia menjalin hubungan dengan Maria?"
Ana mengangguk, memang seperti itu yang dia tahu lalu apa ada Maria yang lain?
__ADS_1
"Waktu kami menyelamatkan Wali Kota, kekasihnya yang lain membantu dan kali ini pria," jawab Patrik.
"What?" Ana melihat ke arah Vivian begitu juga dengan Jerry karena mereka berdua yang tahu akan hal itu.
Vivian tertawa terbahak-bahak dan memegangi perutnya. Patrik benar-benar lucu dan polos.
"Bisa kalian bayangkan saat dia akan menikah nanti? Aku tidak mau melihatnya," ucap Patrik lagi.
"Jangan begitu, Patrik. Aku akan mengundang kalian nanti," ucap Vivian.
"Aku ingin melihatnya, aku ingin melihat pernikahan aneh itu. Kapan lagi, bukan?" ucap Ana.
"Angel, kenapa kau harus berhenti? Bukankah kau bisa tetap bekerja walaupun sudah menikah?" tanya Charlie.
"Aku memang bisa tetap bekerja, Charlie. Tapi aku ingin menikmati hidupku sekarang. Sudah empat tahun aku bergelut dengan bahaya jadi sekarang sudah saatnya aku berhenti dan menikmati hidupku. Kau juga segeralah cari pasangan hidup dan nikmati hidupmu," jawab Vivian.
"Aku tidak akan pernah mau menikah," ucap Charlie.
"Bagaimana jika denganku saja?" goda Patrik.
"Tidak sudi!" jawab Charlie sambil mendengus, sedangkan yang lain tertawa.
"Tapi karirmu sangat cemerlang, Angel. Apa kau tidak menyesal mengundurkan diri disaat karirmu sedang dipuncak?" tanya Charlie.
Dia sangat menyayangkan keputusan Vivian yang mengundurkan diri hanya karena ingin menikah.
"Benar apa yang dikatakan oleh Charlie, kau tidak perlu mengundurkan diri hanya karena ingin menikah. Kau bisa mengambil cuti beberapa bulan dan setelah itu kau bisa kembali bertugas," ucap Patrik.
"Aku sudah memutuskannya, Patrik. Aku ingin memberikan semua waktuku untuk suami dan anak-anakku kelak."
"Ck, bilang saja kau ingin membagi waktu dengan kedua pasanganmu!" gerutu Patrik.
"Apa kau tidak akan menyesal, Angel?" tanya Charlie memastikan.
"Benar, Angel. Pikirkan hal ini baik-baik, jangan sampai kau menyesal nantinya. Bagaimana jika pernikahanmu tidak sesuai seperti yang kau harapkan? Pada saat itu kau pasti akan menyesali keputusanmu karena telah berhenti bekerja," ucap Ana pula.
Vivian diam saja, memikirkan perkataan para rekannya. Apa dia akan menyesal nanti?
"Pikirkanlah, Angel. Jika kau tidak bisa kembali ke Inggris maka kau bisa bekerja bersama kami. Kau bisa bergabung dengan kami, kapten Willys pasti akan dengan senang hati menerimamu," ucap Patrik.
Semua mata menatap ke arah Vivian, mereka berharap Vivian berubah pikiran dan tidak jadi mengundurkan diri.
Vivian tersenyum, dia sudah berjanji pada Matthew jika dia akan mengundurkan diri maka dia tidak akan mengikarinya. Lagi pula Matthew sangat mencintainya, lalu apa lagi yang dia takutkan?
__ADS_1
"Thanks all, aku sudah berjanji dengannya dan aku sudah putuskan akan mengundurkan diri. Aku tidak akan menyesali keputusanku ini karena aku percaya dengannya," ucap Vivian sambil tersenyum.
"Baiklah, tapi dengan siapa kau akan menikah? Maria atau pria itu?" tanya Patrik. Jujur dia masih penasaran.
"Aku akan menikahi mereka berdua pastrik."
"What the hell! Are you serious?" tanya Patrik.
"Yes."
"Oh my God, you're the craziest women i've ever know," ucap Patrik.
Pernikahan dengan dua pengantin wanita dan satu pengantin pria kembali terngiang di kepala Patrik.
Vivian tertawa, dia suka melihat kesalpahaman Patrik jadi dia tidak akan memberitahunya sampai Patrik melihat sendiri di acara pernikahannya nanti.
Mereka bersenang-senang di Bar itu, menghabiskan minuman yang telah mereka pesan bahkan Ana sudah tampak mabuk berat. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh ketika mereka memutuskan untuk kembali.
Vivian memeluk rekannya satu persatu dan dia berjanji akan mengundang mereka kepernikahannya nanti tapi Charlie tidak berjanji akan datang karena dia sudah mendapat tugas baru begitu kembali ke Inggris.
Mereka bahkan tidak membicarakan Felicia karena mereka tidak mau ada yang tahu jika Felicia hanya seorang penghianat yang selalu membantu buronan. Lebih baik tidak ada yang tahu agar agensi yang menaungi mereka tidak malu.
Mereka berpisah di depan Bar dan Vivian menunggu Matthew di sana. Dia tahu keputusannya untuk mengudurkan diri tidak salah walau dia akan merindukan aksinya nanti.
Mobil Matthew berhenti dan ketika melihatnya, Vivian menghampiri mobil itu dan masuk ke dalamnya.
"Sorry, Babe. Apa kau sudah lama menunggu?"
"Tidak, aku baru saja selesai dengan para rekanku."
"Apa menyenangkan?" tanya Matthew seraya memasangkan sabuk pengaman untuknya.
"Yes," jawab Vivian sambil tersenyum.
Matthew tersenyum dan dengan perlahan, tangannya sudah mengusap wajah Vivian dan mengecup bibirnya, "I love you, Babe."
"I love you too, Matth," jawab Vivian.
Sebelum menjalankan mobilnya dan membawa Vivian ke rumah sakit, Matthew mencium bibir Vivian dengan mesra.
Vivian memeluk leher Matthew dengan erat dan tampak bahagia. Matthew begitu menyayanginya jadi dia tidak akan pernah menyesal karena telah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Lagi pula, untuk bahagia harus ada yang dikorbankan dan dia tidak boleh serakah untuk mendapatkan semuanya. Karir dan keluarga memang sama-sama penting tapi keluarga adalah harta paling berharga yang tidak akan pernah bisa digantikan dengan apapun.
Tidak saja memberikan waktunya untuk Matthew, tapi dia juga ingin memberikan waktunya untuk ayahnya karena dia tahu, ayahnya ingin selalu bersama dengannya untuk menebus waktu dua puluh lima tahun yang telah terbuang sia-sia.
__ADS_1
Mobil sudah di jalankan untuk menuju rumah sakit. Jager sudah menunggu kedatangan putrinya karena dia sangat rindu dengan putrinya.
Ketika putrinya sudah tiba, Jager tampak begitu bahagia apalagi putrinya langsung memeluknya. Inilah yang dia impikan sejak dulu dan sekarang, dia sangat bahagia kerena bisa bersama dengan putrinya.