Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Introgasi


__ADS_3

Setelah menangkap orang yang menembak adiknya, Matthew kembali ke kantor. Sepertinya hari ini mereka tidak jadi ke pabrik karena dia mau mengintrogasi orang yang dia tangkap.


Dia akan mencari tahu siapa yang membayar orang itu dan bisa dia tebak, pasti nyawanya yang jadi incaran. Dia yang memiliki banyak musuh sedangkan adiknya selalu di belakang layar, penembak jitu itu pasti salah mengenali mereka berdua sehingga adiknya yang jadi sasarannya.


Ketika melihat kakaknya sudah kembali, Michael bangkit berdiri dan menghampiri kakaknya.


"Bagaimana kak? Apa kita jadi ke pabrik?"


"Besok saja. Aku akan pergi ke markas jadi kau pulanglah!"


"Aku akan ikut denganmu kak," ucap Michael.


"Tidak perlu Mich, yang diincar pasti nyawaku dan dia pasti salah sasaran. Walau begitu aku tidak akan mengampuni orang yang berani melukaimu jadi pulanglah. Jangan sampai mommy tahu hal ini dan membuatnya khawatir."


"Kakak terlalu berlebihan! Aku?"


Sebelum Michael selesai berbicara, Matthew menepuk bahu adiknya dan berkata, "Hanya satu orang bisa aku atasi, kau pulanglah beristirahat dan temani mommy di rumah! Jangan lupa cari tahu mengenai orang tadi dan berikan datanya padaku!"


"Baiklah kak, aku akan segera mencari datanya tapi kakak harus pulang setelah selesai."


Matthew mengangguk dan segera mengajak James untuk pergi ke markas.


Sesuai perintah kakaknya, Michael pulang kerumah. Dia tahu kakaknya pasti menghawatirkan keadaannya dan memang sejak dulu kakaknya selalu seperti itu.


Dimarkas, seember air diguyurkan ke tubuh sniper yang baru saja ditangkap. Tangan dan kaki pria itu sudah terikat dengan rantai dan sebentar lagi dia akan diintrogasi dengan cara yang tidak terbayangkan oleh siapapun.


Pria itu tergolek di atas lantai yang dingin dan kakinya terasa sangat sakit akibat timah panas yang masih bersarang di sana.


Dia segera melihat sekelilingnya yang tampak menyeramkan. Di mana dia saat ini? Kenapa suasana terasa begitu mengerikan?


Pria itu tidak akan pernah tahu apa yang akan dia alami selanjutnya dan sekarang dia sedikit menyesal, seharusnya dia tidak ragu dan langsung menembak targetnya.


Tapi siapa yang tahu jika dia akan tertangkap? Ini memang resiko dalam pekerjaannya dan biasanya dia akan langsung pergi setelah selesai mengeksekusi targetnya tanpa ketahuan tapi hari ini, sungguh bukan hari keberuntungannya.


Suara langkah kaki dan suara pintu yang terbuka membuat pria itu merinding apalagi saat dua orang pria masuk ke dalam ruangan dan berjalan menghampirinya.


Matthew menghampiri sniper yang dia tangkap bersama dengan James, dia menatap orang itu dengan tatapan tajamnya dan rasanya sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa yang membayar orang itu.


"Kau? Matthew Smith?!" ucap orang itu bertanya.


"Menurutmu?"


James mengambil sebuah kursi untuk bosnya dan Matthew duduk di sana, matanya masih menatap sniper yang dia tangkap dengan tajam.


"Katakan padaku, kenapa kau ingin membunuhku?"


"Aku hanya pembunuh bayaran dan aku akan membunuh siapa saja yang menjadi targetku sekalipun itu wanita sekalipun! Aku juga akan membunuh ibu dan nenekmu jika seseorang meminta aku membunuh mereka dan aku akan melakukannya tanpa ragu!"

__ADS_1


"Ck..ck...sungguh punya nyali! Aku mengintrogasimu baik-baik tapi kau mengancam ibu dan nenekku! Aku akan pastikan kau tidak akan pergi dari sini dan sekalipun kau memohon tidak akan aku lepaskan kau dengan mudah!"


"Jangan basa basi katakan saja apa yang ingin kau tahu!" teriak orang itu.


"Bagus, jadi katakan padaku siapa yang memintamu untuk membunuhku?"


Pria itu diam saja enggan menjawab pertanyaan Matthew, setiap pembunuh bayaran telah bersumpah untuk tidak mengatakan siapa yang membayar mereka walau dalam kondisi terdesak sekalipun.


Matthew masih menunggu dan beberapa menit telah berlalu, pria itu tidak juga menjawab dan Matthew mulai tampak kesal.


"Apa kau bisu mendadak sehingga kau tidak bisa menjawab pertanyaanku?!"


"Kau mau menanyakan hal ini berapa kalipun aku tidak akan menjawab!" jawab pria itu dengan sinis.


"Bagus! Cara baik-baik kau abaikan dan sekarang aku tidak akan bermurah hati lagi padamu!" Matthew bangkit berdiri dan menghampirinya.


"James, kira-kira apa yang harus kita lakukan padanya?"


"Karena dia ingin membunuhmu master bukankah lebih menyenangkan mengambil kedua tangannya terlebih dahulu?"


"Ide bagus, jika begitu bawakan alat itu kemari!" perintahnya.


James mengangguk dan segera melangkah pergi, pada saat itu sebuah pesan masuk ke ponsel Matthew dan Matthew segera melihatnya.


Sesuai perintah kakaknya, Michael mengirimkan data orang itu begitu mendapatkannya.


"Nama James, profesi sebagai pembunuh bayaran dan sudah menekuni pekerjaan ini selama tiga tahun!"


"Yes master."


"Coba kau perhatian baik-baik, apa dia kembaranmu yang hilang?" tanya Matthew bercanda.


"What? Kembaranku masih di dalam rahim ibuku master," jawab James asal karena dia tidak punya kembaran.


Matthew terkekeh dan pada saat itu, sebuah alat di bawa oleh beberapa anak buahnya.


Si pembunuh bayaran menelan salivanya dengan susah payah, apa itu?


"Karena kau ingin menembak adikku maka aku akan mengambil kedua tanganmu dan jika kau tidak mau mengatakan padaku siapa yang telah membayarmu maka aku akan mengambil anggota tubuhmu yang lainnya!"


"Aku mana tahu dia adikmu!" teriak pembunuh bayaran itu marah.


"Memang nyali pembunuh bayaran itu berbeda dan aku suka karena aku semakin bersemangat untuk menyiksamu!" ucap Matthew dengan seringai di wajahnya.


Anak buahnya meletakkan alat yang mereka bawa di dekat si pembunuh bayaran, sedangkan pria itu kembali menelan salivanya saat melihat alat yang menyerupai alat untuk menyiksa orang pada abad pertengahan.


Kedua tangan akan dimasukkan kedalam alat itu dan pada saat itu juga siksaan akan dimulai karena alat yang terbuat dari baja akan memanas dan semakin lama akan semakin panas sehingga tangan orang yang dimasukkan kedalam sana akan terbakar.

__ADS_1


"Ma..mau apa kau?" tanya pria itu.


"Masukkan tangannya!" perintah Matthew.


Dua orang anak buahnya mulai melepaskan rantai yang membelenggu tangan pria itu sedangkan dua lainnya membawa alat penyiksaan mendekatinya.


"Lepaskan aku! Sekalipun kau memotong tanganku, aku tidak akan mengatakannya!" teriaknya.


"Aku ingin lihat sejauh mana kau bisa bertahan!"


Kedua tangannya sudah dimasukkan kedalam dan sudah tertutup rapat, sebuah kabel sudah dicolok dan alat itu akan segera bekerja.


"Ha? Mau bercanda dengan alat seperti ini?" ucap pria itu menghina.


Matthew hanya tersenyum, sebentar lagi pria itu akan tahu bagaimana keadaan kedua tangannya di dalam sana.


Tapi dia akan melihatnya sambil mengintrogasi pria itu dan sedikit demi sedikit pria itu akan mulai mengalami siksaan.


"Ayolah, katakan padaku siapa yang membayarmu?"


"Jangan harap aku akan mengatakannya!" jawab pria itu dan dia mulai merasa kedua lengannya sedikit terbakar.


"Aku suka nyalimu, sungguh!" senyum Matthew semakin lebar saat melihat pria itu mulai menunjukan reaksi tidak nyaman.


"A...apa ini? Lepaskan!" pintanya. Sekarang dia semakin merasa panas seolah-olah kedua lengannya berada di atas bara api.


"Kau beri tahu aku siapa yang membayarmu maka alat itu akan dilepaskan!" ucap Matthew.


"Tidak akan!" teriaknya dan sungguh kedua tangannya mulai terbakar di dalam alat yang tertutup rapat.


Pria itu mulai berteriak dan tubuhnya bergetar karena rasa sakit yang dia rasakan. Kedua lengannya bagaikan dicelupkan di dalam larva panas dan dangingnya mulai meleleh di dalam sana akibat panas.


Teriakannya memenuhi ruangan dan keringat membanjiri dahinya, alat yang semakin panas dan rasa sakit yang luar biasa, membuat dia tidak bisa merasakan kedua lengannya lagi. Jika kedua lengannya langsung dipotong mungkin dia tidak akan merasakan rasa sakit seperti itu.


"Maxton, Maxton yang membayarku!" teriaknya karena dia sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakit akibat siksaan itu.


"Bagus! Kau begitu cepat menjawab padahal aku masih mau menyiksamu!" Matthew mengangkat tangannya dan kabel yang tercolok langsung dicabut.


Walaupun kabel sudah dicabut tapi alat itu masih panas, pria itu masih berteriak kesakitan dan pada saat itu juga, kedua lengannya langsung tercabut dari alat yang menghimpitnya. Itu dikarenakan daging yang ada di kedua lengannya sudah meleleh habis akibat panas dan menyisakan tulang saja.


Pria itu berteriak saat melihat kedua tangannya yang hanya tinggal tulang saja dengan daging yang tersisa sedikit.


"Berisik! Lempar dia kedalam kandang serigala!" ucap Matthew seraya bangkit berdiri.


"Apa? Aku sudah mengatakan padamu apa yang ingin kau tahu tapi kenapa kau tidak melepaskan aku?!" teriak pria itu.


"Itu hukuman karena kau sudah menyebut ibu dan nenekku!" jawab Matthew dengan dingin.

__ADS_1


"Tidak, biarkan aku pergi!" teriak pria itu tapi anak buah Matthew sudah menariknya pergi.


Matthew segera keluar dari ruangan itu bersama dengan James. Jadi Maxton yang ingin membunuhnya? Sungguh tidak akan dia biarkan.


__ADS_2