
Vivian menunduk sedangkan Matthew menunggu jawaban darinya. Dia sangat berharap Vivian jujur dengan perasaannya dan dia rasa sudah ada rasa cinta di dalam hati Vivian untuknya.
Tapi waktu terus berlalu dan Vivian masih tetap diam, hal itu membuat Matthew mulai gusar. Jika memang ada tinggal jawab ada dan jika memang tidak tinggal jawab tidak! Apa susahnya?
Apa Vivian tidak tahu apa itu cinta sampai dia ragu dengan perasaannya? Rasanya tidak mungkin karena Vivian pernah mencintai Carlk.
Satu hal yang disadari oleh Matthew saat itu, jangan-jangan perasaan yang dimiliki oleh Vivian untuk Carlk bukanlah perasaan cinta tapi hanya sebuah perasaan nyaman karena Carlk adalah pria pertama yang dekat dengannya, Carlk pria pertama yang tidak dia takuti dan Carlk adalah orang pertama yang memberikan rasa aman untuknya.
Dia jadi ingin tahu, bagaimana tanggapan Vivian terhadapnya selama ini dan bagaimana perasaan Vivian selama bersama dengannya? Apa Vivian merasakan hal yang sama seperti saat dia bersama dengan Carlk?
"Babe, kenapa kau masih belum menjawab?"
"Aku tidak tahu!" jawab Vivian.
"Ck, kau mengerti cinta tidak sih?!"
"Tentu saja mengerti!"
"Lalu? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"
"Aku tidak tahu! Aku mau tidur saja!" elak Vivian.
"Wow, tidak bisa begitu babe. Jawab dulu pertanyaanku, apa sudah ada cinta di hatimu untukku?"
"Aku tidak tahu Fredd!"
"Baiklah, sekarang jawab pertanyaanku yang lain!"
"Apa?" Vivian berdecak kesal dan memutar bola matanya dengan malas.
"Bagaimana perasaanmu saat bersama denganku dan bagaimana perasaanmu saat bersama dengan Carlk. Apakah kau merasakan perasaan yang sama?"
Vivian kembali diam, tentu rasanya berbeda apalagi kebersamaannya dengan Carlk hanya sebatas bertemu dan jalan berdua sedangkan dengan pria aneh ini? Mereka tinggal bersama dan melakukan hal menyenangkan bersama walaupun belum lama dan perasaan itu tidaklah sama saat dia bersama dengan Carlk.
"Babe!" Matthew sungguh tidak sabar.
"Ck, aku tidak mau menjawab pertanyaan seorang penipu sepertimu!" jawab Vivian seraya memalingkan wajahnya.
"Wow, siapa yang penipu?!"
"Tentu saja kau, siapa lagi?! Kemarin kau mengaku sebagai Matthew Smith, sekarang kau menipuku lagi dan mengatakan jika yang aku lihat adalah adikmu! Memangnya kau punya kembaran? Dasar penipu!"
"Oh my, aku memang punya adik kembar!"
"Pembohong!" ucap Vivian tidak percaya.
__ADS_1
"Oh babe, saat adikku datang maka bersiaplah menerima akibatnya!"
"Siapa takut!" tantang Vivian.
"Kau yang memulai babe dan ingat kau jangan kabur saat kedua adikku yang kau lihat datang kemari!"
"Cih, dasar pembohong!" Vivian membuang wajahnya dan masih tidak percaya.
"Kau! Ingat ya, saat adikku datang dan terbukti bahwa aku tidak berbohong maka bersiaplah menerima hukumannya! Kau harus tinggal denganku dan mulai sekarang apapun yang mau kau lakukan kau harus mengatakannya padaku! Jangan lupa juga aku mau memberimu terapi?" Matthew menekuk-nekuk kedua jari-jarinya di depan Vivian sambil tersenyum nakal.
"Ma...mau apa kau?!" Vivian menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Meremasmu!" ucapnya tanpa ragu.
"Da...dasar mesum!" Wajah Vivian memerah sedangkan Matthew terkekeh.
"Jadi?"
"Pergi sana!"
"Tidak mau!" tolak Matthew
Vivian diam saja sedangkan Matthew memegangi tangannya dan mencium punggung tangannya.
"Kau tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja dan aku sudah berterima kasih dengannya menggantikanmu!"
"Lalu bagaimana dengan kedua orang yang menyerang kami dan bagaimana dengan rumahku?"
"Mereka tidak akan mengganggumu lagi babe dan mengenai rumahmu?" Matthew mencium punggung tangannya kembali.
"Di sana tidak aman karena musuh sudah mengetahui keberadaanmu! Mulai sekarang kau akan tinggal denganku dan aku jamin di sana kau akan aman."
"Apa? Aku tidak mau!"
"Babe, aku sedang melindungi pacarku jadi jangan menolak! Kemungkinan yang menyerangmu adalah anak buah buronanmu dan jika kau masih berada di sana maka kau mengantar nyawa. Sebaiknya tinggal denganku, kau pasti aman dan tidak akan ada yang mengganggumu."
"Aku rasa mereka debcolector yang ingin membunuhmu tapi mereka salah sasaran karena saat itu mereka mengincar nyawa orang yang membantuku."
"Benarkah?" Matthew memandangi Vivian dengan serius sedangkan Vivian mengangguk.
Jadi kedua pembunuh itu mengincarnya dan bukan mengincar Angel? Jika begitu kenapa mereka menyerang di rumah Angel dan jika mereka pembunuh yang diutus oleh musuh-musuhnya seharusnya mereka tidak akan salah sasaran. Sepertinya ada yang janggal.
"Babe, dengarkan aku baik-baik. Aku rasa apa yang terjadi tidak semudah yang kita bayangkan. Buronanmu sangat cerdik dan licik bukan?"
Vivian memandangi Matthew dan mengangguk. Memang sampai sekarang hanya sebuah inisial yang selalu dia dapat, bahkan sampai sekarang atasannya yang ada di Inggris juga belum mendapatkan wajah asli buronannya begitu juga dengan atasannya yang ada di sana. Buronan yang cerdik selalu menggunakan wajah palsu sangat sulit dilacak apalagi setiap rencana yang disusun oleh para agen selalu bocor. Apakah ada penghianat yang membocorkannya?
__ADS_1
"Aku akan membantumu babe tapi kau harus percaya padaku dan ingat, jangan percaya dengan orang lain begitu saja! Siapapun buronanmu mari kita tangkap bersama-sama."
"Pasti ada imbalannya bukan?" tanya Vivian.
"Kau sangat tahu dan setelah misimu selesai aku ingin kau menikah denganku, bagaimana?" jawab Matthew sambil tersenyum.
Vivian belum menjawab, menikah dengan Freddy? Apa kakek dan kedua orang tuanya akan setuju?
"Baiklah tapi kau harus menemui keluargaku dan meminta restu."
"Oh babe, pasti akan aku lakukan. Sekarang katakan padaku di mana keluargamu?"
"Kau ingin tahu?"
"Tentu saja!" jawab Matthew.
"Kemarilah, ini rahasia!" Vivian menekuk-nekuk satu jarinya supaya Matthew mendekatinya dan tentu saja, Matthew segera mendekatkan telinganya ke wajah Vivian.
Matthew sangat siap mendengar dari mana asal Vivian tapi tanpa dia duga, Vivian menggigit daun telinganya dengan keras sampai membuat Matthew berteriak dan dia berusaha melepaskan telinganya dari gigitan Vivian.
"Kakak, kami datang!" tiba-tiba pintu terbuka.
Ainsley dan Michael menghentikan langkah mereka saat melihat kakak mereka sedang berteriak karena di gigit sedangkan mata Vivian membulat saat melihat Michael.
"Imposible!" ucapnya dalam hati dan telinga Matthew terlepas dari gigitannya karena mulutnya mengangga tidak percaya.
"Sepertinya kami mengganggu," ucap kedua adiknya.
"Tidak! Akhirnya kalian datang!" ucap Matthew sambil mengusap-usap daun telinganya.
Vivian memandangi Matthew dan Michael secara bergiliran bahkan ketika kedua pria itu sedang berdiri bersama-sama, dia tidak bisa membedakannya sama sekali.
"Nah, babe, bukti sudah datang dan merekalah yang kau lihat!" ucap Matthew.
Vivian tidak menjawab, dia masih melihat kedua pria itu seperti orang bodoh.
"Kak, pacarmu kesurupan!" ucap Ainsley bercanda.
"Babe, hei!" Matthew menghampiri Vivian yang diam saja dan pada saat itu wajah Vivian merah padam, jadi yang dia lihat adalah?
"Ti...tidak mungkin!" ucap Vivian seraya menunjukkan jarinya.
"Sekarang sudah percaya bukan jadi bersiaplah!" Matthew menekuk-nekuk jari jemarinya di depan Vivian siap meremas.
"Ti...tidak dasar pembohong!" teriak Vivian seraya mengambil bantal untuk menutupi wajahnya yang memerah karena malu. Habislah dia setelah ini dan entah mengapa dia jadi merinding.
__ADS_1