Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Mengambil keputusan


__ADS_3

Cuaca yang mendadak berubah membuat hujan mengguyur dengan lebat, hal itu membuat Vivian menghentikan laju motornya dan memilih masuk ke dalam sebuah Cafe untuk berteduh.


Vivian berdiri di depan Cafe dan melihat tetesan air hujan, entah kenapa perasaannya jadi tidak menentu dan membuatnya teringat dengan Carlk. Haruskah dia tetap menunggu pria itu dan mengabaikan cinta yang ada di depan mata?


Karena hujan turun semakin lebat dan dia belum bisa pulang, jadi Vivian memutuskan untuk menikmati segelas kopi di sana sambil menunggu hujan reda, lagi pula jika pulang tidak ada yang dia lakukan di rumah.


Menghabiskan waktu di sana sampai sore bukan ide yang buruk jadi Vivian memesan segelas kopi dan beberapa potong kue untuk menemani waktunya.


Di tempat lain seorang pria juga berdiri di depan jendela besar yang terdapat di kamar apartemennya sambil memandangi tetesan air hujan. Siapa lagi jika bukan Carlk.


Setelah melihat Vivian hari ini entah mengapa perasaanya jadi tidak menentu, di dalam hati kecilnya sangat ingin memeluk Vivian saat melihatnya tapi semua itu tertutup oleh kebencian dan dendam.


Kenapa mereka berdua harus jadi seperti ini? Walaupun Vivian tidak tahu apa-apa tapi tetap saja dia memiliki hubungan kuat dengan mereka dan siapapun yang memiliki hubungan dengan orang itu maka akan jadi musuhnya dan akan dia bunuh agar kematian ayahnya tidak sia-sia.


Waktu untuk menghabisi mereka akan segera tiba dan Vivian akan berperan penting dalam menghabisi mereka nanti, nyawa dibayar dengan nyawa, adil bukan?


Carlk mengusap wajahnya dengan kasar, ternyata dia masih menyimpan perasaan pada gadis itu dan dia benci.


Sebaiknya dia segera membereskan perasaannya jika tidak, bagaimana dia bisa membunuh Vivian nanti?


Jangan sampai cinta yang masih ada di dalam hatinya mengacaukan semuanya. Dia tidak mau pada saat itu tiba, dia jadi ragu dan bimbang untuk membunuh Vivian jadi sebuah keputusan dia ambil, dia akan melupakan Vivian untuk selamanya.


Seorang wanita yang dia panggil, masuk ke dalam kamar dan wanita itu adalah Ella. Sekarang Ella benar-benar menjadi pemuas nafsunya di saat dia membutuhkan.


Setiap kali dia menyentuh Ella, yang dia bayangkan adalah Vivian, gadis polos yang dia cintai sejak dulu tapi sekarang, dia memanggil Ella datang untuk melupakan Vivian dan berhenti membayang gadis itu.


Ella menghampiri Carlk dan memeluknya dari belakang, mereka sudah terbiasa melakukan hubungan intim jadi Maxton tidak akan marah jika dia memeluknya.


"Ada apa tuan Maxton menganggilku kemari?" tanya Ella.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu Ella."


"Apa itu?" tanya Ella lagi sambil memainkan jarinya di tubuh Carlk.


"Kau ingin aku menghabisi Matthew Smith bukan?"


"Ya, itulah tujuanku."


"Jika begitu, jebak dia dan bawa dia padaku! Aku akan menghabisi Matthew Smith di depan matamu!"


"Caranya?" tanya Ella.


Carlk tersenyum dan memutar tubuhnya, dengan perlahan Carlk mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ke telinga Ella.

__ADS_1


Ella mengangguk dan tersenyum saat mendengar rencana yang dikatakan oleh Carlk.


"Tuan Maxton, aku pasti akan melakukannya tapi, kau memintaku datang kemari tidak hanya untuk ini bukan?" Ella melingkarkan kedua tanganya keleher Carlk.


Carlk mengangkat dagu Ella dengan senyum di wajahnya, "Kau harus membuatku melupakan seseorang," ucapnya.


"Serahkan pada Ella tuan Maxton, aku akan membuatmu melupakan orang yang ingin kau lupakan dengan permainanku," ucap Ella sambil tersenyum nakal.


"Pintar!" Carlk mencium bibir Ella dan membawanya menuju ranjang. Kali ini dia tidak akan membayangkan Vivian lagi dan akan benar-benar melupakan cintanya.


Di cuaca yang dingin Carlk membiarkan Ella mengambil kendali dan bermain di atas tubuhnya. Lagi pula Ella tidak buruk dan dia juga cantik. Dia harus segera membunuh perasaan cintanya pada Vivian agar saat hari itu tiba, dia bisa membunuh Vivian tanpa ragu.


Sementara itu gadis yang berusaha dia lupakan pulang menerjang derasnya air hujan. Vivian tidak mau menunggu lagi karena hujan tidak juga berhenti bahkan turun semakin lebat.


Dia sudah duduk begitu lama di Cafe sampai waktu menunjukkan pukul empat sore. Dia memutuskan untuk pulang tidak saja hujan yang tidak juga reda tapi dia juga harus membuat makan malam. Jangan sampai Freddy menghancurkan dapurnya lagi atau jangan sampai pria itu mati kelaparan di rumahnya.


Begitu tiba di rumahnya, Vivian turun dari motor dan berlari ke arah pintu rumah. Dia juga membuka helm yang dia pakai dan mengibaskan rambutnya yang basah.


Semua pakaian yang dia pakai basah semua dan dia menggigil kedinginan karena angin dingin yang menerjangnya.


Vivian masuk ke dalam rumahnya dan membuka jaket yang dia pakai, pada saat suara sensor berbunyi, Matthew segera berlari keluar. Dia sudah menunggu sedari tadi seperti orang gila, dia sudah berusaha menghubungi Vivian tapi Vivian tidak menjawab panggilannya sama sekali.


Dia benar-benar cemas dan khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Vivian di luar sana apalagi, hujan semakin mengguyur dengan lebat.


"Oh babe, akhirnya kau pulang juga!"


"Bukan begitu sayang, aku hanya menghawatirkanmu."


Vivian memandangi Matthew sejenak, kenapa pria itu menghawatirkannya?


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja."


Tanpa Vivian duga, Matthew berjalan mendekatinya dan memeluknya. Vivian diam aja, ini pertama kalinya seseorang menghawatirkannya selain keluarganya.


"Fredd, bajuku basah."


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memelukmu sebentar."


"Tapi nanti kau jadi basah!"


"Stts, tubuhmu dingin. Pergilah mandi aku akan membuatkan minuman hangat untukmu."


"Kau bisa?" tanya Vivian tidak yakin.

__ADS_1


"Cuma air panas saja bukan?"


"Ck, sebaiknya tidak usah!"


Matthew terkekeh dan mengusap rambut Vivian yang basah, rasanya tidak mau melepaskan Vivian tapi jika tidak dia lakukan bisa-bisa Vivian masuk angin.


"Oke baiklah, pergilah mandi!" Matthew mencium wajah Vivian sebelum melepaskan pelukannya.


Vivian mengangguk dan masuk kedalam kamarnya dengan senyum di wajahnya. Apakah ini rasanya punya pacar?


Setelah Vivian masuk kedalam kamar, Matthew mengganti bajunya yang basah dan membuat segelas teh untuk Vivian.


Sambil membawa segelas minuman hangat, Matthew berjalan menuju kamar Vivian dan langsung membukanya.


"Babe, minuman untuk?" ucapannya terhenti karena lagi-lagi saat itu Vivian sedang memakai branya.


"Oh my God Fredd! Kenapa tidak ketuk pintu terlebih dahulu!" Vivian segera menyambar bajunya dan memakainya.


"Sory, kebiasaan!" jawab Matthew beralasan.


"Menyebalkan! Sudah berapa kali kau melihat tubuhku!"


"Tiga!" jawab Matthew.


"What?" Vivian memandanginya Matthew dengan curiga.


"Oh tidak, hanya dua babe. Aku lupa!" ralat Matthew. Jangan sampai Vivian tahu jika dia pernah mengintipnya.


"Ck lain kali ketuk pintunya!" Ucap Vivian seraya duduk di sisi ranjang.


Matthew tersenyum dan masuk ke dalam kamar, setelah meletakkan minuman hangat yang dia buat, Matthew mendekati Vivian yang sedang mengeringkan rambutnya dan duduk di sampingnya.


"Sini aku bantu!"


Vivian mengangguk dan memberikan handuk kepada Matthew, seperti ini mungkin tidak ada salahnya.


Matthew mengeringkan rambut Vivian dan setelah selesai, dia memeluk Vivian dan mencium wajahnya.


"Sepertinya kau sudah tidak takut denganku?"


"Entahlah, tapi aku ingin seperti ini sebentar, boleh bukan?" Vivian memutar tubuhnya dan memeluk Matthew.


"Oh babe, tentu saja boleh."

__ADS_1


Matthew mengusap rambut Vivian dan mencium dahinya, sedangkan Vivian memejamkan matanya dan menikmati kehangatan tubuh Matthew.


Sebenarnya ada yang ingin dia tanyakan tapi nanti bisa dia lakukan karena dia ingin seperti itu untuk sebentar saja dan dia sudah mengambil keputusan dalam hati, dia akan melupakan Carlk dan melupakan janji juga cinta mereka.


__ADS_2