Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Bawa buktinya!


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih empat jam, mereka sudah tiba. Di luar sana Marta dan Charles saling pandang karena pesawat tidak mendarat di bandar udara Internasional Los Angeles.


Di mana mereka saat ini? Mata mereka tidak lepas dari rumah besar yang ada di bawah sana dan mereka juga tidak percaya melihat deretan pesawat dan helikopter yang berjajar dengan rapi.


Sepertinya pemuda yang dipilih oleh Vivian bukanlah orang biasa, bisa mereka lihat yang ada di bawah sana? Hanya orang super kaya kelebihan banyak uang yang bisa membangun sebuah bandara pribadi seperti itu.


David diam saja melihat ke bawah, ternyata pacar cucunya bukan orang sembarangan. Untungnya waktu dia memberi pertanyaan kepada Matthew, Matthew tidak menjawabnya dengan sombong dan memamerkan apa yang dia punya.


Jika dia melakukan hal itu, maka akan dia tendang tanpa ragu dan sepertinya Vivian tidak salah memilih pasangan hidup. Bukan karena hartanya dia berkata demikian tapi karena Matthew tidak memamerkan apa yang dia punya saat menjawab pertanyaan darinya.


Sementara itu di dalam kamar, Matthew membangunkan Vivian karena Vivian tertidur setelah kegiatan panas yang mereka lakukan.


Mereka sudah tiba dan dia ingin mengajak Vivian keluar, saat pesawat mendarat sangat berbahaya jika mereka tidak duduk dan memakai sabuk pengaman.


Matthew merapikan rambut Vivian yang berantakan dan mencium dahinya dengan lembut.


"Babe, kita sudah sampai."


"Oh ya?"


"Yes, ayo kita keluar, keluargamu pasti sudah menunggu."


Vivian mengangguk dan segera duduk di atas ranjang untuk merapikan penampilannya dan setelah itu mereka keluar dari kamar.


Karena pesawat sudah mau mendarat jadi mereka segera duduk dan memakai sabuk pengaman. Vivian melihat keluar saat badan pasawat semakin merendah dan perasaannya kembali tidak menentu.


Keluarganya sudah tiba di California, apa dia harus langsung menghubungi Maxton dan mengabarinya hal ini? Jujur saja dia merasa was-was saat keluarganya bertemu dengan Jager Maxton nanti.


Matthew menggenggam tangan Vivian untuk menenangkannya, walau berat tapi Vivian harus menghadapinya.


Badan pesawat sudah mendarat dan James sudah menunggu mereka sesuai dengan perintah Matthew. Beberapa mobil sudah disiapkan untuk membawa keluarga Vivian ke rumah lama Alice. Rumah itu memang tidak dijual karena banyak kenangan terdapat di dalamnya dan sekarang rumah itu bisa digunakan untuk keluarga Vivian tinggali selama mereka berada di California.


Setelah pesawat berhenti mereka segera turun, keluarga Vivian tidak bisa berkata apa-apa melihat apa yang ada di sana sedangkan David memanggil Matthew.


"Kau, kemari."


"Ada apa kakek?" tanya Matthew seraya menghampiri kakek Vivian.


"Bicara denganku sebentar," jawab kakek Vivian.


"Apa yang ingin kakek bicarakan?" Matthew berjalan di samping David sedangkan David hanya meliriknya sekilas.


"Aku ingin tahu, apa kau menunjukkan kekayaanmu untuk menjerat cucuku?"


"Tidak kakek, saat aku mengenalnya, dia bahkan tidak tahu siapa aku?"


"Benarkah?"

__ADS_1


"Ya, saat itu dia hanya tahu aku seorang supir yang punya banyak hutang," jawab Matthew tanpa ragu.


"Jadi kau menipu cucuku?" David tampak tidak senang.


"Ya, oh tidak," ralat Matthew dengan cepat.


"Dasar, beraninya kau menipu cucuku? Sini kau dan biarkan aku menendang bokongmu!"


"Tidak kakek, dia juga menipuku jadi kami impas," Matthew segera pergi dan menghampiri Vivian untuk menyelamatkan bokongnya.


"Sini kau, beraninya kau menipu cucuku! Aku akan menendangmu sampai puas!"


Vivian tertawa sedangkan Matthew bersembunyi di belakangnya karena David benar-benar ingin menendangnya.


"Sudahlah kakek, aku sudah menendangnya tapi lain kali, kakek boleh menendangnya," ucap Vivian.


"Hng, awas kau jika berani menipunya lagi!" ancam David.


"Pantas kau suka menendang bokongku, ternyata kau mirip dengan kakekmu!" ucap Matthew.


Vivian hanya tertawa dan mereka segera berjalan menuju mobil, dia sudah mengatakan pada ayah dan ibunya jika mereka akan tinggal di rumah milik keluarga Matthew.


Mereka tidak perlu menginap di hotel dan dia juga bisa bersama dengan mereka jika sudah pulang bekerja nanti.


Barang-barang sudah dinaikkan dan James segera membawa mereka sedangkan Matthew bersama dengan Vivian berada di mobil yang lain.


Selama berada di dalam mobil pikiran Vivian kembali melayang dan dia tampak gelisah.


"Tidak, aku hanya sedang berpikir. keluargaku sudah datang, apa aku harus langsung memberitahu Jager akan hal ini?"


"Sudah pasti bukan? Dia pasti sudah tidak sabar bertemu dengan keluargamu tapi lebih baik kau tanyakan dulu pada kakekmu kapan dia mau menemui Jager? Mereka baru tiba dan mungkin mereka butuh istirahat."


"Kau benar, aku akan menanyakan hal ini pada kakekku nanti dan aku harap mereka tidak bertengkar."


"Kenapa kau berpikir begitu babe?"


"Aku hanya takut Matth, bagaimana jika mereka memperebutkan aku nanti?"


"Aku rasa tidak," jawab Matthew.


"Aku harap begitu," ucap Vivian.


Tidak butuh lama, mereka sudah tiba di rumah yang tampak sederhana tapi terlihat nyaman. Matthew membawa keluarga Vivian masuk ke dalam rumah lama neneknya dan mereka segera beristirahat.


Saat itu, Vivian menghampiri keluarganya yang sedang duduk di sofa karena ada yang ingin dia tanyakan, dia harus memastikan hal ini barulah dia akan menghubungi Jager Maxton.


"Kakek, kapan kalian ingin bertemu dengan Jager Maxton?"

__ADS_1


"Jager Maxton, apa dia orang yang mengaku sebagai ayahmu?" tanya ibunya.


"Yes mom, kalian sudah tiba dan aku harus menghubungi dan memberinya kabar."


"Besok saja Vivi, katakan padanya besok kami akan menemuinya," ucap ayahnya.


"Baiklah, kalian segeralah beristirahat. Aku akan menghubunginya."


"Katakan padanya, bawa buktinya! Jika dia tidak bisa membuktikan bahwa kau adalah putrinya maka jangan harap aku akan mempercayai ucapannya begitu saja," ucap David.


"Pasti kakek, aku akan mengatakan hal ini padanya," jawab Vivian dan dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Maxton.


Tidak butuh lama Maxton sudah menjawab panggilan dari Vivian, dia sudah menunggu hal ini sejak tadi dan selama menunggu kabar dari Vivian dia benar-benar gelisah.


Dia khawatir orang yang merawat putrinya tidak mau bertemu dengannya dan tidak mau mengatakan apa yang terjadi dan begitu ponselnya berbunyi, Jager segera menjawabnya tanpa buang waktu.


"Selamat sore tuan Max," terdengar suara Vivian dan sebuah senyuman menghiasi wajah Jager.


"Bagaimana keadaanmu nak, apa kau sudah kembali?"


"Tentu tuan Max, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menghawatirkan aku. Aku hanya ingin mengabarimu jika keluargaku sudah datang dan besok kalian bisa bertemu."


"Benarkah?" Jager semakin senang.


"Ya dan kakek berkata, tuan Max harus membawa bukti agar dia percaya bahwa aku putrimu atau bukan."


"Tentu nak, aku akan membawa bukti dan menunjukkan pada mereka jika kau adalah putriku."


"Baiklah tuan Max, besok aku akan mengabarimu lagi," ucap Vivian.


Maxton tersenyum dan setelah selesai berbicara dengan Vivian, dia segera mencari Damian karena dia ingin mengajak Damian pergi ke rumah sakit.


"Damian, ayo ikut denganku," ajaknya.


"Kemana dad?"


"Ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA. Aku memerlukannya besok untuk aku tunjukkan pada orang yang sudah merawat dan membesarkan putriku."


"Mereka sudah datang?"


"Ya, baru saja Angel menghubungiku."


"Baiklah dad, aku sungguh sudah tidak sabar."


"Aku juga Dam, aku sudah tidak sabar mengetahui apa yang terjadi dua puluh lima tahun lalu dari orang yang merawat putriku," ucap Jager.


Tidak mau berlama-lama, mereka segera berangkat ke rumah sakit untuk menanyakan hasil tes DNA dan pada saat mereka mencari dokter yang mereka percaya tanpa sengaja Gary melihat mereka.

__ADS_1


Dia berada di sana untuk mengobati jarinya yang terluka. Gary sangat kaget ketika melihat Jager dan Damian, apa yang mereka lakukan di rumah sakit?


Sebaiknya dia mencari tahu dan mengikuti mereka secara diam-diam. Lagi pula Jager tidak mengenalnya begitu juga dengan Damian, dia harus tahu apa yang mereka lakukan dan siapa tahu dia mendapat informasi untuk melancarkan aksi balas dendamnya.


__ADS_2