
Vivian menghentikan motornya ketika sudah tiba di rumah yang ditempati oleh keluarganya. Dia sudah sangat rindu dengan ibunya dan dia yakin keluarganya pasti senang saat mendengar jika dia mau menikah dengan Matthew.
Di dalam rumah tampak ramai ketika Vivian berjalan menghampiri pintu, dengan siapa keluarganya sedang berbicara? Apa keluarga Matthew sudah datang?
Bisa saja hal itu terjadi karena dia tahu keluarga Matthew sedikit aneh. Dia jadi ingin tahu, jika dia sudah menikah dengan Matthew nanti, apakah dia akan ketularan sifat aneh mereka?
Semoga saja tidak karena dia tidak mau menyambut kedatangan menantunya kelak seperti yang telah ibu Matthew lakukan terhadapnya. Jujur saja jika dia mengingat kejadian itu dia masih geleng kepala karena mereka menyambutnya dengan cara yang luar biasa.
Vivian membuka pintu dengan perlahan dan segera masuk ke dalam sambil memanggil ibunya, "Mom, aku pulang."
"Vivi, ke sini Sayang," panggil ibunya dari ruang tamu.
Vivian segera menghampiri ibunya dan dia mengira tebakannya tidak salah tapi begitu tiba di ruang tamu, tampak kakaknya di sana dan dia terlihat senang.
"Sister," panggil Vivian sambil sedikit berteriak.
Tidak saja kakaknya tapi paman dan bibinya juga ada di sana dan mereka memandangi Vivian dengan wajah tidak senang.
Mariam bangkit berdiri dan segera menghampiri adiknya, "Aku sangat merindukanmu Vivi," ucap Mariam.
"Aku juga kak, mana suami dan putra kakak? Apa mereka tidak ikut?" tanya Vivian.
"Jika bukan gara-gara kau, kami juga tidak akan datang ke Amerika dengan terburu-buru!" ucap Hilary Adison. Dia adalah adik Charles Adison dan anak ketiga David Adison.
Dia tidak menyukai Vivian dan dia tidak setuju ayahnya membesarkan Vivian. Tidak dia saja, kakak keduanya juga ikut menentang keputusan ayahnya untuk mengadopsi Vivian dan menjadikan Vivian bagian dari keluarga mereka karena Vivian ditemukan di rumah bordil saat itu.
"Benar," Ben Adison bangkit berdiri.
"Kau hanyalah anak adopsi dan kau bukan bagian dari kami tapi gara-gara permasalahanmu sehingga membuat kami panik dan hampir saja Daddy dan Kak Charles mengalami kecelakaan pesawat! Karena permasalahanmu, kau hampir saja mencelakai mereka. Apa kau tidak sadar dengan hal itu?" ucap Ben.
"Maafkan aku, Uncle, Aunty," Vivian menunduk. Dia tahu sejak dulu mereka tidak suka dengannya dan sekarang terjawab sudah.
"Diam!" David berteriak marah.
"Beraninya kalian mengatakan hal seperti itu pada Vivian?!" David menatap putra dan putrinya dengan tajam.
"Dad, kalian hampir mati dan jika bukan karena keberuntungan mungkin kalian sudah kami kubur akibat kecelakaan pesawat dan semua ini demi anak yang tidak punya hubungan darah dengan kita!" teriak Hilary marah.
Jujur saja dia sangat marah saat mengetahui kenapa ayah dan kakaknya datang ke Amerika dengan terburu-buru. Mereka datang hanya untuk menjelaskan pada Vivian kenapa mereka tidak mengatakan padanya jika dia hanya anak adopsi.
"Aunty, jangan bicara lagi!" teriak Mariam marah.
__ADS_1
"Hilary, aku yang membesarkan Vivian dengan istriku dan kami tidak keberatan. Lalu kenapa sampai sekarang kau dan Ben tidak bisa menerima Vivian?" tanya Charles.
"Dia bukan anggota keluarga kita dan aku tidak bisa menerimanya. Dia juga hampir membuat kalian celaka dan aku semakin tidak bisa menerimanya!" jawab Hilary.
"Maafkan Aunty, Vivi. Jangan kau ambil hati ucapannya," pinta Mariam sambil mengusap punggung adiknya.
Vivian tersenyum, ini bukan pertama kali paman dan bibinya seperti itu tapi biasanya mereka tidak akan berkata kasar. Mungkin benar, jika bukan karena permasalahan dirinya, Kakek dan juga kedua orangtuanya tidak mungkin datang ke Amerika dan hampir celaka.
"Aunty benar, semua salahku jadi maafkan aku," ucap Vivian.
"Bagus jika kau tahu! Kau sudah menemukan orangtua kandungmu bukan? Sebaiknya pulang ke rumah orangtuamu dan jangan ada di antara kami lagi!" ucap Hilary dengan sinis.
"Hilary!" teriak David dengan penuh emosi.
"Hilary, Vivian putriku dan aku yang merawatnya dari bayi jadi kau tidak berhak mengusirnya," ucap Marta sambil berjalan mendekati Vivian.
"Hilary, masuk ke dalam atau jangan bicara lagi! Vivian tetap keluarga kita sampai kapanpun juga!" David menatap putrinya dengan tatapan tajam sedangkan Hilary mendengus.
"Aku harap kalian tidak menyesal karena telah mengadopsi anak seorang penjahat!" ucap Hilary dan dia segera berjalan pergi.
Ben juga berlalu pergi mengikuti adiknya tapi sebelum itu dia menatap Vivian dengan tajam.
"Tidak apa-apa Kakek, memang apa yang dikatakan Aunty sangat benar, gara-gara aku kalian hampir celaka."
"Jangan mengatakan hal seperti itu, memangnya kau yang menentukan hidup dan mati kami?" ucap ayahnya.
"Benar sayang, sebaiknya pergilah mandi dan setelah itu kita makan malam bersama. Kau akan menginap di sini bukan?" tanya ibunya.
"Yes, Mom. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada kalian," jawab Vivian.
"Oh ya? Katakan pada kami apa itu?" tanya ibunya.
"Mom, aku dan Matthew sudah memutuskan untuk menikah jadi aku ingin kalian menemui keluarga Matthew untuk membahas hal ini, kalian bisa bukan?"
"Tidak bisa!" tiba-tiba terdengar suara Hilary. Dia kembali untuk mengambil barangnya yang tertinggal.
"Besok kami semua akan kembali ke Inggris. Kau sudah punya orangtua kandung bukan? Kenapa kau harus membahas hal ini pada Kak Marta dan Kak Charles? Kau bisa mempertemukan keluarga calon suamimu dengan orangtua kandungmu dan tidak perlu membahas masalah ini dengan mereka!"
"Hilary, apa kau tidak bisa menutup mulutmu?" David semakin kesal dengan putrinya.
"Besok kita harus kembali Dad, apa kau akan menundanya demi dia?"
__ADS_1
"Kau dan Ben kembalilah terlebih dahulu dan kami akan tetap di sini sampai Vivian menikah!" jawab David tanpa ragu.
Hilary mendengus kesal dan setelah mendapatkan barangnya, dia segera pergi.
"Kalian mau pulang besok?" tanya Vivian.
"Benar Sayang. Tadinya Mommy ingin membahas hal ini denganmu tapi karena kau telah memutuskan untuk menikah jadi kami akan menunda kepulangan kami. Kami akan menemui keluarga Matthew untuk membahas pernikahanmu dan jangan lupa, kabari juga ayahmu," ucap ibunya.
"Terima kasih Mom, maaf aku selalu merepotkan kalian."
"Sudahlah, ini kabar baik dan aku senang akhirnya kau memutuskan untuk menikah juga."
"Vivi, ini benar-benar kejutan. Aku tidak menyangka pada akhirnya kau akan menikah. Katakan pada Kakak, apa dia lebih tampan dari kakak iparmu?"
"Tentu saja, wajah kakak ipar biasa saja," jawab Vivian bercanda.
"Hey, sembarangan! Kakak iparmu sangat tampan dasar tidak bisa menilai. Jika dia tidak tampan aku mana mau dengannya!" ucap Marian.
"Aku bercanda, kak," Vivian memeluk kakaknya.
"Aku tahu, apa kau pikir aku serius?"
"Sudah jangan ribut, Daddy yang paling tampan," sela Charles.
"Hm! Tidak ada yang lebih tampan dari pada aku!" ucap David tidak mau kalah.
"Ups, baiklah. Memang Kakek yang paling tampan," ucap Mariam.
"Dan yang paling tua," lanjut Vivian.
"Hey, cucu Kakek tidak sopan!"
"Just kidding Kakek," ucap Marian dan Vivian sambil tertawa.
"Baiklah, Kakek memang sudah tua tapi tetap yang paling tampan."
Mariam dan Vivian kembali tertawa, mereka segera menghampiri kakek mereka dan memeluknya. David tampak bahagia begitu juga Marta dan Charles. Mereka tersenyum melihat kebahagiaan kedua putri mereka yang sedang memeluk kakek mereka.
Semoga mereka bisa selalu berkumpul dan bisa seperti ini lagi walaupun Vivian sudah menikah nanti tapi sayangnya mereka tidak tahu, sebentar lagi akan ada badai yang akan menghancurkan kebahagiaan mereka.
Yang pastinya Vivian akan menyalahkan dirinya nanti dan dia akan semakin dibenci oleh paman dan bibinya. Apakah ini akhir dari kebersamaan mereka?
__ADS_1