Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Lost contact


__ADS_3

Suara petir yang menggelegar membangunkan Vivian dari tidurnya, cuaca benar-benar buruk dan hujan kembali mengguyur dengan deras diluar sana.


Dengan perlahan, Vivian turun dari atas ranjang dan berjalan menuju jendela. Cahaya kilat tampak menyambar-nyambar dari luar sana dan dengan perlahan pula, Vivian membuka kain gorden dan berdiri di depan jendela.


Hujan deras bercampur petir membuat Vivian tampak khawatir, dia sangat menghawatirkan keluarganya yang sedang dalam perjalanan saat ini. Cuaca tampak begitu buruk dan dia harap mereka baik-baik saja.


Jika pesawat yang mereka tumpangin terbang dalam kecepatan 900 KM/Jam seharusnya mereka akan tiba kurang lebih delapan jam tapi sepertinya perjalanan mereka akan terhambat karena cuaca buruk seperti ini. Bisa saja perjalanan mereka memakan waktu empat belas jam perjalanan karena pesawat tidak bisa terbang dengan cepat dalam keadaan cuaca buruk.


Dia sangat berharap keluarganya baik-baik saja saat ini dan dia juga berharap, keluarganya selamat sampai ke Amerika.


Vivian masih diam saja di depan jendela melihat kilatan cahaya petir yang masih menyambar diluar sana.


Walaupun sudah pagi tapi keadaan cuaca membuat orang malas untuk melakukan aktifitas mereka. Mungkin sebaiknya dia tidur sebentar lagi tapi kegelisahan yang ada di dalam hati, membuatnya enggan beranjak dari jendela.


Saat itu Matthew terbangun dari tidurnya dan mendapati Vivian sudah tidak ada di sampingnya, Matthew mencari Vivian dan melihat Vivian sedang termenung di depan jendela.


Dengan cepat, Matthew turun dari atas ranjang dan menghampiri Vivian. Vivian bahkan tidak menyadarinya karena dia benar-benar menghawatirkan keluarganya.


"Apa yang kau lakukan di sini babe?" tanya Matthew seraya memeluknya dari belakang.


"Cuaca begitu buruk Matth, aku menghawatirkan keadaan keluargaku yang sedang dalam perjalanan."


"Mereka pasti baik-baik saja babe, sebaiknya kau mencoba menghubungi mereka nanti siang, mungkin pesawat yang mereka tumpangi tertahan di tempat lain karena cuaca buruk."


"Kau benar Matth, aku benar-benar berharap mereka baik-baik saja," jawab Vivian sambil bersandar pada bahu Matthew.


"Tidak perlu khawatir, jika memang terjadi sesuatu dengan pesawat yang mereka tumpangi pasti sekarang sudah ada beritanya."


Vivian mengangguk tapi matanya tidak lepas dari kilatan cahaya petir yang terus menyambar di luar sana bahkan hujan semakin turun dengan deras.


"Ayo tidur lagi," ajak Matthew.


"Hei ini sudah waktunya ke kantor."


"Kenapa tidak cuti saja?"


"Tidak bisa Matth, aku tidak bisa mengambil cuti semauku apalagi sedang banyak pekerjaan."


"Baiklah nona detektif, tapi aku akan mengantarmu dan nanti sore aku juga akan menjemputmu," ucap Matthew seraya menggendong Vivian.


"Baiklah, aku juga tidak mau menerjang hujan, nanti aku bisa jadi putri katak," ucap Vivian bercanda.


Matthew terkekeh dan membawa Vivian masuk ke dalam kamar mandi sambil berkata, "Jika begitu aku akan jadi pangeran kataknya dan kau tahu babe? Musim hujan adalah musim kawin bagi katak."


"Apa? Hei!"


"Stts," Matthew sudah membungkam bibir Vivian dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Mereka menghabiskan waktu berdua di dalam kamar mandi cukup lama dan setelah itu mereka bersiap-siap untuk pergi. Sebenarnya Matthew malas pergi tapi dia ingin mengantar Vivian dan mungkin setelah ini dia akan pulang ke rumah orang tuanya. Soal foto dia akan meminta James mengantarkan foto itu untuknya nanti.

__ADS_1


Hujan belum juga berhenti saat mereka sudah tiba di kantor Vivian dan mungkin saja hujan akan turun sampai sore, hal ini tentu semakin membuat Vivian menghawatirkan keadaan kedua orang tua dan kakeknya.


Sebelum Vivian turun, Matthew menahannya sebentar dan mencium bibir Vivian dengan mesra.


"Nanti aku akan menjemputmu babe, jadi tunggu aku di sini."


"Tentu Matth, maaf merepotkanmu."


"Apa yang kau katakan? Aku pacarmu dan aku tidak merasa kau merepotkanku."


"Thanks Matth, jangan lupa bawa pulang foto Gary Wriston," ucap Vivian seraya mengecup bibir Matthew.


"Pasti," jawab Matthew dan sebelum melepaskan Vivian, Matthew memagut bibir Vivian sejenak.


Vivian segera turun dari mobil sambil membawa sebuah payung agar tidak terkena air hujan, sedangkan Matthew masih belum beranjak dan melihat Vivian berjalan menuju kantornya. Ketika Vivian sudah masuk ke dalam, Matthew segera pergi dan dia akan pulang ke rumah orang tuanya.


Karena hujan masih turun dengan deras, perasaan Vivian semakin was-was. Dia benar-benar sangat menghawatirkan kedua orang tua dan juga kakeknya bahkan dia sudah menghubungi mereka tapi sayang, tidak ada yang menjawab panggilan ponselnya.


Vivian bahkan menghubungi kakaknya yang ada di Inggris dan ternyata kakaknya juga sedang menghawatirkan kedua orang tua mereka.


"Kak, apa tidak ada kabar dari mommy dan daddy?" tanya Vivian.


"Belum ada Vivi, aku juga sedang menunggu kabar dari mereka," kakaknya juga terdengar khawatir dan hal itu membuat perasaan Vivian tidak menentu.


"Aku akan mencoba mencari informasinya kak dan katakan padaku mereka naik pesawat apa?"


"Baiklah, kau cari informasi di sana dan jika aku sudah tahu keadaan mereka, aku akan mengabarimu," jawab kakaknya dan dia juga menyebutkan nama pesawat yang ditumpangi oleh kedua orang tua juga kakek mereka.


Vivian sedikit lega dan segera mengabari kakaknya, dia harap cuaca buruk segera berlalu agar kedua orang tuanya sampai dengan selamat. Sambil menunggu kabar, Vivian kembali bekerja dan saling berkirim email dengan Charlie.


Charlie mengatakan jika besok dia dan Felicia akan berangkat ke Amerika untuk membantu misinya dan tentunya Vivian sangat senang karena kedua rekannya mau datang.


Pada saat itu, Ana menghampiri Vivian karena ada yang mencarinya di luar sana.


"Angel, seorang pria tampan mencarimu," ucap Ana.


"Siapa?" tanya Vivian.


"Entahlah, dia bilang ingin memberimu barang," jawab Ana.


"Baiklah, thanks Ana," Vivian segera bangkit berdiri dan menyambar ponselnya.


Di luar sana memang seorang pria sedang menunggunya dan ketika sudah keluar, Vivian tidak percaya melihat Damian.


Vivian segera menghampiri Damian yang sedang membawa sesuatu di tangannya.


"Tuan Max, ada apa mencariku?" tanya Vivian.


"Maaf mengganggumu Angel, daddy memintaku membawakan sup ini untukmu. Cuaca begitu buruk dan makanlah selagi hangat," ucap Damian seraya membarikan sup yang dia bawa untuk Vivian.

__ADS_1


"Terima kasih tuan Max tapi kau tidak perlu repot," Vivian mengambil sup yang diberikan oleh Damian dan tampak tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, daddy takut kau sakit jadi dia memintaku melihat keadaanmu."


"Aku tidak apa-apa, sampaikan rasa terima kasihku padanya," ucap Vivian.


"Baiklah, aku hanya mengantarkan ini dan aku sudah harus pergi."


Vivian mengangguk sambil tersenyum, entah dari mana Damian tahu tempatnya bekerja tapi dia tidak mau memikirkan hal ini. Damian segera keluar dan membuka payungnya karena masih hujan deras di luar sana.


Vivian hendak masuk ke dalam tapi dia teringat dengan sesuatu. Keinginannya untuk masuk ke dalam dia urungkan dan dia segera berlari keluar untuk mengejar Damian.


"Tuan Max, tunggu sebentar," teriak Vivian tapi Damian tidak mendengarnya karena suara air hujan yang mengenai payungnya.


"Tuan Max," Vivian kembali berteriak tapi Damian sudah berjalan ke arah mobil.


"Kak Damian," teriak Vivian dengan kencang dan saat mendengar teriakan Vivian, Damian segera menghentikan langkahnya dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Dengan cepat, Damian melangkah mendekati Vivian dan dia tampak begitu senang.


Kak Damian? Apa dia tidak sedang bermimpi?


"Kau memanggilku apa tadi?" tanya Damian.


"Ma..maaf, aku?"


Sebelum Vivian menyelesaikan ucapannya, Damian sudah memeluknya dan tampak begitu senang.


"Aku benar-benar senang karena kau mau menganggap aku kakak," ucap Damian.


"Kau tidak keberatan aku memanggilmu seperti itu?" tanya Vivian.


"Tentu tidak, walaupun aku bukan putra kandung daddy tapi aku selalu menganggap dia adalah ayah kandungku."


"Terima kasih, tapi tolong jaga dia baik-baik karena aku curiga ada orang yang ingin membunuhnya."


"Benarkah?" Damian melepaskan Vivian dan memandanginya dengan serius.


"Ya, tapi ini baru perkiraanku jadi jagalah dia baik-biak," jawab Vivian.


"Baiklah, aku akan menjaga daddy baik-baik jadi kau tidak perlu khawatir.


Vivian mengangguk sedangkan Damian tersenyum dengan lembut, walaupun Vivian belum bisa memanggil ayahnya dengan sebutan daddy tapi dia yakin, Vivian pasti bisa menerima mereka.


Damian pamit pergi dengan perasaan bahagia sedangkan Vivian masih berdiri di depan kantornya dan melihat kepergian Damian.


Setelah mobil Damian tidak terlihat lagi, Vivian masuk ke dalam tapi pada saat itu, ponselnya berbunyi. Tanpa membuang waktu, Vivian mengambil ponselnya dan segera menjawabnya apalagi itu dari kakaknya.


"Vivi, pesawat yang ditumpangi mommy dan daddy lost contact," ucap kakaknya.

__ADS_1


"Apa?" Vivian sangat shock mendengarnya dan ponselnya langsung terjatuh dari tangannya. Tidak mungkin bukan?


__ADS_2