
Pintu ruangan terbuka dan Carlk sudah menyambut dengan sebuah senjata mengarah ke arah pintu. Tanpa tahu, Vivian dan Patrik masuk menyergap dengan senjata api di tangan mereka.
Carlk berdiri di depan jendela dengan senyum diwajahnya, sedangkan Rick berada di samping pria itu dengan keadaan tidak berdaya.
Beberapa tembakan terdapat di tangan juga kakinya sedangkan sebuah bom berdaya ledak tinggi berada di tubuhnya.
Carlk tersenyum melihat Vivian, dia tidak menyangka hari dimana mereka bertatapan muka secara langsung akhirnya tiba walaupun Vivian tidak mengenalinya.
Vivian tercengang melihat pria yang ada di depan jendela, bukankah mereka baru saja bertatap muka? Jadi dialah buronannya? Sungguh dia tidak menyangka!
"Letakkan senjatamu dan angkat tangan!" perintah patrik tapi sebuah seringai menghiasi wajah Carlk.
Mereka tidak bisa menembak begitu saja karena Carlk sedang menodongkan sebuah senjata api ke arah Rick dan sebuah senjata api ke arah mereka.
"Tidak semudah itu ingin menangkapku," ucap Carlk.
Vivian menatap Carlk dengan teliti, kenapa dia merasa tidak asing dengan suaranya?
Carlk semakin tersenyum dengan lebar dan berkata, "Kita akan bertemu lagi Angel, anggap hari ini aku menyapamu," ucapnya.
"Jangan bercanda, siapa kau sebenarnya?" teriak Vivian.
"Aku sangat mengenalmu Angel, hari ini cukup sampai di sini dan aku ingin bermain lagi denganmu dilain waktu."
Vivian mengernyitkan dahinya, siapa? Jadi pria itu mengenalnya?
"Letakkan senjatamu dan angkat tangan!" ucap patrik lagi.
"Sayang sekali, aku sudah bilang, kalian tidak akan bisa menangkapku dengan mudah!"
Setelah berkata demikian, Carlk menembakkan senjata apinya ke arah Patrik dan Vivian. Peluru berdaya ledak rendah melesat dengan cepat ke arah mereka.
"S*h*i*t, lari!" teriak Vivian dan mereka segera berlari ke luar.
Peluru melesat dengan cepat dan mengenai pintu. Tidak lama kemudian?
"Duaar!" ledakkan terjadi dan menghancurkan pintu juga dinding yang ada disekitarnya. Akibat ledakan, tubuh Vivian dan Patrik terpental dan tubuh mereka membentur dinding dengan keras. Mereka meringis kesakitan dan tidak lama kemudian mereka memuntahkan darah segar dari mulut mereka.
__ADS_1
Ana dan Jerry begitu kaget saat ledakan terjadi begitu juga dengan Matthew, mereka segera membereskan anak buah Carlk yang tersisa dan langsung berlari ke arah Vivian dan patrik.
Vivian berusaha bangkit berdiri dan menyeka darah yang ada di bibirnya. Saat melihat hal itu Matthew sangat marah. Siapapun yang ada di dalam sana akan dia tangkap untuk membayar satu tetes darah Vivian yang mengalir dengan seribu tetes darahnya.
Ana segera membantu Vivian sedangkan Jerry membantu Patrik. Dengan kemarahan di hati, Matthew masuk ke dalam ruangan di mana Carlk hendak melarikan diri melalui jedela.
Carlk sudah siap melompat tapi pada saat itu sebuah tembakan berbunyi dan sebuah peluru melesat melewatinya dan mengenai daun telinganya.
Carlk tersenyum karena dia mengira itu Vivian. dia segera memutar tubuhnya dan mendapati seorang wanita melihat ke arahnya dengan tatapan tajam dan mematikan.
Tanpa banyak bicara, Matthew kembali menembaki Carlk menggunakan dua pistol yang ada di tangannya.
Carlk mengumpat dan segera menghindari setiap peluru, dia tidak menyangka jika orang yang membantu Vivian bukanlah orang sembarangan.
Adu tembak mulai terjadi di dalam, Carlk bersembunyi dibalik sebuah meja sedangkan Matthew berdiri dibalik dinding.
Vivian dan rekannya hendak masuk tapi mereka urungkan karena mereka bisa mati konyol jika tiba-tiba menerobos masuk.
Dibalik meja Carlk mengumpat kesal, ini benar-benar diluar perkiraan. Dia tidak menyangka jika dia akan masuk ke dalam jebakan dan itu semua gara-gara agen bodoh itu.
Dia segera memutar otaknya supaya bisa melarikan diri, sepertinya tidak ada cara lain selain mengaktifkan semua bom yang dia pasang. Carlk segera mengambil pemicu dan menekannya dan pada saat itu semua bom langsung aktif termasuk bom yang ada di tubuh Rick.
Carlk melompat dan bersalto untuk menghindari peluru tapi naas baginya karena dua peluru melesat dengan cepat dan mengenai bahu kanan dan lengan kirinya sebelum dia melompati jendela.
"Prang!" ketika mendengarnya, Vivian dan ketiga rekannya sepakat untuk masuk dan mereka segera menerobos masuk ke dalam sambil menodongkan senjata api mereka tapi mereka hanya mendapati Rick yang tidak berdaya dengan beberapa bom yang sudah aktif.
Vivian segera berlari ke arah jendela dan melihat Matthew sedang mengejar buronannya.
"Celaka, banyak bom!" teriak rekannya.
"Patrik, tangani bom itu dan jika kau tidak mengerti segera hubungi aku!" ucap Vivian dan dia segera melompat ke luar untuk membantu Matthew mengejar buronannya.
Sambil berlari, Carlk menembaki mobil polisi dengan senjata peledaknya hingga ledakan terjadi dan beberapa mobil polisi terpental dan terbakar. Dia harus mengalihkan perhatian para polisi untuk tidak mengejarnya tapi para polisi sudah bergerak dan siap menyergap, sambil menggunakan tameng, mereka mendekati Carlk dan akan menghujani kedua orang yang sedang saling mengejar dengan peluru karena mereka tidak tahu yang mana kawan dan yang mana lawan.
Dengan menggunakan senjata laras panjang, para polisi mulai menghujani Carlk dan Matthew dengan timah panas. Tentu saja hal itu membuat Carlk dan Matthew sangat gusar.
Mereka segera mencari tempat untuk bersembunyi jika tidak mereka akan mati tragis oleh peluru yang ditembakkan oleh polisi.
__ADS_1
Para polisi masih waspada karena mereka tidak akan membiarkan kedua orang itu lolos. Dibalik persembunyiannya, Carlk mengumpat dan memaki, situasi benar-benar tidak bagus dan dia harus mencari cara untuk melarikan diri.
Ketika melihat Matthew bersembunyi, Vivian segera berlari menghampirinya.
"Matth, kau tidak apa-apa?"
"Bodoh, kenapa kau ikut mengejar? Bagaimana dengan keadaanmu?" Matthew menyeka darah yang tersisa di bibir Vivian.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir."
"Pria itu, akan aku tangkap dia dan dia harus membayar darahmu yang telah tumpah tapi para polisi itu?" Matthew mengintip dan melihat para polisi yang bersiap siaga.
"Aku akan meminta kapten Willys untuk menarik pasukan," ucap Vivian seraya mengangkat rok mininya untuk mengambil ponsel.
"Ck, pahamu benar-benar banyak fungsinya!"
Vivian tersenyum dan hendak menghubungi kapten Willys untuk menarik pasukan tapi sayang, sebuah granat sudah dilemparkan oleh Carlk ke arah pasukan dan tidak lama kemudian, ledakkan terjadi dan tubuh para polisi terpental akibat ledakan.
"Sial!" umpat Vivian kesal.
Carlk keluar dari persembunyiannya dan kembali melarikan diri dan pada saat melihatnya Vivian kembali mengejar, malam ini dia harap dia bisa menangkap buronannya.
Carlk berlari dijalanan dan menghentikan sebuah mobil yang sedang lewat sambil menodongkan senjata apinya.
Si pengemudi mobil menghentikan mobilnya dan ketakutan, Carlk menghampirinya dan menarik si empunya mobil dan melemparkannya keluar. Dia segera masuk ke dalam mobil dan langsung membawa mobil itu melesat pergi.
Vivian tidak menyerah, dia mencegat sebuah mobil lain yang melintas dan menunjukkan tanda pengenalnya.
"FBI dan pinjam mobilmu sebentar."
Si pengemudi mengangguk dan segera turun, tidak ingin membuang waktu jika tidak buronannya lepas, Vivian masuk ke dalam mobil dan Matthew mengikutinya.
"Biarkan aku yang mengemudi," ucap Matthew.
"Nanti!" jawab Vivian dan dia segera membawa mobilnya untuk mengejar mobil Carlk.
Para polisi mulai sibuk, tim penjinak bom didatangkan dan nyawa Rick diujung tanduk.
__ADS_1
Malam menegangkan masih terasa panjang karena dua mobil saling mengejar di jalanan.