Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Di bawah pohon


__ADS_3

Hembusan angin yang sejuk menerpa wajah Jager Maxton dan pada saat itu, Jager membuka matanya karena sehelai daun jauh di atas wajahnya.


Jager mengerjapkan matanya sejenak dan tampak bingung, di mana dia sekarang? Pohon yang rindang menghalangi cahaya matahari dan sekarang dia berbaring di bawah pohon itu.


Ini aneh, seingatnya dia dibawa oleh rekan putrinya dan setelah itu dia di buat pingsan. Dia juga masih ingat saat tubuhnya diikat dengan rantai dan dinaikkan ke atas Tower crane, tapi kenapa sekarang dia berbaring di bawah pohon?


Jager segera duduk dan melihat hamparan rumput hijau yang ada di depannya. Dia kembali bertanya, apa yang sebenarnya terjadi?


Dia melihat sekitarnya dan dia merasa tidak asing, dia ingat tempat itu karena dulu dia selalu datang ke sana bersama dengan istrinya. Mereka sudah mendatangi tempat itu berkali-kali dan mereka akan berbaring di bawah pohon itu berdua. Menikmati alam dan semilir angin yang berhembus. Tapi kenapa sekarang dia ada di sana?


"Jager."


Panggilan seseorang membuat Jager terkejut. Jager mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya dan dia tampak tidak percaya ketika melihat istrinya sedang tersenyum dengan lembut.


"Crist ... Cristiana?" dia sungguh tidak percaya melihat istrinya yang tampak masih muda dan cantik.


"Hey, ada apa denganmu? Apa terlalu banyak tidur membuatmu menjadi bodoh?" ucap Cristiana sambil terkekeh.


"Bukan begitu, aku terkejut melihatmu masih cantik seperti dulu," jawab Jager seraya melihat istrinya yang duduk di sampingnya.


"Bodoh! Apa kau pikir kau sudah tua?"


Jager mengernyitkan dahi, apa maksudnya? Dia segera melihat tangannya, mana keriput yang terdapat di tangannya? Karena penasaran, Jager mengambil cermin dari dalam tas istrinya untuk melihat wajahnya. Dia semakin terkejut karena wajahnya terlihat seperti 35 tahun yang lalu. Ada apa ini? Apa dia kembali ke masa tiga puluh lima tahun yang lalu?


Apapun itu dia tidak perduli karena istrinya ada bersama dengannya saat ini. Jager meletakkan cermin yang dia pegang dan langsung memeluk tubuh istrinya.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang," ucapnya.


Cristiana tersenyum dan mengusap kepala suaminya. Dia bahkan bisa merasakan tubuh suaminya bergetar dan sesuatu yang hangat jatuh di atas bahunya dan membasahi bajunya.


"Hey, kenapa kau menangis pria tua?" tanya istrinya bercanda.


"Aku sangat merindukanmu, sangat merindukanmu, Sayang."


"Aku juga merindukanmu, Jager," Cristiana membelai rambut suaminya, sedangkan Jager masih menangis menumpahkan kerinduan yang dia pendam selama ini.


Apa ini mimpi? Jika iya maka dia harap dia tidak bangun lagi karena dia tidak mau berpisah dengan istrinya lagi.


"Kenapa kau ada di sini?" Jager melepaskan pelukannya dan memandangi wajah istrinya.


"Kita sedang piknik, apa kau lupa?" Cristiana mengusap wajah suaminya dan air matanya sambil tersenyum.


"Apa aku kembali ke masa tiga puluh lima tahun yang lalu?"


"Tidak," jawab Cristiana.

__ADS_1


"Lalu?"


Cristiana hanya tersenyum dan memandangi rerumputan hijau yang terhampar luas di depan mereka. Semilir angin yang berhembus membuat rumput bergoyang dan membuat suasana tenang.


"Kenapa kau tidak menjawab aku, Cristiana? Apa aku sudah mati?" tanya Jager lagi.


"Apa kau begitu ingin mati?" Cristiana memandangi suaminya dengan lekat.


"Jika aku memang sudah mati dan kita bisa bersama lagi maka aku rela mati. Aku tidak ingin berpisah darimu lagi, Cristiana," Jager meraih kedua tangan istrinya dan mengecupnya.


"Jangan tinggalkan aku lagi, Cristiana. Aku sungguh tidak mau berpisah denganmu dan maafkan aku karena aku tidak bisa menjagamu dan putri kita."


"Jager," Cristiana tersenyum dengan lembut dan mengusap wajah suaminya.


"Bukannya aku tidak mau bersama denganmu tapi belum saatnya kita bersama karena ada yang sangat membutuhkanmu."


"Aku tidak perduli! Aku hanya ingin bersama denganmu jadi jangan tinggalkan aku lagi, Cristiana" Jager menarik tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat. Dia tidak akan membiarkan istrinya menghilang, tidak akan.


"Tapi ada yang membutuhkanmu, Jager."


"Aku tidak perduli! Aku hanya ingin bersama denganmu saat ini," Jager mengulangi ucapannya lagi.


"Putri kita membutuhkanmu, Jager. Begitu juga dengan Damian. Kau tidak ingin membuat mereka sedih bukan?"


"Apa kau mau membuat putri kita menangis sepanjang hari? Dengarlah dia memanggilmu sedari tadi begitu juga dengan Damian. Apa kau mau meninggalkan mereka?"


Jager masih diam saja dan sayup-sayup terdengar suara putri mereka sedang memanggilnya, "Daddy, jangan pergi!"


"Kembalilah, Jager. Jaga putri kita baik-baik dan maafkan aku karena aku tidak bisa bersama dengan kalian," pinta Cristiana.


"Tidak! Jangan pergi, Cristiana!" pinta Jager tapi lagi-lagi terdengar suara putrinya memanggil bahkan dia bisa mendengar suara Damian.


"Dad, jangan seperti ini. Tetaplah bersama dengan kami," pinta Damian.


Damian dan Vivian menangis melihat keadaan ayahnya. Seorang dokter dan beberapa perawat sedang berusaha mengembalikan detak jantung Jager Maxton.


Alat picu jantung terus ditempelkan di kedua dada Jager dan ketika alat itu menyentuh dadanya, tubuh Jager sedikit terangkat ke atas.


"Lagi!" perintah dokter yang sedang menanganinya.


One ... two..dan dalam hitungan ketiga, alat picu kembali ditempelkan ke dada Jager tapi monitor yang membaca detak jantungnya tampak tidak stabil.


Team medis terus berusaha sedangkan dokter yang menangani Jager mulai menggeleng karena dia merasa tidak ada harapan lagi untuk pasien.


"Daddy!" teriak Vivian histeris sedangkan Matthew menenangkannya.

__ADS_1


"Dad, please ... please wake up," pinta Damian dengan suara bergetar.


Di bawah alam sadarnya, Jager bisa mendengar bahkan dia bisa merasakan kesedihan putra dan putrinya.


"Kembalilah, Jager. Mereka membutuhkanmu dan aku akan selalu menunggu kedatanganmu. Aku akan selalu menunggumu di bawah pohon ini dan ketika waktunya sudah tiba, kita akan bersama lagi," terdengar suara bisikan istrinya.


"Maafkan aku, Cristiana," air mata Jager mengalir dan ketika melihatnya, dokter yang menangani segera memerintahkan perawat untuk kembali menempelkan alat pacu jantung ke dada Jager.


Alat pacu jantung kembali digunakan dan lagi-lagi tubuh Jager terangkat ke atas karena alat itu. Alat kembali di tempelkan ke dadanya dan setelah dua kali, monitor yang membaca detak jantung menunjukkan jika jantung Jager sudah berdetak walau lemah.


Team medis tampak bernafas dengan lega begitu juga dengan Damian dan Vivian, mereka bahkan menolak keluar dari ruangan itu ketika keadaan ayah mereka sedang kritis.


Mereka ingin di sana, menemani ayah mereka melewati masa kritis. Awalnya team medis meminta mereka untuk keluar tapi Vivian dan Damian memohon karena mereka tidak mau meninggalkan ayah mereka. Karena mereka terus memohon, akhirnya team medis membiarkan Vivian dan Damian berada di dalam ruangan itu apalagi pasien harus segera ditangani.


Detak jantung Jager sudah terlihat normal tapi Jager belum juga sadar. Tapi kondisinya sudah terlihat lebih baik dibandingkan sebelumnya, setidaknya dia sudah melewati masa kritisnya. Setelah team medis selesai dengan pekerjaan mereka, Vivian segera mendekati ayahnya dan memeluknya, sedangkan Damian pergi berbicara dengan dokter yang menangani ayah mereka.


Vivian menumpahkan kesedihannya dan menangis, dia benar-benar lega ayahnya bisa bertahan. Dia tidak akan sanggup membayangkan ayahnya pergi saat itu karena dia belum siap berpisah dengan ayahnya.


Matthew mendekati Vivian dan mengusap punggungnya, Vivian pasti sedih saat ini dan dia bisa melihat itu.


Vivian mengusap air matanya dan masuk ke dalam pelukan Matthew. Dia sungguh tidak sanggup jika ayahnya pergi.


"Sudah tidak apa-apa, Babe. Ayahmu sudah baik-baik saja dan semoga besok dia sadar," Matthew mengusap kepala Vivian dengan lembut untuk menghiburnya.


Vivian hanya mengangguk dengan pelan dan pada saat itu, Damian masuk ke dalam dan menghampiri ayahnya. Dia benar-benar lega melihat keadaan ayahnya yang sudah baik-baik saja.


Vivian tampak lemas karena staminanya sudah habis. Lelah, itu yang dia rasakan bahkan saat itu sudah pukul satu pagi. Dia butuh istirahat sekarang setelah melewati hari-hari berat yang mereka lalui dan semua ini gara-gara Gary dan Felicia. Mereka berdua akan menerima akibatnya nanti.


"Apa kau baik-baik saja, Babe?" Matthew memandangi wajahnya dan tampak khawatir.


"Aku lelah, Matth. Aku ingin beristirahat," jawab Vivian.


"Jika begitu ayo tidur, ini pasti hari yang berat untukmu," ucap Matthew.


"Pergilah beristirahat, Vivi. Aku yang akan menjaga Daddy," ucap Damian seraya menarik sebuah kursi.


Vivian mengangguk, sedangkan Matthew menggendongnya dan membawa Vivian ke arah sebuah ranjang yang memang sudah tersedia.


"Tidurlah, Babe. Aku akan pastikan mereka membayar apa yang telah mereka lakukan. Mereka akan menyesali perbuatan mereka dan aku juga akan pastikan, mereka tidak akan mati dengan mudah."


Vivian kembali mengangguk dan membaringkan dirinya di atas ranjang, sedangkan Matthew berada di sampingnya dan mengusap kepalanya.


Matthew mencium dahi Vivian, sedangkan Vivian sudah memejamkan matanya. Dia benar-benar lelah dan dia harap, besok ayahnya sudah sadar. Tidak butuh lama, Vivian tampak sudah terlelap, sedangkan Matthew menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Dia akan pastikan, Gary, Bruke, dan Thomas juga rekan Vivian akan menerima akibat dari perbuatan mereka dan tentunya, dia akan menyiksa mereka menggunakan caranya dan mereka tidak akan mati dengan mudah.

__ADS_1


__ADS_2