Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Pencuri bibir


__ADS_3

Dikediaman keluarga Smith, pagi itu Kate sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Pada saat sedang membuat makanan kesukaan anak-anaknya Kate teringat dengan putra sulungnya yang sudah lama tidak pulang, kemana putranya saat ini?


Dia juga rindu dengan putranya, sebaiknya dia menanyakan hal ini pada putra bungsunya nanti jika sudah bangun. Awas saja jika putra sulungnya berbuat nakal di luar sana, akan dia tarik pulang dengan paksa.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi saat Michael menghampiri keluarganya yang ada diruang makan.


Hari ini dia dan kakaknya berencana pergi kepabrik karena ada yang akan mereka kerjakan di sana.


"Morning guys," sapanya.


Michael menarik sebuah kuris dan duduk di samping ayahnya.


"Mich, akhir-akhir ini kakakmu tidak pulang. Apa yang sedang dia lakukan?" tanya ibunya.


"Kakak sedang sibuk mengejar cintanya mom."


"Tapi kenapa tidak pulang?"


"Biarkan saja darling, mungkin dia sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya jadi biarkan dia berusaha!" ucap Albert.


"Aku tahu Albert, aku hanya rindu dengannya dan aku takut anak nakal itu membuat seorang wanita menangis."


"Tenang saja mom, gadis yang dikejar kakak berbeda jauh dari pacar-pacarnya selama ini."


"Oh ya? Apa bedanya?" Kate mulai penasaran.


"Kali ini kakak menyukai seorang agen dan sedang menipunya!"


"Wow, aku jadi ingin bertemu dengan gadis itu. Tapi belajar dari mana anak itu untuk menipu? Awas saja!"


"Darling kau tidak mengerti, menipu adalah keahlian kami dari jaman kakek sampai sekarang, kami semua pandai menipu!" jawab Albert bangga.


"Kalian sama saja, mau dari yang tua sampai yang muda selalu menipu gadis yang disukai!" sela Alice.


"Ya dan kau polisi bodoh yang aku tipu dan sekarang cucu kita menipu seorang agen, bagus!" ucap Jacob bangga.


"Jac, aku pukul kau!" Alice melototi suaminya.


"Bagaimana denganmu Mich, apa kau juga akan menipu gadis yang kau sukai?" tanya ayahnya dan semua mata menatap ke arah Michael.


"Tergantung situasi dad," jawab Michael.


"Jawaban bagus!" ucap Jacob dan mereka tertawa.


Michael jadi penasaran, apa yang sedang kakaknya lakukan saat ini? Setelah selesai sarapan dia akan menghubungi kakaknya dan setelah selesai sarapan, Michael segera menghubungi kakaknya tapi berapa kalipun dia mencoba, Matthew tidak menjawab panggilannya.

__ADS_1


Karena penasaran, Michael duduk di depan komputer untuk melihat apa yang dilakukan oleh kakaknya.


Saat itu, Matthew masih memeluk Vivian yang sedang tidur. Dia ingin bangun dari tidurnya tapi dia takut mengganggu Vivian.


Vivian baru tidur pukul tiga pagi, sedangkan dia baru bisa tidur saat jam lima pagi, selama dua jam dia benar-benar tersiksa tapi dia tidak bisa melakukan apapun.


Matthew memandangi wajah cantik Vivian yang sedang tidur dengan senyum di wajahnya.


Dengan perlahan, jarinya mulai menyentuh dan mengusap wajah cantik Vivian. Cukup lama dia seperti sampai jarinya menyentuh bibir seksi Vivian.


Matthew menelan salivanya dengan susah payah, rasa ingin mencicipi bibir Vivian terasa begitu mengebu-ngebu dan sungguh dia ingin mencobanya.


"Babe?" Matthew mencoba menepuk pipi Vivian.


"Hm?" Vivian hanya bergerak sedikit dan kembali tidur.


"Sudah siang apa kau tidak mau bangun?" tanya Matthew tapi Vivian diam saja dan tampak tidur dengan pulas.


Matthew memandangi wajah cantik Vivian dan kembali menelan salivanya saat melihat bibir seksinya, sepertinya ini adalah kesempatan untuknya dan dia melupakan janjinya. Dia akan mencium bibir Vivian sekali dan gadis itu tidak akan tahu apa yang dia lakukan karena Vivian sedang tidur dengan nyenyak.


Jari Matthew kembali mengusap bibir Vivian dan dengan perlahan Matthew mendekatkan bibirnya ke bibir Vivian. Matanya menatap wajah cantik Vivian dan jantungnya berdegup dengan kencang saat melakukan hal itu.


Dia sudah seperti seorang pencuri dan dia adalah pencuri bibir, semoga Vivian tidak terbangun saat dia melakukannya.


Sambil menahan nafasnya dengan jantung yang berdegup cepat, Matthew mengecup bibir Vivian dan pada saat merasakan sesuatu menyentuh bibirnya Vivian memalingkan wajahnya dan mengusap bibirnya.


Rasanya dia mau melakukannya lagi dan sebaiknya dia mencoba, Vivian pasti tidak akan tahu apa yang dia lakukan.


Matthew tidak tahu jika Michael melihatnya melalui layar komputer sambil berkata, "Aku harap dia bangun dan menendangmu kak!"


Tangan nakal Matthew kembali mengusap bibir seksi Vivian, percobaan sekali berhasil dan dia yakin yang kedua kali pasti akan berhasil.


Tanpa tahu jika Vivian sudah bangun dari tidurnya karena sentuhan jarinya, Matthew kembali mendekatkan bibirnya, dia siap memberikan kecupan di bibir Vivian tapi pada saat bibirnya hendak menyentuh bibir Vivian, Vivian membuka matanya dan pada saat itu juga Matthew sangat kaget dan menghentikan niatnya.


Vivian menatapnya dengan tajam, sedangkan Matthew tersenyum dan pura-pura mengusap wajah Vivian.


"Wajahmu kotor," ucapnya berdusta.


"Oh ya?" Vivian masih menatapnya dengan tajam.


"Yes babe, lihat wajahmu. Sepertinya sofanya kotor!" dustanya sambil pura-pura membersihkan debu di pipi Vivian.


"Kau sangat baik," ucap Vivian sambil tersenyum.


"Tentu saja aku baik, aku akan membersihkan kotoran yang ada di tubuhmu dengan senang hati."


"Itu yang kau mau bukan? Dasar mesum!" Vivian memundurkan tubuhnya dan langsung menendang Matthew dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Oh my, babe!" Tubuh Matthew terdorong ke belakang.


Karena dia ingin mencari pegangan supaya tubuhnya tidak jatuh ke atas lantai tanpa sengaja Matthew meraih kaki Vivian dan menariknya hingga membuat mereka berdua jatuh ke atas lantai.


Vivian berteriak dan jatuh ke atas tubuh Matthew, sedangkan Matthew memeluknya dengan erat.


"Babe, kau benar-benar!"


"Kenapa kau menarikku?!" Vivian benar-benar kesal.


"Kau duluan yang menendangku babe."


Vivian bangkit berdiri dan menggerutu kesal, padahal jelas-jelas pria itu yang ingin menciumnya, awas saja dia.


Matthew juga bangkit berdiri sambil merenggangkan otot bahunya, gara-gara terjatuh membuat bahunya terasa sakit.


"Apakah sakit?" tanya Vivian sambil tersenyum dengan manis.


"Tentu saja!" jawab Matthew.


"Sini coba aku lihat," Vivian menghampiri Matthew dan berjalan di belakangnya.


Matthew benar-benar curiga dengan sikap Vivian tapi pada saat itu?


"Dhuk!" Vivian menendang bokongnya.


Matthew benar-benar kaget dan tubuhnya terhuyung ke depan hingga jatuh ke atas sofa.


"Oh my!"


Sebelum Matthew bisa bangkit berdiri, Vivian kembali menendang bokongnya sambil berkata, "Ini karena kau mengambil kesempatan dan kau sudah berkata aku boleh menendangmu!"


"Babe, aku tidak melakukan apapun!"


"Dasar pembohong!" Vivian ingin menendangnya lagi tapi Matthew langsung menghindar.


"Babe percayalah!" Matthew memegangi kedua bokongnya.


"Awas kau jika berani lagi!" ancam Vivian dan dia melangkah pergi.


Matthew menghembuskan nafasnya dan mengumpat dalam hati, seharusnya dia tidak mengulanginya dan cukup dengan satu ciuman.


Dia segera bangkit berdiri dan mengusap bokongnya, walau dia mendapat dua tendangan tapi dia tidak menyesal karena dia sudah dapat mencium Vivian dan beruntungnya gadis itu tidak tahu.


Di depan komputer, Michael tertawa terbahak-bahak melihat kesialan kakaknya. Sepertinya dia harus membelikan bantal untuk kakaknya mengganjal bokongnya.


Melihat kasialan yang dialami oleh kakaknya membuat Michael berpikir, jika dia bertemu dengan wanita tangguh sepertinya dia harus berpikir dua kali untuk mengejarnya yang pasti pagi ini dia bisa menertawakan kesialan yang dialami oleh kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2