Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Kebahagiaan Jager Maxton.


__ADS_3

Matthew pergi ke kantor karena ada yang ingin dia bahas dengan adiknya. Ini mengenai topeng wajah yang dibuat oleh Bruke.


Topeng terakhir digunakan saat keributan terjadi di San Francisco City Hall dan setelah itu orang yang menggunakan topeng wajahnya tidak terlihat lagi. Bahkan ketika dia dan Vivian menyelamatkan ayah Clarina di dalam kereta, orang yang menggunakan wajahnya tidak terlihat tapi justru ada Gary palsu di sana.


Lebih baik mereka mencari keberadaan topeng itu karena bisa saja anak buah Gary membuangnya dengan sembarangan dan jangan sampai seseorang menggunakan topeng wajahnya untuk melakukan kejahatan.


Jika sampai itu terjadi, tidak saja akan mencoreng nama mereka kembali tapi mereka akan punya musuh baru.


Begitu Matthew tiba, seperti biasa, Michael selalu sibuk di depan komputernya.


"Mich, apa kau sibuk?"


"Tidak, Kak. Ada apa?"


"Apa kau masih menyimpan rekaman cctv yang terjadi di San Francisco City Hall?"


"Tidak, aku sudah menghapusnya karena aku pikir sudah tidak diperlukan lagi. Kenapa, Kak?"


"Aku baru mengingatnya sekarang. Saat itu anak buah Gary memakai topeng wajahku untuk mengancam ayah Clarina. Tapi ketika aku menyelamatkannya di kereta, aku tidak melihat orang yang memakai topeng itu dan aku rasa mereka telah membuangnya."


"Aku juga tidak mengingat hal ini karena kita terlalu sibuk saat itu," ucap Michael.


"Apa waktu kau mencari keberadaan ayah Clarina kau tidak melihat orang yang memakai wajahku, Mich?"


"Tidak, waktu itu aku menemukan ayah Clarina sudah berada di dalam kereta bersama dengan Gary palsu."


"Ck, sepertinya kita akan mendapat masalah baru," ucap Matthew.


"Aku akan menyelusuri cctv yang ada di sana, Kak. Tapi kejadian ini sudah beberapa hari jadi aku tidak yakin apakah aku masih bisa menemukan jejak kejadian itu atau tidak."


"Tidak perlu, Mich. Kau harus berhati-hati karena kemungkinan kita akan mendapat musuh baru."


"Tentu, Kak," jawab Michael.


Entah ke mana topeng yang dibuat oleh Bruke dan yang pasti tanpa sepengetahuan mereka, topeng itu sudah dibawa seseorang ke New York dan seseorang akan menggunakan topeng itu nantinya saat menjalankan rencana jahatnya.


Karena banyak pekerjaan, Matthew mengerjakan pekerjaannya bersama dengan adiknya. Lagi pula baru jam tiga sore dan dia masih punya banyak waktu sebelum menjemput Vivian.


Mungkin setelah ini dia akan semakin sibuk untuk menyiapkan pernikahannya dengan Vivian. Dia juga ingin memberikan kejutan untuk Vivian saat melamarnya nanti jadi dia sudah harus memikirkan hal ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore ketika ponsel Matthew berbunyi. Matthew segera mengambil ponselnya dan menjawab karena itu dari Ainsley.


"Kak, kau di mana?" tanya Ainsley.


"Di kantor, kenapa?"


"Apa kau bisa menjemput aku, Kak? Mobilku tiba-tiba rusak dan aku berada di rumah sakit sekarang," ucap Ainsley.


"Rumah sakit? Untuk apa kau di sana?"


"Jangan salah paham, Kak. Aku tidak jauh dari rumah sakit jadi aku mampir sebentar untuk melihat keadaan ayah Kakak ipar," jawab Ainsley dengan cepat.


"Baiklah, tunggu di sana baik-baik," pinta Matthew.


"Oke," jawab Ainsley seraya mematikan ponselnya.


Dia segera berjalan menuju ruangan di mana Jager Maxton sedang dirawat. Dia tidak berniat untuk datang ke sana tapi mobilnya rusak tidak jauh dari rumah sakit itu. Karena malas menunggu di luar jadi dia sekalian mampir dan membawa roti untuk ayah Kakak Iparnya.


Di dalam ruangan, Jager Maxton sedang beristirahat. Damian pergi keluar karena dia sedang berbicara dengan seseorang. Dia tidak mau menggangu ayahnya dan lebih memilih berbicara di luar.

__ADS_1


Ainsley mendorong pintu dengan perlahan dan masuk ke dalam. Dia segera menghampiri Jager Maxton dan melihat sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa di sana, di mana Damian?


Dengan perlahan Ainsley meletakkan roti yang dia bawa ke atas meja, lebih baik dia pergi saja karena tidak ada siapapun tapi saat itu, Jager terbangun dan melihatnya.


"Siapa kau, Nona?" Jager duduk di atas ranjang dan melihatnya dengan heran.


"Oh, maaf Uncle aku mengganggu," jawab Ainsley sambil tersenyum manis.


"Tidak apa-apa, tapi siapa Nona?" tanya Jager lagi karena dia memang tidak mengenal Ainsley.


"Aku ...."


"Ainsley?" Damian masuk ke dalam dan sangat heran melihatnya di sana.


"Hy, maaf aku mengganggu," ucap Aisley.


"Tidak apa-apa, kenapa kau tidak mengatakan padaku jika ingin datang?" tanya Damian.


"Ini hanya kebetulan, mobilku rusak di luar jadi aku pikir aku ingin melihat keadaan ayahmu sebentar sambil menunggu kedatangan kakakku."


Jager memperhatikan putranya dan gadis itu, ini pertama kalinya dia melihat Damian dekat dengan seorang wanita. Siapa sebenarnya gadis itu?


"Hm, sepertinya aku mengganggu jadi sebaiknya aku tidur lagi," ucap Jager Maxton.


"Ck, Daddy bicara apa sih? Dia adik Matthew."


"Oh ya? Aku kira dia calon menantuku," goda Jager Maxton.


"Tidak, Uncle. Jangan salah paham," ucap Ainsley dengan wajah tersipu.


"kenapa? Apa kau tidak mau jadi menantuku?" tanya Jager.


"Daddy!" Damian tampak tidak enak hati.


"Aku membawakan roti untuk Uncle, jangan lupa dimakan," ucap Ainsley.


"Terima kasih, siapa namamu?" tanya Jager.


"Ainsley Smith," jawab Ainsley.


"Hm, jika namamu jadi Ainsley Maxton juga bagus," goda Jager.


"Astaga, Daddy!" Damian semakin tidak enak hati.


"Ha ... ha ... ha ... ha ...! Aku hanya menggoda kalian saja," ucap Jager sambil tertawa.


"Mohon maafkan ayahku," pinta Damian.


"Tidak apa-apa, aku tahu jika Uncle hanya bercanda," jawab Ainsley sambil tersenyum.


"Ngomong-ngomong, ke mana adikmu, Damian? Daddy tidak melihatnya dari pagi."


"Dia bilang ke kantor, aku akan menghubunginya jika Daddy ingin berbicara dengannya," jawab Damian.


"Suruh dia datang, Daddy sangat merindukannya," pinta ayahnya.


Damian mengangguk dan mengambil ponselnya, sedangkan Ainsley berjalan menuju sebuah sofa karena dia akan menunggu kakaknya di sana.


Ketika Damian menghubunginya, Vivian sedang menghapus data-datanya dari komputer karena besok dia tidak akan menggunakan benda itu lagi. Setelah menerima penghargaan besok, dia dan Charlie bisa langsung kembali ke Inggris dan tidak perlu datang ke kantor lagi.

__ADS_1


Vivian segera meraih ponselnya ketika benda itu berbunyi, dia tersenyum ketika melihat kakaknya yang menghubunginya.


"Ada apa, Kak?"


"Daddy mencarimu, apa kau tidak mau datang?"


"Tentu mau, aku akan datang tapi nanti malam. Aku sedang di kantor sekarang dan nanti malam aku harus pergi dengan para sahabatku, tidak apa-apa bukan?"


"Tentu, bicaralah dengan Daddy," Damian segera menghampiri ayahnya dan memberikan ponselnya, setelah itu dia menghampiri Ainsley.


"Dad, maaf aku ...."


"Tidak apa-apa, Sayang. Daddy hanya merindukanmu," ucap ayahnya.


"Bagaimana dengan keadaan Daddy?"


"Daddy baik-baik saja dan menurut dokter sudah bisa pulang dua hari lagi."


"Really?" Vivian sangat senang mendengarnya.


"Yes, kau tidak lupa bukan akan pergi piknik dengan Daddy?"


"Tentu, Dad. Jadi kita akan pergi piknik setelah Daddy keluar dari rumah sakit?" tanya Vivian.


"Ya, Sayang. Daddy sudah tidak sabar," jawab ayahnya.


"Aku juga sudah tidak sabar, Dad."


"Ngomong-ngomong, apa hubungan kakakmu dengan calon adik iparmu?" tanya Jager penasaran.


"Ainsley ada di sana?"


"Ya, mereka terlihat akrab. Daddy baru pertama kali melihat kakakmu begitu akrab dengan seorang wanita."


"Jika begitu sebaiknya Daddy pura-pura tidur, jangan mengganggu mereka."


"Oh, ide bagus. Daddy akan pura-pura tidur dan mengintip," jawab ayahnya.


Vivian terkekeh, ayahnya seperti sudah tidak sabar ingin punya menantu.


"Dad, nanti kita bicara lagi. Rekanku memanggil," ucap Vivian.


"Baiklah, Sayang. Daddy juga mau pura-pura tidur dan jangan lupa kau harus datang nanti," pinta Jager pada putrinya.


"Pasti, Dad. Sebaiknya Daddy pantau Kak Damian dan Ainsley baik-baik," goda Vivian.


"Tentu," jawab ayahnya tapi pada saat itu, Matthew masuk ke dalam karena dia ingin menjemput adiknya.


"Ck, hilang sudah kesenangan Daddy!" ucap Jager.


"Kenapa?" tanya Vivian heran.


"Matthew datang mengganggu."


"Ha ... ha ... ha ... ha ...,!" Vivian tertawa.


"Aku sudah harus pergi, Dad. I love you," ucap Vivian.


Jager tersenyum dan meletakkan ponselnya setelah selesai berbicara dengan putrinya. Setelah itu Jager memandangi Damian yang sedang berbicara dengan Ainsley dan Matthew, memiliki Damian adalah anugerah terbaik yang dia miliki dan sekarang, dia juga bisa bersama dengan putri kandungnya. Dia sangat bersyukur dengan tindakan yang dia ambil selama ini dan dia sangat bahagia walaupun dia harus kehilangan istrinya.

__ADS_1


Dia sungguh tidak menyangka jika masih punya kesempatan untuk merasakan kebahagian seperti ini dan dia juga tidak menyangka jika dia bisa bertemu dengan putrinya yang dia sangka sudah tiada dan semua itu berkat Matthew yang telah mempertemukan mereka.


Seandainya waktu itu dia tetap menolak, apa dia akan sebahagia ini? Dia rasa dia akan terus menangisi putrinya yang ternyata masih hidup dan sekarang, dia ingin melakukan banyak hal menyenangkan dengan putrinya.


__ADS_2