
Mosha ingin berpaling untuk melihat agen yang sedang mengajaknya bekerja sama tapi agen yang ada di belakangnya menekan kepala Mosha dengan pistolnya.
"Jangan melihatku dan jawab aku, kau mau bekerja sama denganku atau tidak? Jika kau menolak maka akan aku lubangi kepalamu ini!" ucap agen itu.
"Bekerja sama untuk apa dan apa keuntungannya buatku?" tanya Mosha.
"Aku ingin kau menjadi kambing hitam ku!"
"Maksudmu?" tanya Mosha tidak mengerti.
"Dengar baik-baik karena aku tidak punya banyak waktu! Kedua rekanku bisa datang kapan saja jadi ambil keputusan dengan cepat jika sampai salah satu dari mereka melihat kita maka aku akan menembakmu tanpa ragu!"
"Katakan!"
"Mosha kau sudah tertangkap sekarang dan kau tidak akan bisa lari karena tempat ini sudah dikepung oleh polisi. Setelah tertangkap kau tahu kau akan di hukum selama puluhan tahun di dalam penjara bahkan kau bisa mendapat hukuman mati jadi aku ingin kau mengaku sebagai buronan kami yang berinisial M saat kau diintrogasi nanti."
"Buronan? Bukankah aku juga akan dihukum mati jika mengaku sebagai buronan kalian?" tanya Mosha.
"Benar tapi kau punya kesempatan untuk melarikan diri jika kau bersedia menjadi buronan kami dan kau bisa hidup dengan nyaman tanpa dikejar oleh pihak berwajib lagi."
"Apa maksudmu?" Mosha mulai tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh agen itu.
"Dengar! Begitu buronan kami tertangkap dan dinyatakan bersalah maka dia akan dijatuhi hukuman mati dan pada saat itu, dia akan di bawa ke suatu tempat untuk dieksekusi. Jika kau menggantikannya maka aku akan membebaskanmu saat kau hendak dibawa untuk dieksekusi dan kau bisa mencari seseorang untuk mengganti wajahmu. Setelah itu kau tidak akan menjadi incaran pihak berwajib lagi dan kau bisa hidup dengan aman dan kembali menjalani bisnismu dengan aman pula."
"Terdengar menarik tapi itu beresiko! bagaimana jika kau gagal menyelamatkan aku?"
"Percayalah padaku! Aku pasti akan membebaskanmu asal kau mau bekerja sama denganku. Pikirkan baik-baik, kau pura-pura jadi buronanku dan setelah itu hidup bebas atau kau akan mati membusuk di dalam penjara untuk seumur hidupmu!"
Mosha diam saja, memikirkan tawaran agen itu. Terus terang saja dia tidak mau dipenjara lagi dan sepertinya dia tidak punya pilihan untuk bekerja sama dengan agen itu. Lagi pula dia sudah tertangkap saat ini, mati sekarang, mendekam dipenjara untuk seumur hidup atau berpura-pura menjadi buronan dan setelah itu hidup bebas.
Tentu dia akan mengambil pilihan terakhir, cukup berpura-pura jadi buronan saja bukan dan setelah itu dia bisa bebas.
"Cepat putuskan!" pinta agen itu karena bisa saja kedua rekannya tiba-tiba datang.
"Baiklah, pilihan manapun pada akhirnya aku akan mati juga jika aku salah mengambil keputusan tapi aku akan mencoba bekerja sama denganmu jadi aku harap kau tidak menipuku!" jawab Mosha.
"Bagus! Kau tidak perlu khawatir, aku jamin kau akan bebas setelah kau berpura-pura menjadi buronanku dan sekarang segera keluar dan berpura-puralah kau tertangkap oleh salah satu rekanku! Ingat kau tidak bisa melarikan diri karena tempat ini sudah dikepung oleh polisi jadi jangan coba-coba untuk menipuku!"
"Tapi katakan padaku dulu, apa yang harus aku lakukan saat aku diintrogasi nanti?" tanya Mosha.
__ADS_1
"Kau harus mengaku sebagai penyeludup senjata ilegal dan obat-obatan. Kau juga harus mengaku berasal dari Miami dan ingat, kau harus mengatakan jika kau selalu beraksi menggunakan banyak wajah dan selalu memakai inisial M."
"Baiklah, hanya itu saja bukan? Kebetulan profesiku memang itu dan aku memang berasal dari Miami jadi ini sangat mudah untukku!"
"Bagus, jadi kau sudah memutuskannya bukan?" tanya agen itu, menjadikan Mosha sebagai kambing hitam sungguh keputusan yang tepat.
Mosha mengangguk tapi pistol masih berada di belakang kepalanya sedangkan agen itu kembali berkata, "Segera lari jangan melihatku jika tidak kesepakatan kita batal dan aku akan menembakmu karena aku bisa memberi kesempatan ini pada penjahat yang lainnya!"
Mosha kembali mengangguk dan ketika agen itu berteriak "Lari!" Mosha segera lari tanpa melihat rupa orang yang mengajaknya bekerja sama.
Dia harus pura-pura tertangkap dan memang para polisi sudah mengepung tempat itu sehingga dia tidak bisa melarikan diri ke manapun lagi.
Vivian masih terus mencari Mosha begitu juga dengan salah satu rekannya, mereka mengecek setiap ruangan yang ada di dalam bangunan itu dan tidak sengaja bertemu di depan sebuah ruangan lain.
Mereka mengangguk secara bersama-sama siap membuka pintu ruangan dan ketika pintu ruangan terbuka, Mosha menembaki mereka dan setelah itu dia melarikan diri.
Mosha melakukan hal itu agar dia ditangkap, dia harus berpura-pura supaya terlihat normal. Vivian dan rekannya segera mengejar Mosha dan ketika mereka sedang mengejar, mereka bertemu dengan si penghianat yang juga pura-pura mengejar Mosha.
Vivian mengeluarkan pistolnya, sudah cukup mereka bermain kejar-kejaran dan tanpa membuang waktu, Vivian menembak kaki kanan Mosha.
Mosha berteriak dan tubuhnya terjungkal ke depan karena kehilangan keseimbangan sedangkan Vivian dan kedua rekannya segera berlari mendekati Mosha.
"Aku menyerah, aku menyerah," ucap Mosha sambil meringis dan mengangkat kedua tangannya.
"Bagus!" Charlie mengambil borgol dan memborgol kedua tangan Mosha.
Mosha segera dibawa turun ke bawah dan benar saja, polisi sudah mengepung tempat itu dan dia tidak akan mungkin bisa lolos. Walau sebuah peluru bersarang di kakinya tapi dia sudah membuat sebuah kesepakatan dan dia masih punya kesempatan untuk bebas.
Entah kenapa agen itu menawarkan kerja sama dengannya tapi dia tidak perduli. Yang penting agen itu tidak ingkar janji dan akan membebaskannya saat dia akan dieksekusi nanti.
Mosha diserahkan pada pihak berwajib sedangkan Vivian dan kedua rekannya melihat mobil yang membawa Mosha melaju pergi.
"Tidak aku sangka hari pertamaku di sini kita sudah menangkap seorang penjahat," ucap Charlie.
"Ya, semoga perkiraan kita tidak meleset," ucap Felicia.
"Jadi kalian mencurigainya sebagai buronan kita?" tanya Vivian pura-pura.
"Ini hanya kecurigaan kita saja Angel, kita akan tahu besok setelah dia diintrogasi oleh pihak berwajib," jawab Felicia.
__ADS_1
"Baiklah, mau merayakan keberhasilan kita dengan segelas minuman," ajak Vivian seraya merangkul bahu kedua rekannya.
"Boleh juga, ayo," jawab kedua rekannya.
Mereka menuju mobil mereka dengan hati gembira karena sudah menyelesaikan tugas dan tentunya salah seorang dari mereka sangat senang karena dia sudah mendapatkan kambing hitam untuk menggantikan si buronan.
Setelah pulang bekerja dia akan mengatakan kabar ini pada si buronan dan dia yakin pria itu pasti akan senang karena ini adalah kabar baik baginya tapi ini bukan saja kabar baik untuk Gary karena ini akan menjadi kabar baik untuk seseorang.
Ketika sudah sampai di mobil, Vivian mengambil ponsel karena dia ingin melihat ada yang menghubunginya atau tidak.
Sebuah senyuman menghiasi wajahnya saat dia melihat Matthew menghubunginya berkali-kali.
"Guys, bisa menungguku sebentar? Aku ingin menghubungi seseorang," pintanya.
"Pergilah," jawab Charlie dan Felicia secara bersama-sama.
"Thanks," ucap Vivian seraya melangkah pergi sambil menghubungi Matthew.
Matthew segera meraih ponselnya begitu suara benda itu terdengar, dia terlihat senang begitu melihat Vivian yang menghubunginya.
"Hy babe, apa kau baik-baik saja?"
"Tentu saja, maaf baru bisa menghubungimu. Aku agak sibuk tadi," jawab Vivian.
"Tidak apa-apa, ada yang ingin aku bicarakan denganmu tapi nanti saja di rumah."
"Matt, malam ini aku mau menginap di rumah ayahku, kau tidak keberatan bukan?"
"Tentu saja tidak babe, habiskanlah waktumu bersama dengan ayahmu dan kita bisa membicarakan ini besok," jawab Matthew.
"Apa penting?"
"Tidak juga, jangan dipikirkan. Nikmatilah waktumu dengan ayahmu."
"Baiklah, aku sudah harus pergi Matth, kedua rekanku sudah menungguku."
"Oke," jawab Matthew sambil melihat foto yang diambil adiknya dari kamera cctv yang ada diapartemen Gary.
Entah kenapa dia semakin mencurigai rekan Vivian yang baru datang dari Inggris dan dia harap Vivian selalu waspada dengan hal ini dan tidak terlalu mempercayai kedua rekannya.
__ADS_1