Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Dinner


__ADS_3

Malam ini Matthew sedang bersiap-siap karena dia ingin segera bertemu dengan gadis yang telah mencuri hatinya.


Dia sudah memesan tempat dan mereka akan makan malam di restoran The Albright yang terletak dipinggir pantai Santa Monica.


The Albright adalah restoran makanan laut yang memiliki menu seafood klasik dan lezat. Hidangan populer termasuk tiram panggang, sup seafood pedas, onion ring remah roti, po'boy udang, nila goreng utuh, taco udang macan hitam dan taco ikan adonan bir. Selain semua ini, restoran juga menawarkan bar untuk pengunjung.


Suasana di restoran The Albright terkesan santai sehingga para tamu akan menikmati makanan mereka sambil menikmati pemandangan laut.


Ruang makan didesain dengan nyaman, tempat duduk yang nyaman dimana terdapat banyak jendela besar, dan dekorasi yang menawan. Perabotannya terbuat dari kayu keras dan bergaya tradisional. Para tamu diundang untuk menikmati makanan mereka baik di dalam ruang makan yang dipenuhi sinar matahari atau di luar di dek yang menghadap ke dermaga Santa Monica yang menakjubkan.


Setelah selesai makan, para tamu juga bisa menikmati waktu mereka dengan berjalan-jalan disepanjang pesisir pantai Santa Monica.


Matthew memang sengaja mengajar Vivian makan malam di sana karena dia ingin mereka menikmati waktu mereka lebih lama sambil menikmati laut dimalam hati.


Setelah puas dengan penampilannya, Matthew keluar dari kamar dan mencari Ibunya. Didapur, Kate dan Alice sedang menyiapkan makan malam dan pada saat melihat ibunya, Matthew berdiri disamping ibunya dan menyomot sepotong makanan.


"Mom, aku tidak ikut makan malam."


"Kau mau kemana Matt?" tanya ibunya.


"Kencan," jawab Matthew singkat.


"Oh ya? Dengan siapa kali Ini? Marian? Angelina? Maria atau ada yang lainnya?" tanya ibunya sedangkan Matthew terkekeh.


"Tidak satupun dari mereka mom."


"Jadi? Apa kau punya pacar baru?"


"Tidak, belum. Kami baru saja saling mengenal tapi percayalah, dia yang akan jadi menantu mommy nanti."


"Benarkah?"Kate terlihat senang.


"Sebaiknya kau berhenti bermain-main jiia kau sudah serius dengannya Matt!" ucap Alice menyela.


"Tentu saja nenek, tapi aku sedang berusaha mendapatkan hatinya jadi mom, bolehkan aku tinggal di rumahnya?" pinta Matthew.


"What? Memangnya gadis itu memperbolehkan?" tanya ibunya.


"Tenang saja mom, aku punya seribu satu cara agar dia mengijinkan aku tinggal di rumahnya."


"Ck, kau sungguh mirip dengan kakekmu! Aku jadi ingat masa mudaku dulu!" ucap Alice.


"Memangnya kakek tinggal di rumah nenek?"


"Huh, dia itu penipu!" jawab Alice saat mengingat kejadian dulu saat Jacob menipunya dan berpura-pura terkena tembakan sampai membuatnya takut setengah mati.


Matthew terkekeh dan memeluk ibunya sambil bertanya, "Jadi mommy mengijinkan aku tinggal dengannya bukan?"


"Baiklah demi calon menantu, jika kalian sudah dekat bawa dia pulang aku ingin melihatnya dan ingat, jangan menyusahkannya dan kau harus membantunya."


"Tentu saja mom," jawab Matthew dan sebelum pergi Matthew mencium pipi ibu dan neneknya.


Setelah Matthew pergi, Michael masuk kedalam dapur dan duduk dimeja makan.

__ADS_1


"Mom, kemana kak Matthew?"


"Pergi kencan."


Michael diam saja dan mengambil sepotong buah yang ada di atas piring, Kate memperhatikan putra bungsunya dan menghampirinya.


"Mich, apa kau tidak punya pacar?"


"Tidak ada."


"Kenapa? Apa tidak ada gadis yang menarik perhatianmu?"


"Entah mom, aku sedang malas dan aku belum menemukan seseorang yang bisa membuatku penasaran."


"Oke baiklah, kalian semua selalu mengejar gadis yang hanya bisa membuat kalian penasaran saja!"


"Tidak apa-apa Kate, suatu hari Michael pasti akan bertemu dengan seseorang yang dia inginkan. Seperti Matthew, akhirnya dia berhenti bermain dan sekarang sepertinya dia sedang serius mengejar seseorang yang benar-benar dia inginkan!" ucap Alice.


"Mommy benar," jawab Kate dan dia berharap Matthew tidak salah memilih gadis yang akan dia jadikan pasangan hidup begitu juga dengan Michael.


Sementara itu di restoran The Albright, Matthew telah menunggu Vivian dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam tapi Vivian belum juga datang.


Dia sudah mencoba menghubungi Vivian tapi tidak juga dijawab, hal itu membuat Matthew bertanya dalam hati, apa Vivian tidak mau datang?


Di luar sana Vivian menghentikan motornya diparkiran, dia sudah terlambat karena mencari alamat restoran itu. Matthew hanya mengatakan Albright tanpa mengatakan alamatnya dan sebagai pendatang baru, tentu dia mengalami kesulitan mencari restoran itu.


Vivian berlari masuk kedalam restoran dan mencari Matthew, dia bahkan mondar mandir di dalam restoran sampai akhirnya dia melihat Matthew sedang duduk di dek restoran yang mengarah ke dermaga.


"Sory aku terlambat," ucap Vivian seraya duduk di depan Matthew.


"Tidak apa-apa, aku juga baru datang," ucapnya pura-pura.


"Karena kau sudah membantuku jadi kau boleh memesan apa saja yang kau mau!" ucap Vivian sambil mengambil buku menu sedangkan Matthew hanya tersenyum.


"Kau yakin?" tanya Matthew memastikan.


"Tentu, asal kau tidak membuatku berakhir didapur restoran untuk mencuci piring!" jawab Vivian bercanda.


"Jika begitu aku akan membantumu mencuci piring," jawab Matthew dengan senyum diwajahnya.


"Aku yang cuci piring kau yang akan menyikat kamar mandi!" ucap Vivian sedangkan Matthew tertawa.


Mereka memesan beberapa hidangan laut yang terkenal di restoran itu, dan selama makan, mata Matthew tidak lepas dari wajah cantik Vivian.


"Babe, apa kau jadi memberiku tumpangan?" tanya Matthew. Dia sudah mendapat ijin dari ibunya dan sekarang tinggal mendapatkan ijin dari Vivian.


"Ck, aku tidak bilang akan menampungmu!" jawab Vivian.


"Babe, please. Aku tidak punya tujuan."


"Memangnya kau tidak punya keluarga?"


"Punya, tapi aku tidak mau menyusahkan mereka dengan hutang-hutangku. Kau tahu bukan orang-orang mengincar nyawaku dan aku tidak ingin mereka terlibat!"

__ADS_1


"Memangnya berapa hutangmu?" Vivian meliat Matthew dengan penuh selidik.


"Banyak!"


"Sebutkan saja, siapa tahu aku bisa membantumu."


"Seratus lima puluh juta dolar," jawab Matthew berdusta.


"What?" Vivian terbelalak kaget.


"Kau gila? Kenapa bisa hutang begitu banyak?!" pantas saja pria itu dikejar oleh debcolector? Ternyata hutangnya tidak kira-kira.


"Ceritanya panjang babe, jadi kau mau menampungku atau tidak?" tanya Matthew.


Vivian menghela nafasnya, jujur saja dia merasa iba tapi jika dia menampung Freddy maka kelemahan terbesarnya akan ketahuan.


"Akan aku jawab nanti," ucapnya.


Matthew tersenyum dan meneguk minumannya, sepertinya dia harus menggunakan cara lain supaya Vivian mau menampungnya dan akan dia pikirkan nanti.


"Babe, bagaimana jika kita jalan-jalan di pantai?" ajak Matthew.


"Boleh juga, sebentar," Vivian memanggil seorang pelayan karena dia ingin membayar tapi matanya membulat saat melihat tagihan makanan mereka.


"Apa tidak salah?" Vivian bertanya dan melihat pegawai restoran dengan heran.


"Tidak nona, itu tagihan untuk makanan yang kalian pesan."


"Sebanyak ini dan aku hanya perlu membayar satu dolar?" tanya Vivian tidak percaya.


"Benar, kalian beruntung karena kalian pelanggan kesepuluh ribu yang datang ke restoran kami!" jawab pegawai restoran itu.


"Ck jika aku tahu maka aku akan membungkus semua menu makanan yang ada untuk stok satu minggu!" ucap Vivian seraya memberikan uang kepada pegawai restoran itu.


Matthew hanya tertawa mendengarnya, sebenarnya makanan itu sudah dia bayar. Tidak mungkin bukan dia membiarkan Vivian yang membayar makanan itu?


Setelah selesai mereka berjalan-jalan disisi pantai. Vivian berdiri di pinggir pantai dan memandangi laut malam dan entah mengapa dia jadi ingat dengan seseorang, seseorang yang sudah dia tunggu dari lama.


Matthew melihat ekspresi wajah Vivian yang tiba-tiba jadi sedih, ada apa dengannya?


"Babe, ada apa denganmu?"


"Tidak ada apa-apa Fredd, aku mau pulang. Terima kasih sudah mengajakku kemari," ucap Vivian sambil memutar langkahnya.


"Babe, besok makan siang denganku!" pinta Matthew.


"Ya," jawab Vivian seraya melangkah pergi.


Matthew memandangi kepergiannya dengan senyum diwajahnya, pelan-pelan gadis itu pasti akan jadi miiliknya.


Matthew masih berdiri di pinggir pantai dan memandangi laut sedangkan diparkiran, Vivian melihat sebuah foto dari ponselnya sambil menghela nafas.


"Calrk br*ngsek! Sudah lima tahun aku menunggumu tapi kau tidak juga kembali, aku sangat merindukanmu bodoh!" ucapnya dan tanpa dia sadari air matanya menetes.

__ADS_1


"Tidak pernah memberiku kabar dan tidak pernah menghubungiku, sebenarnya kau masih hidup apa tidak?"


Vivian menghela nafasnya dan menghapus air matanya, "Aku harap kau cepat kembali Carlk agar penantianku ini segera berakhir!" ucapnya lagi tanpa tahu sebenarnya pria yang dia tunggu ada didekatnya.


__ADS_2