
Waktu sudah sore tapi Vivian masih sibuk di depan komputernya. Dia memang sengaja untuk tidak pulang karena dia Ingin menunggu semua agen yang ada di sana pergi terlebih dahulu barulah dia keluar.
Jangan sampai ada yang melihat jika Matthew Smith menjemputnya, Vivian benar-benar tidak mau ada yang tahu. Lagi pula, dia sedang mempelajari lokasi yang akan menjadi tempat seseorang melakukan transaksi besok dan dia akan menunggu sebentar lagi.
Entah siapa yang akan melakukan transaksi tapi dia harap besok misinya tidak gagal dan dia juga berharap dia bisa menangkap penghianat yang ada diorganisasi secepat mungkin jika memang ada.
Seorang penghianat bagaikan duri dalam daging yang akan menusuk semakin dalam jika terus dibiarkan dan jangan sampai misinya selalu gagal karena penghianat itu.
Satu persatu rekannya mulai pergi, dia harap mereka semua cepat pergi karena Matthew sudah menunggunya disebuh cafe yang ada di dekat kantornya.
Dia sudah meminta Matthew untuk menunggunya, dia berjanji tidak akan terlalu lama dan akan segera mencarinya di cafe setelah semua rekannya pergi.
Sambil menunggu, Vivian berjalan menuju mesin fotocopy karena dia ingin mengcopy denah lokasi dan mempelajarinya di rumah.
Ketika dia sedang sibuk, Patrik menghampiri Vivian karena dia mau menawarkan bantuan.
"Angel."
"Ada apa Patrik? Kenapa kau belum pulang?" tanya Vivian seraya melirik ke arah Patrik sejenak.
"Aku sudah mau pulang, bagaimana denganmu?" tanya Patrik pula.
"Sebentar lagi," jawab Vivian sambil menyalakan mesin fotocopy.
"Angel, boleh aku tahu kau pulang ke mana? Kau belum mendapat rumah dinas baru bukan?"
Vivian diam saja dan menekan tombol yang ada dimesin fotocopy, jawaban apa yang harus dia berikan kepada Patrik supaya dia tidak curiga?
"Angel, jangan katakan kau akan pulang ke rumah dinas lamamu yang sudah hancur!"
"Tidak Patrik."
"Jadi? Selama kau belum mendapat rumah dinas baru, di mana kau akan tinggal?"
"Apartemen!" jawab Vivian dengan cepat.
"Apartemen?" Patrik tampak tidak percaya.
"Ya, aku menyewa apartemen untuk aku tinggali sementara selama rumah dinasku disiapkan," dusta Vivian.
"Oh ya?"
"Kenapa kau seperti tidak percaya Patrik?" Vivian memandangi Patrik dengan curiga.
"Tidak bukan begitu, jangan salah paham! Aku pikir kau belum punya tempat tinggal jadi aku mau menawarkan tumpangan untukmu," jawab Patrik dengan cepat, jangan sampai Vivian curiga.
"Terima kasih atas niat baikmu tapi aku sudah punya tempat tinggal," Vivian mengambil hasil fotocopyannya dan segera kembali ke mejanya sedangkan Patrik mengikuti langkahnya.
"Baiklah, aku lihat kau datang tidak menggunakan motor, bagaimana jika aku mengantarmu?" Patrik masih belum menyerah.
"Tidak perlu, aku meninggalkan motorku tidak jauh dari sini."
"Benarkah?"
"Yes," jawab Vivian sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Patrik sambil menghela nafasnya kecewa.
"Terima kasih atas niat baikmu Patrik," entah kenapa Vivian jadi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, jika begitu aku akan pulang."
"Hati-hati."
"Thanks Angel," ucap Patrik seraya melangkah pergi.
Karena semua agen sudah pergi, Vivian segera merapikan mejanya dan membawa kertas yang baru saja dia fotocopy.
Vivian keluar dengan terburu-buru dan setelah memastikan di luar sana aman, dia segera berlari menuju cafe di mana Matthew sudah menunggunya.
Di cafe, Matthew melihat jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul enam sore. Sudah hampir satu jam dia menunggu Vivian di sana tapi kenapa Vivian belum juga datang?
Matthew menghembuskan nafasnya dan tidak lama kemudian, sebuah senyuman menghiasi wajahnya ketika melihat Vivian berada di seberang jalan hendak menyeberanginya.
Setelah tanda lampu lalu lintas untuk penyebrang jalan menyala, Vivian berlari dengan terburu-buru menyebrangi jalanan dan segera masuk ke dalam cafe di mana Matthew sudah menunggunya.
Vivian segera menghampiri Matthew saat melihatnya dan segera duduk di depan Matthew dengan nafas terengah-engah.
"Sory...membuatmu menunggu," ucap Vivian sambil mengipas-ngipas wajahnya karena panas.
"Santai saja babe, jangan dipikirkan."
Karena haus, Vivian menyambar minuman yang ada di atas meja dan meneguknya sedangkan Matthew tersenyum melihatnya.
"Pelan-pelan, aku akan memesankan minuman dingin untukmu."
"Tidak mau makan di tempat lain babe?"
"Tidak, setelah ini aku ada pekerjaan dan aku harus menyusun strategi."
"Wow, apa yang mau kau lakukan? Apa kau mendapat tugas berbahaya?"
"Ya, tapi bahas hal ini di rumah, aku tidak mau membahasnya di sini!"
"Baiklah, tapi kau harus ingat. Kau harus libatkan aku dalam misimu."
"Tentu saja tuan Smith tapi ingat, tanpa inbalan!"
Matthew terkekeh dan mengusap kepala Vivian, tentu dia tidak akan meminta imbalan apapun karena apa yang sangat dia inginkan sudah dia dapatkan yaitu hati Vivian. Walaupun Vivian belum mengakuinya tapi dia tahu jika sudah ada cinta di hati Vivian untuknya.
"Babe, setelah makan bagaimana jika kita pergi ke pantai?" ajak Matthew.
"Ke pantai?"
"Laut pada malam hari sangat menyenangkan," jawab Matthew.
"Tapi aku Ingin melihat bintang."
"Kau akan mendapatkannya nanti!"
"Baiklah, ayo kita kepantai."
__ADS_1
Setelah sepakat, mereka segera memesan makanan. Ke pantai pada malam hari berdua? Anggap saja ini kencan pertama mereka berdua.
Setelah selesai makan, Matthew dan Vivian keluar dari cafe dengan mesra. Matthew merangkul pinggang Vivian dan Vivian melakukan hal yang sama bahkan Vivian menyandarkan kepalanya di bahu Matthew dan mereka berjalan menuju mobil sambil bercanda.
Matthew membawa mobilnya menuju Santa Monica beach. Santa Monica beach merupakan pantai yang bisa dibilang memiliki segalanya diantara pantai yang ada di California bagian selatan dan memiliki luas 245 Ha. Di sana dipenuhi dengan berbagai macam hiburan dan dari arah pantai akan terlihat jelas sebuah wahana kincir angin raksasa yang ada disebuah taman bermain.
Suasana jalananan yang ada di sana membuat para pengunjung seolah-olah sedang berada di Venesia dan tidak hanya itu, pegunungan Santa Monica juga memiliki pemandangan yang indah.
Begitu tiba, mereka berdua berlari kecil menuju pantai sambil berpegangan tangan. Mereka berdua berdiri di sisi pantai dan masih berpengangan tangan.
Angin laut berhembus dan menerpa mereka dan mata Vivian berbinar saat melihat lampu di kincir raksasa yang sedang berputar. Dia merasa sedang melihat One Eye yang ada di London Inggris saat ini.
"Wow!" ucapnya kagum.
"Bagaimana babe, apa kau suka?" Matthew mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
"Tentu saja, thanks. Tempat ini sangat bagus," jawab Vivian seraya bersandar di bahu Matthew.
"Apa kau mau berjalan di jembatan itu babe?" Matthew menunjuk kesebuah jembatan yang mengarah ke arah laut dan tidak jauh dari mereka.
"Boleh, tapi aku ingin kita seperti ini sebentar lagi."
Vivian memutar tubuhnya dan memandangi Matthew dengan senyum di wajahnya.
"Mr Smith, kau tidak lupa bukan ada janji yang belum kau tepati?" Vivian melingkarkan kedua tangannya ke leher Matthew.
"Oh ya? Apa itu?" Matthew memeluk pinggang Vivian dan merapatkan tubuh mereka.
"Makan malam romantis yang kau janjikan?"
"Kau pasti akan mendapatkannya babe," dengan perlahan Matthew mengusap wajah Vivian.
"Melihat bintang?"
"Apapun yang kau mau pasti akan kau dapatkan!" ucap Matthew lagi seraya mendekatkan wajah mereka berdua.
"Memandangi kota malam hari dari atas menggunakan Helikopter?"
"Kau akan mendapatkannya juga babe!"
Vivian tersenyum dan mencium bibir Matthew dan hal itu tidak di sia-siakan oleh Matthew, dengan perlahan Matthew mel*mat bibir Vivian dengan lembut dan semakin mendekapnya dengan erat.
Terpaan angin malam yang dingin tidak mereka perdulikan bahkan deburan ombak di bawah kaki mereka sudah membasahi kaki mereka berdua.
Matthew melepaskan ciuman mereka dan mengusap wajah Vivian yang memerah.
"Bersiaplah babe, setelah ini aku akan membawamu pulang ke sarang cinta kita berdua dan aku?" dia mulai berbisik di telinga Vivian.
"Sudah tidak sabar meremasmu!"
"What? Oh no!"
"Oh yes dan kau tidak bisa menolak!" Matthew kembali mencium bibir Vivian sedangkan jantung Vivian mulai berdebar dengan cepat. Jangan-jangan malam ini mereka akan?
Entah kenapa dia jadi merinding dan sebelum mereka pulang sesuai janjinya, Matthew mengajak Vivian berjalan di atas jembatan untuk menikmati laut pada malam hari dan menikmati pemandangan indah yang ada di Santa Monica Beach.
__ADS_1