
Dengan kemarahan di hati, Matthew berjalan mendekati pria yang terkapar di atas lantai. Dia akan memenggal kepala pria itu saat itu juga karena dia mengira jika pria itulah pelakunya.
Tidak saja memenggal kepalanya, dia juga akan mencincangnya sampai habis. Sambil menarik pedangnya di atas lantai, Matthew memandangi pria itu dengan api kemarahan terpancar dari matanya.
"Beraninya kau?!"
Matthew mengangkat pedangnya, dia siap menebas tapi tiba-tiba saja pria itu menunjukkan jarinya ke dalam dan bergumam, "Selamatkan gadis itu!"
Walau pelan tapi Matthew dapat mendengarnya dan dia segera menghentikan niatnya. Siapapun pria itu jangan-jangan dia hanya orang yang kebetulan lewat dan ingin menolong Vivian, jangan sampai dia salah tebas dan membunuh orang yang tidak bersalah.
Matthew menurunkan pedangnya dan dari dalam sana terdengar suara dua orang yang sedang berbicara.
"Mana dia?!" tanya salah satu mata-mata yang ada di dalam.
"Cari sampai ketemu!" ucap mata-mata lainnya.
Matthew berjalan menuju pintu dan bersembunyi, dia mengintip ke dalam dari persembunyiannya dan melihat dua orang sedang berjalan menuju puing rumah Vivian yang hancur karena Granat.
Matthew menggeram marah saat meliat kedua orang itu, tapi dia masih mengawasi untuk mencari keberadaan Vivian di dalam.
Vivian tidak terlihat sejak tadi apa dia baik-baik saja? Dia percaya Vivian bisa menyelamatkan diri karena dia gadis hebat tapi Matthew tidak tahu jika keadaan Vivian saat ini tidak memungkinkan dan gadis itu sudah tergeletak di atas lantai akibat tubuhnya terpental saat ledakan terjadi.
Matthew masih diam saja tapi ucapan kedua mata-mata yang ada di dalam sana seperti meruntuhkan dunianya.
"Celaka, gadis ini mati!" ucap salah satu mata-mata yang menemukan tubuh Vivian sudah tidak bergerak di atas lantai.
"Apa? Tidak mungkin! Habislah kita!" ucap salah seorang lainnya.
Api kemarahan kembali menguasai hati Matthew, dia segera menarik sebuah pistol dan tidak membuang waktu, Matthew masuk kedalam sambil menarik pedangnya sedangkan sebuah pistol berada di tangan kanannya. Kedua orang itu tidak akan dia biarkan lepas!
"Beraninya kalian?!" ucap Matthew dan pada saat menyadari kehadirannya kedua mata-mata itu segera menarik pistol mereka.
"Dor...dor..!" dua tembakan sudah Matthew lepaskan dan peluru melesat dengan cepat. Dalam sekejap mata saja timah panas yang dia lepaskan mengenai tangan kedua mata-mata yang sedang memegangi pistol.
Mereka berteriak dan pistol mereka jatuh keatas lantai. Tidak sampai di sana saja, Matthew kembali melepaskan tembakan dan peluru kembali mengenai kedua mata-mata itu dan sekarang kaki mereka yang jadi sasaran hingga mereka berdua berlutut di atas lantai.
Matthew berjalan mendekat dan terus menembaki kaki, tangan, paha dan perut kedua orang yang ada di depannya dan mereka terus berteriak saat timah panas menebus anggota tubuh mereka.
__ADS_1
Suara tarikan pedang yang terdengar mengerikan di atas lantai semakin dekat dan semakin membuat merinding dan suara itu seperti lagu kematian untuk kedua mata-mata yang telah berani membunuh Vivian.
Matthew tidak perduli siapa yang membayar mereka karena dia akan memenggal dan membunuh mereka saat itu juga.
Dia berdiri di depan kedua mata-mata yang tidak berdaya, kedua orang itu ketakutan saat melihatnya karena Matthew bagaikan Malaikat maut bagi mereka.
Satu hal yang mereka sadari saat itu juga, jangan-jangan pria itulah target yang harus mereka habisi dan mereka sudah salah sasaran.
Tanpa membuang waktu dan tanpa banyak bicara, Matthew mengangkat pedangnya dan menebas dengan secepat kilat.
"Dhuk!" lengan salah satu mata-mata langsung terlepas dan jatuh ke atas lantai.
Mata-mata itu berteriak sedangkan yang satunya ketakutan, sepertinya mereka sudah salah mencari musuh.
"Tuan, ampuni kami!" mohon salah satu mata-mata itu.
"Mengampuni kalian?" Matthew kembali mengangkat pedangnya.
"Beraninya kalian membunuh Angel!" Matthew kembali menebaskan pedangnya dengan kemarahan di hati dan lagi-lagi, tangan mata-mata itu putus dan jatuh ke atas lantai.
Teriakan demi teriakan terus terdengar, setelah selesai dengan tangan mereka, Matthew bahkan menebas kaki mereka berdua.
Mereka tidak akan mati dengan cara yang mudah karena mereka telah membunuh Vivian. Dia akan membalas kematian Vivian.
"Beraninya kalian membunuh Angel!" Matthew mengulangi ucapannya dan tanpa dia sadari air matanya mengalir. Dia tidak terima Vivian mati dengan cara seperti itu dan dia belum siap kehilangan Vivian apalagi masih banyak hal yang belum mereka lakukan.
"Ma..maafkan kami, kami tidak bermaksud membunuhnya," ucap salah seorang mata-mata itu dengan lemah tapi Matthew tidak perduli.
Matthew menyeka air matanya dan mengeluarkan dua bola dari dalam sakunya, dia memaksa mereka menelan kedua bola itu karena mereka akan mati dengan mengenaskan.
Kedua mata-mata itu menelan bola dengan susah payah dan mereka tidak tahu itu apa tapi sepertinya itu bukan hal yang bagus.
Setelah bola di telan, Matthew berjalan menghampiri Vivian yang tergeletak di atas lantai.
Pedang Matthew langsung terjatuh dari tangannya saat melihat kondisi Vivian yang mengenaskan dan tidak bergerak di atas lantai.
Dia segera menghampiri Vivian dan mendekap tubuh gadis itu dengan erat. Apa sampai di situ saja hubungan mereka?
__ADS_1
"Angel!" Matthew mengusap wajah Vivian dan memandangi wajahnya yang pucat.
"Aku tidak rela kau mati dan meninggalkan aku seperti ini!" ucapnya dan dia mendekap tubuh Vivian dengan erat.
"Per..gi!" ucap Vivian dengan pelan dan nafasnya benar-benar lemah. Pada saat mendengarnya Matthew melepaskan pelukannya dan tampak senang.
Dia segera bangkit berdiri dan membawa Vivian dalam gendongannya. Dia kira Vivian sudah pergi meninggalkannya tapi untungnya tidak!
Tidak mau membuang waktu Matthew membawa Vivian pergi karena keadaan Vivian sangat tidak memungkinkan. Tidak lupa Matthew memungut pedangnya sebelum pergi dan meninggalkan dua mata-mata yang sudah tidak berdaya tanpa tangan dan kaki.
Mereka tidak akan bisa pergi kemana-mana dan dia akan mengakhiri hidup mereka dengan cara yang indah.
Ketika dia keluar, pria yang hendak dia penggal tadi sedang bersandar di tembok dan tampak terengah-engah.
"Apa dia tidak apa-apa?" tanya pria itu saat melihat Vivian tidak bergerak di dalam gendongan Matthew.
Matthew menghentikan langkahnya sejenak dan melihat pria itu, sepertinya benar dia hanya orang yang membantu Vivian.
"Kau bisa jalan bukan?" tanyanya dan pria itu menggangguk.
"Ikuti aku!" perintah Matthew dan pria itu bangkit berdiri dan segera mengikutinya.
Mereka pergi dari sana dan tidak lama kemudian, polisi mendatangi tempat kejadian setelah mendapat laporan dari salah seorang warga yang tinggal di sana.
Polisi segera menyergap masuk kedalam rumah yang hancur dan hanya mendapati dua mata-mata yang tergolek di atas lantai tanpa lengan dan kaki.
Para petugas berniat mengevakuasi mereka tapi sebelum itu terjadi tiba-tiba saja?
"Cratt!" tubuh kedua mata-mata itu meledak dari dalam karena Matthew telah menekan sebuah pemicu dan bom berbentuk bola yang mereka telan langsung meledak.
Potongan tubuh mereka berserakan di atas lantai bahkan mengenai beberapa petugas. Para petugas begitu kaget karena mereka belum pernah melihat kejadian seperti ini.
Patrik juga dipanggil kelokasi kejadian dan sangat kaget saat tahu bahwa Tkp adalah rumah dinas Vivian.
Dia segera bergegas dan yang membuat petugas kebingungan, tidak ada siapa-siapa di rumah itu selain dua orang yang mati meledak tadi.
Petunjuk satu-satunya hanya rekaman Cctv tapi rekaman sudah dikacaukan oleh Michael dan para petugas itu tidak akan pernah mendapati jika kakaknya ada di sana.
__ADS_1