
Di rumah, Matthew sudah menunggu Vivian dengan tidak sabar. Malam ini dia akan memberi hukuman untuk Vivian karena telah memintanya menyamar menjadi Wanita.
Sungguh rasanya ingin menelan Vivian hidup-hidup! Tidak saja penampilannya sudah seperti banci tapi dia jadi bahan tertawaan seluruh keluarganya. Tidak hanya itu, karena high heel super tinggi yang dia pakai, dia jatuh berkali-kali sampai membuat pinggangnya terasa nyeri.
Jika tidak memberikan hukuman untuk Vivian maka dia tidak akan puas. Setidaknya harus impas jadi awas saja gadis itu.
Suara motor Vivian sudah terdengar dan sebuah seringai menghiasi wajah Matthew. Dia segera bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu.
Di luar, Vivian berjalan menuju pintu sambil membuka jaketnya dan pada saat pintu terbuka, Vivian tersenyum melihat Matthew keluar dari balik pintu dan menatapnya dengan tajam.
"Hai cantik," godanya.
"Kau!" tatapan Matthew semakin tajam bagaikan serigala di atas bukit yang sedang mengincar mangsanya.
"Bagaimana harimu, cantik?" goda Vivian lagi sambil tersenyum.
"Tidak perlu ditanya!" jawab Matthew dengan ketus.
Vivian terkekeh dan mendekati Matthew, dengan perlahan Vivian mengecup bibir Matthew dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Matthew.
"Apakah seberat itu?" tanya Vivian sambil memandangi Matthew dengan serius.
"Menurutmu? Itu adalah siksaan bagiku!"
"Oke baiklah maaf, sudah aku katakan jika kau tidak mau melakukannya tidak apa-apa."
"Ck, sudahlah! Aku sudah berjanji akan membantumu tapi bersiaplah menerima hukumanmu babe!"
"Hukuman apa?"
"Kau akan tahu nanti!"
Matthew menggendong Vivian dan segera membawanya masuk ke dalam kamar mereka berdua.
"Matth."
"Hm?"
"Dua hari lagi kita akan pergi ke clubs untuk bertemu dengan rekanku dan untuk memancing buronanku ke luar dari persembunyiannya."
"Dua hari lagi?"
"Ya? Kau masih mau membantuku bukan?"
"Tentu saja bodoh!" Matthew menurunkan tubuh Vivian dan memandangi wajahnya.
"Walaupun kau memintaku menjadi b*nci untuk mengelabui musuhmu aku akan tetap melakukannya tapi setelah itu, aku ingin kau memberikan jawaban atas taruhan yang kita buat karena pada saat itu aku ingin kau menjadi milikku."
"Oh my God!" Vivian menepuk dahinya.
"Aku belum memikirkan jawabannya Matth."
"Itu bukan urusanku dan sebaiknya pikirkan mulai sekarang karena jika jawabanmu salah, aku tidak akan melepaskanmu dan tidak ada alasan bagimu untuk menolak!"
__ADS_1
Vivian diam saja, dia belum tahu siapa Matthew sebenarnya dan dia masih ragu untuk menyerahkan dirinya. Dia takut kecewa saat mengetahui profesi lain Matthew dan dia juga takut menyesal.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Mathew heran.
"Tidak ada apa-apa," jawab Vivian sambil berusaha tersenyum.
"Jika ada yang mengganjal dalam hatimu, tanyakan langsung padaku."
"Terima kasih Matth, aku hanya sedang memikirkan pekerjaanku," dusta Vivian. Jujur saja dia takut kecewa saat tahu kebenarannya langsung dari mulut Matthew.
"Baiklah, tidak perlu kau pikirkan karena aku pasti akan membantumu tapi sekarang, siap mendapat hukuman?"
"Bukan hukuman yang aneh bukan?"
"Tentu tidak!" Matthew mulai melepaskan pakaian Vivian.
"Hei, kenapa melepaskan bajuku?"
"Memangnya kau tidak mau mandi?"
"Tentu aku mau tapi apa kau mau menghukumku di kamar mandi?"
"Hng, aku tidak mau juniorku kau peras lagi seperti jamur kelebihan air!" jawab Matthew.
Vivian terkekeh dan mencium pipi Matthew dengan mesra, "Sory, kemarin itu perdana!"
"Sudahlah, aku akan bersabar sampai hari itu tiba dan sekarang aku akan membantumu mandi. Setelah ini bersiaplah menerima hukumanmu!"
Air bathup sudah di isi tapi Matthew belum menurunkan Vivian karena dia sedang sibuk menikmati bibir Vivian.
"Matth, kau bilang tidak akan menghukumku di kamar mandi!" Vivian mencoba mendorong Matthew saat Matthew sedang menyelusuri lehernya.
"Ini terapi sayang dan hukumanmu setelah mandi."
"Apa? Curang?!"
Matthew terkekeh dan mencium pipi Vivian sambil berkata, "Baiklah, masuklah ke dalam bathup. Aku akan membantumu mencuci rambutmu."
"Thanks."
Matthew kembali menggendong Vivian dan menurunkan tubuhnya ke dalam bathup. Vivian segera menceburkan diri sedangkan Matthew duduk di sisi bathup untuk mencuci rambut Vivian.
"Matth," Vivian memandangi wajah Matthew dan mengusap wajahnya.
"Yes babe?"
"Maaf memintamu untuk menyamar menjadi wanita."
"Tidak perlu dipikirkan. Aku akan melakukan apapun untukmu babe."
"Thanks, mau mandi denganku?"
"Ini terdengar seperti undangan?"
__ADS_1
"Kau tidak mau?"
"Jika aku menolak berarti aku pria paling bodoh dan sekarang waktunya terapi!" jawab Matthew dan tidak lama kemudian teriakan Vivian terdengar karena Matthew mengigit bahunya.
Terapi ala Matthew di mulai dan ini terapi terakhir yang dia berikan. Dia harap setelah ini Vivian tidak takut lagi dengan sentuhannya karena dia sudah tidak sabar menjadikan Vivian miliknya.
Cukup lama mereka berada di dalam kamar mandi dan Matthew jadi mandi lagi. Itu tidak masalah karena dia sangat menikmati kebersamaan mereka berdua.
Setelah selesai mandi, mereka berdua keluar dari kamar mandi karena setelah ini Vivian akan menjalani hukumannya.
Vivian tidak tahu apa hukuman yang akan diberikan oleh Matthew tapi pada saat Matthew membawanya menuju meja makan, mata Vivian terbelalak melihat makanan yang begitu banyak di atas meja.
"Are you serious?"
"Yes, nenek membuatkan semua ini untukmu dan kau harus menghabiskan semuanya sebagai hukumanmu!"
"Oh my God, are you kidding me?"
"No!"
"Tapi Matth?"
"Tidak mau maka aku berubah pikiran!"
"Kau mengancamku?"
"Tidak sayang," jawab Matthew sambil tersenyum.
"Kau mengembalikan ucapanku sekarang!"
Matthew terkekeh dan menarik sebuah kursi untuk Vivian, "Silahkan Mrs Smith, habiskan semuanya!"
Vivian menghembuskan nafasnya dan melihat makanan yang ada di atas meja. Sepertinya dia bisa menghabiskan semuanya tapi satu jam kemudian, dia tampak sudah tidak kuat lagi.
"Aku menyerah," ucapnya.
"Kenapa begitu cepat babe? Kau bahkan belum menghabiskan setengah dari makanan ini?"
"Oh Matth, jangan memaksa! Aku sudah tidak kuat lagi dan lihatlah perutku ini!" Vivian menepuk perutnya yang membuncit akibat kebanyakan makan.
"Aku sudah seperti babi kekenyangan yang siap dibawa kepemotongan jadi jangan memaksaku menghabiskan semuanya jika tidak aku akan mati kekenyangan!"
Matthew terkekeh, dia jadi ingin menggoda Vivian. Matthew mengambil sepotong daging dan memberikannya pada Vivian.
"Buka mulutmu babe, aku akan menyuapi mu!"
"No!" Vivian mengangkat serbet putih dan mengibarkannya. Dia benar-benar tidak sanggup lagi dan mual melihat makanan itu semua.
"Jadi? Apa masih mau memintaku melakukan hal aneh lagi?"
"Dasar pendendam!" jawab Vivian sedangkan Matthew kembali terkekeh.
Setelah ini dia yakin Vivian tidak akan pernah memintanya melakukan hal memalukan lagi tapi sepertinya kejadian itu akan terulang kembali tanpa sepengetahuannya dan tentunya pada saat itu tiba, dia tidak akan bisa menolak permintaan Vivian.
__ADS_1