
Setelah dari Cafe, Michael dan Ainsley langsung pergi ke kantor. Mereka tahu kakak mereka pasti ada di sana dan mereka harus mengatakan apa yang telah terjadi barusan.
Semoga saja kejadian tadi tidak menjadi hal yang serius untuk kakak Mereka apalagi sepertinya gadis tadi sangat marah.
Begitu mereka tiba mereka langsung mencari kakak mereka di dalam ruangan tapi sayang, Matthew sedang rapat penting dengan beberapa pemimpin perusahaan.
Hal itu harus membuat Michael dan Ainsley menunggu bahkan karena kejadian ini membuat Ainsley lupa dengan keinginannya untuk pergi ke suatu tempat.
Cukup lama mereka menunggu dan setengah jam kemudian, Matthew kembali ke dalam ruangannya dan sangat heran mendapati kedua adiknya berada di sana.
"Bukannya kalian pergi? Kenapa ada di sini?"
"Kak, gawat!" ucap Michael.
"Ada apa?" tanya Matthew seraya mengernyitkan dahinya.
"Kami baru saja bertemu dengan pacar kakak," jawab Ainsley.
"Oh ya? Kalian tidak mengisenginya bukan?"
"Kak, itu?" Ainsley ragu mengatakanya.
"Apa?" Matthew memandangi kedua adiknya dan entah mengapa firasatnya mengatakan telah terjadi sesuatu yang tidak bagus.
"Dia mengira kak Michael adalah kak Matthew jadi aku menggodanya sedikit tapi dia tampak marah dan langsung lari. Aku rasa dia cemburu melihat kami sedang berdua," jelas Ainsley.
"What?"
"Kak, dia bilang jangan mencarinya lagi dan jangan pulang ke rumahnya lagi," jelas Michael pula.
"Oh my, kalian berdua!" Matthew segera mengambil ponselnya.
Bisa-bisa Vivian tidak memberinya tumpangan lagi dan jika sampai hal itu terjadi maka untuk mendapatkan gadis itu akan semakin sulit.
Matthew segera menghubungi Vivian tapi sayang, Vivian tidak menjawab panggilannya. Vivian pasti marah dan tidak mau menjawab panggilan darinya jadi Matthew mencoba beberapa kali tapi hasilnya tetap sama.
Karena penasaran, Matthew melacak posisi Vivian yang ternyata ada di rumah. Dia jadi bertanya dalam hati, kenapa Vivian sudah ada di rumah? Apa Vivian pulang dan menangis di sana?
Sebaiknya dia pulang dan mengatakan jika yang Vivian lihat adalah adiknya, semoga Vivian mau mendengarkan penjelasannya jika tidak, dia akan membawa kedua adiknya untuk bertemu dengan Vivian.
__ADS_1
"Awas kalian berdua nanti! Jika dia tidak percaya dengan penjelasanku maka kalian harus menemuinya dan menjelaskan semuanya!" Seharusnya dia senang karena Vivian cemburu tapi gadis itu beda dari yang lain dan semoga saja kali ini bokongnya tidak jadi korban.
"Tentu saja kak," jawab kedua adiknya.
"Mich, sisanya aku serahkan padamu. Aku mau pulang untuk menemuinya."
"Ya, semoga berhasil," jawab Michael sedangkan Matthew berjalan keluar.
Setelah kepergian kakaknya, Michael duduk di depan komputer. Dia mulai mengerjakan pekerjaan yang tertunda tapi beberapa menit berlalu, entah mengapa dia jadi ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh pacar kakaknya. Apakah gadis itu menangis? Dia juga ingin tahu, apakah kakaknya akan ditendang lagi? Tidak ada salahnya melihat dan ini akan menjadi tontonan menarik saat kakaknya ditendang.
"Ainsley, apa kau ingin melihat kak Matthew ditendang?"
"Wow, apakah kakak akan ditendang?" tanya adiknya tidak percaya.
"Aku sudah pernah melihatnya," jawab Michael sambil tertawa.
"Wah, ini pasti akan jadi tontonan yang menarik!" ucap Ainsley dan dia sudah duduk di samping kakaknya.
Menyaksikan kakak pertamanya ditendang? Ini tontonan yang sangat langka dan dia sudah tidak sabar untuk menyaksikannya.
Michael mulai memainkan jarinya di keyboard komputer dan mulai meretas, dia yakin kakaknya tidak lama lagi pasti akan sampai di rumah pacarnya.
Rekaman Cctv di rumah Vivian mulai muncul di layar komputernya dan semula tidak menampilkan hal mencurigakan tapi beberapa detik kemudian, tampak Vivian sedang berjalan dengan sempoyongan menuju lemari dan mengambil pistol dari dalam sana.
Tanpa menunggu Michael segera mengambil ponselnya, dia harus menghubungi kakaknya dan memintanya untuk bergegas.
"Ada apa?" tanya Matthew.
"Kak cepat, Angelmu dalam bahaya! Dia sedang melawan dua orang dan sedang terluka!"
"Apa?" begitu mendengarnya Matthew melempar ponselnya dan menginjak gas mobilnya dalam-dalam. Dia membawa mobil sportnya dengan kecepatan tinggi dan tidak memperdulikan rambu lalu lintas.
Dia harap dia tidak terlambat dan siapapun yang melukai Vivian tidak akan dia lepaskan dan akan dia cincang saat itu juga.
Kembali ke Vivian, beberapa waktu yang lalu saat dia sudah pulang dibantu oleh seseorang. Pria yang mengantarnya bahkan memapahnya masuk ke dalam rumah karena kepala Vivian yang semakin berdenyut.
Setelah membawanya masuk, Vivian bahkan meminta tolong pada pria itu untuk mengambilkan obat untuknya tapi siapa yang menyangka, setelah membantunya dan hendak pergi, tiba-tiba sensor yang dia pasang berbunyi dan tidak hanya itu saja, dua orang menerobos masuk ke dalam rumahnya dan langsung menembaki pria yang menolongnya.
Hal itu membuat Vivian kaget dan pria yang membantunya tertembak dibagian lengannya karena dia sempat menghindar.
__ADS_1
Suara tembakan terus terdengar dan dua mata-mata yang menyergap terus menembaki pria yang membantu Vivian dan pria itu menyelamatkan diri dengan cara bersembunyi.
Dengan keadaan yang kurang baik, Vivian mengambil dua pistol yang dia sembunyikan dan mulai menembaki dua orang yang ada di luar sana.
Mereka adu tembakan bahkan mereka saling menembak dari tempat tersembunyi. Vivian benar-benar tidak menyangka rumahnya akan di sergap dan siapa mereka?
Suasana hening sesaat karena peluru yang ada di dalam pistol sudah hampir habis. Vivian mengintip dari tempat persembunyiannya untuk melihat kedua musuhnya, dia harus segera mengambil peluru atau pistol lain.
Kedua mata-mata mulai membagi tugas dari tempat persembunyian mereka. Apapun yang terjadi mereka harus membunuh target yang sedang bersembunyi dibelakang sofa.
Yang satu akan memancing Vivian dan yang satu lagi harus mendekati target dan membunuhnya. Diam-diam mereka mulai berpencar dan Vivian kembali mengintip dari balik persembunyiannya.
Dia mengumpat kesal saat melihat mereka berpencar dan terpaksa keluar dari persembunyian untuk menyelamatkan orang yang menolongnya.
"Hati-hati!" teriak Vivian mengingatkan orang yang menolongnya.
Pada saat mendengar teriakan Vivian, kedua mata-mata itu mengumpat kesal karena rencana mereka ketahuan. Mereka mulai menembaki Vivian sedangkan Vivian menghindari tembakan sambil terus menembak mereka tapi sayang, peluru pistolnya habis dan tidak hanya itu saja, sebuah timah panas mengenai perutnya.
Sambil memegang lukanya, Vivian berjalan ke arah lemari dengan terhuyung-huyung untuk mengambil pistol. Rasanya tidak kuat lagi tapi dia berusaha bertahan, pandangannya mulai buram tapi dia tetap menembak kedua orang itu, jangan sampai orang yang membantunya mati tertembak.
Saat kedua mata-mata itu sedang bersembunyi, Vivian segera menghampiri orang yang membantunya.
"Pergi selamatkan dirimu!" ucapnya.
"Tapi nona?"
"Pergilah, kau terlibat masalah karena membantuku!" ucap Vivian.
Dia benar-benar tidak kuat lagi apalagi darah di perutnya terus mengalir. Saat melihatnya, pria yang membantunya segera membuka jasnya dan menekan lukanya.
"Aku akan membawa nona keluar!" ucap pria itu.
"Pergi, aku akan berusaha melindungimu!" ucap Vivian dan dia segera mengangkat kedua pistolnya karena dia akan membawa pria itu menuju pintu supaya dia bisa keluar.
Pria yang membantunya mengangguk dan mereka menuju pintu dengan cara mengendap-endap. Kedua mata-mata mulai mengintip, mereka sudah mempersiapkan sebuah Granat yang akan mereka lemparkan karena target mereka akan lepas.
"Sekarang!" perintah Vivian dan pria itu berlari ke arah pintu tapi semua itu tidak mudah karena Granat sudah dilemparkan ke arah mereka.
Vivian mengumpat kesal dan segera berlari dengan kemampuan yang ada dan tidak lama kemudian Granat meledak dan menghancurkan ruang tamu.
__ADS_1
Pria itu terpental dan segera merangkak keluar dengan susah payah untuk menyelamatkan diri tapi pada saat melihat seorang pria berjalan menghampirinya dengan sebuah pedang di tangannya, pria itu ketakutan.
Matthew benar-benar marah saat melihat rumah Vivian hancur, siapapun yang melakukannya benar-benar tidak akan dia lepaskan dan dia harap Vivian baik-biak saja di dalam sana.