Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Apa kau mau memaafkan kesalahan orang tua ini?


__ADS_3

Makanan sudah dihidangkan di atas meja dan Jager segera mengajak Vivian untuk makan bersama. Vivian benar-benar tidak enak hati tapi dia tidak bisa menolak apa lagi setelah ini dia akan mendengar penjelasan dari Jager Maxton.


Vivian benar-benar canggung dan makan dengan perlahan, dia bahkan tidak berani mengambil makanan dan hal itu disadari oleh Damian. Damian segera mengambilkan makanan untuk Vivian karena dia tahu, Vivian pasti sedang merasa tidak enak hati saat ini.


"Tidak perlu merasa tidak enak hati dengan kami Angel, bersikaplah seperti biasa dan anggap kami keluargamu. Walaupun belum tes DNA tapi kau sudah bisa menganggap aku kakakmu dan menganggap daddy sebagai ayahmu," ucap Damian.


"Benar Angel, jika ternyata kau adalah putriku, kita akan seperti ini setiap hari dan aku harap kau terbiasa dengan kami dan mau menerima kami," ucap Jager pula.


"Maaf tuan Max, aku butuh waktu," jawab Vivian sambil tersenyum.


"Baiklah, aku bisa mengerti. Ayo kita makan sebelum hidangannya dingin," ajak Jager.


Mereka segera makan dan setelah selesai, mereka kembali duduk di depan perapian karena hujan kembali mengguyur dengan deras di luar sana.


Jantung Vivian berdegup dengan cepat karena sebentar lagi Jager akan mengatakan padanya apa yang sebenarnya terjadi.


Suasana hening dan pada saat itu pelayan pribadi Jager mengantarkan minuman untuk mereka dan setelah itu, suasana kembali hening.


Vivian diam saja karena dia tidak tahu harus berkata apa sedangkan mata Jager melihat api yang menyala di perapian tanpa berkedip.


Jager mengambil gelas tehnya dan menyeruput isinya, sepertinya sudah saatnya memulai dan dia harap Vivian mau percaya dengan apa yang dia katakan.


"Aku tidak tahu harus memulai dari mana tapi dua puluh lima tahun yang lalu saat istriku baru saja melahirkan, aku meninggalkannya di rumah sakit dan pergi ke Jepang untuk melihat Damian dan ibunya tapi ketika aku kembali, istri dan putriku sudah hilang," ucap Jager dan matanya memandangi Vivian dengan tatapan sedih.


"Apa mereka diculik?" tanya Vivian karena Matthew pernah mengatakan hal ini.


"Benar, mereka diculik dan aku sudah berusaha mencari mereka kemana-mana tapi aku tidak bisa menemukan mereka."


"Siapa yang menculik mereka tuan Max?"


"Sahabat baikku, karena dia mencintai istriku jadi dia membuat sebuah perangkap untuk menjebakku tapi aku sungguh tidak menyangka saat aku pergi dia membawa istri dan putriku yang baru dilahirkan pergi dari Amerika."


Vivian menunduk dan meremas tangannya, rasanya tidak sanggup mendengar lebih jauh tapi dia harus mendengarnya.


"Aku sungguh sudah berusaha mencari mereka tapi saat aku bertemu dengan mereka lagi, mereka sudah tidak bernyawa. Pada saat itu, aku tidak memeriksa bayi yang dibawa pulang bersama dengan istriku dari Inggris, aku kira dia putriku jadi aku menguburkannya bersama dengan jenazah istriku tapi pada saat melihatmu? Aku rasa bukan kebetulan belaka jadi aku memutuskan membongkar makam istriku untuk tes DNA."


Vivian memandangi Jager dengan perasaan campur aduk di dalam hatinya, apa dia harus tertawa saat ini? Atau dia harus marah?!


"Nak, Matthew sudah mengatakan padamu bukan jika aku mengatakan bahwa kau adalah putriku yang hilang?"


Vivian hanya bisa mengangguk tanpa bisa mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


"Aku mengatakan hal demikian bukan tanpa alasan dan bukan hanya karena wajahmu yang mirip dengan istriku tapi banyak kemiripan pada kalian dan tidak hanya itu saja, apa kau punya tanda lahir di belakang telingamu?"


Jager memandangi Vivian dengan penuh harap sedangkan Vivian kembali mengangguk, dia memang punya tanda lahir dan dia tidak mau menyembunyikan hal itu.


"Kau lihat, aku tidak asal bicara karena kau memang putriku yang hilang tapi jika kau tidak percaya, kita bisa tes DNA dan aku harap kau mau memberikan rambutmu untuk tes DNA."


"Tuan Max, aku?" Vivian menghentikan ucapannya.


"Tidak apa-apa, aku tahu pasti sulit bagimu menerima hal ini dan aku juga menyesal karena aku tidak bisa menjaga kalian dengan baik. Jika saja aku tidak masuk ke dalam jebakan sahabatku, aku pasti tidak akan kehilangan kalian," Jager menunduk dan menutupi kedua matanya karena dia tidak kuasa menahan air matanya.


"Aku minta maaf, benar-benar minta maaf karena kebodohan dan kelalainku, aku harus kehilangan kalian. Aku sangat menyesal dan sangat minta maaf padamu," ucap Jager lagi.


Terus terang saja dia sangat takut putrinya benci dengannya dan tidak mau memaafkan kesalahan yang telah dia perbuat dan yang lebih membuatnya lebih takut lagi, dia takut Vivian membencinya.


"Dad, jangan menyalahkan dirimu, semua ini salahku," ucap Damian seraya mengusap punggung ayahnya.


"Tidak Damian, sudah aku katakan, kau tidak boleh menyalahkan dirimu dan semua ini murni kesalahanku karena aku telah meninggalkan mereka begitu saja."


"Tapi dad, jika bukan karena perbuatanku mommy tidak akan menghubungi Marck Wriston untuk meminta bantuannya."


"Tidak Damian, seharusnya aku menyadari kebencian Marck Wriston saat aku menikahi Cristiana. Seandainya aku lebih waspada, aku pasti bisa menyadari kelicikan Marck Wriston dan tidak meninggalkan Cristiana dan putriku begitu saja."


Vivian mengernyitkan dahinya, Marck Wriston? Sepertinya dia pernah mendengar nama ini.


"Marck Wriston, dia sahabat baikku dan dia yang telah menculik istri dan putriku."


"Apa dia musuhmu tuan Max?" Vivian bertanya demikian karena tiba-tiba dia curiga dengan orang ini.


"Ya, tapi itu dulu. Walaupun kami adalah teman baik sebelumnya tapi aku sudah membunuhnya lima tahun yang lalu."


Vivian diam saja, sekarang dia jadi fokus pada Marck Wriston sedangkan Jager memegangi tangannya dan mengusapnya.


"Nak, aku harap kau mau memberikan rambutmu untuk tes DNA. Aku sangat yakin kau adalah putriku yang hilang dan untuk meyakinkanmu maka kita akan tes DNA."


"Aku akan memberikan rambutku tuan Max tapi aku harap kau mau memberikan aku waktu untuk menerima semua ini," pinta Vivian.


"Pasti, aku tahu ini pasti sulit bagimu tapi percayalah padaku, aku sungguh tidak tahu jika kau masih hidup. Seandainya aku tahu, aku pasti akan mencarimu."


Vivian berusaha tersenyum, seandainya Jager mencarinya, apa dia akan jadi putri Charles dan Marta Adison? Apa sekarang dia akan seperti saat ini?


"Ayah dan ibuku sedang dalam perjalanan tuan Max dan kita bahas masalah ini lebih lanjut setelah mereka tiba," ucap Vivian seraya bangkit berdiri.

__ADS_1


Sudah cukup penjelasan dari Jager dan setelah kakeknya datang, dia juga akan mendengarkan penjelasan kakeknya karena dia butuh penjelasan dari kedua belah pihak.


"Mereka datang kemari?" Jager juga bangkit berdiri begitu juga dengan Damian.


"Ya, setelah mereka tiba aku juga akan mendengar penjelasan dari mereka dan kita akan bahas hal ini bersama-sama," ucap Vivian seraya memberikan beberapa helai rambutnya pada Damian.


"Thanks Angel, aku akan segera membawa rambutmu ke rumah sakit," jawab Damian dan dia segera berlalu pergi.


"Nak, jika hasil tes membuktikan bahwa kau adalah putriku, kau tidak kecewa dan marah padaku bukan? Apa kau mau memaafkan kesalahan orang tua ini?" tanya Jager memastikan karena dia takut Vivian membencinya.


"Tentu tidak tuan Max, semua ini bukan kesalahanmu bukan? Terima kasih atas makan malamnya, sudah malam dan aku sudah harus pulang," ucap Vivian.


"Boleh aku memelukmu?" tanya Jager sambil memandangi Vivian penuh harap.


Vivian diam saja tapi tidak lama kemudian dia mengangguk, Jager terlihat senang dan tidak mau membuang waktu, Jager mendekati Vivian dan memeluknya.


"Aku benar-benar sudah tidak sabar menunggu orang tuamu datang dan mengetahui hasil tes DNA nanti," ucap Jager.


Vivian diam saja, walaupun tanpa tes DNA dia rasa dia memang putri Maxton tapi tetap saja dia butuh waktu apalagi, dia juga ingin mendengar penjelasan dari kakek dan kedua orang tuanya.


"Aku...aku sudah harus pergi tuan Max," ucap Vivian karena Jager tidak juga melepaskan pelukannya.


"Biarkan aku memelukmu sebentar, walaupun belum tes DNA tapi aku yakin kau adalah putriku dan aku sungguh rindu padamu. Aku sudah merindukanmu selama dua puluh lima tahun jadi biarkan aku memelukmu sebentar," pinta Jager tanpa mau melepaskan Vivian.


Dia benar-benar rindu dengan putrinya dan sekarang rasanya tidak ingin dia lepaskan bahkan rasanya dia tidak ingin membiarkan Vivian pergi.


Tubuh Jager bergetar dan air matanya kembali mengalir, Vivian bisa merasakan bahwa saat ini Jager sedang menumpahkan kerinduan yang sudah dia tahan selama dua puluh lima tahun.


Dengan perlahan Vivian mengangkat tangannya dan mengusap punggung Jager dan hal itu membuat hati Jager dipenuhi dengan perasaan yang sulit dia ungkapkan.


Tidak bisa dipungkiri, ada ikatan batin diantara mereka berdua bahkan perasaan hangat memenuhi hati Vivian.


"Fiona, daddy benar-benar merindukanmu. Maafkan daddy karena tidak tahu jika kau masih hidup," ucap Jager dengan suara bergetar.


Tanpa Vivian inginkan air matanya mengalir karena ada sebuah kesedihan dan kerinduan di dalam hatinya.


"Tidak perlu menyalahkan diri tuan Max," ucap Vivian.


Jager semakin mendekapnya dengan erat sedangkan tidak jauh dari mereka, Damian tersenyum melihat mereka. Rasanya dia ingin bergabung tapi dia tidak mau merusak suasana dan membiarkan ayahnya menumpahkan kerinduannya.


"Katakan padaku jika kedua orang tuamu sudah datang," ucap Jager seraya melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Pasti tuan Max," jawab Vivian.


Hujan sudah tampak reda diluar sana dan Vivian segera pamit pulang, walaupun singkat tapi Jager tampak bahagia. Dia dan Damian mengantar kepergian Vivian sedangkan Vivian sudah tidak sabar untuk sampai di rumah karena dia ingin memastikan dan mencari tahu, siapa Marck Wriston?


__ADS_2