
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam tapi kenapa Vivian belum pulang? Hal itu benar-benar membuat Matthew sangat khawatir.
Dia tahu sebagai seorang agen, Vivian pasti mendatangi tempat yang dia ledakkan untuk melakukan tugasnya tapi ini sudah tengah malam kenapa Vivian belum pulang juga?
Sudah beberapa kali Matthew menghubungi Vivian tapi Vivian tidak menjawabnya, mungkin Vivian sedang membawa motornya dan dia harap Vivian cepat sampai.
Pada saat itu, sensor yang dipasang Vivian berbunyi dan terdengar suara motor Vivian di luar sana. Matthew langsung mengintip dari balik jendela dan sangat lega saat melihat Vivian turun dari atas motor dan tampak baik-baik saja.
Matthew ingin menghampiri pintu tapi niatnya terhenti saat melihat seseorang sedang melihat Vivian dari tempat tersembunyi dan tampak mencurigakan.
Dia segera menutup horden dan diam saja, apa orang itu memata-matai Vivian? Atau orang itu sedang memata-matainya?
Vivian membuka jaketnya dan berjalan ke arah pintu, angin malam benar-benar dingin dan sepertinya harus segera mandi untuk menghilangkan bau asap pada tubuh dan rambutnya.
Begitu pintu terbuka, Vivian sangat kaget karena Matthew meraih pinggangnya secara tiba-tiba.
"Hei!"
"Stts!" Matthew meletakkan jarinya di bibir sebagai isyarat supaya Vivian diam.
"What?" tanya Vivian dengan suara pelan.
"Apa kau tahu jika seseorang sedang mengawasimu?"
"Aku tahu!" Vivian melepaskan diri dan berjalan mendekati jendela. Dia membuka sedikit horden dan mengintip keluar sana di mana seorang mata-mata yang mengawasinya sedang berbicara dengan seseorang.
"Tapi aku rasa orang itu depcolector yang sudah mengetahui keberadaanmu jadi berhati-hatilah!" ucap Vivian sambil menutup horden.
Matthew tersenyum, mana mungkin? Tapi siapapun orang yang sedang memata-matai mereka tidak akan dia biarkan.
"Kau dari mana babe, kenapa pulang begitu larut?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Bertugas! Sebuah tempat hangus terbakar dan entah orang gila mana yang melakukannya!"
Matthew terkekeh dan mendekati Vivian, dialah yang membakar tempat itu dan dialah orang gilanya.
"Tubuhmu dingin sayang," ucapnya seraya merapatkan tubuh mereka hingga tidak memiliki jarak.
"Sudah sana aku mau mandi!" Vivian mencoba mendorong tubuh Matthew tapi Matthew sudah memegangi pipinya dan mendekatkan bibir mereka.
"Bibirmu juga dingin dan aku akan menghangatkannya!" bisiknya dan tanpa menunggu lagi, Matthew mencium bibir Vivian dan me*umatnya dengan lembut.
Vivian menerima ciuman Matthew dan memeluk lehernya dengan erat, karena Vivian tidak melawan Matthew menggendong tubuh Vivian dan semakin memperdalam ciuman mereka.
Sepertinya Vivian sudah menerima dirinya dan dia rasa tidak lama lagi mereka akan berpetualang di atas ranjang. Tapi dia akan pelan-pelan dan memberikan terapi untuk Vivian agar pada saat itu tiba, Vivian tidak shock.
"Babe," Matthew Berbisik ditelinga Vivian dan mencium pipinya.
"Uhm," Vivian memeluk lehernya dan dia ingin seperti itu untuk sebentar.
"Kau bau asap!"
__ADS_1
"Ck, bukankah sudah aku katakan? Aku mau mandi!"
"Oke baiklah, pergilah mandi," Matthew menurunkan Vivian dari gendonganya dan mencium pipinya.
Vivian berjalan menuju kamarnya sedangkan Matthew kembali mengintip dari balik jendela untuk melihat apakah orang yang memata-matai Vivian masih ada atau tidak?
Dia sangat ingat saat dia pulang tadi tidak ada yang mengikutinya dan dia rasa orang itu memang memata-matai Vivian, tapi untuk apa?
Matthew segera berjalan pergi, dia pasti akan mencari tahu nanti. Siapapun yang menggangu Vivian akan berhadapan dengannya nanti.
Dia masuk ke dalam dapur dan membuatkan segelas minuman hangat untuk Vivian dan setelah selesai, Matthew membawa minuman hangatnya dan berjalan menuju kamar Vivian.
"Babe, apa kau sudah selesai?" Matthew mengetuk pintu dengan pelan, jangan sampai Vivian marah karena dia masuk tiba-tiba.
"Sebentar!" jawab Vivian sambil berteriak.
Matthew tersenyum dan berdiri di samping pintu dan beberapa menit kemudian, Vivian membukakan pintu untuknya.
"Minuman untukmu babe," ucapnya seraya memberikan minuman yang dia buat untuk Vivian.
"Thanks," Vivian mengambil minumannya dan berjalan masuk ke dalam.
Matthew menutup pintu dan mengikuti langkah Vivian, dia ingin tahu bagaimana tanggapan Vivian mengenai keluarganya.
Vivian duduk di sisi ranjang dan melihat minuman hangat yang dibuatkan Matthew untuknya, sedangkan Matthew duduk di sampingnya.
"Babe."
"Bagaimana dengan harimu?"
"Biasa saja. Hari ini aku bertemu dengan orang-orang unik!"
"Oh ya?" Matthew tersenyum.
"Ya, pertama aku bertemu dengan orang menyebalkan dan kedua aku bertemu dengan orang-orang aneh yang salah mengenaliku!"
"Wow, salah mengenalimu bagaimana?"
"Oh ya, kau tidak salah memberikan alamat bukan?" Vivian meletakkan gelasnya dan menatap Matthew dengan curiga.
"Tentu saja tidak, memangnya kenapa?" tanya Matthew pura-pura tidak tahu.
"Tidak apa-apa, aku kira kau salah memberikan alamat sehingga aku salah masuk rumah! Aku bingung karena mereka menganggapku sebagai pacar Matthew Smith."
"Lalu?" Matthew mendekati Vivian dan memeluknya dari belakang.
"Awalnya aku kira mereka semua hilang ingatan sehingga salah mengenali orang dan pada akhirnya aku tahu apa yang terjadi dengan mereka."
"Oh ya? Apa yang kau tahu?" tanya Matthew sambil tersenyum.
"Ya, mereka sangat baik dan aku rasa mereka semua mengidap penyakit Prosopagnosi."
__ADS_1
"Prosopagnosi?"
Vivian mengangguk dan kembali berkata, "Yes, kau tahu bukan penyakit itu di mana seseorang akan salah mengenali wajah orang lain?"
"Hahahahahaha!" Matthew tertawa terbahak-bahak. Jadi seperti itu anggapan Vivian terhadap keluarganya?
Prosopagnosi? Dia kembali tertawa sampai membuat Vivian heran, apa ada yang lucu?
"Kenapa kau tertawa?" tanya Vivian heran.
"Tidak ada apa-apa, jadi kau mengganggap mereka seperti itu?"
"Ya, aku tidak tega dengan nenek tua yang ada di sana jadi aku ikuti saja akting mereka."
"Hahahahahah!" Matthew kembali tertawa, jadi Vivian berlama-lama di rumahnya karena iba dengan neneknya?
"Freddy hentikan tawamu ini tidak lucu!" Vivian sudah tampak kesal.
"Oke sory!" Matthew menghentikan tawanya dan pada saat itu, Vivian mengeluarkan sebuah kotak dari dalam laci dan itu adalah pemberian Alice.
"Kau tahu? Aku sungguh tidak enak hati. Mereka sudah salah mengenaliku dan memberikan aku benda ini."
Vivian membuka kotak dan mengeluarkan sebuah gelang Giok yang dililit dengan emas putih dan ditaburi dengan puluhan Berlian.
Matthew diam saja, itu adalah gelang peninggalan nenek buyutnya dan ternyata sekarang neneknya memberikan benda itu pada Vivian.
"Aku tidak bisa menerima ini dan besok aku akan kembali ke sana untuk mengembalikan benda ini pada mereka."
"Mereka sudah memberikannya padamu maka terimalah!" ucap Matthew.
"Tidak bisa Fredd, aku bukan pacar Matthew Smith bahkan aku tidak mengenalnya. Aku tidak bisa menerima benda berharga yang bukan milikku!"
Matthew menghembuskan nafasnya, oke sepertinya inilah saatnya untuk mengatakan siapa dirinya.
"Babe," Matthew mengambil gelang Giok yang ada di dalam kotak dan memakaikan benda itu di tangan Vivian.
"Freddy!"
"Lihat, gelang ini cocok denganmu!"
"Tapi ini bukan milikku!" Vivian ingin membuka gelang itu tapi Matthew menahan tangannya.
"Dengarkan aku!" Matthew memeluk Vivian dengan erat dan membenamkan wajahnya di bahu Vivian.
"Kau memang pacar Matthew Smith dan mereka tidak salah mengenalimu."
"Maksudmu?"
"Babe, sebenarnya akulah Matthew Smith!" ucap Matthew tanpa ragu.
"What?" Vivian tidak percaya mendengarnya dan tiba-tiba suasana hening melanda mereka.
__ADS_1