
Pintu kamar diketuk dengan pelan dari luar sana dan pelayan pribadi Matthew sudah berdiri di depan pintu dengan sebuah kotak di tangannya.
Sesuai perintah yang diberikan oleh Matthew, dia pergi mengambil sebuah gelang dan Matthew juga meminta pelayan pribadinya memberikan gelang itu pagi-pagi karena dia ingin memakaikan gelang itu pada Vivian saat dia sedang tidur.
Kali ini dia harus melihat siapa Carlk dan di gelang yang akan dia berikan pada Vivian sudah tersimpan sebuah alat pelacak yang dimodifikasi sedemikian rupa.
Ketukan pintu kembali terdengar dan Matthew langsung terbangun dari tidurnya, dengan perlahan Matthew turun dari atas ranjang meninggalkan Vivian yang masih tertidur dan berjalan menuju pintu.
"Selamat pagi tuan muda, ini yang tuan muda inginkan," ucap pelayan pribadinya dengan pelan saat Matthew sudah membuka pintu.
"Hm, buatkan minuman hangat!" perintahnya.
"Baik tuan," jawab pelayan pribadinya.
Matthew kembali menutup pintu dan meletakkan kotak yamg diberikan pelayan pribadinya ke atas ranjang dan setelah itu, Matthew berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai Matthew keluar dari kamar mandi dan naik ke atas ranjang, Matthew mengambil kotaknya dan dengan perlahan meraih tangan Vivian karena dia ingin memakaikan gelang itu tapi sebuah tanda merah yang terdapat di pergelangan tangan Vivian, menghentikan niatnya.
Matthew melihatnya dengan teliti dan melihat ada bekas jari di sana, apa ini akibat perbuatan Carlk? Matthew benar-benar kesal, ingin rasanya dia menebas tangan Carlk yang telah meninggalkan tanda biru di lengan Vivian.
Tidak ingin membuang waktu, Matthew segera mengambil gelang yang ada di dalam kotak dan memakaikannya ke tangan Vivian. kali ini dia pasti tahu siapa Carlk, dia juga tidak akan membiarkan Carlk bertindak seenak hatinya dan menyakiti Vivian lagi.
Setelah memakaikan gelang ke tangan Vivian, Matthew menyimpan kotak ke atas meja dan merebahkan diri di samping Vivian. Dengan perlahan, Matthew mengusap wajah Vivian dan menciumnya dengan lembut.
"Matth, kenapa kau sudah bangun?" Vivian merapatkan tubuhnya dan memeluk Matthew dengan erat.
"Sory babe, apa aku membangunkanmu?"
"Tidak, kenapa kau sudah bangun? Apa kau tidak bisa tidur?" Vivian mengulangi pertanyaannya.
"Tidak sayang, jika kau mengantuk tidurlah lagi," ucap Matthew seraya mencium dahinya.
Vivian tersenyum dan kembali memejamkan matanya tapi pada saat itu, pintu diketuk oleh pelayan pribadi Matthew karena dia ingin memberikan minuman yang diminta oleh Matthew.
"Sebentar babe," ucap Matthew.
Saat Matthew berjalan menuju pintu, Vivian duduk di atas ranjang dan ingin merapikan rambutnya tapi pada saat itu, dia menyadari sebuah gelang melingkar indah di pergelangan tangannya.
Vivian melihat gelang itu dan setelah itu dia melihat Matthew yang berjalan menghampirinya dengan dua gelas minuman.
"Matth, kau yang memberikan ini?"
__ADS_1
"Yes," jawab Matthew seraya meletakkan minuman yang dia bawa ke atas meja.
"Tapi aku?"
"Pergilah membersihkan wajahmu, nanti kita bicara lagi," sela Matthew.
Vivian mengangguk dan segera turun dari atas ranjang. Sambil berjalan menuju kamar mandi Vivian melihat gelang yang melingkar di tangannya dan bisa dia tebak, itu bukan barang murah.
Sebuah gelang berbentuk bagel dan ditaburi dengan puluhan berlian disegala sisinya, membuat gelang itu terlihat mewah dan tentunya itu bukan gelang biasa.
Setelah selesai mencuci wajahnya, Vivian segera mendekati ranjang dan duduk di sisi Matthew yang telah menunggunya.
"Matth, aku benar-benar minta maaf atas sikapku semalam," ucap Vivian sambil menunduk.
"Minum," Matthew memberikan segelas minuman hangat pada Vivian tanpa menjawab ucapan Vivian.
Vivian mengangguk dan mengambil gelas minuman yang diberikan oleh Matthew, apa Matthew masih marah?
"Babe, untuk saat ini aku masih bisa bersabar dan aku akan memakluminya tapi lain kali? Jika kau masih berani menangisi pria lain di depanku maka maaf saja, asal kau tahu satu hal, aku tidak mau kau anggap pelarian untuk melupakan mantan pacarmu!"
"Aku tidak menganggapmu pelarian."
"Jika begitu, jangan menangisi pria lain di depanku lagi karena aku tidak suka!"
"Maaf," ucap Vivian dan tanpa dia inginkan, air matanya mengalir.
"Maaf Matth," Vivian bangkit berdiri dan hendak pergi tapi Matthew menahan tangannya.
"Mau ke mana?"
Vivian menggeleng sambil menghapus air matanya, entah kenapa dia benar-benar merasa bersalah.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menghargai cintamu jadi maafkan aku."
"Ck, kau bicara apa sih?"
"Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu Matth dan aku tidak pernah menganggapmu sebagai pelarian untuk melupakan Carlk."
"Aku tahu dan aku hanya memberitahumu! Kenapa kau jadi bicara sembarangan?" Matthew bangkit berdiri dan mengambil gelas yang masih dipegang oleh Vivian.
"Kemarilah, kita bicara baik-baik. Aku tidak suka kita bertengkar jadi kemarilah."
__ADS_1
Matthew kembali duduk di sisi ranjang sedangkan Vivian duduk di atas pangkuannya.
"Aku benar-benar minta?"
"Stts, jangan dibahas lagi!" ucap Matthew menyela perkataan Vivian.
"Kenapa? Padahal kau bisa melupakan aku dan bisa mencari wanita yang lebih baik dariku, lagi pula kau tidak rugi apapun bukan?"
"Bodoh! Sekalipun banyak wanita cantik diluar sana tapi bagiku hanya ada satu Angel di hatiku dan itu adalah kau! Tapi jangan pernah menguji kesabaranku dan menangisi pria lain di depanku lagi."
"Tidak akan, aku tidak akan menangisi Carlk lagi, aku berjanji," jawab Vivian.
"Baiklah, pembicaraan kita sudah selesai dan jangan di bahas lagi!" Matthew mengusap wajah Vivian dan mencium dahinya.
"Lalu? Kenapa dengan gelang ini?" Vivian mengangkat lengannya dan melihat gelang yang diberikan oleh Matthew.
"Babe, di gelang ini ada sebuah alat pelacak dan aku ingin saat Carlk mengganggumu kau menekan tombol yang ada di gelang ini," Matthew meraih tangan Vivian dan memperlihatkan sebuah tombol yang ada di gelang.
"Gelang ini juga bisa kau gunakan saat kau dalam misi berbahaya, kau bisa menekan tombolnya dan pada saat itu aku akan langsung tahu di mana posisimu. Ini lebih cepat dari pada kau menghubungiku melalui ponsel jadi jangan menghilangkan gelang ini."
"Aku tidak akan menghilangkannya dan pasti akan menggunakannya," jawab Vivian.
"Bagus dan ingat, saat si br*ngsek itu datang, kau harus menekannya!"
"Pasti," jawab Vivian lagi.
Matthew tersenyum dan mencium pergelangan tangan Vivian, "Apa ini ulah Carlk?"
"Ya, dia menahanku dan aku tidak tahu sampai membekas begini."
"Baiklah, dia harus membayarnya nanti. Sebaiknya minum air hangatnya," ucap Matthew.
"Thanks," Vivian mengecup bibir Matthew sejenak.
"Oh my, sepertinya bibirku lebih hangat!"
"Hei!" Vivian ingin protes tapi Matthew sudah mencium bibirnya dan mel*matnya dengan lembut.
Setelah melepaskan bibir Vivian, Matthew mencium wajahnya sambil berbisik, "Ayo kita mandi," ajaknya dan Vivian mengangguk.
Matthew menggendong Vivian masuk ke dalam kamar mandi dan mencium bibirnya sedangkan saat itu dikediaman maxton, Jager tampak tidak sabar menunggu Damian yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telephone dan yang sedang berbicara dengan Damian adalah perawat dari rumah sakit.
__ADS_1
Jager benar-benar sudah tidak sabar mengetahui hasil tes DNA dan dia harap itu adalah kabar baik dari rumah sakit dan dia juga berharap, hasil tes DNA menunjukkan jika bayi yang dikuburkan bersama dengan istrinya, bukanlah anaknya.