Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Tendangan maut


__ADS_3

Pagi hari adalah waktunya berolahraga bagi Vivian, terkadang dia lari pagi disekitar rumah tapi yang paling sering dia lakukan adalah bermain Boxing ditaman yang terdapat di belakang rumahnya.


Dia memang lebih suka melakukan olahraga seperti itu untuk melatih kekuatannya. Walaupun dia seorang wanita tapi dia juga harus bisa memukul lawan-lawannya sampai babak belur.


Matthew keluar dari kamarnya dengan penuh semangat karena hari ini dia akan menagih permintaannya dan dia harap Vivian menepati janjinya dan tidak melarikan diri.


Suara pukulan dan tendangan terus terdengar dari belakang dan Matthew tahu apa yang sedang dilakukan oleh Vivian. Sepertinya mengajak gadis itu bertanding boxing akan sangat menyenangkan.


Mungkin dia harus menantang Vivian dalam permainan itu dan dia akan mengajak Vivian bermain challenges and rewards.


Ini bukan ide yang buruk dan akan dia lakukan. Dia harus mengambil banyak kesempatan supaya bisa lebih dekat dengan Vivian dan tentunya dia harus menang melawan Vivian nanti.


Matthew memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana dan bersandar pada daun pintu sambil melihat Vivian sedang memukul dan menendang samsak.


Vivian begitu serius memukul samsak dan tidak menyadari jika Matthew berdiri di depan pintu sedang memperhatikannya tanpa berpaling.


Keringat yang mengalir dari dahi Vivian membuat wajahnya terlihat semakin cantik, perutnya yang langsing dan rambutnya yang basah, sepertinya menyenangkan jika berendam berdua di dalam bathup.


Karena dia sudah mau selesai, Vivian memutar tubuhnya dan menedang samsak dengan sekuat tenaga dan setelah itu, Vivian menghentikan aksinya dan tampak terengah-engah.


"Babe, sepertinya kau suka Boxing?" Matthew berjalan menghampiri Vivian yang sedang menyeka keringatnya.


"Tentu saja, ini bisa melatih otot tangan dan kakiku!" jawab Vivian sambil melirik ke arah Matthew.


"Apa kau tidak takut lenganmu berotot babe?"


Vivian diam saja dan membayangkan lengannya yang berotot dan perutnya yang berkotak-kotak, dia juga membayangkan dirinya sedang memamerkan otot lengannya bak seorang olahragawan.


"Aku pasti terlihat keren," jawabnya dengan senyum di wajahnya.


"Wow, tidak keren ah!" ucap Matthew tidak terima.


"Kenapa? Coba lihat otot lenganku ini?" Vivian memperlihatkan otot lengannya kepada Matthew.


"Jika otot lenganku bertambah besar pasti keren!" ucapnya lagi.


"Ck, aku tidak suka!"


"I don't care!" jawab Vivian sambil melenggang pergi.


"Babe, bagaimana jika kita bertanding Boxing?"


"Bertanding?"


"Yes, kita bermain challenges and rewards. Bagaimana?"


Vivian tampak berpikir, sepertinya tidak buruk. Dia juga perlu hiburan untuk menghilangkan penat akibat pekerjaannya.


"Boleh juga, kita akan bertanding akhir pekan dan ingat, jangan menangis saat kalah!" ucap Vivian dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Tidak akan!" jawab Matthew sambil tersenyum.


Menangis? Dia yakin Vivian yang akan menangis nanti saat dia kalah, dia pasti akan menang dan akan mengutarakan permintaannya yang tidak akan bisa ditolak oleh Vivian.


Vivian masuk kedalam dan Matthew mengikuti langkahnya dari belakang dan mereka berjalan menuju dapur, dia diam saja memperhatikan Vivian yang mengambil segelas air dan meneguknya.


Setelah ini dia akan meminta bagiannya tapi dia akan membiarkan lelah Vivian hilang terlebih dahulu.


"Babe, apa setelah ini kau akan pergi?"


"Ya, aku harus mencari tahu siapa orang yang selalu menantangku."


"Apa kau tidak mencurigai seseorang?"


"Ada, aku mencurigai Matthew Smith!"


"Selain dia?" tanya Matthew sambil tersenyum.


"Hari ini aku dan rekanku berniat memeriksa beberapa nama orang yang berbahaya di kota ini dan kemungkinan mereka terlibat dengan bisnis ilegal."


"Baiklah tapi aku sarankan kau tidak mencurigai Matthew Smith karena dia tidak pernah terlibat dengan bisnis ilegal."


"Kau tahu dari mana?" Vivian menatap Matthew dengan curiga.


"Trust me babe, dia tidak melakukan hal seperti itu dan jangan membuang-buang waktumu untuk menyelidikinya tapi jika kau jatuh cinta dengannya katakan padaku, aku akan sangat senang mendengarnya."


"Cih, siapa yang akan jatuh cinta pada situa bangka itu dan lagi pula, kenapa kau yang harus senang?"


"Babe."


"What?"


"Kau tidak lupa bukan dengan permintaanku?"


"A....aku belum memikirkannya."


"Tidak ada alasan babe," Matthew berjalan mendekati Vivian, sedangkan Vivian melangkah mundur.


"Ja..jangan mendekat!"


"Where's my morning kiss babe?"


"No!" tolak Vivian dan dia semakin melangkah mundur hingga tubuhnya terpojok di sisi meja. Matthew terus mendekatinya dengan senyum di wajahnya dan Vivian mulai terlihat gugup saat Matthew semakin mendekatinya.


"Ma..mau apa kau?"


"Jangan pura-pura tidak tahu dan kau benar-benar harus menjalani terapi babe."


"Maksudmu?"

__ADS_1


Matthew meraih pinggang Vivian dan merapatkan tubuh mereka hingga tidak memiliki jarak, wajah Vivian langsung pucat dan dia berusaha mendorong tubuh Matthew tapi Matthew mendekapnya dengan erat hingga dia tidak bisa bergerak.


"Le..lepaskan aku!" pinta Vivian memohon dan jujur saja dia sangat takut bahkan dia merasa darahnya sudah naik ke otak.


"Bertahanlah babe, bukankah sudah aku katakan kau butuh terapi? Aku rasa kau membutuhkannya supaya traumamu hilang."


"Le..lepaskan aku Fredd!" pintanya ketakutan.


"Babe, coba kau bayangkan seandainya aku adalah musuhmu. Apa yang bisa kau lakukan jika kau tidak berdaya seperti ini?"


Vivian diam saja, dia sangat berusaha melawan ketakutan yang ada di dalam dirinya.


"Jika kau tidak berdaya seperti ini musuhmu pasti akan memanfaatkan keadaanmu. Mereka bisa menodaimu dan setelah itu, aku rasa kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."


"Lalu aku harus bagaimana? Aku juga tidak mau seperti ini, sungguh aku tidak mau!" Air matanya mulai mengalir, dia juga tidak mau mengalami pelecehan seksual sehingga dia harus trauma seperti ini.


"Sebab itu babe, kita harus sering kontak fisik!"


"What?"


Matthew tersenyum dan mengusap wajah cantik Vivian yang tampak pucat.


"Percayalah babe, dengan begini kau pasti tidak akan takut lagi jika disentuh oleh laki-laki."


"Kau bohong!"


"Untuk apa aku berbohong? Terapi yang paling bagus untuk menyembuhkan trauma sepertimu ya harus langsung praktek dan sekarang aku ingin mencobanya," Matthew mengangkat dagu Vivian, sedangkan mata Vivian membulat. Mau apa?


"Fredd, aku akan membunuhmu!" ancam Vivian.


"Aku yakin kau tidak akan bisa, jika kau ingin memukulku pasti sudah kau lakukan sedari tadi! Coba bayangkan aku adalah musuhmu yang hendak memanfaatkan kelemahanmu."


Vivian menelan salivanya dengan susah payah, memang sedari tadi dia tidak bisa bergerak karena Matthew mendekapnya dengan erat.


Vivian kaget bukan kepalang saat tangan Matthew mengusap punggungnya yang terbuka, lututnya langsung lemas dan keringat dingin mengalir dari dahinya.


Matthew dapat merasakannya tapi dia melakukan hal itu demi menyembuhkan trauma Vivian.


"Ja..jangan!" pinta Vivian ketakutan tapi Matthew tidak menghentikan aksinya. Dengan perlahan bibir Matthew mulai mencium leher Vivian dan hal itu semakin membuat Vivian ketakutan.


"Bayangkan aku sebagai musuhmu babe," bisiknya.


Air mata Vivian mengalir semakin deras dan dia merasa tidak punya tenaga sama sekali untuk melawan Matthew tapi jika dia diam saja maka dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Ti..tidak!" teriak Vivian dan tanpa Matthew duga, Vivian mengangkat lututnya untuk mengeluarkan tendangan mautnya dan dia langsung menendang aset berharga milik Matthew.


Matthew berteriak dan mengumpat kesal, "What the hell!"


Matthew memegangi adiknya sedangkan Vivian langsung kabur.

__ADS_1


"Angel, awas kau!" teriak Matthew.


Vivian masuk kedalam kamarnya dan memegangi dadanya, hampir saja.


__ADS_2