
Di rumah sakit, Damian duduk di samping ayahnya dan memegangi tangannya. Pikirannya kusut bahkan dia terlihat tidak bersemangat.
Semenjak ayahnya di culik oleh Gary, dia sudah terlihat kacau apalagi ketika mendapati ayahnya digantung di atas ribuan kaki, dia semakin takut ayahnya pergi begitu saja.
Ketakutannya semakin menjadi ketika melihat ayahnya sedang dalam keadaan kritis, rasa bersalah tumbuh semakin besar dalam hatinya karena dia sudah lalai menjaga ayahnya.
Damian memandangi wajah ayahnya sejenak dan menghembuskan nafasnya, dia harap ayahnya cepat sadar dan berkumpul bersama dengan mereka lagi.
Dia telah meminta anak buahnya untuk mencari foto-foto istri ayahnya di puing bangunan rumah mereka dan dia harap, foto istri ayahnya masih tersisa. Dia juga memerintahkan orang untuk membangun rumah itu seperti semula bahkan dia sedang mencari rumah untuk mereka tempati nanti selama rumah ayahnya sedang dibangun.
Damian menunduk dan tampak lesu, rumah sakit begitu sepi dan dia harap adiknya segera kembali. Damian bangkit berdiri karena dia pikir dia ingin beristirahat tapi pada saat itu, pintu ruangan terbuka dan Ainsley masuk ke dalam.
"Hy," sapa Ainsley sambil berjalan masuk.
"Hy," Damian balik menyapa.
"Di mana Kak Matthew dan Kakak Ipar?"
"Sedang pergi," jawab Damian dan dia duduk kembali.
"Bagaimana dengan keadaan ayahmu?"
"Seperti yang kau lihat."
Ainsley berjalan mendekati Damian sambil tersenyum, kedatangannya ke sana karena diminta oleh ibunya. Kate meminta putrinya membawakan makanan untuk Damian karena dia iba dengan Damian.
"Mommy menitipkan makanan untukmu," ucap Ainsley seraya memberikan barang yang dia bawa.
"Terima kasih, aku jadi tidak enak hati karena telah merepotkan kalian," ucap Damian sambil mengambil paper bag yang diberikan oleh Ainsley.
"Tidak apa-apa, kau kakaknya Kakak ipar dan sebentar lagi kita akan jadi keluarga jadi jangan sungkan."
Damian tersenyum dan meletakkan paper bag ke atas meja sedangkan Ainsley melihat ayah Damian yang masih terbaring dan tampak lemah dan setelah itu dia melihat ke arah Damian, dia jadi iba ketika melihat Damian karena wajahnya terlihat kusut dan murung.
Pasti berat untuknya dan entah mengapa dia jadi ingin menghibur Damian.
"Are you okey?"
"Yes, i'm fine," jawab Damian singkat tapi tanpa dia duga, tiba-tiba saja Ainsley memeluknya dan mengusap rambutnya.
Damian sangat kaget, sedangkan Ainsley melakukan hal itu untuk menghibur Damian.
"Your father must be fine," ucap Ainsley.
"I know," Jawab Damian.
__ADS_1
"Dia pasti akan segera sadar dan bersama dengan kalian lagi."
"Yeah ... Thanks."
Mereka diam saja tapi Ainsley masih mengusap rambut Damian. Oke, ini sudah tidak benar, kenapa dia memeluk Damian? Damian juga diam saja, dia tidak tahu harus melakukan apa dan mereka berdua menjadi canggung.
"Hm, aku ...." Ainsley tidak tahu harus berkata apa dan pada saat itu, pintu ruangan terbuka.
Begitu menyadarinya, Ainsley mendorong tubuh Damian dengan cepat dan melangkah mundur, jangan sampai ada yang melihat mereka dan salah paham.
Ainsley melihat ke arah pintu yang telah terbuka, dia sangat terkejut mendapati kakaknya sedang melihat ke arah mereka bersama dengan kakak iparnya.
"Maaf, sepertinya kami mengganggu," ucap Vivian dan dia hendak menutup pintu ruangan itu kembali.
"Tidak, Kakak ipar," Ainsley berlari menuju pintu, sedangkan Damian diam saja. Entah kenapa Ainsley memeluknya tapi dia tahu gadis itu hanya ingin menghiburnya.
"Jangan salah paham," pinta Ainsley.
"Apanya?" tanya Vivian pura-pura tidak mengerti.
"Mommy memintaku datang untuk mengantar makanan jadi jangan salah paham."
"Aku tidak lihat apapun," ucap Vivian sambil tersenyum.
Vivian menepuk bahu Ainsley dan dia segera masuk ke dalam, sedangkan wajah Ainsley sediki merona. Seharunya dia tidak memeluk Damian, tapi entah kenapa dia sangat ingin melakukannya tadi untuk menghiburnya.
"Yes, aku hanya datang untuk mengantar makanan dari Mommy," jawab Ainsley.
"Oh ya? Apa tidak ada tujuan lain?" goda Vivian.
"Kakak Ipar!" wajah Ainsley semakin memerah.
"Aku hanya bercanda," ucap Vivian sambil tertawa.
"Ck, aku mau pergi saja!"
"Hey, jangan marah."
"Tidak, aku mau pergi dengan sahabatku," jawab Ainsley.
"Jangan pulang terlalu malam, Ainsley," ucap Matthew.
"Pasti, Kak. Aku pergi dulu ya," Ainsley mencium pipi kakaknya karena dia sudah mau pergi.
"Tunggu," pinta Damian seraya menghampiri Ainsley.
__ADS_1
"Sampaikan rasa terima kasihku pada ibumu dan katakan padanya, lain kali tidak perlu repot."
"Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan. Mommy senang melakukannya," jawab Ainsley sambil tersenyum.
"Lain kali, setelah keadaan ayahku membaik. Aku akan mengajakmu makan siang untuk membalas kebaikanmu."
"Aku tunggu," jawab Ainsley.
Ainsley segera berpamitan karena dia ingin mengajak sahabatnya pergi. Setelah Ainsley keluar, Damian menghampiri adiknya yang sedang berdiri di sisi ayahnya, sedangkan Matthew berjalan menuju kamar mandi.
Vivian menunduk dan mencium dahi ayahnya sambil berkata, "Apa kabar Daddy hari ini?"
"Aku harap Daddy segera sadar sehingga kita bisa bersama lagi," ucap Vivian dan rasanya dia ingin menangis melihat keadaan ayahnya.
Walaupun Gary dan Felicia sudah tertangkap tapi keadaan ayahnya belum juga membaik. Seharusnya Felicia tidak menggantung ayahnya di tempat tinggi dan ayahnya sangat beruntung tidak terkena Hiportemia.
Damian berdiri di samping adiknya dan merangkul bahunya, adiknya pasti sedih tapi dia juga sedih.
"Daddy pasti baik-baik saja, adikku," ucapnya.
"Aku harap begitu, Kak. Aku hanya takut Daddy tidak mau sadar lagi dan memilih untuk pergi."
"Bodoh! Apa yang kau katakan? Lebih dari apapun, Daddy sangat ingin bersama denganmu dan menebus waktu yang terbuang sia-sia selama dua puluh lima tahun. Masih banyak yang ingin dia lakukan denganmu dan dia selalu berkata padaku, jika dia ingin hidup lebih lama agar dia bisa bersama denganmu."
Air mata Vivian mengalir, dia juga sangat ingin menghabiskan waktu bersama dengan ayahnya tapi dia hanya takut ayahnya tidak bisa bertahan.
"Jangan menangis," Damian memeluk Vivian dan mengusap kepalanya.
"Daddy tidak akan suka melihatmu menangis dan aku juga tidak. Kita harus tetap percaya, jika Daddy akan bangun sebentar lagi," hiburnya.
Vivian mengangguk dan mengusap air matanya, dia juga berharap demikian karena dia sudah sangat ingin melihat ayahnya dalam keadaan sehat.
"Pergilan beristirahat, Vivi," ucap Damian.
"Tidak, aku mau bersama dengan Daddy. Kak Damian kurang beristirahat, bukan? Pergilah, aku dan Matthew akan menjaga Daddy."
"Baiklah, nanti malam aku yang akan menjaga Daddy jadi aku akan istirahat lebih awal," ucap Damian.
Vivian mengangguk dan duduk di samping ayahnya, sedangkan Damian berjalan menuju ranjang karena dia memang ingin beristirahat sebelum Ainsley datang.
Vivian mengusap tangan ayahnya dan setelah itu dia bangkit berdiri dan mencium dahi ayahnya lagi sambil berkata, "Cepatlah sadar, Dad. Aku ingin mengajak Daddy dan Kak Damian pergi piknik. Aku akan meminta Matthew mencari tempat yang bagus, di mana kita akan berbaring di bawah pohon yang besar dan memandangi hamparan rumput yang luas."
Vivian menunduk dan mencium pipi ayahnya tanpa menyadari jika kelopak mata ayahnya tampak berkedip ketika mendengar ucapannya.
Di bawah alam sadarnya, Jager Maxton dapat mendengar ucapan putrinya. Piknik? Dia sangat ingin melakukannya dan dia ingin mengajak putrinya piknik di bawah pohon Meadow di mana dulu dia selalu bersama dengan istrinya di sana.
__ADS_1
Vivian kembali duduk dan pada saat itu, Matthew mendekatinya dan menyentuh bahunya. Vivian melihat Matthew sambil tersenyum dan setelah itu, dia bersandar pada tubuh Matthew.
Mereka hanya diam saja dan memandangi wajah Jager Maxton, sedangkan Jager maxton tengah berjuang agar dia bisa bersama dengan putri dan putranya lagi.