Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Apa benar aku bukan putri mommy dan daddy?


__ADS_3

Matthew duduk sendiri di meja makan sambil menghela nafas, setelah memberi penjelasan kepada Vivian, mereka makan malam tapi Vivian tidak menyentuh makanannya sama sekali dan memilih untuk pergi menenangkan pikirannya yang sedang kacau.


Dia tahu pasti berat untuk Vivian dan dia juga tahu, Vivian pasti menyadari semua kemiripan yang ada pada dirinya dan tanda lahir yang dia punya. Vivian hanya butuh waktu untuk menerima semuanya dan dia juga bisa mengerti jika Vivian sulit menerima kenyataan jika orang yang sudah membesarkannya dan sangat menyayanginya selama ini ternyata bukan orang tua kandungnya.


Walaupun belum tes DNA tapi semua bukti sudah menunjukkan jika Vivian putri Jager yang hilang tapi tetap saja, Vivian butuh waktu untuk menerima semua ini dan dia harap, Vivian segera mengambil keputusan dan tidak tenggelam dalam permasalahnnya.


Matthew membiarkan Vivian sendiri karena dia tahu Vivian sangat membutuhkannya. Dia harap dengan kesendiriannya Vivian bisa berpikir dengan jernih dan bisa mengambil keputusan terbaik untuk dirinya sendiri.


Di balkon, Vivian termenung sambil memandangi laut dan memeluk kedua lututnya. Dia sedang malas berpikir dan ingin diam sebentar tapi setelah ini dia akan menghubungi ibunya untuk menanyakan masalah ini.


Dia harus menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat karena dia tidak mau sampai permasalahan pribadinya mengganggu pekerjaannya nanti.


Dia juga butuh keberanian untuk mencari tahu dan dia harap ibunya mau mengatakan kebenarannya dan dia harap, ibunya tidak marah dan tersinggung atas pertanyaannya nanti.


Setelah beberapa saat merenung, Vivian menghela nafasnya dan segera bangkit berdiri. Sekarang saatnya menghubungi ibunya dan menanyakan permasalahan ini. Walaupun sudah malam tapi tidak di Inggris dan biasanya ibunya ada di rumah.


Vivian masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya dan setelah mendapatkan benda itu, dia kembali berjalan menuju balkon.


Dia tampak sedikit ragu tapi dia sungguh ingin tahu, apa benar dia putri Jager Maxton? Walaupun ingin menyangkal tapi di dalam hati kecilnya mengatakan jika semua ini bukan kebetulan belaka.


Vivian naik ke atas pagar tembok dan duduk di sana, sebelum memberanikan diri untuk menghubungi ibunya, Vivian menarik nafasnya sejenak. Sungguh ini terasa sulit baginya dan dia sangat berharap ibunya tidak marah.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, Vivian segera menghubungi ibunya. Dia tidak mau menunda karena dia takut berubah pikiran, bisa saja dia menutup mata untuk permasalahan ini dan bisa saja dia menolak permintaan Jager bahkan tidak memperdulikannya tapi dia juga ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi?


Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara ibunya dari seberang sana, ibunya terdengar sangat senang dan Vivian sedikit tersenyum.


"Vivi, apa kabarmu sayang? Akhirnya kau menghubungi mommy juga."


"Sorry mom, aku sedikit sibuk."


"Tidak apa-apa sayang, bagaimana dengan kabarmu?"


"Aku baik, bagaimana dengan keadaan mommy dan yang lainnya?"


"Tentu saja kami baik sayang, kapan kau akan kembali? Kami sudah sangat merindukanmu," tanya ibunya.


"Entahlah mom, aku tidak tahu karena kasus yang aku tangani belum selesai."


"Apa buronan kali ini sulit ditangkap?" ibunya terdengar sedikit cemas.


"Ya, dia selalu menggunakan wajah orang lain jadi aku sulit melacaknya."

__ADS_1


"Ck, sepertinya kau akan lama di Amerika."


"Ya tapi mom, boleh aku menanyakan sesuatu padamu?"


"Apa itu sayang, katakan," jawab ibunya.


Vivian menggigit bibirnya sejenak dan tanpa terasa air matanya mengalir, sungguh lidahnya terasa kelu dan dia takut menghadapi kenyataan jika wanita yang sedang berbicara dengannya saat ini bukanlah ibu kandungnya.


"Vivi kenapa kau diam saja?" Marta mulai curiga.


"Mom, apakah aku?" Vivian menghentikan ucapannya dan rasanya tidak sanggup lagi melanjutkan pertanyaannya.


"Ada apa sayang, kenapa kau terdengar seperti menangis?" Marta semakin penasaran dan perasaannya jadi tidak nyaman.


"Mom, ada yang ingin aku ketahui tapi berjanjilah padaku mommy tidak akan marah," pinta Vivian.


"Tentu saja, mommy berjanji padamu jadi katakan pada mommy apa yang ingin kau ketahui?" perasaan Marta semakin tidak menentu, ada apa sebenarnya dan apa yang ingin Vivian tanyakan?


"Mom, seseorang mengatakan jika aku putrinya yang hilang, apa aku ini bukan putri mommy?" tanya Vivian sambil berderai air mata.


Begitu mendengar pertanyaan Vivian, wajah Martha langsung pucat sedangkan ponselnya terjatuh dari tangannya.


Apa maksud perkataan Vivian? Apa dia bertemu dengan orang tua kandungnya di sana? Dengan tangan bergetar, Marta mengambil ponselnya sedangkan Vivian mencoba memanggilnya.


"Si...siapa yang mengatakan hal seperti itu padamu sayang?" tanya ibunya dengan nada bergetar.


"Seseorang, apa benar aku bukan putri mommy?" tanya Vivian lagi.


"Tidak, kau adalah putriku dan aku yang membesarkanmu! Jangan percaya dengan orang yang baru kau kenal dengan mudah Vivi!" air mata Marta mulai menetes, akhirnya saat seperti ini tiba dan dia tidak rela kehilangan Vivian.


"Tapi mom, wajahku sangat mirip dengan wajah istrinya yang sudah tiada dan tanda lahirku? Apa benar aku bukan putri mommy dan daddy? Jika benar kenapa kalian menyembunyikan hal sebesar ini dariku?"


"Vivi dengarkan mommy," pinta Marta.


"Kau putriku dan sampai kapanpun kau adalah putriku. Aku akan mengajak daddy pergi ke sana untuk menjelaskan semua ini jadi tunggulah, kita bicarakan hal ini baik-baik dan jangan gegabah," pinta ibunya.


Sebenarnya dia takut tapi sepertinya memang sudah waktunya menjelaskan hal ini pada Vivian dan dia akan mengajak suaminya pergi ke Amerika. Dia harap Vivian tidak kecewa dan marah karena mereka telah menyembunyikan hal sebesar ini darinya. Tapi siapa yang menyangka jika Vivian akan bertemu dengan orang tua kandungnya saat menjalankan tugas?


Vivian mengusap air matanya yang mengalir dengan deras dan berusaha menjawab ibunya, bisa dia simpulkan dari ucapan ibunya jika dia memang bukan putrinya dan rasanya sangat menyedihkan ternyata orang yang membesarkannya dan sangat menyayanginya selama ini bukanlah orang tua kandungnya.


Setelah berbicara dengan ibunya, Vivian diam saja dan menangis menumpahkan kesedihannya sedangkan Matthew bersandar di daun pintu dan melihatnya.

__ADS_1


Dia tidak suka melihat Vivian menangis tapi Vivian membutuhkan hal itu untuk menenangkan hatinya. Dia tahu Vivian pasti sedih saat ini tapi cepat atau lambat, dia pasti akan tahu kenyataannya dan bagaimanapun dia harus menghadapinya.


Setelah membiarkan Vivian menumpahkan kesedihannya, Matthew mendekati Vivian dan memeluknya.


"Jangan menangis lagi babe."


"Maaf Matth," jawab Vivian seraya menghapus air matanya yang masih mengalir.


"Stts, jangan minta maaf. Aku tidak suka melihatmu seperti ini tapi cepat atau lambat kau pasti akan menghadapinya."


"Aku tahu Matth, tapi ini sangat menyedihkan bagiku."


"Aku tahu tapi aku rasa bukan kau saja yang sedih saat ini, ibumu juga pasti sedih begitu juga dengan Jager Maxton, dia pasti lebih sedih lagi karena sudah memendam kerinduan pada putrinya selama dua puluh lima tahun."


"Aku tahu Matth, tapi aku butuh waktu saat mengetahui hal ini."


"Ya, tapi jangan terlalu banyak menangis, aku tidak suka melihatnya."


"Jadi? Apa aku harus menari begitu tahu Maxton adalah ayahku dan tertawa mengetahui jika orang yang membesarkan dan begitu menyayangiku bukanlah orang tuaku?"


"Stts...bukan itu maksudku," ucap Matthew seraya mengusap kepala Vivian dengan lembut untuk menghiburnya.


"Maaf Matth, aku sedang kacau."


"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti dan aku tahu kesedihanmu tapi tidak semua bisa berjalan sesuai dengan keinginan kita dan aku harap kau tidak berlarut dalam masalah begitu lama dan aku juga berharap kau bisa mengambil keputusan yang tepat untuk dirimu sendiri."


"Aku tahu Matth," jawab Vivian seraya menghapus air matanya lagi, untungnya ada Matthew menjadi tempat sandarannya dan dia merasa sedikit tenang karena ada Matthew bersama dengannya.


"Jadi? Apa kau sudah tahu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


"Ya," jawab Vivian sambil mengangguk.


"Oh babe, aku senang kau sudah bisa mengambil keputusan jadi jangan terlalu banyak menangis lagi nanti kau akan sakit," ucap Matthew sambil menghapus air mata Vivian.


"Terima kasih Matth, semua berkatmu."


"Hei aku tidak melakukan apapun."


Vivian berusaha tersenyum sedangkan Matthew mengusap matanya yang masih sembab.


"Ayo masuk ke dalam, angin begitu dingin nanti kau sakit dan makanlah sedikit sup, perut kosong tidak baik untuk kesehatanmu."

__ADS_1


Vivian mengangguk dan Matthew menggendongnya masuk ke dalam. Sebelum kedua orang tuanya datang, dia akan mencari tahu semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi?


__ADS_2