
Di dalam kamarnya, Vivian duduk di sisi ranjang sambil melihat-lihat foto yang ada di ponselnya. Tentu saja yang dia lihat adalah foto kebersamaannya dengan Carlk dulu.
Karena dia sudah memutuskan untuk melupakan Carlk dan mencoba mencintai Matthew jadi ini terakhir kalinya dia melihat foto Carlk yang dia cinta sejak dulu.
Dia juga akan mengubur perasaannya dalam-dalam dan berusaha melupakan semua kenangan yang mereka lalui bersama.
Vivian menghela nafasnya dan memandangi wajah Carlk kembali dan ini benar-benar terakhir kalinya.
"Sory Carlk, aku tidak bisa menunggumu lagi! Kau sudah pergi begitu lama dan aku sudah menunggumu sampai sekarang. Kau juga tidak pernah memberiku kabar sama sekali sehingga aku tidak tahu keberadaanmu. Aku juga tidak tahu kabarmu dan apa yang kau lakukan saat ini. Padahal kau berjanji akan kembali tapi kau benar-benar melupakan janji itu jadi maafkan aku karena mulai sekarang aku akan melupakanmu. Bukan karena aku tidak mau bersama denganmu tapi kau sama sekali tidak mencariku lagi. Mungkin kau sudah tidak menyukaiku dan sudah menemukan yang lain sehingga kau melupakan aku!"
Vivian menarik nafasnya dan berusaha menahan air matanya, dia tidak ingin menangis tapi tetap saja, air matanya lolos dari kedua matanya karena saat ini bagaikan sebuah perpisahan baginya.
"Terima kasih kau sudah hadir dalam hidupku, terima kasih sudah mengubah duniaku dan pandanganku dan terima kasih telah mengajarkan padaku apa itu cinta. Aku rasa kita memang tidak berjodoh jadi maafkan aku dan selamat tinggal Carlk!" Vivian menarik nafasnya dan menghapus semua foto Carlk dari ponselnya.
Entah kenapa setelah melakukan hal itu perasaannya menjadi ringan dan dia menghapus air matanya yang tersisa dengan cepat.
Dia tidak akan menyesali keputusannya dan dia rasa ini yang terbaik untuk mereka berdua dan jika mereka berdua bertemu dikemudian hari, mereka bisa saling menyapa dan menjadi teman.
Setelah selesai Vivian meletakkan ponselnya di atas meja, waktu sudah semakin larut dan sebaiknya dia segera tidur apalagi besok dia harus pergi bekerja.
Vivian hendak merebahkan dirinya tapi pada saat itu, pintu kamarnya diketuk dan terdengar suara Matthew di luar sana.
"Babe, apa kau sudah tidur?"
"Belum, kenapa?" teriak Vivian dari dalam.
"Boleh aku masuk?" tanya Matthew. Sesungguhnya dia tidak bisa tidur dan ini diakibatkan dia terlalu senang karena Vivian sudah mau membalas cintanya.
"Ada apa?" tanya Vivian yang sudah membukakan pintu untuknya.
"Boleh aku tidur denganmu babe?"
"Tidak boleh!" tolak Vivian.
"Ayolah babe, aku tidak bisa tidur dan kau tahu, di kamarku ada sesuatu!" dustanya.
"Memangnya ada apa di kamarmu?" Vivian membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan Matthew langsung menerobos masuk ke dalam.
"Entahlah babe, tapi aku melihatnya. Bentuknya tinggi hitam dan menyeramkan! Dia berdiri di sisi ranjang dan memperhatikan aku dengan mata merahnya," dusta Matthew.
"Apa? Jangan bohong!" ucap Vivian. Dia segera menutup pintu kamarnya dan jujur saja dia takut dengan hal seperti ini bahkan dia sudah merinding.
"Aku tidak bohong babe dan aku rasa dia arwah mantan pacarmu yang tidak terima karena aku sudah merebutmu darinya!"
"Sembarangan, memangnya Carlk sudah mati!"
Matthew terkekeh dan hendak mendekati Vivian untuk memeluknya tapi siapa sangka, sebuah barang jatuh di luar sana membuat Vivian kaget setengah mati dan dia langsung melompat ke dalam pelukan Matthew sambil berteriak.
"Oh my God, it's a ghost!"
"Wow!" Matthew menangkap tubuh Vivian.
__ADS_1
"Babe, jangan katakan jika kau takut hantu!"
"Tidak, aku hanya kaget!" Vivian ingin turun dari gendongan Matthew tapi Matthew tidak membiarkannya.
"Fredd!"
"Stts," Matthew tidak mau mensia-siakan kesempatan dan mencium wajahnya.
"Aku ingin tidur denganmu, boleh bukan? Aku berjanji tidak akan melakukan apapun tanpa seijinmu!"
Vivian mengangguk dan memeluk leher Matthew dengan wajah memerah. Lagi pula ini bukan pertama kalinya mereka tidur bersama dan dia percaya dengan pria itu.
"Kenapa kau belum tidur babe?"
"Aku tidak bisa tidur!"
"Oke baiklah, bagaimana jika kita mengobrol."
Vivian hanya mengangguk bahkan dia diam saja saat Matthew duduk di sisi ranjang dan dia berada di atas pangkuan Matthew.
"Katakan padaku kenapa kau tidak bisa tidur?"
"Kau sendiri?" Vivian memandangi Wajah Matthew, sedangkan Matthew tersenyum.
"Aku terlalu senang karena kau sudah mau menerimaku dan aku tidak bisa tidur karena hal ini!"
"Bodoh!"
"Fredd."
"Hm?" Matthew memainkan jari jemarinya di rambut Vivian dan mencium ujung kepalanya.
"Kau tahu aku hanya pendatang dan setelah tugasku selesai aku harus kembali."
"Lalu?"
"Pada saat itu tiba, apa kau mau ikut denganku? Atau kau akan tetap di sini dan aku akan mengulangi hal yang sama, lagi-lagi menjalin hubungan jarak jauh."
"Kau tidak perlu khawatir babe, aku serius denganmu dan pada saat hari itu tiba, aku akan ikut denganmu dan melamarmu di depan seluruh keluargamu!"
"Benarkah?"
"Yes, trust me."
"Jika begitu bersiaplah karena pada saat hari itu tiba, kau harus menghadapi kakekku dan sebaiknya kau segera melunasi hutang-hutangmu. Satu hal yang harus kau tahu, kakekku mantan tentara!"
"Wow, are you serious?"
"Yes," jawab Vivian.
"Ck, semoga dia tidak menangkapku karena telah menggoda cucunya!"
__ADS_1
Vivian hanya terkekeh dan memeluk Matthew dengan erat, sekarang dia jadi mengantuk dan ingin tidur.
"Aku mau tidur."
"Baiklah, aku juga."
Mereka berdua naik ke atas ranjang dan Matthew memandangi wajah Vivian, sedangkan Vivian tersipu malu.
Jari Matthew mulai mengusap bibir seksi Vivian dan rasanya dia sudah ingin menikmatinya.
"Babe, boleh aku mencium bibirmu?"
"Apa? Tidak!" tolak Vivian.
"Ayolah, kau pacarku dan aku ingin mencium pacarku apa itu salah?"
"Tapi aku?" Vivian tampak gugup, dia belum pernah ciuman dan dia takut melakukannya.
"Tenang saja, tidak seperti yang kau bayangkan. Aku hanya menciummu saja, tidak lebih. Jika kau takut maka pejamkan matamu dan serahkan padaku."
"Tapi aku belum pernah melakukannya."
"Aku akan mengajarimu jadi percayalah padaku."
Vivian mengangguk dan jantungnya mulai berdebar, lagi pula dia sudah memutuskan untuk menerima Matthew jadi hanya sebuah ciuman harus dia lakukan.
"Rileks babe," bisik Matthew sambil mencium pipi Vivian. Vivian memejamkan matanya membiarkan Matthew menciumnya.
Matthew terus mencium pipi Vivian dan di saat dia merasa Vivian sudah menikmati ciumannya, Matthew mendekatkan bibir Vivian dan menciumnya.
Vivian sangat kaget saat bibir Matthew menyentuh bibirnya dan dia segera membuka matanya, rasanya dia ingin mendorong tubuh Matthew tapi dia berusaha bertahan dan melawan ketakutan yang ada di dalam dirinya.
"Tidak buruk!" ucap Matthew setelah melepaskan bibir Vivian, sedangkan wajah Vivian merah padam.
"Kau! Ini ciuman pertamaku!"
"Oh babe, malam ini aku akan mengajarimu ciuman sampai kau bisa!"
"Apa? Tidak!"
"Stt!" Matthew tidak terima penolakan dan sudah me*umat bibir Vivian kembali. Walaupun Vivian berusaha memberontak tapi dia tidak perduli dan Vivian hanya bisa menerimanya dan memendam kekesalan dalam hati, awas saja setelah ini.
Malam itu mereka lewati dengan banyak ciuman, sedangkan di tempat lain Carlk terbangun dari tidurnya dan berteriak memanggil nama orang yang sangat ingin dia lupakan.
"Vivi!" teriaknya sambil terengah-engah.
Ella terbangun dari tidurnya karena dia mendengar teriakan Carlk, dia segera duduk di atas ranjang dan melihat Carlk yang sedang mengusap rambutnya dan mengumpat kesal.
"Tuan Maxton, ada apa?" tanya Ella.
"Tidak ada!" jawab Carlk dan dia segera bangun dari atas ranjang.
__ADS_1
Carlk melangkah pergi sambil memaki, kenapa dia bermimpi melihat Vivian sedang bersama dengan pria lain? Apa maksud dari mimpinya?