
Mereka berdua basah kuyup dan selama di dalam mobil, Vivian hanya menunduk dan diam saja karena pikirannya benar-benar kacau saat ini.
Dilain sisi dia sangat menghawatirkan keadaan kedua orangtuanya tapi di sisi lain dia benar-benar kecewa dengan Carlk. Air matanya masih menetes dan Vivian menghapusnya dengan perlahan, dia sungguh tidak menyangka ternyata Carlk adalah seorang penipu.
ketika melihat toko pakaian, Matthew menghentikan mobilnya. Mereka harus segera mengganti baju mereka yang basah dan dia tidak mau Vivian sakit.
"Kenapa kita berhenti Matth?" tanya Vivian dengan pelan.
"Ganti baju babe, tidak mungkin bukan kita ke bandara dalam keadaan basah?"
"Aku tidak apa-apa Matth," jawab Vivian.
"Apanya yang tidak apa-apa? Aku tidak ingin kau sakit jadi lebih baik kita ganti baju dulu."
Vivian hanya mengangguk, lebih baik dia mengikuti ucapan Matthew karena dia tidak mau membuat Matthew khawatir. Lagi pula dia sudah berjanji pada Matthew jika dia tidak akan menangisi Carlk lagi tapi lagi-lagi dia harus menangisi seorang penipu seperti Carlk.
Dia bersumpah dan berjanji pada dirinya sendiri jika ini adalah air mata terakhirnya. Dia juga tidak akan mau bertemu dengan Carlk lagi bahkan jika mereka bertemu, dia akan pura-pura tidak mengenal Carlk tapi dia tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya?!
Setelah mereka turun dari mobil, Matthew membawa Vivian masuk ke dalam butik dan meminta pegawai di sana mencari pakaian yang cocok untuk Vivian. Dia juga meminta mereka mencarikan sebuah mantel agar Vivian hangat.
Vivian diam saja dan mengikuti pegawai butik bahkan dia diam saja saat seorang pegawai mengambilkan pakaian dan memintanya untuk mencoba pakaian itu di ruang ganti.
Tidak bisa terus begini, dia tidak boleh terlihat rapuh hanya karena mengetahui kebohongan Carlk. Seharusnya dia bersyukur Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk mengetahui siapa Carlk sebenarnya.
Jangan hanya karena permasalahan ini membuatnya terpuruk dan semakin terlihat bodoh. Ini akan menjadi pelajaran baginya agar tidak percaya dengan siapapun dengan mudah.
Bukankah dia curiga jika Carlk adalah buronan yang dia cari? Jika hanya karena hal seperti ini saja sudah membuatnya hancur, bagaimana dia bisa melawan Carlk nanti jika terbukti bahwa dia memang buronannya?
Sebagai penegak hukum dia harus melawan orang yang berbuat kriminal, sekalipun dia adalah keluarga sendiri bahkan kekasihnya sendiri dia harus menghadapinya. Lebih baik dia segera membereskan perasaannya apa lagi keberadaan orangtua dan kakeknya lebih penting.
Dia sudah berjanji pada Matthew dan dia tidak mau mengecewakan Matthew. Dia juga tidak mau memperlihatkan exspresinya yang hancur dan kecewa kepada Matthew sehingga Matthew marah.
Vivian segera membuka bajunya yang basah, dia harus cepat karena dia harus segera pergi ke bandara untuk mengetahui keadaan keluarganya.
__ADS_1
Dia harap keluarganya baik-baik saja dan pesawat yang mereka tumpangi segera ditemukan, Vivian hendak memakai bajunya tapi pada saa itu, Matthew mengetuk pintu dari luar sana.
"Babe, apa sudah selesai?"
"Belum," jawab Vivian.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Matthew.
Vivian membuka pintu kamar ganti tanpa ragu dan Matthew segera masuk ke dalam. Dia tampak sudah berganti pakaian dan Matthew segera memeluk Vivian.
"Babe," Matthew mengusap mata Vivian yang tampak sembab akibat menangis.
"Maaf Matth, padahal aku sudah berjanji padamu untuk tidak menangisi Carlk tapi aku masih saja mengeluarkan air mataku. Maafkan aku, aku sungguh bukan menangisinya tapi aku menangisi kebodohanku selama ini."
"Aku tahu babe, aku tahu kau kecewa karena dia telah menipumu. Jika aku tahu Carlk adalah Gary Wriston aku pasti sudah mengatakan padamu sejak lama jika dia hanya seorang penipu dan baj*ngan."
"Terima kasih Matth, aku benar-benar bersyukur dan mataku sudah terbuka lebar sekarang tapi yang paling aku syukuri adalah, aku bisa bertemu denganmu dan mengenalmu. Terima kasih telah mencintaiku padahal kau tahu, aku masih mencintai Carlk waktu itu."
"Kau benar," ucap Vivian dan wajahnya kembali tampak khawatir.
Vivian segera memakai bajunya dan setelah itu, Matthew membayar baju yang mereka pakai dan segera pergi ke bandara.
Selama diperjalanan, Vivian mencoba menghubungi kakaknya yang ada di Inggris tapi sayang, ponsel kakaknya tidak menjawab ponselnya. Vivian semakin gelisah bahkan dia mencoba menghubungi paman dan bibinya tapi mereka juga tidak menjawab.
Perasaannya semakin tidak enak dan dia terus mencari informasi mengenai keberadaan pesawat yang ditumpangi oleh keluarganya.
Ini sudah beberapa jam berlalu tapi keberadaan pesawat belum juga diketahui. Jantung Vivian berdegup dengan cepat selama menuju bandara, dia takut, takut terjadi sesuatu pada kedua orangtua dan kakeknya.
Cuaca buruk membuat para tim pencari mengalami kesulitan, hujan yang tak kunjung berhenti dan petir yang terus menyambar membuat pencarian pesawat terkendala.
Begitu tiba, Vivian segera berlari karena dia ingin segera tahu apa yang terjadi tapi tidak hanya dia saja yang tampak khawatir. Bandara sudah dipenuhi orang-orang yang ingin tahu keberadaan kerabat mereka dan mereka juga terlihat khawatir seperti dirinya.
Perasaan Vivian semakin tidak menentu apalagi dia melihat sebagian wanita yang sedang menunggu kabar keberadaan pesawat tampak menangis.
__ADS_1
Dalam hatinya tak henti-hentinya berdoa agar Tuhan memberikan keajaiban dan dia harap semuanya baik-baik saja.
Matthew mendekati Vivian yang berdiri mematung dan segera meraih tangannya, dia tahu Vivian pasti sangat khawatir saat ini tapi mereka juga tidak bisa melakukan apapun dan mereka hanya bisa menunggu kabar tapi sebelum itu, dia akan mengajak Vivian mengecek sesuatu.
Vivian pasti tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini apa lagi baru saja dia mengalami kejadian yang tidak terduga dan dia juga sangat menghawatirkan keluarganya.
"Jangan berdiri di sini saja, ayo ikut aku," ajak Matthew.
"Aku takut Matth," ucap Vivian.
"Semua orang pasti takut babe, tidak hanya kau saja."
"Matth bagaimana jika keluargaku?"
"Stts, ayo kita pastikan sesuatu terlebih dahulu," sela Matthew dan dia segera membawa Vivian pergi menuju pusat informasi.
Vivian mengikuti langkah Matthew, sambil berjalan Matthew menanyakan nama pesawat yang ditumpangi oleh keluarga Vivian dan nomor penerbangannya.
Dia ingin menanyakan pada petugas yang ada di sana apakah keluarga Vivian menaiki pesawat itu apa tidak tapi sebelum niatnya tercapai, tiba-tiba saja bandara jadi heboh dan orang-orang yang menunggu sedari tadi berlari menuju sebuah tempat.
"Baru saja ada kabar jika pesawat jatuh di San Jacinto Mountain dan kondisinya hancur terbakar," teriak seseorang yang ada di sana.
Lutut Vivian langsung lemas saat mendengarnya sedangkan seisi bandara jadi heboh karena isak tangis orang-orang yang menunggu.
"Tidak...tidak mungkin," ucap Vivian sambil berderai air mata.
"Mommy, daddy, kakek," ucap Vivian lagi dan tanpa dia inginkan, tubuhnya limbung kesamping.
"Babe!" Matthew menangkap tubuh Vivian yang sudah tidak sadarkan diri karena dia tidak bisa menerima kenyataannya.
Matthew menggendong tubuh Vivian dan mencari tempat aman karena kerumunan orang semakin bertambah banyak.
Dia akan memerintahkan James untuk mencari tahu, apakah keluarga Vivian menaiki pesawat itu atau tidak dan selama membawa Vivian, ponsel Vivian terus berbunyi. Apakah keluarga Vivian menjadi korban dalam kecelakaan pesawat yang baru saja terjadi? Apa Vivian sanggup menerimanya? Yang pasti dia akan disalahkan atas kejadian ini.
__ADS_1