
Gelas diletakkan dengan kasar oleh Gary ketika mendengar suara pintu diketuk oleh seseorang dari luar sana. Sebelum menuju pintu, Gary mengambil senjata apinya dan dengan perlahan dia berjalan menuju jendela karena dia ingin melihat siapa yang datang.
Dia ada di rumah peninggalan ayahnya saat ini karena itu adalah satu-satunya tempat aman baginya. Di sanalah dulu dia tinggal dan dia tumbuh besar di rumah itu. Ayahnya dulu sering pulang bersama dengan sahabatnya yaitu Jager Maxton.
Dulu Jager sangat baik, jika dia datang maka dia akan membawa mainan dan makanan untuk Gary tapi dia tidak menyangka ayahnya akan dibunuh oleh sahabat baiknya sendiri.
Foto kebersamaan ayahnya dan Jager, sudah dia buang dan dia bakar. Dia muak jika mengingat persahabatan ayahnya dan Jager Maxton waktu itu dan jika tahu Jager akan membunuh ayahnya, mungkin dia sudah membunuh Jager terlebih dahulu sebelum ayahnya mati terbunuh.
Gary membuka sedikit tirai dan melihat keluar, di luar sana tampak Felicia sedang berdiri di depan pintu sambil melihat sekelilingnya, waspada.
Dengan cepat Gary berjalan menuju pintu dan membukanya dan begitu melihatnya, Felicia segera menerobos masuk ke dalam rumahnya.
"Sialan, kenapa begitu lama?" tanya Felicia dengan nada sedikit kesal.
"Kenapa kau datang?" Gary segera menutup pintu, jangan sampai ada yang melihatnya.
"Tentu untuk mencarimu, sialan! Aku orang asing di kota besar, apa kau pikir aku akan nyaman?"
"CK, berhentilah mengumpat! Kita akan mengakhiri semuanya hari ini," ucap Gary.
"Terdengar bagus jadi apa rencanamu?" Felicia duduk di sofa dan menyilangkan kedua kakinya.
"Tentu saja aku ingin memancing Vivian datang," Gary menuang segelas minuman dan memberikannya pada Felicia.
"Lalu?" Felicia menyambar gelas yang diberikan oleh Gary dan meneguk isinya.
"Dengarkan aku, aku akan memancing mereka untuk datang dan tentunya menggunakan sanderaku. Kau hadapi Vivian tapi ingat, kau tidak boleh membunuhnya dan aku akan menghadapi yang lain."
"Kenapa aku tidak boleh membunuhnya?" Felicia menatap Gary dengan tajam. Ini di luar kesepakatan mereka sebelumnya dan seharusnya dia tahu jika Gary tidak mungkin mau membunuh Vivian. Tapi tidak masalah karena dia punya rencana sendiri.
"Kau boleh melukainya, boleh memukulnya sampai puas tapi ingat kau tidak boleh mengambil nyawanya! Jika kau berani, aku tidak akan segan membunuhmu!" ancam Gary.
Felicia tersenyum, baiklah. Berdebat untuk hal ini tidak ada untungnya dan dia tetap dengan tujuannya yaitu membunuh Vivian. Dia tidak perduli dengan rencana Gary karena setelah keinginannya tercapai dia akan pergi.
"Jadi? Bagaimana kau akan memancing mereka? Apa kau ingin meledakkan sebuah gedung lagi? Ingat jangan hanya bisa menyandera sana sini tapi kau selalu bersembunyi!"
"Tutup mulutmu!" teriak Gary marah sambil menatap Felicia dengan tajam.
"Jika bukan karena Thomas gagal dengan rencana kita, kita tidak mungkin seperti ini! Dan kau? Kenapa kau tidak di agensimu lagi? Kenapa kau ada di sini? Kau juga gagal bukan?"
"Cih, jika saja rekanku tidak mengganggu mana mungkin aku akan gagal!" jawab Felicia dengan sinis.
"Jika begitu tutup mulutmu dan kita buat rencana baru! Jika kau tidak ingin terlibat maka kembalilah ke Inggris! Aku bisa menyelesaikan permasalahan ini."
__ADS_1
"Sudahlah, jangan marah. Jadi katakan padaku apa rencanamu?" tanya Felicia.
"Ikut aku," ajak Gary.
Mereka segera berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan di mana ada sebuah ruang bawah tanah di sana.
Seorang pria tampak terikat di kursi dan dia sudah tampak lemah dan tidak berdaya dan pria itu adalah Jager Maxton.
"Siapa dia?" tanya Felicia.
"Ayah Vivian," jawab Gary seraya menghampiri Jager Maxton.
"Kau menangkap ayahnya?"
"Dia akan menjadi umpan untuk memancing mereka datang kepada kita."
"Gary, bunuh aku sekarang dan jangan celakai putriku," pinta Jager dengan suara lemah.
"Sabarlah Pak tua, ajalmu sebentar lagi akan tiba dan ayahku sudah menunggumu di depan pintu neraka! Kau bisa melihatnya bukan?" Gary mengangkat dagu Jager dan memperlihatkan foto ayahnya yang sengaja dia letakkan di depan Jager Maxton.
"Lihat baik-baik wajah sahabat baik yang telah kau bunuh dan hari ini kau akan membayar kematiannya dan putrimu akan menanggung dosa yang telah kau lakukan!"
"Putriku tidak bersalah, jangan libatkan dia."
"Jika kau tidak membunuh ayahku mungkin kau sudah menjadi ayah mertuaku sekarang tapi gara-gara kau? Cinta yang ada di hatiku menjadi kebencian dan dendam! Tapi sekarang aku harus mendapatkan kembali cinta itu karena aku tidak suka ada yang mengambil milikku!"
"Kau benar-benar sama dengan ayahmu yang menginginkan hak milik orang lain," ucap Jager.
"Diam kau! Dari awal dia adalah milikku dan Matthew merebutnya dariku! Apa kau tahu betapa sakitnya hatiku ketika aku mengetahui jika dia adalah putri kandungmu? Kami sudah berjanji akan menikah tapi semua itu hancur gara-gara kau!" teriak Gary marah.
"Sebaiknya kau bunuh aku dan jangan ganggu putriku jika tidak Matthew tidak akan melepaskanmu!" pinta Jager Maxton. Dia tidak ingin melibatkan putrinya
"Sayang sekali, hari ini tidak saja kau yang akan mati tapi Matthew Smith juga akan menemani kematianmu!" ucap Gary.
"Jangan terlalu percaya diri, Gary," ucap Jager.
Gary tidak memperdulikannya dan mendekati Felicia sambil berkata, "Aku percaya padamu jadi ayo kita membuat rencana baru."
Felicia tersenyum, perfect. Dia tidak menyangka jika Gary memiliki perasaan pada Vivian dan memiliki masalah yang rumit dan rencananya semakin sempurna, jangan salahkan dia jika dia menghianati Gary nantinya karena Gary tidak akan pernah membunuh Vivian.
"Kau bisa mengandalkan aku," ucap Felicia sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mereka segera keluar dan menutup pintu ruangan itu kembali, Jager memohon agar Gary membunuhnya tapi Gary tidak memperdulikannya dan Gary akan menyesali hal itu nanti seperti Thomas juga Bruke saat ini, mereka berdua dimasukkan ke dalam sebuah kandang yang terbuat dari besi. Kedua tangan dan kaki mereka diikat dengan rantai dan mereka tampak frustasi.
__ADS_1
Mereka diberi makanan dan minuman yang cukup dan setelah itu mereka ditinggalkan. Saat malam gelap gulita yang mereka dapat dan suara-suara mengerikan mereka dengar.
Bruke sudah beberapa hari di sana dan dia sudah terlihat depresi. Kapan dia bisa keluar dari tempat mengerikan itu? Penjara jauh lebih baik begitu juga rumah sakit jiwa. Di tempat itu, orang normal dan waras bisa jadi gila.
Suara pintu terbuka dan mata mereka langsung tertuju ke arah pintu di mana Matthew masuk ke dalam bersama dengan James. Apa Malaikat maut mereka sudah datang? Sayangnya tidak.
Kedatangan Matthew hari ini hanya untuk melihat keadaan kedua tawanannya. Jangan sampai mereka mati sebelum mereka mendapat siksaan darinya. Matthew menghampiri mereka dan berdiri di depan salah satu dari mereka.
"Lepaskan kami, Matthew Smith. Jika tidak bunuh kami sekarang juga!" teriak Thomas.
"Ck ... ck ... sabarlah, sebelum Gary tertangkap kalian tidak akan mati. Bagus bukan? Kalian masih bisa menikmati hidup kalian lebih lama," jawab Mattew.
"Jangan bercanda! Hidup kami memang lebih lama tapi kami bisa gila di tempat ini!" teriak Bruke.
"Wow, aku memang ingin membuat kalian menggila dan sebelum aku menangkap Gary, jangan pernah harap kalian bisa mati jadi berdoalah, semoga hari ini aku bisa menangkap Gary karena semakin lama Gary lari, semakin lama kalian akan berada di tempat ini."
"Sialan!" umpat Thomas marah. Apa yang Gary lakukan? Kenapa dia belum juga membunuh Matthew?
"James, beri mereka hadiah. Jepit kepala mereka agar mereka tidak jadi gila selama menunggu kedatangan Gary," perintahnya.
"Siap, Master," jawab James dan dia segera berjalan menuju alat penyiksaan yang ada.
Dua alat sudah berada di tangan James. Bruke tampak ketakutan melihat alat yang berbentuk lingkaran di mana terdapat paku-paku yang tajam di setiap sisi dalam alat itu.
"Apa yang mau kalian lakukan?" Teriak Bruke ketika dua orang anak buah Matthew membuka pintu dan menangkapnya.
"Membantumu agar tidak cepat menjadi gila," jawab Matthew dengan santai.
"Hey, jika kau memang hebat, bunuh kami sekarang!" teriak Thomas memancing. Bagaimanapun kematian lebih baik dari pada disiksa.
"Tidak ... aku tidak hebat. Kalian yang hebat karena telah membuat wajahku dan menggunakannya untuk berbuat jahat. Kau, dia dan Gary, kalian bertiga yang hebat," jawab Matthew lagi.
"Sialan! Jangan pernah pasang alat itu padaku!" teriak Thomas tapi sayangnya, anak buah Matthew telah memasang alat itu di kepala Bruke dan Thomas.
Alat dikencangkan dan pada saat itu, paku-paku yang tajam menembus kulit kepala bahkan masuk ke dalam tengkorak mereka karena alat semakin dikencangkan.
"Arrrgggghhhhhhhh!" teriakan Bruke dan Thomas terdengar memenuhi ruangan dan darah mengalir dari setiap lubang yang ada di kepala mereka.
"Bagus, tempat ini jadi ramai dan kalian tidak akan menjadi gila!" ucap Matthew.
Bruke dan Thomas memegangi alat yang ada di kepala mereka tapi sayangnya alat itu tidak bisa dibuka dengan mudah karena James sudah mengunci kedua alat itu.
"Alat itu akan tetap berada di sana sampai Gary tertangkap jadi sebaiknya kalian banyak-banyak berdoa, agar aku bisa menangkap Gary secepatnya," ucap Matthew dan dia segera mengajak James pergi meninggalkan Bruke dan Thomas yang terbaring tidak berdaya karena sakit luar biasa di kepala mereka. Selanjutnya, siksaan apa lagi yang akan mereka dapat? Sebaiknya jangan dibayangkan, karena itu menakutkan.
__ADS_1