
Beberapa saat yang lalu, Gary keluar karena ada yang harus dia lakukan. Dia memakai topeng wajah terakhir yang dia punya agar tidak ketahuan dan segera pergi tanpa tahu jika Felicia akan menghianatinya.
Setelah Gary pergi, Felicia melihat situasi dan setelah merasa aman dia langsung melakukan rencananya. Yang paling utama dia tuju adalah ruang bawah tanah di mana Maton sedang berada.
Pria tua itu tidak mengenalnya dan dia akan menipunya agar pria tua itu mau mengikutinya tanpa perlawanan. Felicia menghampiri Maxton dan mengambil sebilah pisau yang ada di pinggangnya.
"JIka kau ingin pergi dari sini menurutlah, Pak tua!" ucap Felicia.
"Apa maumu?" tanya Jager Maxton.
"Aku rekan putrimu dan aku agen yang sedang menyamar. Aku akan membawamu pergi dari sini tapi jika kau tidak bekerja sama denganku dan memberontak, maka pisau ini tidak akan segan menggorok lehermu!" Felicia meletakkan mata pisaunya yang tajam ke bawah leher Jager Maxton.
"Apa benar kau rekan putriku?" Jager menatap Felicia tidak percaya.
"Apa kau ragu tua bangka? Kami sesama agen dari Inggris dan kami sudah lama bekerja sama."
"Baiklah, singkirkan pisaumu!" jawab Jager Maxton.
Dia percaya jika wanita itu adalah rekan putrinya tapi sayangnya dia tahu jika wanita itu akan memanfaatkannya untuk memancing putrinya datang.
Tali sudah di lepas dan Maxton segera di bawa keluar oleh Felicia. Untuk mengelabui anak buah Gary yang sedang berjaga, Felicia meletakkan pisaunya ke bawah leher Jager Maxton dan mengikat tangannya.
Mereka segera keluar dan ketika hendak melewati anak buah Gary yang ada di depan pintu, Felicia menekan pisaunya semakin dalam ke leher Maxton. Itu dia lakukan agar anak buah Gary tidak curiga.
"Mau kau bawa ke mana pria tua itu?" tanya salah seorang anak buah Gary.
Felicia menghentikan langkahnya, dia harus berpura-pura agar tidak ketahuan. Tidak untuk saat ini karena dia harus memanfaatkan si tua bangka itu.
"Aku dan bosmu memilki rencana dan sekarang sudah waktunya rencana kami dijalankan," jawab Felicia.
"Apa benar?" anak buah Gary melihat Felicia dengan penuh selidik.
"Jangan menghalangi, sialan!" bentak Felicia marah.
"Kami tidak punya banyak waktu tapi jika kau masih menahanku maka jangan salahkan aku jika rencana kami gagal!" bentak Felicia lagi.
"Baiklah," jawab anak buah Gary. Walau dia merasa janggal tapi dia tidak bisa menahan wanita itu apalagi bosnya tidak mengatakan apapun.
"Bagus! Berikan aku sebuah mobil!" perintah Felicia. Bagaimanapun dia butuh kendaraan untuk membawa si tua bangka itu.
Sesuai dengan perintah Felicia, anak buah Gary memberikan sebuah mobil untuk Felicia dan Felicia segera mendorong Maxton masuk ke dalam.
Maxton tampak lega karena dia bisa keluar dari tempat itu dan dia akan berterima kasih kepada rekan putrinya karena telah menyelamatkannya.
__ADS_1
Felicia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi dan ketika sudah menjauh dari rumah Gary, Felicia menghentikan laju mobilnya.
"Terima kasih, Nona" ucap Maxton karena dia pikir Felicia akan melepaskan tali yang mengikat tangannya tapi sayangnya tidak.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, Pak tua!" ucap Felicia dan dalam satu gerakan, Felicia memukul Maxton hingga pria tua itu pingsan.
Felicia tersenyum dan mengambil ponselnya, dia harus menghubungi seseorang yang akan membantunya. Dia bukan orang bodoh yang tanpa persiapan karena dua puluh orang preman yang dia jumpai ketika dia melarikan diri akan membantunya.
Amerika negera yang besar di mana terdapat penjahat setiap malam yang menguasai jalanan. Secara kebetulan dia bertemu dengan mereka dan menawarkan sejumlah uang untuk membantunya. Tentu para penjahat itu setuju karena uang yang ditawarkan Felicia begitu menggiurkan.
Felicia kembali menjalankan mobilnya dan dia bertemu dengan para preman yang akan membantunya di tengah jalan. Seseorang dari mereka dia perintahkan untuk mengantar surat kepada Vivian dan sisanya ikut dengannya untuk menjalankan rencananya lebih lanjut.
Setelah tidak lama kepergiannya, Gary kembali. Dia sangat heran karena tidak mendapati Felicia di manapun apalagi sudah waktunya mereka menjalankan rencana mereka.
Gary mencari Felicia dan ketika melihat pintu ruang bawah tanah terbuka, Gary segera melangkah mendekati tempat itu. Dia segera berlari, mengumpat ketika melihat Jager Maxton hilang.
Anak buahnya yang menjadi sasaran utama dari kemarahannya dan kemarahannya semakin menjadi karena anak buahnya berkata, wanita yang bersekutu denganlah yang membawa Jager Maxton pergi.
Gary berteriak marah karena dia tidak menyangka jika Felicia akan menghianatinya. Ini benar-benar di luar perkiraan dan sekarang rencana yang mereka susun dengan matang hancur berantakan.
Gary mencoba menghubungi Felicia tapi sayangnya ponsel Felicia tidak aktif, itu benar-benar membuatnya semakin marah sehingga barang-barang yang ada di dekatnya berakhir di atas lantai.
"Pergi lacak ke mana dia membawa mobilku!" perintah Gary.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, surat sudah diberikan pada Vivian dan Felicia tampak senang mendengarnya. Dia masih menyusun rencana dengan para preman yang akan membantunya karena dia akan benar-benar memanfaatkan si tua bangka yang dia bawa.
Mereka berada disebuah bangunan yang sedang dibangun dan bangunan itu memiliki puluhan lantai. Ketika matahari mulai terbenam dan para pekerja mulai bubar, mereka menguasai tempat itu dan membunuh si penjaga.
Tubuh tua Maxton diikat dan dinaikkan ke atas sehingga tubuh tua Jager Maxton tergantung di atas Tower Crane.
Gary mendapat laporan jika mobil yang di bawa oleh Felicia sudah ditemukan dan dia segera mengumpulkan semua anak buahnya untuk menuju ke sana sedangkan Felicia mengirimkan foto Jager Maxton dengan sebuah pesan untuk Vivian.
..."Lihat ayahmu, dia akan mati kedinginan di atas sana jika kau tidak datang. Carilah Angel di mana aku menggantung ayahmu, aku yakin kau bisa menemukannya tapi jika tidak, maka ayahmu mati dan aku akan meledakkan bom yang ada di tubuhnya. Aku tunggu satu jam dari sekarang dan ingat, kau harus datang sendiri!"...
Vivian mengumpat kesal setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Felicia dan foto ayahnya. Dia segera memberikan ponselnya kepada Matthew. Dia sudah berada di rumah Matthew sambil menunggu kabar dari Felicia.
"Sial, Felicia benar-benar sudah keterlalun!" ucap Vivian kesal.
Matthew melihat foto yang dikirimkan oleh Felicia dan setelah itu dia menghampiri adiknya.
"Lacak tempat ini," perintahnya.
Michael segera melacak sedangkan Matthew menghampiri Vivian untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Tenang saja, Babe. Kita pasti akan menyelamatkan ayahmu."
"Felicia keterlaluan, dia menggantung ayahku seperti itu. Apa dia tidak iba pada orang tua?"
"Kau tidak perlu khawatir, setelah kita menangkapnya, aku akan menggantung tubuhnya seperti yang dia lakukan pada ayahmu dan aku akan membiarkan binatang liar memperebutkan dagingnya."
Vivian hanya mengangguk dengan pelan dan lima belas menit kemudian, Michael sudah mendapatkan lokasi di mana Jager Maxton sedang ditawan.
"Mereka menahan Jager Maxton disebuah bangunan yang baru dibangun," ucap Michael dan mereka segera mendekati Michael.
"Lihat ini, Maxton digatung di atas Tower crane," Michael menunjukkan gambar yang menunjukkan Jager Maxton tampak tidak berdaya di atas ketinggian ribuan kaki.
"Sial!" umpat Damian kesal.
"Lihat lokasinya baik-baik, Mich," pinta Matthew.
"Dia menginginkan aku Matth, entah ini hanya akal-akalan Gary dan Felicia aku tidak tahu tapi satu hal yang aku tahu, Felicia tidak akan main-main dengan ucapannya."
"Tenang saja, kita akan menyusun rencana dan kau tidak akan pergi ke sana sendirian," ucap Matthew.
Denah lokasi bangunan sudah didapatkan oleh Michael dan mereka segera menyusun rencana. Mereka sepakat untuk berpencar dan Vivian akan muncul terlebih dahulu untuk memancing Felicia.
Damian dan James akan mengintai dan menyelamatkan Jager Maxton secara diam-diam sedangkan Matthew akan berada di dekat Vivian. Michael bertugas memantau situasi dan tentunya dia harus fokus dengan layar komputernya. Walau dia tidak ikut tapi dialah yang paling berperan penting dalam misi penyelamatan itu.
Setelah sepakat, Matthew segera menghubungi James untuk membawa anak buah mereka dan tentunya, dia membawa Vivian dan Damian untuk mengambil senjata yang mereka perlukan.
Dua buah pedang pendek menjadi pilihan Vivian dan dua pistol mematikan dia ambil untuk dia gunakan. Dua pedang berada di punggungnya sedangkan pistol ada di pinggangnya begitu juga dengan Matthew, dia membawa sebilah pedang panjang untuk menebas musuh dan pedang itu berada di punggungnya.
Setelah James datang, mereka segera bersiap-siap dan berpamitan kepada keluarga Matthew. Dua buah motor sport sudah ada di depan rumah karena Matthew dan Vivian akan menggunakan benda itu.
Motor dinyalakan dan Matthew juga Vivian naik ke atas benda itu. Damian dan James juga sudah masuk ke dalam mobil sedangkan Michael sudah siap di depan komputer dengan segelas kopi dan kantung urine saat diperlukan karena dia tidak bisa meninggalkan komputer di saat penting. Hanya bercanda, dia tidak perlu melakukan hal itu karena Albert sudah masuk ke dalam ruangan untuk membantu putranya.
Mobil yang di bawa James jalan terlebih dahulu bersama dua mobil lainnya sedangkan Matthew dan Vivian masih belum menjalankan motor mereka.
"Kali ini kita tidak boleh membiarkan Gary lepas," ucap Matthew.
"Tentu, kita akan menyelamatkan ayahku dan kita akhiri semuanya," jawab Vivian.
"Setelah itu kita menikah," ucap Matthew lagi.
"Deal," jawab Vivian.
Mereka berdua segera memakai earphone ke telinga mereka dan setelah itu mereka memakai helm mereka. Sebelum mereka menjalankan motor, mereka membuka penutup helm dan mengadukan telapak tangan mereka berdua sambil berkata, "Let's action and kick their a*s." dan setelah itu mereka segera membawa motor mereka dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1