
Sebelum Vivian pulang, Matthew pulang terlebih dahulu. Dia berniat membersihkan kamar yang akan dia tempati tapi pada saat mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam kamar, sebuah ide muncul di kepalanya.
Bagaimana jika dia membuat makan malam untuk Vivian? Vivian pasti akan senang begitu pulang makanan sudah tersedia.
Ada yang bilang dari makanan turun ke hati jadi tidak ada salahnya mencoba walaupun dia tidak bisa masak.
Berbekal bahan-bahan makanan yang ada di kulkas dan bersama dengan Michael, eksperimen dimulai.
Earphone terpasang di telinga dan Michael duduk didepan komputer, tugasnya melihat resep dan cara membuat apa yang akan dimasak oleh kakaknya sambil memberitahu kakaknya apa saja yang harus dia lakukan.
Matthew begitu serius mendengar pembicaraan adiknya sambil membedakan yang mana garlic dan yang mana onion.
"Yang mana? Ada dua?" tanyanya.
"Bentar kak, aku lihat dulu," jawab Michael dan dia mulai mencari perbedaan antara garlic dan onion.
Tidak lama kemudian, dia sudah mendapatkan perbedaan kedua bumbu dapur itu dan segera mengatakan pada kakaknya yang sudah menunggu.
"Kak, yang warna putih."
"Oke," jawab Matthew dan dia menyimpan bawang merah pada tempatnya kembali.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
"Kak Matthew harus mencincangnya sampai halus dan jangan lupa rebus mie kedalam air mendidih yang dituang sedikit minyak, kocok telurnya dan goreng pakai mentega!" jelas Michael.
"Ini sangat mudah!" jawab Matthew dengan penuh percaya diri dan selama memasak dia mengikuti apa yang dikatakan oleh adiknya, sedangkan Michael melihat kakaknya dari layar komputer dan terkadang dia juga mengatakan apa saja yang harus kakaknya lakukan mengikuti resep yang dia lihat.
Ketika sedang menggoreng telur, Matthew kesulitan untuk membalikannya karena dia takut telur gorengnya hancur.
"Mich, cepat cari cara membalikkan telur ini agar tidak hancur!" perintahnya. Dia tahu adiknya sedang memperhatikannya dari komputer.
"Sebentar kak," jawab adiknya dan lagi-lagi Michael mencari cara dan melihat koki terkenal membalikkan telur dengan cara melemparkannya ke udara lalu menangkapnya lagi.
"Kak, lempar!"
"What?"
"Lempar ke atas lalu tangkap!" perintahnya.
"Hm, oke," jawab Matthew tanpa tahu apanya yang harus dia lempar.
"Siap kak, jangan lupa kau tangkap!" Michael mengingatkan.
__ADS_1
"Tentu saja, jangan berisik!" ucap Matthew dan dia segera melempar wajan ke atas.
"Kak telurnya yang kau lempar bukan wajannya!" teriak Michael.
"What?" Matthew langsung panik dan hendak menangkap wajan yang dia lempar tapi sayang, tangannya menyenggol piring yang ada di atas meja hingga jatuh kebawah, tidak hanya itu, wajan yang dia lempar mengenai rak piring hingga piring-piring yang ada di sana juga pecah.
"Oh mati aku!" umpatnya sedangkan Michael tertawa terbahak-bahak.
Dia kira wajannya yang dilempar agar telurnya lepas, tapi ternyata?
"Kak Matt, mie yang kau rebus gosong!" ucap Michael disela-sela tawanya saat melihat mie yang direbus kakaknya mengeluarkan asap.
"Oh my God!" Matthew segera mematikan api kompor dan melihat mie yang sudah kering dan menempel pada panci.
"Hahahahahaha!" Michael melepaskan earphone yang dia pakai dan kembali tertawa terbahak-bahak.
Matthew mengusap tengkuknya, habislah sudah. Vivian pasti marah dan pada saat itu juga terdengar suara pintu terbuka dan Vivian berteriak, "Apa yang terjadi?"
Vivian sudah siap dengan sepucuk senjata api di tangannya, dia siap menembak jika ada orang mencurigakan di dalam rumah tapi pada saat melihat rumahnya yang berantakkan, mulutnya menganga. Kenapa rumahnya begitu berantakan?
"Freddy!" Vivian berteriak, bisa dia tebak pasti ulah pria itu.
Vivian berjalan melewati barang-barang yang dikeluarkan oleh Matthew dari kamar dan segera menuju dapur, di sana Matthew tersenyum saat melihat kedatangannya dengan wajah tidak bersalah.
"Apa yang kau lakukan, hah?" Vivian menyimpan pistolnya kembali.
"Sory babe, aku hanya?"
"Oh my God! Piringku!" Vivian sangat kaget melihat piring-piringnya yang pecah.
"Sory," ucap Matthew lagi sedangkan Vivian semakin kesal melihat Mie yang sudah gosong dan menempel pada panci sedangkan wajan ada diantara pecahan piring.
"Apa sih yang mau kau buat? Jika kau lapar kenapa tidak menunggu aku pulang ada oh my God, kenapa di luar begitu berantakan!" Vivian benar-benar frustasi.
"Sory babe, aku sedang membersihkan kamar tapi tiba-tiba aku ingin membuatkan makanan untukmu."
"Apa kau bisa masak?" Vivian menatapnya dengan tajam.
"Aku sedang belajar babe."
Vivian memejamkan matanya untuk menahan kekesalan di hatinya, jika tidak bisa masak kenapa mau buat makanan?
"Kau, awas jika sampai terulang lagi! Aku akan menendangmu keluar dan melubangi kepalamu!" ancamnya.
__ADS_1
"Jangan babe, jika kau menendangku keluar lalu aku mau tinggal dimana?" Matthew pura-pura memelas.
"I don't care! Segera bersihkan dan saat aku sudah mandi, semua sudah harus bersih jika tidak akan aku lempar kau keluar!"
"Yes ma'am!" jawab Matthew sedangkan Vivian meliriknya dengan tatapan tajam dan setelah itu dia melangkah pergi.
"Jangan-jangan setelah tugasku selesai aku juga jatuh bangkrut!" gerutu Vivian sedangkan Matthew tersenyum melihat kepergiannya, untung tidak ditendang.
Matthew segera membersihkan piring-piring yang pecah, dia harus membereskan semua kekacauan yang dia buat sebelum Vivian selesai mandi.
"Kak, apa kau mau lanjut memasak?" tanya Michael yang masih memperhatikannya.
"Berisik, sudah sana!" jawab Matthew seraya melepaskan earphone yang dia pakai sedangkan Michael tertawa.
Niatnya membuat makanan untuk Vivian gagal total, seharusnya dia belajar memasak dulu dengan ibunya sebelum bereksperimen.
Setelah selesai mandi Vivian keluar dari kamar dan masuk kedalam dapur, dia ingin melihat apakah dapurnya sudah bersih tapi ternyata Matthew belum selesai.
Vivian menghampiri Matthew dan berdiri disampingnya, dia bisa saja mengusir pria itu tapi entah kenapa tidak bisa dia lakukan.
"Memangnya kau mau buat apa?" tanyanya.
"Oh babe, jangan dipikirkan. Maafkan aku karena sudah mengacaukan semuanya."
"Sudahlah, tapi lain kali jangan diulangi! Jika sampai terjadi lagi maka aku akan menendangmu tanpa ragu!" ancam Vivian.
"Don't worry babe, i promise i don't do it again."
"Good!" ucap Vivan singkat sedangkan Matthew tersenyum.
Vivian berjalan kearah kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan makanan dan setelah itu dia meletakkan bahan makanan yang dia ambil keatas meja.
"Setelah makan aku akan membantumu membersihkan kamar. Jangan sampai ada perabotanku yang rusak dan kau hancurkan! Ini hanya rumah dinas dan aku tidak mau membeli perabotan baru dan jangan sampai saat tugasku selesai aku jatuh bangkrut gara-gara kau!"
"Aku akan menggantinya babe," ucap Matthew sambil terkekeh.
"Ck, pikirkan saja hutang-hutangmu!"
Vivian berjalan kearah wastafel sedangkan Matthew memperhatikan punggungnya dengan senyum di wajahnya.
"Saat kau sudah jadi milikku, maka aku akan memberikan apapun untukmu babe," ucap Matthew dalam hati.
Dia segera mendekati Vivian dan menawarkan bantuan, tapi Vivian mengusirnya keluar. Jangan sampai perabot dapurnya pecah lagi oleh pria itu.
__ADS_1