Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Permintaan Marta.


__ADS_3

Vivian duduk di sisi ranjang dan tampak termenung, sekarang sudah terbukti jika Jager Maxton adalah ayah kandungnya, lalu apa yang harus dia lakukan?


Sungguh dia tidak tahu harus melakukan apa dan dia tidak tahu harus bersikap seperti apa saat di depan Maxton nanti. Biasanya dia memanggil Maxton dengan sebutan tuan Max tapi sekarang? Rasanya agak canggung harus memanggilnya daddy.


Mungkin dia harus mencobanya nanti dan dia harap dia bisa melakukannya. Dia benar-benar tidak menyangka orang yang dia curigai sebagai buronannya ternyata ayah kandungnya.


Hal ini tidak terpikirkan sama sekali olehnya dan sekarang, tidak saja mengetahui jika dia hanya anak adopsi keluarga Adison tapi ternyata dia seorang putri mafia, ini sungguh bertentangan dengan profesinya. Ini kejadian yang sangat langka, seorang agen penegak hukum ternyata putri seorang mafia. Jika dia mengatakan hal ini pada rekannya mereka pasti tidak akan percaya.


Pada saat itu, Matthew masuk ke dalam kamar dan menghampiri Vivian yang sedang termenung. Matthew duduk di sisi Vivian dan merangkul bahunya agar Vivian bersandar di bahunya.


"Apa kau marah babe?"


"Tidak," jawab Vivian.


"Lalu kenapa kau di sini?"


"Aku canggung Matth, aku tidak menyangka jika Jager Maxton adalah ayah kandungku dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini."


"Kenapa? Apa kau tidak bisa menerimanya?"


"Bukan begitu," jawab Vivian sambil menggeleng.


"So?"


Vivian menghela nafasnya sejenak, "Aku tidak tahu Matth, mereka memperebutkan aku dan aku tidak suka. Aku tahu mereka menyayangi aku tapi aku tidak ingin mereka memperebutkan aku seperti ini sehingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."


"Justru karena mereka menyayangimu maka mereka memperebutkanmu babe, aku harap kau bijak mengambil keputusan untuk masalah ini."


"Aku tahu Matth, apa kau punya solusi?" tanya Vivian sambil memandangi Matthew.


Matthew tersenyum dan mengusap pipi Vivian dengan lembut, inilah gunanya dia di sana karena dia ingin selalu ada saat Vivian membutuhkannya.


"Kau tahu babe? Yang paling sedih dari kejadian ini adalah Maxton. Aku pernah merasakannya dulu saat aku masih kecil dan belum bertemu dengan ayahku. Aku sangat merindukan sosok seorang ayah dan itulah yang dirasakan oleh Maxton. Dia merindukanmu selama dua puluh lima tahun dan yang dia tahu kau sudah tiada. Kau bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat itu bukan?"

__ADS_1


Vivian mengangguk dan tanpa terasa air matanya mengalir. Dia tahu Maxton sedih dengan kejadian ini karena dia bisa melihatnya sendiri.


"Jadi apa yang harus aku lakukan Matth? Aku tidak ingin mereka bertengkar karena aku."


"Keluarlah dan bicarakan hal ini dengan ibumu, dia hanya takut kehilanganmu saja dan setelah itu, bicaralah dengan Maxton. Dia sangat ingin bersama denganmu babe jadi kau perlu waktu privasi bersama dengannya untuk beradaptasi."


"Kau benar, terima kasih Matth kau selalu bisa memberikan aku solusi dan bisa aku andalkan."


"Stts, tapi kau harus ingat babe, kau juga harus meluangkan waktu untukku."


"Aku tahu Matth, tapi sepertinya aku akan lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan keluargaku."


"Tidak apa-apa babe, selama keluargamu di sini kau memang harus bersama dengan mereka dan kau juga harus meluangkan waktumu untuk Maxton agar hubungan kalian sebagai orangtua dan anak semakin dalam. Kita masih bisa bertemu jadi tidak perlu kau pikirkan. Gunakan kesempatan ini untuk dekat dengan mereka karena nanti setelah kita menikah, kau akan tinggal denganku dan akulah pemenangnya," ucap Matthew sambil bercanda.


"Kau benar, dasar curang."


Matthew terkekeh dan mengangkat dagu Vivian, "Jadi? Sudah tahu bukan apa yang harus kau lakukan?"


"Stts, inilah gunanya aku babe. Kita harus saling melengkapi bukan? Jadi sebaiknya kau segera keluar dan berikan penjelasan pada ibumu agar dia tenang dan setelah itu berbicaralah pada Maxton."


Vivian mengangguk dan setelah itu, Matthew mengecup bibir Vivian dengan lembut. Mungkin waktu mereka bersama akan berkurang tapi dia tidak bisa bersikap egois karena selain dirinya, keluarga Vivian juga membutuhkan Vivian terutama Jager Maxton.


Sebagai ayah yang baru saja menemukan putrinya yang hilang selama dua puluh lima tahun tentu membuat Maxton ingin bersama dengan Vivian dan dia tidak boleh egois dalam hal itu.


Pada saat itu, terdengar suara pintu diketuk dari luar sana karena Marta sedang mencari putrinya.


Vivian segera bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu sedangkan Matthew masih duduk di sisi ranjang karena dia akan menunggu Vivian di sana.


Begitu pintu terbuka, Marta langsung memeluk putrinya. Dia harap putrinya tidak marah dengan sikapnya tadi.


"Maafkan mommy sayang, mommy bersikap egois tanpa memperdulikan perasaanmu."


"Tidak apa-apa mom, aku bisa mengerti," jawab Vivian seraya memeluk ibunya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, sekarang kau bisa memutuskan apa yang akan kau lakukan tapi satu hal yang mommy minta darimu, jangan menjauhi kami," pinta Marta.


"Mom, sudah aku katakan bukan? Aku Vivian Adison tetap putri kedua dari Charles dan Marta Adison dan tidak ada yang bisa merubah hal itu. Walaupun aku sudah bertemu dengan ayah kandungku bukan berarti aku akan melupakan kalian. Bagiku kalian tetap keluargaku dan aku tetap putri kalian dan jika aku sudah menikah nanti, aku akan meluangkan waktu pulang ke Inggris untuk menjenguk kalian. Aku tidak akan menanyakan kepada kalian kenapa kalian menyembunyikan kenyataan jika aku bukan putri kalian karena aku tahu, kalian begitu menyayangi aku dan aku rasa kalian menyembunyikan hal ini supaya tidak melukai perasaanku."


"Oh Vivi, mommy benar-benar bangga padamu. Kami menyembunyikan hal ini memang kami tidak ingin kau merasa canggung dengan kami dan kami tidak mau kau merasa jika kau hanya anak adopsi saja. Kami ingin kita menjalin hubungan selayaknya orangtua dan anak kandung tanpa memiliki jarak. Maafkan kami telah menyembunyikan hal ini sayang," jelas Marta.


"Aku tahu mom, terima kasih mommy dan daddy begitu menyayangi aku selayaknya anak kandung kalian," ucap Vivian sambil menangis.


"Jangan menangis, aku sangat beruntung dapat merawat dan membesarkanmu dan jika bisa memilih, aku sangat ingin menjadi wanita yang melahirkanmu."


"Terima kasih mom, aku sangat menyayangimu."


"Mommy juga sayang, mommy sangat menyayangimu," ucap Marta dan mereka masih berpelukan sambil menangis.


"Sekaran keluarlah, temui ayahmu. Dia pasti ingin bersama denganmu dan berbicara denganmu," ucap Marta seraya melepaskan pelukan mereka.


"Mommy benar, aku akan segera menemuinya."


Marta tersenyum dan mengusap air mata putrinya, beruntungnya Vivian tidak marah dengan mereka karena telah menyembunyikan hal itu darinya.


Sebelum keluar Vivian memandangi Matthew sejenak sedangkan Matthew tersenyum dan mengangguk. Vivian segera keluar tanpa keraguan sedikitpun dan ketika melihatnya, Jager dan Damian bangkit berdiri, apa Vivian marah dengan mereka?


"Maaf aku tiba-tiba pergi," ucap Vivian.


"Tidak apa-apa nak, maafkan orang tua ini," jawab Jager sambil tersenyum.


"Daddy, kakek, bisakah beri aku waktu bersama dengan tuan Max? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya," pinta Vivian pada ayah dan kakeknya.


"Tentu saja Vivi," jawab ayah dan kakeknya seraya bangkit berdiri.


Jager diam saja dan ada rasa sedih di dalam hatinya karena Vivian masih memanggilnya tuan Max. Apa putrinya tidak bisa memaafkan dan menerima dirinya?


Entah kenapa tiba-tiba saja Jager merasa takut jika putrinya akan menolaknya dan tidak mau mengakuinya sebagai ayah. Jika sampai hal itu terjadi apa yang harus dia lakukan? Jantung Jager berdebar saat mereka hanya bertiga saja, semoga saja apa yang dia takutkan tidak terjadi dan dia berharap, putrinya mau memaafkan dan menerima dirinya.

__ADS_1


__ADS_2