
Malam semakin larut tapi Vivian tidak bisa tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam tapi dia belum merasa mengantuk.
Vivian membolak balikkan badannya di atas ranjang dan tampak gelisah dengan banyak pikiran di kepalanya.
Dia sedang memikirkan perkataan Matthew dan memikirkan hubungannya dengan Carlk. Haruskah dia melupakan Carlk dan tidak menunggunya lagi?
Sungguh dia sedang di dalam dilema, bukannya dia cinta mati pada Carlk tapi Carlk adalah pria pertama yang memberikan rasa aman untuknya, pria itulah yang mengubah pandangannya dan dia jugalah yang mengenalkan cinta kepadanya. Jika ingin berpisah dia ingin mereka berpisah secara baik-baik.
Vivian menghela nafasnya dan melihat jam yang ada di dinding, dia jadi ingin tahu keadaan kedua rekannya. Apakah Felicia baik-baik saja? Dari pada memikirkan hal yang tidak jelas lebih baik dia menghubungi rekannya.
Di Inggris masih pagi karena perbedaan waktu kedua Negara dan dia rasa mereka sudah berada di agensi.
Vivian meraih ponsel yang dia letakkan di sampingnya, setelah mendapatkannya dia segera menghubungi Charlie.
Tidak butuh lama Charlie sudah menjawab ponselnya karena Charlie sudah berada di kantor.
"Hallo?"
"Charlie, ini aku Angel."
"Angel? Apa kabarmu? Aku dengar kau ditugaskan ke Amerika?" tanya Charlie.
"Aku baik-baik saja Charlie, aku ditugaskan kemari untuk mengejar buronan yang hendak kita tangkap waktu itu."
"Wow, pasti menyenangkan!"
"Tidak ah, tidak menyenangkan," jawab Vivian sambil tertawa begitu juga dengan Charlie.
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan kabar Felicia? Apa kakinya baik-baik saja?" tanya Vivian.
"Felicia belum kembali bertugas karena kakinya belum sembuh, kau tahu bukan tulang kakinya retak akibat tertimpa puing bangunan jadi dia membutuhkan proses untuk menyembuhkan kakinya," jawab Charlie.
"Astaga, aku turut prihatin. Jika sudah kembali aku akan menjenguknya!"
"Dont worry Angel, dia baik-baik saja. Sebaiknya kau fokus dengan tugasmu di sana!"
"Pasti, maaf mengganggu waktumu Charlie."
"No problem but sory Angel, i have to go!"
"Thanks Charlie, thank you for your time!" ucap Vivian.
Setelah selesai berbicara dengan rekannya, Vivian duduk di atas ranjang. Dia jadi iba dengan Felicia, padalah dia sudah meminta kedua rekannya untuk lari waktu itu tapi sepertinya terlambat, dia harap kaki Felicia bisa cepat sembuh sehingga dia bisa kembali bertugas.
Vivian diam saja setelah berbicara dengan rekannya, sungguh dia tidak merasa mengantuk sama sekali.
Dari pada gelisah lebih baik dia keluar saja, menghabiskan sekaleng minuman dan menonton televisi mungkin akan membuat perasaannya lebih baik.
Itu bukan ide yang buruk jadi Vivian segera bangkit berdiri dan berjalan keluar. Di luar tampak sepi, mungkin Matthew sudah tidur tapi nyatanya tidak.
Matthew berada di dalam kamarnya dan mengalami keadaan yang sama seperti Vivian, dia merebahkan dirinya di atas ranjang dan memandangi langit-langit kamar.
Sungguh dia sangat penasaran dan ingin melihat seperti apa pria yang dicintai oleh Vivian. Apa pria itu lebih hebat darinya?
__ADS_1
Bukannya ingin sombong tapi dia benar-benar penasaran dengan rupa pria bodoh yang menyia-nyiakan cinta tulus Vivian. Jika saja pria itu adalah dia? Maka dia tidak akan pernah membuat Vivian menunggu dan menangis.
Dia pasti akan mendapatkan Vivian dan pada saat itu, dia akan memberikan seluruh cinta dan perhatiannya untuk Vivian tapi dia juga perlu waktu untuk mendapatkan gadis itu.
Matthew menghela nafasnya dan pada saat itu, terdengar suara orang berbicara di luar sana. Karena penasaran, Matthew segera keluar dan tersenyum saat melihat Vivian sedang membaringkan diri di atas sofa malas yang bisa dilipat menyerupai ranjang kecil dan yang ada di depan televisi sambil menonton sebuah acara.
Dia segera menghampiri Vivian dan duduk di sampingnya.
"Kenapa kau belum tidur babe?"
Vivian melihat Matthew sejenak dan setelah itu dia kembali menatap layar televisi.
"Tidak bisa tidur, kau sendiri?" tanyanya.
"Aku juga!" Jawab Matthew dan mereka diam saja untuk beberapa saat.
"Babe."
"Hm?"
"Apa kau sedang memikirkan pacarmu?"
Vivian menghembuskan nafasnya dan mengangguk.
"Boleh aku tidur di sampingmu babe?" tanya Matthew. Dia tidak mau ditendang lagi.
"Terserah tapi jangan menyentuhku!" jawab Vivian.
Matthew tersenyum dan mengambil sebuah bantal, tidak menyentuh Vivian tidak masalah yang penting dia bisa tidur di samping gadis itu.
"Aku hanya berpikir, mungkin aku harus melupakannya dan berhenti menunggunya tapi aku takut saat aku sudah memutuskan hal demikian, dia tiba-tiba kembali dan pada saat itu, apa yang harus aku lakukan?"
"Aku rasa pacarmu tidak akan kembali."
"Kenapa kau berkata demikian?" Vivian memiringkah tubuhnya dan menatap Matthew yang sedang melihatnya dengan senyum di wajahnya.
"Babe, aku laki-laki tentu aku tahu. Dia sudah meninggalkanmu begitu lama bukan? Kau harus tahu bukan kau saja wanita yang dia temui. Di luar sana banyak wanita cantik dan aku rasa dia sudah menemukan wanita lain dan melupakanmu!"
"Dia tidak seperti itu!" sangkal Vivian.
"So? Jika memang dia tidak seperti itu lalu kenapa dia tidak pernah mencarimu dan memberimu kabar?"
Vivian memutar tubuhnya kembali dan diam saja, mungkin apa yang dikatakan oleh Matthew sangat benar. Jangan-jangan Carlk tidak pernah mencarinya dan memberinya kabar karena dia sudah punya yang lain. Jika demikian buat apa lagi dia menunggu?
"Sebaiknya kau tidur babe dari pada memikirkan pacarmu yang tidak jelas itu dan membuatmu sakit."
"Aku tidak bisa tidur!"
"Bagaimana jika aku memberimu teka teki mengenai domba?" tanya Matthew.
"Ck, memangnya aku anak-anak!"
"Come on babe, aku rasa kau tidak akan bisa menjawabnya."
__ADS_1
"Ck, jangan meremehkan aku. Cepat katakan!"
"Oke dengarkan aku baik-baik! Di sebuah desa hidup sepasang suami istri yang memiliki tiga orang anak dan mereka memelihara dua puluh ekor domba. Suatu hari dua anak mereka pergi mengembalakan sepuluh domba mereka di padang dan tanpa sepengetahuan mereka, lima ekor domba mereka hilang karena dimakan oleh segerombolan serigala-serigala liar."
"Ck, jangan mendongeng!" sela Vivian.
"Aku belum selesai babe."
"Teruskan!" ucap Vivian seraya memutar bola matanya.
"Pertanyaan dari kisah di atas adalah, berapa ekor Serigala yang memakan lima ekor Domba itu?"
"Pertanyaan macam apa itu?" protes Vivian.
"Jawab saja babe."
"Lima," jawab Vivian.
"Salah!"
"Sepuluh?"
"No, pikirkan jawabannya baik-baik babe."
Vivian diam saja dan mulai berpikir untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh Matthew. Berapa Serigala yang memakan lima domba itu?
"Bagaimana babe, apa kau sudah tahu jawabannya?"
"Ck, aku mau tidur saja!" jawab Vivian.
"Akhirnya kau mengantuk juga bukan? Tapi jika kau mau tahu jawabannya maka aku akan mengatakannya padamu tapi sebagai imbalannya kau harus mencium pipiku!"
"Memang itu yang kau inginkan bukan?" Vivian melotot ke arah Matthew sedangkan Matthew terkekeh.
"Begini saja babe, aku akan menantangmu dan memberimu waktu setengah jam untuk memikirkan jawabannya baik-baik dan jika kau bisa menjawab maka kau boleh menendang kedua bokongku ini sampai kau puas tapi jika kau tidak bisa menjawab maka kedua pipimu itu menjadi milikku dan aku ingin tidur denganmu malam ini!"
"What?"
"Agen sepertimu pasti suka tantangan bukan dan pertanyaan yang aku berikan tidaklah sulit. Untuk agen sepertimu pasti bisa memecahkan teka teki yang aku berikan," ucap Matthew memancing.
"Aku tidak mau!" tolak Vivian.
"Sayang sekali ternyata agen sepertimu seorang pengecut!"
"Apa?" Vivian jadi tersinggung dengan ucapan Matthew.
"Aku tidak pengecut!"
"Jadi?" Matthew tersenyum dengan licik.
"Baiklah, aku pasti bisa menjawabnya jadi sebaiknya kau siapkan bokongmu!"
"Tentu, kedua bokong ini milikmu!" ucap Matthew sambil menepuk kedua bokongnya dan tersenyum dengan licik. Umpan yang dia lempar sudah ditangkap dengan baik dan sebentar lagi dia akan menikmati hasilnya karena dia yakin Vivian tidak akan bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya.
__ADS_1
Vivian benar-benar berpikir, berapa ekor serigala yang memakan lima domba itu?