Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Kelemahan terbesar Vivian


__ADS_3

Setelah makan, Vivian mulai membersihkan kamar bersama dengan Matthew. Di dalam kamar itu memang banyak barang dan dia yang menyimpannya di sana saat menempati rumah itu.


Barang-barang itu tidak dia gunakan dan lagi pula dia tidak suka rumah dengan banyak perabot apalagi ini hanya rumah dinas saja. Dia butuh ruangan luas untuk mempermudah geraknya dan sekarang, dia harus mengembalikan barang-barang itu ketempatnya semula.


Bersama dengan Matthew, Vivian mengangkat sebuah meja untuk dikembalikan ketempatnya semula.Tidak hanya itu, mereka juga mendorong sebuah sofa panjang yang bisa dilipat untuk bermalas-malasan saat menonton televisi dan mereka mengembalikan benda itu di depan televisi.


Setelah selesai dengan sofa, Vivian meminta Matthew memindahkan beberapa barang lainnya sedangkan dia membersihkan debu yang terdapat di dalam kamar menggunakan sebuah Vacum Cleaner.


Mesin mulai berbunyi dan Vivian mulai sibuk, dia harus membersihkan kamar itu secepatnya karena dia mau mempelajari denah Port Hueneme lebih lanjut. Dia harus teliti dan jangan sampai membuat kesalahan.


Matthew kembali ke kamar setelah menyimpan barang-barang yang tersisa, dia berdiri di depan pintu dan melihat Vivian yang sedang sibuk memasang sprei.


"Perlu aku bantu babe?" Matthew menghampiri Vivian, sedangkan Vivian turun dari aras ranjang karena dia sudah selesai.


"Tidak perlu, aku sudah selesai!" jawab Vivian sambil menyibakkan rambutnya yang panjang karena panas.


"Ck, sepertinya aku harus mandi lagi!" ucap Vivian seraya mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangannya.


"Mau aku temani babe?" tanya Matthew menggoda.


"What?" Vivian langsung menatapnya dengan tajam.


Matthew menghampiri Vivian dan meraih pinggangnya, dia memeluk Vivian dengan erat hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak.


Vivian kaget bukan kepalang dan wajahnya langsung pucat, apa yang mau dilakukan oleh pria ini?


"Le..lepaskan!" Vivian berusaha mendorong tubuh Matthew tapi Matthew semakin mendekapnya dengan erat.


Dia ingin tahu dan melihat reaksi Vivian karena dia penasaran dengan hal ini, sudah dua kali Vivian tampak tidak senang saat disentuh olehnya.


Tubuh Vivian mulai bergetar ketakutan dan Matthew dapat merasakannya, sungguh dia semakin penasaran, kenapa reaksi Vivian seperti itu?


"Fredd, lepaskan jika tidak aku akan membunuhmu!" ancamnya.


"Aku rasa kau tidak akan bisa!" jawab Matthew dan tangannya mulai merayap naik keatas untuk mengusap punggung Vivian.


Wajah Vivian semakin pucat dan rasanya darah berdesir di kepalanya saat merasakan sentuhan tangan Matthew.


Kenangan buruk yang dia alami langsung teringat dimana seorang laki-laki sedang meraba tubuhnya dan dia hanya bisa menangis menerima perlakuan seperti itu.

__ADS_1


"Jangan, jangan sentuh aku!" teriak Vivian dengan tubuh bergetar.


Matthew melepaskan pelukannya dan sangat kaget melihat wajah pucat Vivian dan gadis itu menangis sambil memohon.


"Jangan sentuh aku, jangan sentuh aku! kalian para ba*ingan, jangan sentuh aku!" pinta Vivian sambil berderai air mata.


"Babe, ada apa denganmu? Aku hanya memelukmu!" Matthew mulai panik dan tidak tahu harus melakukan apa.


Vivian terduduk di atas lantai dan menyembunyikan wajahnya dibalik kedua lengannya, dia menangis tersedu-sedu sedangkan Matthew tampak frustasi melihatnya. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Vivian sehingga dia begitu takut di sentuh oleh laki-laki?


"Babe?"


"Pergi!" teriak Vivian marah.


Inilah kelemahan terbesarnya dan dia tidak menyangka Freddy begitu berani memeluknya.


"Babe, aku minta maaf. Aku tidak tahu jika kau?"


"Keluar! Tinggalkan aku!" pinta Vivian.


"Sialan!" umpat Matthew kesal dan dia melangkah keluar.


Sekarang Freddy sudah mengetahui kelemahan terbesarnya, jangan sampai pria itu mengambil keuntungan dari hal ini dan sebaiknya dia mengusir Freddy pergi.


Di luar, Matthew berjalan mondar mandir dan tampak gelisah. Sungguh dia sangat ingin melihat keadaan Vivian tapi jika dia masuk kedalam kamar, bisa-bisa Vivian semakin ketakutan. Sepertinya dia juga harus mencari tahu kenapa Vivian bisa seperti itu.


Setengah jam kemudian, Vivian keluar dari kamar dan berjalan kearah dapur tanpa mau melihat Matthew yang berdiri disamping pintu kamar.


"Babe," Matthew memanggilnya dan mengikuti langkahnya.


Vivian mengambil segelas air dan meneguknya dengan cepat, sedangkan Matthew berdiri tidak jauh darinya.


"Fredd, aku rasa aku tidak bisa memberimu tumpangan!" ucapnya dengan dingin.


"Apa? Kenapa?" Matthew benar-benar tidak terima.


"Pergilah, aku tidak bisa membantumu!"


"Tidak!" Matthew berjalan mendekatinya, sedangkan Vivian melangkah mundur.

__ADS_1


"Ma..mau apa kau?" Vivian benar-benar gugup dan takut Matthew memeluknya lagi.


"Aku tidak tahu kenapa kau begitu takut padaku, aku juga tidak tahu apa reaksimu ini akan kau tunjukkan pada semua laki-laki atau padaku saja tapi mau sampai kapan kau seperti ini?"


"Apa maksudmu?"


"Angel, apa kau pernah mengalami kenangan buruk sehingga kau takut disentuh oleh laki-laki?"


Vivian membuang wajahnya kesamping dan memeluk lengannya, pada saat melihat reaksi Vivian, Matthew semakin yakin jika Vivian memang pernah mengalami hal buruk sebelumnya.


"Angel, kau tidak perlu khawatir, aku bukan ba*ingan yang akan memanfaatkan situasi. Aku akan jaga jarak denganmu dan aku juga akan membantumu menyembuhkan traumamu."


"Apa? Aku tidak butuh!" tolak Vivian.


"Percayalah babe, kau membutuhkannya. Kau seorang agen dan pada saat musuh tahu kelemahan terbesarmu, kira-kira apa yang akan dilakukan olehnya? Aku rasa kau bisa menebaknya."


Vivian diam saja sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajah Matthew. Dia pasti akan membantu gadis itu menyembuhkan traumanya, jika tidak bagaimana dia bisa meremas bokong seksinya?


"Ba..bagaimana caranya?" Vivian memandangi Matthew dengan serius.


"Tentu saja untuk melawan ketakutanmu kau harus sering kontak fisik dengan laki-laki dan aku akan membantumu," jawab Matthew dengan senyum di wajahnya.


"What? Aku tidak mau!" tolak Vivian.


"Jangan takut babe, aku tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bukankah kau harus melawan ketakutanmu dan menyembuhkannya? Tidak mungkin selamanya kau akan seperti ini bukan? Aku akan membantumu menyembuhkan ketakutanmu dan anggap saja aku membantumu sebagai balas budi karena kau sudah menampungku."


Vivian menghela nafasnya, mungkin yang dikatakan oleh pria itu benar. Dia memang harus segera menyembuhkan traumannya.


"Baiklah, akan aku pikirkan," ucapnya seraya berjalan pergi.


Matthew melihat kepergian Vivian dengan senyum di wajahnya, dia mulai menekuk-nekuk jarinya seperti hendak meremas sesuatu sambil bergumam," Aku sudah tidak sabar meremas bokong dan mencicipi bibir seksimu babe."


Di dalam kamar, Vivian duduk disisi ranjang dan melihat peraturan yang harus Matthew patuhi selama tinggal di rumahnya.


Sungguh dia benci dengan reaksi tubuhnya dan sepertinya apa yang dikatakan oleh Freddy ada benarnya, dia tidak boleh membiarkan hal ini berlarut-larut dan harus melawannya.


Padahal dia tidak mau ada yang tahu kelemahan terbesarnya tapi dalam waktu yang singkat, Freddy sudah mengetahuinya dan dia rasa peraturan yang dia buat tidak ada gunanya lagi.


Vivian menghela nafasnya dan merobek peraturan yang dia buat, dia harap pria itu bisa dipercaya jika tidak dia akan meracuninya sampai mati.

__ADS_1


__ADS_2