
Sebuah ciuman mendarat di perut Vivian dan usapan-usapan lembut selalu dia dapatkan. Semenjak Vivian hamil, Matthew enggan berjauhan dari istrinya bahkan dia terlihat betah memeluk Vivian dan mengusap perutnya sepanjang hari.
Vivian hanya menggeleng, siapa sangka Matthew akan begitu senang sampai tidak mau lepas dan berjauhan darinya?
Saat itu mereka berbaring di Bungalow yang sudah dibuat oleh Matthew sesuai permintaan istrinya. Angin pantai yang terasa sejuk membuat Vivian jadi mengantuk apalagi usapan lembut yang Matthew berikan di perutnya membuat matanya semakin berat.
"Matth, apa kau tidak bosan mengelus perutku sepanjang hari?" tanya Vivian.
"Tentu tidak, Babe. Aku senang melakukannya apalagi ini untuk anak kita, tentu aku tidak akan bosan."
"Baiklah, aku mau tidur. Temani aku," pinta Vivian dengan manja.
"Tentu saja, Babe. Tidurlah," Matthew memeluk Vivian dan mencium pipinya.
Vivian tersenyum dan memejamkan matanya. Dia senang Matthew selalu menemaninya dan rasanya sudah tidak sabar menanti buah hati mereka.
Tangan Matthew masih mengusap perut Vivian dan ciuman kembali dia berikan. Dia tidak akan pernah bosan melakukan hal itu apalagi bersama dengan orang yang dia cintai.
Mereka sudah mau tertidur tapi saat itu seseorang mengirim sebuah pesan ke ponsel Vivian. Dengan perlahan, Vivian mengambil ponselnya dan membaca pesan yang dikirimkan untuknya.
"Angel, bagaimana kabarmu dan Maria?" itu pesan dari Patrik.
"Kami baik, bahkan saat ini kami berada di sisi pantai. Apa kau merindukan Maria, Patrik?" goda Vivian.
"Kalian berdua? Lalu di mana suamimu?" tanya Patrik lagi.
"Sedang bekerja."
"Ck, kau benar-benar!"
"Kenapa? Jika kau rindu dengan Maria katakan padaku, aku akan mengajaknya untuk bertemu denganmu," Vivian masih menggoda Patrik.
"Boleh juga sih, bagaimana jika kita bertemu nanti malam? Aku rindu dengan kalian dan aku akan mengajak Ana," jawab patrik.
Vivian tersenyum bahkan ingin tertawa, sepertinya Patrik begitu penasaran dengan sosok Maria.
"Baiklah, aku akan mengajaknya nanti malam. Jadi berikan aku alamatnya."
Vivian masih tersenyum dan membaca pesan terakhir dari Patrik. Vivian menyimpan ponselnya kembali dan mengusap kepala Matthew sambil berpikir.
Apakah Matthew mau berpenampilan wanita satu kali lagi untuknya? Sebaiknya dia membujuk Matthew agar dia mau.
"Matth."
"Hm?"
"Aku jadi rindu dengan mantan rekanku."
"So?"
"Aku ... juga rindu dengan Maria."
Matthew langsung membuka mata, maksudnya?
"Apa maksudmu, Babe?"
"Aku ingin melihatmu menjadi Maria," jawab Vivian sambil tersenyum.
"Ck, tidak mau!" tolak Matthew.
"Ayolah, satu kali ini saja," pinta Vivian memohon.
"Tidak! Jangan mengada-ada! Sebaiknya minta yang lain," tolak Matthew.
"Ayolah, ini permintaan si junior."
__ADS_1
"Jangan bawa-bawa si junior. Dia tidak pernah melihat penampilanku yang memalukan itu jadi dia tidak tahu apa-apa. Benarkan Baby?" tanya Matthew sambil mengusap perut istrinya.
"Ya sudah, aku mau cari Michael saja!" Vivian bangun dari tidurnya dan pura-pura marah.
"Mau ngapain?" Matthew juga bangun dari tidurnya.
"Minta Michael jadi Maria dan jika dia tidak mau maka aku akan mengadukan hal ini pada Mommy."
"Wow ... wow ... jangan coba-coba mengadu pada Mommy."
"Kalau begitu, kau mau bukan jadi Maria untukku?" tanya Vivian sambil tersenyum manis.
"No," tolak Matthew.
"Please," Vivian mulai memohon.
"No ... no ... and no!" Matthew masih menolak.
"Oh come on, sekali saja. Aku ingin kau menjadi Maria dan Michael menjadi dirimu."
"Hey, kenapa jadi berubah?"
"Aku baru dapat ide bagus Matth. Aku ingin lihat reaksi Patrik."
"Dasar! Bilang saja kau ingin mengerjainya!"
"Aku penasaran," jawab Vivian sambil terkekeh.
"Tapi ini memalukan, Babe."
"Tidak ada yang mengenalimu. Please, mau ya?" Apapun yang terjadi dia sangat ingin melihat Matthew menjadi Maria dan sekarang keinginannya semakin besar.
"Please," Vivian kembali memohon tapi Matthew menggeleng. Sampai kapanpun dia tidak mau berpenampilan sebagai wanita lagi tapi sayagnya, dia tidak bisa menolak karena seorang perias profesional sedang mendandani wajahnya saat itu.
Janggut di wajahnya sudah bersih dan lipstik sedang dioleskan ke bibirnya. Vivian tampak begitu bersemangat dan dia sedang memilih baju untuk Matthew kenakan.
Dandanan sudah selesai, rambut palsu sudah dipakai begitu juga dengan baju yang dipilih oleh Vivian. Sebuah kacamata berwarna pink dipakai oleh Matthew dan dia sudah seperti seorang model.
Matthew tampak frustasi melihat panampilannya di cermin, sedangkan Vivian tampak puas.
"Oh Maria, you look so beautyful," puji Vivian.
"Tidak perlu memuji!" ucap Matthew kesal.
"Ayolah, kau terlihat cantik dan kau sudah seperti model," puji Vivian lagi.
"Ck, awas kau nanti malam, Babe!" Matthew meraih pinggang Vivian dan melu*mat bibirnya sampai membuat Vivian kesulitan bernafas.
"Matth! Lipstikmu berantakan!"
"Ck, kau benar-benar!" Matthew semakin gemas, awas saja nanti malam.
Vivian tertawa melihat liipstik Matthew dan segera memperbaikinya. Pada saat itu Michael sudah datang. Dia tampak senang karena dia bisa melihat penampilan kakaknya lagi. hal itu tidak boleh dilewatkan bukan?
Ketika melihat penampilan kakaknya, Michael tertawa terbahak-bahak, sedangkan Matthew menggerutu. Semoga adiknya juga mengalami hal demikian saat sudah menikah nanti.
Sesuai dengan permintaan Vivian, Michael berpura-pura menjadi kakaknya dan tentu itu hal mudah baginya karena wajah mereka sama.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Patrik dan Ana sudah menunggu mereka di sebuah cafe. Dia penasaran, sangat penasaran.
Vivian dan Matthew sudah tiba. Supaya akting itu tampak nyata, Michael berada di tengah-tengah dan memeluk pinggang Vivian dan juga kakaknya.
Michael tampak senang begitu juga dengan Vivian tapi tidak dengan Matthew, wajahnya tampak kusut sedari tadi.
"Matth, jangan lupa tersenyum," ucap Vivian saat melihat wajah suaminya yang kusut.
__ADS_1
"Ayolah, Kak. Sudah sejauh ini, kita buat mereka semakin salah paham," ucap Michael.
"Ck, menyebalkan!" gerutu Matthew.
Ketika melihat mereka, Patrik dan Ana bangkit berdiri dan tercengang. Wow, baru kali ini mereka melihat ketiga pasangan aneh itu bertiga dan mereka terlihat begitu akur.
"Ck, aku benar-benar penasaran! Bagaimana mereka bertiga saat melakukan hal itu!" ucap patrik.
"Stts! Patrik!" protes Ana.
"Memangnya kau tidak penasaran? Mereka bertiga tergolong orang yang tidak normal!"
"Kau benar, aku juga penasaran," ucap Ana.
"Patrik, Ana," Vivian memanggil ketika melihat mereka.
"Akhirnya pasangan legendaris datang," ucap Patrik mencibir.
Vivian terkekeh dan segera bergabung dengan mereka, mereka segera duduk bersama tapi wajah Matthew masih tampak kusut dan ketika melihat itu, Patrik mendekati Matthew dan duduk di sisinya.
"Hy, masih ingat denganku?" tanya Patrik sedangkan Matthew mengangguk.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau dipaksa oleh kedua pasangan aneh itu?" tanya Patrik tapi Matthew diam saja.
"Aku mengerti perasaanmu, kau pasti merasa dipermainkan oleh mereka bukan? Mereka memang keterlaluan dan aku bisa paham kenapa kau tidak hadir ketika di acara pernikahan."
"Pffftt!" Matthew menutup mulutnya dan menahan tawanya. Sial! Kenapa sahabat istrinya begitu bodoh?
"Tidak perlu takut, ada aku," Patrik melihat ke arah Vivian, sedangkan Vivian tersenyum.
"Jika dia berani menyakiti perasaanmu maka cari aku," ucap patrik.
"Patrik, benar tebakanku. Kau suka dengan Maria bukan?" tanya Vivian.
"Tidak, aku hanya iba dengannya karena kalian menindasnya!" jawab Patrik.
"Ha ... ha ... ha ... ha ...!" tawa Vivian dan Michael pecah, sedangkan Matthew menahan tawanya dengan susah payah.
Sekarang dia paham kenapa istrinya selalu ingin membuat Patrik salah paham karena ini menyenangkan.
"Kau lihat, mereka menertawakanmu dengan kejam. Dasar tidak berperasaan!" gerutu Patrik.
Tawa Vivian dan Michael semakin pecah begitu juga Ana, dia juga tidak tahan untuk menertawakan Patrik.
Matthew bangkit berdiri karena dia sudah tidak tahan lagi, dia butuh tempat untuk tertawa. Matthew pergi begitu saja tapi Patrik menyalahartikan hal itu.
"Kalian lihat, dia marah!" Patrik juga bangkit berdiri.
"Kejar dia, Patrik," ucap Vivian.
"Dasar kau kejam!" ucap Patrik dan dia segera pergi.
"Ha ... ha ... ha ... ha!" Vivian kembali tertawa.
Patrik mencari Maria tapi sayangnya dia tidak menemukannya dan dia kembali dengan ekspresi kecewa.
"Dia pergi, dasar kalian jahat," ucapnya.
"Sudahlah, nanti dia akan kembali lagi," ucap Vivian sambil tersenyum.
"Aku benar-benar tidak mengerti!" Patrik menggeleng. Padahal Vivian begitu tega, tapi kenapa Maria masih mau bersama dengannya?
Vivian tersenyum dan menahan tawanya, Patrik benar-benar polos tapi siapa yang akan curiga apalagi ada Michael yang berpura-pura menjadi Matthew di sana.
Saat itu, Matthew berada di mobil untuk mengganti bajunya dan melepaskan semua riasannya. Sudah cukup aktingnya dan dia melakukan hal itu untuk istrinya. Setelah bubar, Michael dan Vivian kembali. Mereka tahu Matthew menunggu di mobil karena Matthew sudah mengabari mereka.
__ADS_1
Begitu Vivian dan Michael masuk ke dalam mobil, tawa mereka bertiga langsung pecah.