
Beberapa waktu lalu sebelum Vivian mengirimkan pesan kepada Ainlsey dan meminta bantuannya. Ainsley sedang duduk di meja makan sambil menikmati semangkuk sereal yang dibuatkan oleh ibunya.
Dia tampak santai karena hari ini dia tidak berencana pergi ke manapun. Ainsley pikir mungkin hari ini dia akan menghabiskan waktu di atas tempat tidur dan tidur sampai puas.
Saat sereal terakhir masuk ke dalam mulutnya, Ainsley hendak beranjak tapi pada saat itu, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Ainsley menghentikan niatnya dan mengambil ponselnya. Dia pikir sahabat baiknya yang mengirimkan pesan tapi ternyata dia salah karena pesan itu dari Vivian.
Ini pertama kalinya Vivian mengirimkan pesan untuknya jadi Ainsley tampak penasaran karena ingin tahu apa yang kakak iparnya inginkan.
Sambil membuka pesan dari Vivian, Ainsley meneguk segelas air putih tapi matanya fokus pada layar ponsel.
"Ainsley, aku ingin kau membantuku merubah penampilan kakakmu menjadi seperti seorang wanita karir yang angun."
"Brush!" air yang ada di dalam mulut Ainsley menyembur keluar saat membaca pesan dari Vivian dan tidak lama kemudian, gelak tawanya terdengar sampai membuat ibu dan neneknya heran.
"Apa kau serius kakak ipar?" tanya Ainsley memastikan.
"Tentu saja aku serius. Aku sangat membutuhkannya untuk membantuku menangkap si penghianat dan aku ingin dia berperan dengan baik nanti. Jadi aku sangat membutuhkan bantuanmu tapi jika dia tidak mau, maukah kau yang menggantikannya dan membantuku?"
"Baiklah, tapi kenapa harus jadi wanita?" tanya Ainsley.
"Ini untuk mengecoh musuhku Ainsley jadi aku ingin kakakmu menyamar menjadi seorang wanita."
"Oke kakak ipar, aku akan membantumu karena aku juga sedang tidak ada kerjaan dan aku ingin mengerjai kakak," jawab Ainsley setuju.
Pada saat itu, Kate dan Alice masuk ke dalam karena mereka mendengar tawa Ainsley. Mereka menghampiri Ainsley yang tampak cekikikan di meja makan sambil melihat layar ponselnya.
"Ainsley ada apa?" tanya ibunya.
"Mom, kakak ipar meminta bantuanku," jawabnya.
"Oh ya? Meminta bantuan apa?" tanya ibunya lagi.
"Kakak ipar memintaku untuk merubah penampilan kakak menjadi wanita karir yang anggun."
Kate dan Alice saling pandang dan mereka diam saja membayangkan penampilan Matthew tapi tidak lama kemudian, tawa mereka pecah.
"Kate aku sangat ingin melihatnya," ucap Alice.
"Aku juga mom, aku sangat ingin melihat penampilannya nanti," jawab Kate.
"Jika begitu ayo nek, mom, kita pergi untuk mempersiapkan semuanya dan mencari seorang ahli untuk mengajari kakak," ucap Ainsley seraya bangkit berdiri.
"Ayo," ajak Kate dan Alice dengan penuh semangat.
Mereka bertiga pergi menuju pusat perbelanjaan untuk membeli baju, high heel yang pas di kaki Matthew dan tentunya seorang ahli yang akan mengajari Matthew nanti.
Sementara itu tanpa tahu jika dia akan mengalami hal menyebalkan dan memalukan, Matthew berada di kantor.
Dia sedang melihat rekaman yang di ambil oleh adiknya saat Vivian sedang dikejar oleh seorang pria. Bukan pria itu yang jadi pusat perhatian mereka berdua tapi wanita yang tiba-tiba muncul dan yang dimasukkan ke dalam tong sampah oleh Vivian menjadi pusat perhatian mereka.
Mereka sangat mengenal wanita itu karena mereka sering bertemu dengan Ella. Bahkan Matthew masih ingat saat terakhir kali dia bertemu dengan Ella dan yang jadi pertanyaannya, kenapa Ella bisa ada di sana dan pura-pura hendak diperkosa sewaktu Vivian mengejar pria yang mengikutinya? Apa ada maksud lain atau ini hanya kebetulan saja?!
"Bagaimana menurutmu kak?" tanya Michael.
"Entahlah, aku tidak yakin jika semua itu hanya kebetulan dan aku tidak percaya jika Ella hendak diperkosa oleh dua puluh orang itu!"
__ADS_1
"Jadi menurut kakak dia bekerja untuk seseorang?"
"Aku rasa begitu Mich, Ella hanya ja*ang yang rela melakukan apapun demi tujuannya dan aku rasa ada seseorang yang memintanya melakukan hal seperti itu."
"Tapi kenapa dia harus pura-pura menjebak kakak ipar?"
Matthew tampak berpikir, Vivian dan Ella pasti tidak saling mengenal dan dilihat kejadian yang dialami oleh Vivian sepertinya memang bukan kebetulan belaka. Saat Vivian hendak menangkap pria yang dia kerja, Ella muncul tiba-tiba bahkan Ella tampak menghalangi Vivian saat gadis itu hendak menembak buruannya.
"Kita akan mencari tahu, James!" Matthew berteriak memanggil asistennya.
James segera masuk ke dalam ruangan saat mendengar namanya di panggil, "Yes master."
"Pergi utus seseorang untuk mengikuti Ella secara diam-diam dan ingat jangan sampai ketahuan!" perintahnya.
"Baik master," jawab James dan dia segera pergi.
Matthew dan Michael masih membahas masalah itu dengan serius tapi pada saat itu ponsel Matthew berbunyi.
Matthew segera menjawabnya karena itu dari ibunya, "Ada apa mom?"
"Ajak adikmu pulang sekarang sayang," pinta ibunya.
"Oke," tanpa merasa curiga sedikitpun, Matthew mengajak adiknya pulang karena dia pikir, ibunya telah menyiapkan makan siang dan mengajak mereka untuk makan bersama.
Matthew dan Michael segera masuk ke dalam rumah saat mereka sudah tiba tapi perhatian mereka berdua tertuju pada seorang pria yang bertingkah seperti seorang wanita bahkan saat melihatnya, pria itu menggigit bibirnya.
"Kak Matth, kemari," panggil Ainsley.
"Ada apa?" Matthew berjalan menghampiri adiknya tapi matanya tidak lepas dari pria yang tampak menjijikkan Karena tingkahnya.
"Ya, memangnya dia minta kau melakukan apa?" tanya Matthew penasaran.
"Kakak ipar bilang kak Matth harus menyamar menjadi seorang wanita karir yang anggun untuk mengelabui musuhnya."
"What the hell?!" umpat Matthew tapi Michael tertawa.
"Tidak percaya tanyakan saja pada kakak ipar."
"Ck, gadis ini! Awas dia!" Matthew menggeram marah. Pantas saja perasaanya sudah tidak enak saat Vivian meminta bantuannya. Jangan-jangan Vivian sengaja karena dia ingin balas dendam.
Matthew mengambil ponselnya untuk menghubungi Vivian dan tidak butuh waktu lama, Vivian sudah menjawab panggilannya.
"Ada apa Matth?"
"Jangan pura-pura tidak tahu! Kenapa kau memintaku menjadi wanita, hah?"
"Oh, aku ingin menunjukkan pada mereka jika selama ini yang membantuku hanya seorang wanita jadi aku ingin kau menjadi seorang wanita."
"Babe, kau sudah gila ya?!" Matthew memijit pelipisnya frustasi.
"Kau mau membantuku tidak? Jika tidak juga tidak apa-apa, aku akan meminta Ainsley melakukannya."
"Bukan begitu babe, oh astaga! Kenapa aku harus menjadi wanita? Bukankah aku bisa tetap menyamar menjadi pria lain?"
"Matth, aku sudah mengatakan pada mereka jika yang membantuku adalah seorang wanita dan aku sudah setuju mempertemukan kau dengan para rekanku. Ini kesempatan yang bagus dan aku harap, tidak saja menangkap si penghianat tapi aku harap dengan cara ini orang yang menyuap si penghianat juga menampakkan diri sehingga aku juga bisa menangkapnya."
"Tapi kenapa harus jadi wanita sayang?"
__ADS_1
"Jika mereka melihat yang membantuku hanya seorang wanita mereka pasti berpikir bahwa kau hanya wanita biasa dan lemah sehingga mereka meremehkanmu. Ini hanya untuk mengecoh mereka saja Matth tapi jika kau tidak mau maka aku tidak mau pulang ke rumahmu lagi!"
"Kau mengancamku sekarang?" tanya Matthew tidak senang.
"Tidak sayang," jawab Vivian.
"Cih, panggilan sayangmu terdengar palsu!"
"Jadi?" tanya Vivian sambil terkekeh.
"Ck, kau menyebalkan!" Matthew mematikan ponselnya dan mengusap wajahnya frustasi.
Apa yang dikatakan oleh Vivian memang ada benarnya dan rencananya juga bagus untuk mengecoh musuh, tapi?
Matthew menghembuskan nafasnya dengan berat, dia bisa menolak tapi dia sudah berjanji pada Vivian jika dia akan membantunya dan dia bukan orang yang ingkar janji. Dia juga tidak mau melibatkan adiknya ke dalam bahaya.
Dia segera kembali menghampiri keluarganya yang sudah menunggu dan pada saat itu, stylist pria yang dipilih oleh Ainsley untuk mempermak kakaknya bangkit berdiri dan menghampiri Matthew.
"Jadi ini yang harus aku permak?" tanya pria itu.
"Yes," jawab Ainsley.
Pria itu memutari Matthew dan melihatnya dengan teliti, "Kaki yang panjang, otot yang bagus," ucapnya seraya mengigit bibir.
Matthew berdecak kesal dan rasanya ingin dia pukul tapi dia berusaha menahan diri.
"Ini hal mudah, cuma perlu buang bulu di wajah dan semuanya sempurna!"
"Hei, apa maksudnya?"
"Kak Matth, kau harus berperan menjadi seorang wanita jadi tidak mungkin bukan seorang wanita ada kumisnya?" Jawab Ainsley.
"Astaga, gadis itu pasti mempermainkan aku!" ucap Matthew kesal.
"Ayo Mr Smith, kita mulai berlatih berjalan bak seorang model dan ini mudah!" ucap pria itu sambil memperagakan jalan seperti seorang model.
Matthew merinding saat melihatnya, apa dia juga harus berjalan seperti itu?
"Mudah bukan Mr Smith, cukup goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri dan jangan lupa tangan kanan letakkan di pinggang dan kanan kiri membawa tas, seperti ini!" ucap pria itu sambil memperagakannya.
"Sialan! Aku masih normal!" Matthew benar-benar frsutasi.
"Ayo kak semangat," ucap Ainsley dan Michael secara bersama-sama.
"Putra mommy pasti bisa!" ucap Kate pula.
Matthew benar-benar kesal, setelah ini dia akan menghukum Vivian. Dengan terpaksa wajahnya mulai didandani tapi hari ini untuk percobaan saja bahkan Kate membantu putranya memakai baju yang sudah mereka siapkan.
Gelak tawa terdengar saat Matthew sudah didandani dan pada saat itu, Jacob dan Albert kembali. Mereka sangat heran karena terdengar begitu ramai tapi pada saat melihat penampilan Matthew Mereka tertawa terbahak-bahak.
Matthew benar-benar kesal apalagi dia harus memakai high heel super tinggi dan mencoba berjalan menggunakan benda itu. Jangan-jangan inilah kutukan yang dimaksud oleh kakeknya.
Gelak tawa semakin terdengar saat Matthew terjatuh karena high heelnya. Rasanya dia ingin menenggelamkan diri ke dalam laut dalam saat ini juga.
#Masih ganteng kok Matth tanpa brewok 😂#
__ADS_1