
Setelah mengatakan di mana Bom yang disimpan oleh Carlk berada kepada Patrik, Vivian langsung berlari menerobos kerumunan orang-orang, sedangkan Patrik dan beberapa polisi langsung menuju lokasi bom berada.
Carlk menengok ke belakang dan mendapati Vivian mengejarnya, dia mengumpat kesal dan terus berlari.
Padahal dia hanya ingin melihat Vivian saja tapi rencananya gagal, sungguh dia ingin tahu siapa yang dihubungi oleh Vivian. Apakah ada orang yang membantu Vivian?
Sepertinya memang ada seseorang yang membantunya jika tidak bagaimana mungkin Vivian bisa mengetahui keberadaannya dan siapapun orang yang membantu Vivian tidak akan dia biarkan.
Carlk berlari menyebrangi jalanan yang padat sampai membuat beberapa mobil berhenti bahkan ada mobil yang menabrak mobil lainnya.
Para pengendara mulai marah tapi dia tidak perduli bahkan, dia juga menjatuhkan tong sampah agar Vivian mendapat kendala saat mengejarnya.
Tidak saja itu yang dilakukan oleh Carlk, beberapa pejalan kaki bahkan orang tua tak luput dari tubrukannya. Apapun harus dia lakukan agar Vivian tidak mengetahui siapa dirinya tapi jika dia terdesak, dia akan mengeluarkan senjata terakhir dan Vivian tidak mungkin mengejarnya lagi.
Vivian mengumpat kesal sambil melompati tong sampah yang dijatuhkan oleh Carlk. Dia terus berlari dan Carlk kembali masuk ke dalam gang-gang yang terdapat disetiap bangunan yang dia lalui.
Dari layar komputer, Michael meretas setiap cctv yang ada di jalananan. Dia melakukan hal itu atas permintaan kakaknya. Matthew ingin melihat keadaan Vivian, jangan sampai terjadi sesuatu dengan Vivian saat mengejar pria misterius itu.
Jika dia pergi ketempat Vivian dan membantunya maka akan menghabiskan waktu, dia hanya bisa melihat Vivian dari layar komputer adiknya dan berharap gadis itu baik-baik saja.
Ketika Carlk berlari masuk ke dalam sebuah gang sempit, dia langsung menghentikan langkahnya karena sebuah jalan buntu yang dia dapat di mana sebuah tembok yang lumayan tinggi menghalangi jalan.
Carlk mengumpat kesal dan hendak memutar langkahnya tapi sayang, Vivian sudah berdiri di ujung gang sambil menodongkan sebuah pistol ke arahnya.
"Berhenti kau!" pinta Vivian sambil mengatur nafasnya yang memburu.
Carlk mengangkat tangannya dan tersenyum, jika Vivian tahu siapa dirinya, apakah Vivian akan menembaknya?
Tapi ini belum waktunya dan dia tidak akan membiarkan Vivian tahu identitasnya dengan mudah karena tujuan terbesarnya belum tercapai yaitu mengadu domba mereka.
Vivian berjalan mendekati Carlk dan entah kenapa jantungnya berdegup dengan cepat.
"Tunjukkan wajahmu!" pinta Vivian.
"Kenapa kau mengejarku nona?" tanya Carlk sambil mengubah sedikit suaranya.
"Lalu kanapa kau lari?" tanya Vivian.
"Aku hanya lari, apa aku salah?!" Carlk memasukkan tangan ke dalam saku jaketnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
__ADS_1
"Angkat tanganmu!" teriak Vivian dan Carlk kembali mengangkat tangannya ke atas sambil tersenyum.
"Apa salahku?" tanya Carlk pura-pura.
"Aku mencurigaimu sebagai tersangka yang baru saja melakukan pembunuhan! Jadi ikut denganku untuk menjalani pemeriksaan!" Vivian masih menodongkan pistolnya.
"Hahahahaha!" Carlk tertawa terbahak-bahak.
Ingin menangkapnya? Tidak semudah itu dan sepertinya Vivian lupa dengan hal yang penting.
Vivian diam saja dan sunguh, suara Carlk saat tertawa tidak asing baginya. Sepertinya dia pernah mendengar suara ini tapi di mana?
"Percayalah nona, kau tidak bisa menangkapku karena?" Carlk memperlihatkan pemicu bom yang ada ditangannya pada Vivian.
"Oh my God, damn!" umpat Vivian.
Carlk tersenyum dan menekan tombol pemicu itu, "Kau punya pekerjaan lain nona dan sampai jumpa lain waktu!" ucap Carlk dan dia segera berlari.
"Jangan lari kau!" teriak Vivian sambil menembakkan senjata apinya ke arah Carlk yang berlari dan untuk menghindari tembakan Vivian, Carlk berlari ke atas tembok dan melompati dinding yang menjadi penghalang jalan.
Vivian mengumpat kesal Karena targetnya hilang, seharusnya dia tembak saja pria itu tapi dia tidak boleh sembarangan menembak apalagi pria itu belum terbukti bersalah. Jika dia sembarangan menembak orang maka akibatnya akan vatal.
"Angel, kami butuh kau di sini. Bomnya akan meledak dalam waktu kurang lebih dua puluh menit lagi!" ucap Patrik.
"Oh God, aku akan segera ke sana!" Vivian menyimpan pistol juga ponselnya dan segera berlari untuk menuju lokasi di mana Patrik berada.
Setelah melompati tembok, Carlk berjalan dengan santai menuju suatu tempat sambil berkata, "Sekarang bukan saatnya kita bertemu Vivi karena permainan yang menarik belum dimulai, tapi percayalah lain kali kita akan bertemu lagi!"
Carlk berjalan pergi dan mengambil ponselnya karena dia ingin menghubungi seseorang.
"Kirimkan seorang mata-mata untuk mencari tahu siapa yang dihubungi dan membantu Angel hari ini, aku ingin kau memberikan informasinya padaku dalam waktu dekat!" perintahnya.
"Baik tuan," jawab orang itu.
Carlk segera pergi tanpa tahu, jika Matthew telah memerintahkan adiknya untuk mengambil beberapa lembar fotonya dari cctv jalan yang dia retas.
"Apa yang ingin kakak lakukan?" tanya Michael seraya memberikan foto Carlk yang telah dia print.
"Tentu untuk mencari tahu siapa orang ini. Karena dia musuh Angel jadi sekarang dia jadi musuhku juga!"
__ADS_1
"Aku tahu kakak sangat menyukainya tapi dia masih mencurigaimu kak, apa kakak tidak khawatir dia akan langsung menembak kakak saat dia tahu identitas kakak yang sebenarnya?"
"Jangan khawatir Mich, aku akan selalu membantunya dan aku juga ingin membersihkan namaku dari tuduhannya. Saat dia tahu siapa aku sebenarnya, maka dia bisa menilai sendiri apa yang aku lakukan untuknya selama aku membohonginya."
"Tapi kau tetap harus mewaspadainya kak."
"Aku tahu, kau tidak perlu khawatir. Aku tahu dia bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu. Jika dia orang yang gegabah, bisa saja dia menembak pria itu tadi tanpa perlu pikir panjang tapi dia pasti memikirkan resikonya jika dia salah menembak orang yang tidak bersalah!"
"Sepertinya kakak sangat mengerti dirinya."
"Setiap hari aku bersama dengannya Mich, tentu saja aku tahu."
Michael hanya tersenyum sedangkan Matthew menghubungi James karena dia akan memerintahkan James untuk mencari tahu siapa pria yang dikejar oleh Vivian.
Sementara itu, Vivian sudah tiba di tempat Patrik dan mereka mulai menjinakkan bom yang ditemukan. Beruntungnya bom yang diletakkan oleh pria tadi bisa dia tangani.
Setelah menjinakkan bom, Vivian memandangi matahari yang bersinar dengan terik di atas sana, sedangkan Patrik mendekatinya dan berdiri di sisinya.
"Angel."
"Ya?"
"Boleh aku tahu sesuatu?" tanya Patrik.
"Apa yang ingin kau tahu Patrik?"
"Siapa yang kau hubungi tadi dan siapa yang membantumu?" Patrik tampak penasaran.
Vivian tersenyum dan memandangi Patrik, "Kenapa kau terlihat ingin tahu Patrik?" tanyanya.
"Aku penasaran!"
"Jangan terlalu penasaran, nanti bisa memperpendek umurmu!" jawab Vivian sambil melangkah pergi.
"Hei, aku serius," Patrik mengikutinya dari belakang.
"Aku juga serius," jawab Vivian. Jangan sampai ada yang tahu bahwa dia dibantu oleh seorang supir.
Vivian menghampiri polisi yang sedang mengamankan bom yang telah dinonaktifkan dan merasa sedikit menyesal, jika dia tahu pria yang dia kejar adalah musuh yang selalu menantangnya maka sudah dia tembak pria itu tanpa ragu.
__ADS_1
Mungkin ini belum saatnya tapi lain kali jika mereka bertemu lagi maka dia tidak akan mensia-siakan kesempatan itu. Tapi apakah demikian? Apakah Vivian sanggup membunuh Carlk saat dia tahu jika kekasih masa lalunya adalah buronan yang dia cari selama ini?