
Bandara Heathrow London, Inggris.
Pasawat pribadi Matthew mendarat di landasan pacu bandara Heathrow. Hari ini mereka kembali ke Inggris karena Vivian ingin pulang ke rumahnya dan menjenguk keadaan keluarganya.
Sudah beberapa bulan tidak pulang dan dia sudah sangat merindukan tempat itu. Dia juga merindukan rekan-rekannya dan dia akan mengajak mereka bertemu jika ada waktu.
Vivian menuruni anak tangga dengan hati-hati dan Matthew memegangi tanganya. Dia benar-benar menjaga Vivian dengan baik karena dia tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Vivian dan calon bayi mereka.
"Hati-hati, Sayang," ucap Matthew mengingatkan.
"Aku tahu, kenapa kau jadi posesif seperti ini?"
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu dan anak kita," jawab Matthew.
"Aku tahu kekhawatiranmu, Matth. Tapi jangan terlalu berlebihan, oke?" pinta Vivian.
Semenjak dia hamil tidak saja ingin selalu dekat dengannya tapi Matthew mulai menunjukkan sifat prosesif. Jika dia membeli makanan, Matthew akan memeriksanya terlebih dahulu. Jika dia berenang di kolam renang, Matthew akan menggendongnya sampai masuk ke dalam kolam renang karena dia takut Vivian tergelincir bahkan dia tidak mengijinkan Vivian menginjak lantai kamar mandi setelah mandi karena itu berbahaya.
Vivian hanya geleng kepala tapi dia tahu Matthew melakukan hal itu karena menyayanginya.
"Aku takut kau tergelincir, Babe," jawab Matthew seraya menuntun istrinya menuruni anak tangga satu persatu.
"Oke, baiklah. Tiba-tiba aku ingin terjun payung dari atas pesawat," ucap Vivian.
"What?"
"Itu sangat menyenangkan, Matth. Bagaimana jika kita melakukannya nanti saat pulang dan kita mendarat di rumah," ucap Vivian sambil tersenyum.
"Jangan melakukan hal yang aneh! Awas jika kau berani!"
"Gendong," pinta Vivian sambil tertawa dan naik ke atas punggung Matthew. Dia hanya bercanda saja tapi sebenarnya dia sangat ingin melakukannya dan jika saja dia tidak hamil, maka dia akan mengajak Matthew melakukan hal itu.
Melompat dari pesawat atau melompat dari gedung dengan ketinggian ribuan kaki, itu pasti menyenangkan dan memacu adrenaline.
Sesuai dengan permintaan Vivian, Matthew menggendong Vivian dan keluar dari bandara. Seorang supir pribadi sudah diutus oleh David Adison untuk menjemput cucunya dan membawanya pulang.
Wajah Vivian tampak berseri karena dia bisa pulang ke rumahnya dan semoga kakeknya tidak menyambutnya dengan cara luar biasa yang biasa dia lakukan. Walaupun sebenarnya dia rindu melompat sana sini untuk menghindari pisau dan peluru otomatis yang ditembakkan tapi dia sedang hamil saat ini.
Selama di perjalanan, Vivian bersandar pada bahu Matthew dan tampak memejamkan matanya, sedangkan tangan Matthew berada di perut Vivian dan terus mengusapnya.
"Matth."
"Hm?"
"Aku jadi ingat jika di rumah masih ada barang kenang-kenanganku bersama dengan Carlk dulu," ucapnya.
"Oh ya? Apa kau mau selalu menyimpannya?"
"Tidak," Vivian duduk dengan tegak dan memandangi wajah suaminya yang tampan.
"Aku akan membuangnya nanti."
"Boleh aku melihatnya, Babe?"
"Tentu saja," jawab Vivian seraya bersandar pada bahu Matthew kembali.
__ADS_1
Sudah saatnya dia menyingkirkan semua barang yang berhubungan dengan Cark karena pria itu sudah tidak ada lagi di hatinya.
Dulu dia sangat menyayangi barang-barang itu dan menyimpannya dengan baik tapi sekarang, dia akan membuang semuanya dan melupakan Carlk untuk selamanya.
Mobil yang membawa mereka sudah tiba, David langsung keluar begitu mendengar suara mobil. Dia benar-benar begitu merindukan cucunya.
Begitu melihat kakeknya, Vivian langsung berlari menghampiri kakeknya.
"Jangan lari!" teriak Matthew karena dia khawatir Vivian akan terjatuh.
"Kakek, aku rindu denganmu," ucap Vivian seraya memeluk kakeknya.
"Dasar nakal! Kenapa kau berlari? Bagaiamana jika tersandung!" ucap David.
"Ck, aku bukan anak kecil!" gerutu Vivian.
"Ayo masuk, yang lain sudah menunggu," ajak David.
"Yang lain? Apa Kak Mariam datang?"
"Ya, paman dan bibimu juga datang."
Vivian mengernyitkan dahi, tumben. Padahal sejak dulu paman dan bibinya paling tidak mau melihatnya jika datang. Ada apa dengan mereka? Apapun itu dia tidak perduli.
Vivian segera mengajak Matthew masuk ke dalam rumah dan benar saja, begitu melihatnya, paman dan bibinya menyambut kedatangan mereka dengan ramah begitu juga dengan keluarga paman dan bibinya yang tidak suka dengannya sejak lama.
Vivian hanya tersenyum dan tidak memperdulikan mereka, dia bahkan menarik Matthew untuk mendekati kedua orangtuanya.
"Mom, aku rindu denganmu," ucap Vivian seraya memeluk ibunya.
Vivian terkekeh dan dia melirik ke arah putra pamannya yang sedang berbicara dengan Matthew.
"Ada apa dengan mereka, Mom?" tanya Vivian.
"Entahlah, begitu mendengar kau mau pulang bersama dengan suamimu, mereka semua langsung datang," jawab ibunya.
"Ck, apa mereka ingin menjilat?" Vivian benar-benar tidak senang melihat keluarga paman dan bibinya yang mengerumuni Matthew karena itu sangat memalukan.
"Abaikan mereka, Sayang. Kau baru tiba dan pergilah ajak suamimu untuk beristirahat," ucap ibunya.
Vivian mengangguk dan segera menghampiri Matthew. Dia benar-benar muak melihat kelakuan keluarga paman dan bibinya.
"Minggir, minggir," pinta Vivian.
"Bagaimana, apa kau tertarik dengan penawaranku?" tanya putra pamannya kepada Matthew.
"Tidak ada tawar menawar!" jawab Vivian.
"Vivi, jangan begitu. Kita keluarga bukan?" tanya pamannya.
"Yes, Uncle. Karena kita keluarga jadi jika ada yang ingin ditawarkan pada suamiku maka bicarakan padaku. Aku yang akan memutuskannya nanti. Benar 'kan, Sayang?" tanya Vivian sambil mengedipkan sebelah matanya pada Matthew.
"Benar, kalian bisa membicarakannya dengan istriku," jawab Matthew.
"Kalian dengar? Sekarang kami mau beristirahat jadi nanti kita bahas lagi. Ayo pergi, Matth."
__ADS_1
Vivian menarik tangan Matthew dan membawanya menuju kamar, sedangkan keluarga paman dan bibinya sedang dimarahi oleh kakeknya. David juga sangat malu karena kelakuan putra dan putrinya yang jelas-jelas seperti sedang menjilat. David bahkan meminta mereka untuk pulang. Padahal mereka tidak pernah mau bertemu dengan Vivian tapi hari ini mereka benar-benar berbeda.
"Mereka menyebalkan!" gerutu Vivian setelah berada di dalam kamar.
"Sudahlah, jangan marah. Tidak baik untuk kesehatan bayi kita," Matthew memeluk Vivian dan mencium dahinya.
"Maafkan aku, Matth. Aku tidak tahu jika paman dan bibiku akan datang bersama dengan keluarganya dan mengganggumu."
"Tidak apa-apa, Babe. Jangan memikirkan hal tidak penting seperti ini."
Vivian tersenyum dan mengajak Matthew menuju ranjang. Kamarnya masih seperti semula walau tidak dia tempati lagi.
"Ini kamarmu?" tanya Matthew seraya melihat kamar itu.
"Ya," jawab Vivian seraya bangkit berdiri karena dia ingin mengambil sesuatu.
Pintu lemari dibuka dan sebuah kotak dia keluarkan dari sana. Itu adalah harta paling berharganya dulu tapi sekarang, akan dia buang.
Vivian kembali menghampiri Matthew dan meletakkan kotak di atas ranjang.
"Apa ini, Babe?"
"Hartaku dulu," jawab Vivian seraya duduk di sisi ranjang.
"Jangan katakan jika ini barang yang diberikan oleh Carlk."
"Kau benar, Matth. Sekarang sudah saatnya aku membuang ini."
Vivian membuka tutup kotak dan di dalam sana terdapat beberapa barang pemberian Carlk juga beberapa foto kebersamaan mereka.
Matthew mengambil foto itu dan melihatnya, Vivian tampak begitu mesra dengan Carlk di foto itu. Walau kesal tapi dia tidak bisa marah karena saat foto itu diambil dia belum mengenal Vivian.
"Ini barang pertama yang dia berikan untukku dan aku sangat menyukainya saat itu," ucap Vivian seraya mengeluarkan sebuah barang yang diberikan oleh Carlk.
Barang yang diberikan oleh Carlk saat dia ulang tahun dan barang terakhir yang diberikan oleh Carlk untuknya masih tersimpan dengan baik tapi sebentar lagi akan menjadi penghuni tong sampah.
"Kau tidak akan menyesal bukan membuangnya?" tanya Matthew memastikan.
"Tentu tidak, untuk apa aku menyesal? Aku sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari pada barang-barang ini," jawab Vivian.
"Oh ya, coba katakan padaku, apa itu?"
Vivian tersenyum dan menyingkirkan kotak dari atas ranjang. Dia naik ke atas pangkuan Matthew dan mengusap wajah suaminya dengan lembut.
"Aku sudah mendapatkanmu, Matth dan kau lebih berharga dari apapun."
"Aku senang mendengarnya," ucap Matthew.
Vivian memeluk leher Matthew dan mendekatkan bibir mereka berdua.
"I love you, Matth."
"I love you too, Babe."
Kecupan lembut Vivian dapatkan dan setelah itu mereka saling pandang. Matthew kembali mencium bibir Vivian dan Vivian tampak bahagia. Seperti dia menyingkirkan Carlk dari hatinya, dia juga akan menyingkirkan semua kenangan mereka berdua dan membuang barang-barang pemberian Carlk yang penuh kenangan.
__ADS_1
Lagi pula, Carlk adalah masa lalu dan Matthew masa depannya. Mereka akan selalu bersama sampai maut memisahkan mereka berdua.