
Setelah menemui Vivian, Carlk pulang dalam keadaan kesal dan marah. Ini diluar rencananya dan dia tidak menyangka jika seorang pria telah menggantikan posisinya di hati Vivian.
Memang sudah lima tahun dia meninggalkan Vivian dan dia tidak tahu, apa saja yang telah Vivian alami dan siapa saja yang dekat dengan Vivian.
Ini benar-benar diluar perhitungannya! Bukankah dia mau membalas dendam dan memanfaatkan Vivian? Tapi kenapa begitu tahu jika sudah ada orang lain di hati Vivian, hatinya begitu panas dan dia merasa marah?
Tidak dia pungkiri di dalam hatinya, masih ada cinta untuk Vivian dan rasa itu sulit untuk dia singkirkan walaupun dia bersama dengan Ella tapi rasa cinta itu tetap ada karena Ella tidak bisa menggantikan Vivian di dalam hatinya.
Carlk menuang segelas minuman dan segera meneguk isinya sampai habis untuk menenangkan emosi yang sedang menguasai hatinya tapi sayang, saat membayangkan Vivian sedang bersama dengan pria lain membuat amarah semakin menguasai hatinya.
"F**ck!" Carlk melempar gelasnya ke atas lantai sampai pecah berantakkan.
Carlk meletakkan kedua tangannya ke atas meja dan mengepalnya dengan amarah di hati dan nafas memburu akibat emosi.
Dia benar-benar tidak terima, bukan saja tidak terima sudah ada yang menggantikannya di dalam hati Vivian tapi mengenai pil yang dibeli oleh Vivian?
Carlk mencengkram baju dibagian dadanya, hatinya sakit saat membayangkan Vivian bermesraan dengan pria lain dan sungguh dia tidak terima.
"Tidak Vivi, kau milikku dan sampai kapanpun kau tetap milikku! Aku tidak akan membiarkan pria lain memilikimu dan aku akan mencari tahu siapa pria yang ada bersama denganmu dan dengan cara apapun, aku akan memisahkan kalian berdua agar kau kembali denganku!" ucap Carlk dengan emosi yang masih menguasai hatinya.
Carlk berjalan mendekati botol minuman, membuka penutupnya dan segera meneguk isinya. Rasanya ingin membunuh pria itu saat ini juga jika ada di depan matanya, jika dia sudah tahu maka akan dia lakukan.
Pada saat itu Ella membuka pintu dan membantingnya dengan kemarahan di hati, apa kekurangan yang ada di dalam dirinya sehingga Carlk menolaknya?
"Max, siapa wanita itu?" tanya Ella dengan nada tinggi seraya mendekati Carlk.
"Apa maksudmu?" Carlk meletakkan minumannya dan menatap Ella dengan tajam.
"Aku melihatnya, kau sedang berbicara dengan seorang angota FBI, siapa dia?" tanya Ella lagi tapi tanpa dia duga, tangan Carlk sudah berada di lehernya dan tubuhnya sudah terangkat ke atas.
"Kau mengikutiku Ella?" tanya Carlk dengan kemarahan terpancar dari matanya.
"Max, sakit!" Ella berusaha memukul tangan Carlk karena dia kesulitan bernafas.
"Beraninya kau mengikutiku dasar jal*ng!" teriak Carlk marah dan Ella tampak ketakutan.
"Ma...maaf, tidak akan aku ulangi," ucap Ella dengan susah payah.
"Dengar Ella, seharusnya kau tahu siapa kau dan sadar dengan posisimu! Jika kau berani membongkar rencanaku maka aku tidak akan melepaskanmu! Aku akan membunuh seluruh keluargamu bahkan seorang balitapun tidak akan aku lepaskan!" ancam Carlk.
Wajah Ella tampak pucat dan dia ketakutan, ini bukan ancaman biasa dan sebaiknya dia berhati-hati. Carlk melemparkan tubuh Ella ke atas lantai dan Ella hanya bisa meringgis kesakitan sambil memegangi lehernya.
"Ma...maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Ella ketakutan.
"Pergi!" teriak Carlk sambil menatap Ella dengan tajam.
Ella mengangguk dan segera pergi dengan kemarahan di hati sedangkan Carlk meraih botol minumannya dan melemparkannya ke atas lantai sambil berteriak marah.
__ADS_1
Hatinya benar-benar terbakar emosi dan api cemburu, inikah rasanya kehilangan? Apapun yang terjadi dia harus tahu, siapa lelaki yang telah mencuri Vivian darinya?
Waktu berlalu dengan cepat dan pertemuan kedua mereka, tidak saja membuat Carlk marah tapi ada sedikit kesedihan di hati Vivian. Dia tidak ingin mengingat pertemuan mereka lagi tapi cinta yang masih ada untuk Carlk, benar-benar bisa membunuhnya. Bagaimanapun Carlk cinta pertamanya yang sulit dia lupakan dan dia benci dengan keadaannya saat ini, semoga Matthew tidak melihatnya dalam keadaan yang menyebalkan.
Vivian duduk di atas tembok pagar yang menjadi penghalang balkon sambil memandangi laut dengan perasaan tidak menentu. Air matanya mengalir dengan perlahan dan otaknya kosong tidak memikirkan apapun.
Dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau dan berantakan. Dia bahkan tidak berani memandangi Matthew saat dia kembali tadi dan untungnya Matthew sedang sibuk dan berada di dalam ruangannya.
Setidaknya dia punya waktu untuk sendiri dan dia harap setelah ini, dia tidak seperti ini lagi dan bisa sepenuhnya membuang cintanya yang tersisa untuk Carlk.
Vivian masih termenung di balkon bahkan dia tidak menyadari jika Matthew berjalan mendekatinya.
Matthew benar-benar heran melihat Vivian sedang termenung dan sesekali menghapus air matanya, apa yang telah terjadi dengannya?
"Babe, ada apa? Kenapa kau menangis?"
"Oh ti...tidak ada apa-apa," jawab Vivian seraya menghapus air matanya dengan cepat.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan kekekmu?" Matthew naik ke atas tembok dan duduk di samping Vivian.
"Tidak, kakekku baik-baik saja," jawab Vivian sambil bersandar di bahu Matthew.
"Lalu?"
Vivian diam saja dan matanya masih memandangi laut, sedangkan Matthew mengusap rambutnya dan bersabar menunggu jawaban Vivian, apa telah terjadi sesuatu dengannya?
Vivian menunduk dan Matthew semakin heran, entah mengapa firasatnya mengatakan jika Vivian seperti itu ada hubungannya dengan mantannya.
"Babe, apa kau seperti ini gara-gara mantanmu?"
Vivian mengangkat wajahnya dan memandangi Matthew sejenak tapi tidak lama kemudian, dia mengangguk.
"Kenapa? Apa kalian bertemu lagi?"
"Maaf Matth, aku tidak bermaksud bertemu dengannya dan aku juga tidak ingin seperti ini tapi perasaan ini?"
"Apa kau mulai goyah setelah bertemu lagi dengannya?"
"Tidak, bukan seperti itu," jawab Vivian dengan cepat.
"Lalu untuk apa kau seperti ini? Apa cinta yang aku berikan untukmu kurang hingga membuatmu seperti ini?"
"Tidak Matth, bukan?"
"Apa setelah bertemu dengannya lagi membuatmu ragu dan bimbang untuk melupakannya?" sela Matthew.
Dia benar-benar tidak suka melihat Vivian seperti itu, apa pria yang bernama Carlk jauh lebih baik darinya?
__ADS_1
"Bukan seperti itu Matth!"
"Lalu? Kenapa kau menangis? Jika kau memang sudah tidak menginginkannya lagi tidak seharusnya kau menangisinya! Kau seperti ini seolah-olah tidak rela kehilangan dirinya!"
"Bukan seperti itu, bukan seperti itu!" ucap Vivian sambil memeluk Matthew. Dia sungguh tidak ingin membuat Matthew marah dan semua yang Matthew katakan tidak benar.
"Maafkan aku Matth, aku tidak bermaksud seperti ini dan aku juga tidak akan kembali dengannya lagi. Aku benci dengan keadaanku saat ini dan seharusnya kau tahu, aku sangat mencintaimu dan kau jauh lebih baik darinya jadi maafkan aku," pinta Vivian sambil menangis di dalam pelukan Matthew.
"Terus terang babe, aku tidak suka melihatmu seperti ini! Aku tidak suka kau menangisi pria lain di depanku!"
"Maaf Matth, aku minta maaf," ucap Vivian. Jangan sampai Matthew marah dan meninggalkannya.
Matthew menghembuskan nafasnya dan mengusap kepala Vivian, pantas saja Vivian terlihat aneh sejak tadi. Seharusnya dia menemani Vivian dan tidak memberikan celah untuk Vivian memikirkan mantan pacarnya.
"Katakan padaku, apa yang terjadi saat kalian bertemu? Apa dia ingin memperbaiki hubungan kalian lagi?"
"Ya, dia bahkan menahanku tapi aku menolaknya karena sudah ada dirimu jadi jangan salah paham Matth. Sampai kapanpun aku tidak akan kembali dengannya!"
"Baiklah, lalu kenapa kau harus menangis?"
"Entahlah, aku juga tidak mau seperti ini, maaf."
"Sudahlah, lain kali aku tidak akan membiarkan kau seperti ini!" Matthew mengusap kepala Vivian dan mencium dahinya.
"Ayo masuk ke dalam, anginnya semakin dingin," ajak Matthew.
Vivian mengangguk, memang tidak seharusnya dia seperti itu dan membuat Matthew marah. Jika dia dan Carlk bertemu lagi maka dia akan berpura-pura tidak mengenalnya.
Matthew menggendong Vivian masuk ke dalam dan membaringkannya ke atas ranjang. Dengan perlahan, Matthew mengusap wajah Vivian dan mencium matanya yang sembab.
"Lain kali aku tidak mau melihatmu menangisi baj*ngan yang telah menyia-nyiakan cintamu!"
"Maaf, tidak akan lagi. Kau tidak marah bukan? Aku minta maaf dan jangan tinggalkan aku seperti dirinya," pinta Vivian.
"Bodoh! Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi," ucap Matthew seraya mencium dahinya.
"Maafkan aku."
"Sudahlah, lain kali jika kalian bertemu lagi, hubungi aku. Aku akan datang dan menghajarnya karena sudah mengganggumu!"
Vivian mengangguk dan masuk ke dalam pelukan Matthew, sekarang perasaannya sudah lebih baik.
"Ayo kita tidur, sudah malam," ucap Matthew.
"Maaf Matth," jawab Vivian.
"Stts!" Matthew mengecup bibir Vivian dan mengusap punggungnya, yang sudah jadi miliknya akan tetap menjadi miliknya dan sebaiknya dia memberikan sesuatu untuk Vivian agar saat Carlk datang menemui Vivian lagi, dia bisa langsung tahu dan melihat, siapa Carlk?
__ADS_1