Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Keputusan Vivian


__ADS_3

Seorang security dibawa keluar oleh dua orang polisi dari kantor Vivian. Security itu adalah orang yang berkomplot dengan Rick untuk melancarkan aksinya.


Dengan bukti yang kuat, security ditangkap dan mungkin dia akan mendekam di dalam penjara selama beberapa tahun. Tidak hanya itu, karirnya tamat karena dia dipecat. Itulah resiko yang harus security itu bayar karena sudah membantu Rick.


Setelah security itu dibawa pergi, kapten Willys mengajak para agen untuk membahas kasus yang mereka tangani semalam.


Rekaman cctv yang diambil di Bar sudah di tangan dan wajah buronan sudah dikenali. Kapten Willys akan membahas sedikit masalah itu dengan para agennya dan setelah itu surat penangkapan akan dikeluarkan.


Para agen berada di dalam sebuah ruangan dan tampak sedang serius mendengarkan penjelasan sang kapten.


Dilayar tampak wajah buronan yang diambil dari cctv yang ada di Bar dan sang kapten menunjuk wajah buronan menggunakan sinar laser berwarna merah.


"Apa kalian tahu siapa ini?" tanya sang kapten.


Para agen diam saja begitu juga dengan Vivian, dia pura-pura tidak tahu siapa yang dimaksud oleh sang kapten.


"Dia adalah Damian Maxton," ucap sang kapten lagi.


"Akhir-akhir ini banyak kejahatan yang terjadi dan dilakukan oleh Maxton. Isi truk yang kita sita waktu dipelabuhan juga sudah aku periksa dan semua itu milik Maxton."


"Jadi buronan kita adalah Damian Maxton, sir?" tanya Ana.


"Ya, semua bukti yang kita dapat membuktikan jika dia memang buronan yang kita cari dan bukti sudah sangat kuat dan sudah jelas," jawab kapten Willys.


"Jika begitu apa kita akan langsung menangkapnya?" tanya Patrik pula.


"Tentu, aku akan mengeluarkan surat penangkapan secepatnya."


"Tapi kapten?" sela Vivian.


Dia akan meyakinkan kapten Willys untuk tidak gegabah dan langsung menangkap Damian Maxton karena dia percaya dengan Matthew. Dia juga percaya jika Matthew bisa mempertemukannya dengan Jager Maxton dan dia akan memeriksa hal ini lebih lanjut.


Jangan sampai mereka salah tangkap dan membuat Jager Maxton murka dan jangan sampai buronan mereka yang sebenarnya tertawa karena kesalahan yang mereka buat.


"Ada apa Angel?" tanya kapten Willys.


"Apa tidak terlalu terburu-buru mengeluarkan surat penangkapan untuk menangkap Damian Maxton, kapten?"

__ADS_1


"Tidak! Kenapa kau bertanya demikian padahal bukti sudah jelas yang menunjukkan jika dialah buronan yang kita cari!"


Semua mata memandangi Vivian begitu juga dengan sang kapten, ini adalah kesempatan mereka untuk menangkap buronan yang mereka cari selama ini tapi kenapa Vivian bertanya demikian?


"Maaf kapten, aku tidak bermaksud menunda untuk menangkap buronan yang sudah ada di depan mata. tapi menurut info yang aku dapat Damian Maxton berada di Jepang dan jangan lupa, buronan yang kita cari selama ini selalu menggunakan wajah orang lain saat beraksi. Apakah kapten tidak merasa aneh dengan hal ini?"


Kapten Willys memandangi Vivian dengan serius begitu juga dengan agen yang lain. Memang benar, buronan mereka tiba-tiba muncul di Bar dan memperlihatkan wajahnya, rasanya memang ada yang janggal.


"Jadi menurutmu, apa kita akan menunda untuk menangkap Damian Maxton?" tanya sang kapten.


"kapten, aku diutus ke sini untuk menangkap buronan berinisal M dan aku tidak mau salah tangkap orang. Apakah kapten Willys mau mempercayaiku saat ini?"


"Apa rencanamu?"


"Aku sedang berusaha untuk menemui Jager Maxton untuk mencari tahu permasalahan ini. Mengenai barang-barang yang kita sita dan juga kejahatan yang terjadi atas namanya, bukankah kita perlu mengintrogasinya?"


"Tapi bukti sudah jelas Angel jika Damian Maxton adalah pelakunya," sela Patrik.


"Aku tahu Patrik tapi sudah aku katakan bukan? Damian ada di Jepang lalu bagaimana mungkin tiba-tiba dia ada di Amerika dan muncul sebagai buronan kita? Apa kalian tidak merasa aneh? Aku rasa ada yang ingin menghancurkan reputasi Maxton karena dari awal kita digiring untuk mencurigainya tapi sampai sekarang kita belum pernah mengintrogasinya jadi tolong kapten Willys memberikan aku kesempatan untuk menyelidiki kasus ini lebih rinci dan menunda untuk menangkap Damian Maxton."


"Tapi bagaimana jika kau salah Angel? Bagaimana jika ternyata orang yang kita cari memang Damian? Jika kau salah maka kita sudah melewatkan kesempatan besar untuk menangkapnya dan asal kau tahu, menurut informasi yang aku dapat, Damian Maxton ada di Amerika!" ucap Kapten Willys.


Dia diam saja dan berpikir, kenapa begitu kebetulan? Tapi dia sudah memutuskan untuk mempercayai Matthew dan dia akan tetap mempercayainya bahkan dia akan mempertaruhkan segalanya agar sang kapten tidak gegabah untuk langsung menangkap Damian.


"Jadi Angel, bagaimana menurutmu?" tanya sang kapten lagi.


Vivian mengangkat wajahnya, dia percaya Matthew tidak akan mengecewakannya dan akan tetap meminta kapten Willys untuk menunda menangkap Damian Maxton.


"Beri aku kesempatan kapten untuk menyelidikinya dan mengintrogasi mereka. Jika memang aku salah maka aku akan mengundurkan diri dari misi ini dan kembali ke Inggris bahkan aku akan mengundurkan diri dari agensi."


"Angel," Patrik hendak protes tapi tatapan mata Vivian penuh dengan keyakinan dan wajahnya menunjukkan jika dia serius dan tidak bermain-main dengan ucapannya.


Kapten Willys menghela nafasnya dan kembali ke mejanya, sepertinya Vivian tidak sedang bercanda. Semua memang dipertaruhkan saat ini tapi dia akan mencoba mempercayai Vivian.


"Baiklah, aku akan mempercayaimu dan memberimu kesempatan. Aku akan memberikan waktu satu minggu untukmu menyelidiki hal ini dan jika memang mereka tidak bersalah maka berikan buktinya padaku tapi jika kau tidak bisa membuktikannya maka aku akan langsung mengeluarkan surat perintah untuk menangkap Damian dan pada saat itu, bersiaplah untuk kembali ke Inggris," ucap kapten Willys.


"Terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang telah kapten berikan," ucap Vivian seraya memberi hormat.

__ADS_1


Sang kapten mengangguk dan setelah itu mereka membahas kasus lain di mana sesosok mayat ditemukan di hutan dalam kondisi sudah membusuk dan tanpa wajah dan itu adalah mayat orang yang membantu Vivian waktu itu.


Untuk kasus ini Kapten Willys menugaskan Ana dan Jerry untuk menyelidikinya dan setelah itu rapat dibubarkan.


Mereka keluar dari ruang rapat dan kembali ke meja mereka masing-masing sedangkan Patrik mengikuti Vivian karena dia ingin tahu kenapa Vivian meminta kapten Willys untuk tidak menangkap Damian padahal bukti sudah jelas bahkan Vivian rela mempertaruhkan karirnya.


"Angel, kenapa kau mengambil keputuan seperti itu dan menentang keputusan kapten Willys?" tanya patrik.


"Patrik, aku punya pertimbangan sendiri dan aku yakin jika yang aku lakukan sudah benar."


"Tapi bagaimana jika kau salah? Apa kau serius akan mengundurkan diri dari misi ini dan kembali ke Inggris?" Patrik tampak tidak terima.


"Ya, aku serius dengan ucapanku dan aku tidak akan sembarangan mengambil keputusan."


"Tapi Angel?"


"Percayalah padaku Patrik, aku tidak akan mengecewakan kalian!"


Patrik menghembuskan nafasnya dengan berat, sepertinya Vivian memang tidak sembarangan mengambil keputusan.


Pada saat itu Ana mendekati mereka dengan sebuah kotak di tangannya, dia sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk Vivian.


"Sudahlah Patrik, percayalah dengan apa yang diputuskan oleh Angel dan sebaiknya kau segera mencari pacar," goda Ana.


"Ck, ini tidak ada hubungannya dengan mencari pacar!!" jawab Patrik kesal.


"Sepertinya semalam aku melihat ada yang patah hati," goda Ana lagi.


"Berisik!" ucap patrik. Dia memang patah hati sejak melihat Vivian berciuman dengan Maria, huh dunia benar-benar sudah sinting.


"Sudah-sudah, nanti kita pergi kencan buta dan ini? Ini untukmu Angel," Ana memberikan kotak yang dia bawa pada Vivian, sedangkan Vivian melihat kotak itu dengan heran.


"Apa ini Ana?" Vivian membuka penutup kotak dan sangat kaget melihat isinya begitu juga dengan patrik.


"Oh my God, Ana!" ucap Vivian dan patrik secara bersama-sama.


"Hei, apa hadiahnya salah?" tanya Ana tanpa dosa.

__ADS_1


"Ana!" Vivian menutup kembali kotaknya sedangkan Ana tertawa.


__ADS_2