Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Pagi yang sangat berharga.


__ADS_3

Vivian bangun pagi-pagi dan sedang membuat sarapan di dalam dapur. Walupun Ray sudah melarangnya tapi tetap dia lakukan karena ini adalah kali pertama baginya membuatkan makanan untuk ayah dan kakaknya.


Dia ingin menyenangkan ayahnya selama dia berada di sana karena bisa dia lihat, walaupun hanya satu malam saja ayahnya benar-benar terlihat begitu bahagia.


Aroma lezat makanan tercium saat Jager Maxton keluar dari kamarnya, itu hal biasa jadi dia berjalan kesebuah kursi untuk menikmati teh di pagi hari sedangkan Ray berjalan mendekatinya.


"Selamat pagi tuan," sapa Ray dengan sopan.


"Apa anak-anak sudah bangun?" tanya Jager seraya duduk di kursinya.


"Tuan Damian sedang berolahraga sedangkan Nona sedang membuat sarapan di dapur," jawab Ray.


"Apa? Kenapa kau membiarkannya membuat makanan?" Jager hendak bangkit berdiri tapi pada saat itu Vivian keluar dari dapur sambil membawa beberapa potong roti bakar dan segelas teh panas.


"Daddy jangan terlalu berlebihan. Aku hanya ingin membuat makanan untuk Daddy dan kak Damian," ucap Vivian.


"Tapi nak, ada pelayan jadi kau tidak perlu melakukannya."


"Dad, apa kau tidak mau makan makanan hasil buatanku?"


"Tentu saja aku mau," jawab Jager dengan cepat.


"Jika begitu ini roti dan teh untuk Daddy, aku sedang membuat makanan untuk kita dan nanti kita bisa sarapan bersama," Vivian meletakkan roti dan teh yang dia bawa dan setelah itu Vivian mencium pipi ayahnya sebagai ciuman selamat pagi.


Jager benar-benar senang dan rasanya dia ingin mereka seperti itu setiap pagi. Setelah Vivian kembali ke dapur, Jager bangkit berdiri dan menghampiri foto istrinya.


Jager memandangi foto istrinya sambil tersenyum, istrinya pasti melihat dari atas sana dan dia harap istrinya bahagia.


"Cristiana, kau pasti bisa melihat kami bukan? Lihatlah putri kita, dia sudah dewasa sekarang dan aku benar-benar bahagia bisa bersama dengannya. Terima kasih atas pengorbananmu Cristiana karena jika kau tidak berkorban, mungkin aku tidak bisa melihat putri kita lagi."


Jager berdiri begitu lama memandangi foto istrinya dan pada saat itu, Damian kembali dan menggeleng melihat ayahnya lagi-lagi berbicara dengan foto istrinya.


"Wow ada roti bakar, kebetulan aku sedang lapar," ucap Damian saat melihat roti bakar yang ada di atas meja.


Damian berjalan mendekati meja hendak mengambil sepotong roti bakar itu tapi tiba-tiba saja Jager mencegahnya.


"Hey, jangan kau ambil roti bakar Daddy!"


"Kenapa Dad? Aku hanya mengambil satu saja," tanya Damian.


"Itu roti bakar pertama yang putriku buatkan untukku jadi jangan ada yang memakannya!"


"Astaga Daddy terlalu berlebihan. Biarkan aku mencoba roti bakar buatan adikku," Damian mengambil sepotong roti bakar yang ada di atas piring karena dia ingin menggoda ayahnya.


"Anak nakal, jangan coba-coba!" ucap ayahnya seraya berjalan mendekatinya dengan cepat tapi Damian masih menggoda ayahnya dan memakan roti bakar yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Aku memakannya Dad," ucap Damian.


"Awas kau! Akan aku pukul kau anak nakal!"


Damian hanya tertawa sedangkan roti bakar yang tersisa Jager ambil dan dia segera memanggil Ray.


"Ada apa tuan?"


"Bawa roti bakar ini dan awetkan!" perintahnya.


"What?" ucap Damian dan Ray secara bersama-sama.


"Memangnya kue pernikahan Putri Diana saja yang bisa diawetkan? Makanan pertama yang putriku buatkan untukku juga bisa diawetkan!"


"Hahahahahaha!" Damian tertawa terbahak-bahak sedangkan Ray tampak linglung, apa majikannya serius untuk mengawetkan roti bakar itu? Apa tehnya juga akan diawetkan?


"Kau terlalu berlebihan Dad," ucap Damian dan dia kembali tertawa.


"Ck, kau tidak mengerti bagaimana perasaanku!" ucap ayahnya sambil membuang wajahnya.


"Oke ... oke... hahahaha!" Damian kembali tertawa.


"Masih berani menertawakan ayahmu! Sini aku akan benar-benar memukulmu!"


Di dalam dapur, Vivian hanya tersenyum. Ayahnya terlalu berlebihan padahal itu hanya roti bakar saja. Bukankah dia masih bisa membuatkannya lagi nanti?


Jangan katakan jika semua makanan yang dia buat saat ini akan ayahnya awetkan juga. Jika sampai hal itu terjadi maka sia-sia makanan yang dia buat.


Beberapa menu makanan sudah terhidang di atas meja dan Vivian terlihat puas dengan hasil kerjanya. Walaupun dia jarang masak di rumah tapi dia bisa membuat beberapa menu yang mudah.


Setelah selesai, Vivian keluar karena dia ingin memanggil ayah dan kakaknya untuk sarapan bersama-sama karena sebentar lagi dia harus pergi bekerja jadi sebaiknya dia segera mengajak ayah dan kakaknya untuk sarapan.


Jager dan Damian tampak sedang berbincang dan membahas masalah yang terjadi di perusahaan di ruang keluarga.


"Dad, kak Damian, ayo kita sarapan bersama."


"Sepertinya kita tidak akan jadi sarapan Vivi karena Daddy akan mengawetkan semua makanan yang kau buat," Damian masih menggoda ayahnya.


"Masih berani menggoda ayahmu!"


Vivian hanya terkekeh dan menghampiri ayahnya, dia tahu ayahnya sangat senang tapi jujur dia juga senang karena dia bisa membuatkan makanan untuk ayahnya.


"Ayo dad, aku tidak punya banyak waktu karena aku sudah harus berangkat ke kantor," ajak Vivian.


"Baiklah, aku sudah tidak sabar mencicipi masakan putriku," ucap Jager.

__ADS_1


Mereka segera ke ruang makan di mana makanan yang dibuat oleh Vivian sudah terhidang di atas meja.


"Aku hanya bisa membuat makanan ini saja, sorry," ucap Vivian.


"Tidak apa-apa Sayang, ini sudah cukup dan Daddy sangat senang kau masih mau meluangkan waktu membuatkan makanan untuk kami," ucap ayahnya.


"Ini sudah cukup Vivi," ucap kakaknya pula.


"Baiklah, semoga kalian suka," Vivian menarik sebuah kursi untuk ayahnya dan mengambilkan makanan untuk ayahnya.


Jager benar-benar senang dan dia begitu tampak bahagia, ini adalah pagi yang sangat berharga dan ketika Jager memasukkan makanan yang dibuat oleh putrinya ke dalam mulut, tanpa terasa air matanya mengalir dengan tiba-tiba.


Vivian begitu kaget saat melihatnya, apakah makanan yang dia buat tidak enak?


"Dad, kenapa kau menangis? Apa kau tidak suka?"


"Tidak, bukan begitu!" jawab ayahnya seraya menghapus air matanya.


"Lalu kenapa Daddy menangis?" Vivian jadi serba salah sedangkan Damian cuek saja karena dia sudah terbiasa melihat ayahnya menangis secara tiba-tiba.


"Daddy sangat senang Sayang karena Daddy bisa memakan makanan yang kau buat. Daddy benar-benar tidak menyangka dan Daddy benar-benar bahagia," jawab ayahnya.


"Aku akan sering-sering pulang Dad, aku akan membuatkan makanan untuk Daddy jadi sekarang makanlah selagi makanannya masih hangat," ucap Vivian.


"Benarkah? Apa kau mau tidur di rumah lagi?"


"Tentu tapi tidak nanti malam karena aku harus kembali ke rumah Matthew untuk membahas sesuatu dengannya."


"Baiklah, Daddy benar-benar senang dan kapan-kapan ajaklah keluargamu ke rumah."


Vivian mengangguk sedangkan Jager melihat makanan yang ada di atas piring sambil tersenyum. Entah kenapa dia jadi ingin menangis lagi dan itu karenakan luapan kebahagiaan yang memenuhi hatinya.


Damian hanya menggeleng dan dia jadi ingin menggoda ayahnya lagi.


"Dad, jika kau masih menangis maka aku akan menghabiskan semua makanan ini," ucap Damian sambil tersenyum.


"Apa" Dasar kau! Tidak saja mengambil roti bakarku tapi kau juga ingin menghabiskan semua makanan ini!"


"Akan aku lakukan Dad," Damian semakin menggoda ayahnya dan mengambil makanan yang ada di atas meja.


"Sana kau segera cari istri yang bisa membuatkan makanan untukmu setiap hari!" Jager juga tidak mau kalah dan segera memakan makanannya dengan cepat.


"Nanti tapi sebelum itu aku ingin menghabiskan semua makanan ini dan menghabiskan bagian Daddy juga," jawab Damian.


Vivian hanya tertawa dan menggeleng, suasana pagi itu dipenuhi dengan kebahagiaan karena mereka bisa bersama. Sebelum memulai hari yang berat, tidak ada salahnya mereka menghabiskan waktu dengan canda tawa sambil menikmati makanan yang ada. Yang pasti orang paling bahagia saat itu adalah Jager Maxton dan dia sangat bersyukur bisa bersama dengan putra dan putrinya dan kebersamaan mereka saat ini tidak akan pernah tergantikan oleh apapun juga.

__ADS_1


__ADS_2