Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Aku bukan pecundang


__ADS_3

Setelah pesawat terbang kurang lebih empat jam, kota New York sudah terlibat dari atas sana dan pesawat mulai terbang merendah untuk landing di bandara Internasional John F. Kennedy.


Selama di dalam pesawat, Vivian dan Matthew memilih untuk tidur. Karena keadaan Vivian yang belum begitu membaik jadi Matthew memutuskan untuk menemani Vivian tidur.


Pada saat itu, seorang pramugari mengetuk pintu kamar karena dia ingin memberitahu bahwa mereka sudah tiba.


"Mr Smith, kita sudah tiba," ucap pramugari itu.


Matthew terbangun dan melihat jam dipergelangan tangannya, tanpa mereka sadari ternyata mereka sudah tiba.


"Babe," Matthew mengusap lengan Vivian untuk membangunkannya.


"Hm?" Vivian hanya bergerak sebentar.


"Kita sudah sampai, ayo bangun," bisik Matthew sambil mencium pipinya.


"Oh ya?"


"Yes, pesawat sudah mau mendarat sebaiknya kita bersiap-siap."


"Baiklah, aku sudah tidak sabar bertemu dengan keluargaku dan sebaiknya kau persiapkan bokong mu Mr Smith, karena kakekku sedang mengincarnya."


"Are you serious?"


"Yes," jawab Vivian sambil turun dari atas ranjang.


"Oh tidak babe, sebaiknya kita pergi ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum menemui keluargamu," Matthew turun dari atas ranjang dan berjalan mendekati Vivian yang sedang merapikan rambutnya.


"Untuk apa?" tanya Vivian penasaran.


"Aku harus membeli bantal untuk mengganjal bokongku babe."


Vivian tertawa dan setelah merapikan rambutnya, Vivian melingkarkan tangannya ke tubuh Matthew sambil tersenyum.


"Biarkan kakekku menendangnya agar kedua bokong mu ini semakin seksi," ucap Vivian seraya meremas bokong Matthew.


"Wow, nakal ya! kalau begitu sebagai balasannya aku akan meremas bokong cucunya setiap hari," Matthew juga tidak mau kalah dan sedang meremas bokong Vivian sampai membuat Vivian mengerang.


"Ck, seharusnya aku menerkam mu tadi!" ucap Matthew sambil berdecak kesal.


"Mau mencobanya?" tantang Vivian.


"Yes, saat pulang nanti siap-siap saja menghabiskan waktu denganku selama empat jam di dalam kamar ini nona."


"Tapi ada keluargaku."


"Itulah yang namanya tantangan sayang, kau berani?"


"Tentu," jawab Vivian.

__ADS_1


"Oh my, aku sudah tidak sabar!" Matthew memagut bibir Vivian tapi pada saat itu pintu kembali diketuk dan seorang pramugari mengatakan jika pesawat sudah mau mendarat.


Matthew dan Vivian segera keluar dari kamar dan mereka segera duduk. Matthew memakaikan sabuk pengaman untuk Vivian dan mengecup bibirnya sejenak, sedangkan Vivian tampak bahagia.


Saat itu dia jadi teringat dengan nasehat kakeknya dan entah kenapa dia jadi khawatir, bagaimana jika kakeknya tidak menyetujui hubungannya dengan Matthew?


Bagaimanapun kakeknya selalu berpesan agar dia tidak berhubungan dengan pria yang menggeluti dunia hitam tapi latar belakang keluarga Matthew?


Dia harap kakeknya tidak keberatan dan tidak menentang hubungan mereka dan dia harap kakeknya bisa menerima Matthew. Dia akan berusaha membujuk kakeknya dan meyakinkan kakeknya jika Matthew tidak seperti yang orang-orang pikirkan walaupun latar belakang keluarganya adalah mafia.


Pesawat semakin merendah dan roda pesawat sudah menapaki landasan. Beruntungnya cuaca di New York begitu cerah sehingga perjalanan mereka tidak memiliki kendala.


Setelah pesawat berhenti, mereka segera turun sambil bergandengan tangan dan pada saat itu Vivian mengatakan sesuatu.


"Oh aku sangat ingin liburan ke Hawai."


"kau belum pernah ke Hawai?" tanya Matthew.


"Tentu saja belum Matth, bahkan ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di New York."


"Aku akan membawamu ke sana babe, bagaimana jika kita bulan madu ke Hawai nanti?" tanya Matthew sambil memegangi tangan Vivian dengan erat karena saat itu mereka sedang menuruni tangga.


"Bulan madu? Terdengar menyenangkan, tapi?" Vivian tampak ragu, bagaimana jika kakeknya menentang hubungan mereka?


"Ada apa?" Matthew memandangi wajah Vivian yang tampak sedih dan Vivian terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Hei," Matthew meraih pinggang Vivian dan merapatkan tubuh mereka berdua.


"Katakan padaku, ada apa? Apa kau tidak mau menikah denganku?"


"Bukan begitu Matth," jawab Vivian sambil memandangi Matthew.


"Jadi?"


"Aku rasa kakek tidak akan menyetujui hubungan kita," jawab Vivian sambil menunduk.


"Kenapa? Katakan padaku apa alasannya?"


"Kakekku selalu berpesan padaku untuk tidak berhubungan dengan pria yang menggeluti dunia hitam sedangkan kau? Saat kakekku tahu jika kau adalah mafia, kakek pasti tidak akan menyetujui hubungan kita," ucap Vivian dengan wajah sedih.


Matthew tersenyum dan mengusap pipi Vivian sambil berkata, "Jangan menghawatirkan hal ini karena aku bisa mengatasinya. Aku juga tidak berharap bisa mendapatkan mu dengan mudah dan ini adalah tantangan untukku. Seorang pria sejati tidak akan menyerah untuk mendapatkan wanita yang dia inginkan jadi kau tidak perlu menghawatirkan hal ini dan percayalah padaku."


Sebuah senyuman menghiasi wajah Vivian saat mendengar ucapan Matthew, dia sangat senang dan bahagia karena bisa bertemu dengan Matthew dan dicintai olehnya.


"Baiklah Mr Smith, aku percaya padamu dan kau harus tahu, kakekku tidak suka pembohong jadi aku berharap kau tidak membohonginya."


"Semua orang tidak suka pembohong babe, tidak hanya kakek mu saja. Tapi kau tidak perlu khawatir karena aku bukan pecundang dan aku akan menghadapi kakek mu dengan jantan."


"Aku tahu, ayo kita pergi. Mereka pasti sudah menunggu kita dan sebaiknya kita tidak membuat mereka khawatir."

__ADS_1


"Kau benar," ucap Matthew seraya merangkul pinggang Vivian.


Mereka segera keluar dari bandara dan akan menuju The Plaza hotel dimana keluarga Vivian sudah menunggu mereka.


Memang saat itu Marta sudah tidak sabar menunggu kedatangan putrinya, dia harap ini bukan hari terakhirnya bersama dengan putrinya karena sebentar lagi, Vivian akan diambil oleh orang tua kandungnya.


Yang paling dia takutkan adalah, Vivian marah dan membenci mereka karena telah merahasiakan hal sebesar itu dari mereka. Entah kenapa Marta jadi berpikiran buruk, dia takut Vivian datang ke New York bukan untuk menjemput mereka tapi untuk mengakhiri hubungan mereka.


Bisa saja hal itu dilakukan oleh Vivian dan Vivian sengaja datang ke New York supaya mereka tidak pergi ke California untuk mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia harap ketakutannya tidak terjadi dan dia harap putrinya cepat datang.


Saat dia sedang gelisah terdengar pintu kamar diketuk dari luar sana. Marta segera berjalan menuju pintu dan membukanya, diluar tampak Charles dan David baru saja kembali. Mereka pergi ke rumah sakit terdekat untuk memeriksa keadaan David dan meminta obat karena obat David ketinggalan.


"Apa Vivi belum tiba?" tanya David.


"Belum dad," jawab Marta seraya menutup pintu kamar.


"Sudah aku katakan tidak perlu datang tapi anak itu benar-benar!"


"Jangan-jangan dia datang untuk mengakhiri hubungan dengan kita dad karena dia sudah bertemu dengan orang tua kandungnya," ucap Marta.


"Pemikiran bodoh macam apa itu?"


"Aku hanya takut dad."


"Bodoh! Apa kau baru mengenalnya? Kita sudah lama bersama dengannya dan dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu hanya karena dia bertemu dengan orang tua kandungnya!" ucap David dan pada saat itu, pintu kamar kembali berbunyi.


Marta segera menghampiri pintu dan membukanya dan begitu melihatnya, air mata Vivian langsung mengalir dan dia langsung melompat masuk ke dalam pelukan ibunya.


"Mommy, syukurlah kalian baik-baik saja," ucap Vivian sambil menangis.


"Vivi, akhirnya kau datang."


Marta memeluk putrinya dengan erat sedangkan Vivian benar-benar lega melihat keluarganya dalam keadaan baik-baik saja. Dia sungguh tidak sanggup jika keluarganya menjadi korban atas kecelakaan pesawat yang terjadi.


Charles mendekati istri dan putrinya dan dia sangat senang melihat putrinya di sana.


"Daddy merindukanmu sayang," ucap Charles dan Vivian segera memeluk ayahnya.


"Aku juga rindu dengan daddy dan aku kira kalian menjadi korban," ucap Vivian seraya menghapus air matanya.


"Kami juga bersyukur sayang jika Tuhan masih baik dan sayang pada kami," ucap ibunya.


Vivian mengangguk, dia benar-benar lega sedangkan David tersenyum dan membuka kedua tangannya.


"Kemarilah, kakek sangat merindukanmu," ucap David.


"Aku juga merindukan kakek," ucap Vivian seraya berjalan mendekati kakeknya dan memeluknya.


Vivian kembali menangis karena dia benar-benar lega dan bahagia keluarganya baik-baik saja sedangkan Matthew berdiri diluar sana dan pada saat itu David melihat ke arah Matthew dan menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Itu pasti pria yang berbicara dengannya semalam dan setelah ini dia akan menginterogasinya karena dia tidak akan menyerahkan cucunya pada orang yang salah.


__ADS_2