Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Piknik


__ADS_3

Matahari bersinar dengan terik di atas sana, angin sejuk berhembus dan menjatuhkan beberapa helai daun yang telah menguning.


Di bawah pohon, tampak Jager Maxton sedang menghabiskan waktu bersama dengan putri dan juga putranya.


Kain piknik sudah digelar. Keranjang yang berisi makanan berada di atas kain dan di samping kain itu terdapat kain lainnya dan di sana Jager Maxton sedang duduk memandangi rerumputan yang bergoyang karena hembusan angin.


Damian berbaring di sampingnya dan tampak tidur, sedangkan Vivian berbaring di atas paha ayahnya. Semilir angin yang berhembus, membuatnya menjadi mengantuk apalagi usapan lembut tangan ayahnya di rambut, membuatnya semakin mengantuk.


Mereka sedang menikmati waktu mereka, menikmati alam sebelum menikmati makanan yang dibuat oleh Vivian.


Jager tersenyum dan memandangi langit biru yang begitu cerah, dulu dia selalu datang ke tempat itu bersama dengan istrinya dan dia tidak pernah menyangka jika hari ini dia akan datang ke tempat itu lagi bersama dengan putri dan juga putranya.


"Cristiana, kau bisa melihat kami, bukan?" tanya Jager dalam hati dan dia tampak tersenyum sambil memandangi langit biru.


"Semenjak kepergianmu, aku tidak pernah datang ke sini lagi bahkan aku tidak ingin datang lagi tapi siapa yang menyangka, aku masih bisa datang ke sini bersama dengan putri kita. Kau bisa lihat bukan? Dia sudah dewasa begitu juga dengan Damian. Aku tahu kau sangat menyayangi Damian dan aku harap kau bisa melihat kami dan bersama dengan kami saat ini."


Jager masih tersenyum, dia tahu istrinya pasti bersama dengan mereka saat ini. Mereka sudah berjanji akan bertemu lagi di sana ketika waktunya sudah tiba nanti.


"Dad," Vivian membuka matanya dan memandangi ayahnya.


"Ada apa, Fiona?"


"Apa Daddy dan Mommy suka datang ke tempat ini?"


"Tentu, Sayang. Cristiana seorang pecinta alam dan dia suka melakukan piknik. Kami selalu berbaring di bawah pohon ini. Lihatlah pohon ini ...," Jager mendongak untuk melihat pohon yang semakin tumbuh besar dan rindang.


"Pohon ini adalah saksi kebersamaan kami berdua dan sekarang dia akan menjadi saksi kebersamaan kita," ucap Jager seraya mengusap rambut putrinya.


"Aku belum pernah mengunjungi Mommy, apa Daddy akan membawa aku pergi menjenguk Mommy?"


"Tentu, Daddy akan mengajakmu nanti tapi bukankah kau berkata kita harus membahas pernikahanmu terlebih dahulu dengan keluarga Matthew?"


"Yes, Daddy tidak keberatan bukan aku menikah dengannya?"


"Tentu tidak, Sayang. Untuk apa Daddy keberatan?"


"Dad," Damian bangun dari tidurnya dan duduk di samping ayahnya.


"Aku sudah memikirkan hal ini baik-baik," ucap Damian.


"Ada apa?"


Vivian juga bangun dari tidurnya dan memandangi kakaknya yang terlihat serius.

__ADS_1


"Menurutku yang pantas menjadi penerus Daddy hanya Vivian saja. Bukannya aku tidak mau tapi Vivian lebih pantas dari pada aku. Daddy tidak perlu khawatir karena aku pasti akan selalu membantunya."


"kenapa kau berkata seperti itu, Damian?" tanya ayahnya.


"Aku hanya merasa tidak pantas," jawab Damian.


"Kak, jangan merasa tidak pantas hanya karena kau tidak memiliki hubungan darah dengan Daddy. Tidak ada yang lebih pantas selain Kak Damian untuk menjadi penerus Daddy. Aku tidak tahu apa-apa mengenai perusahaan dan aku juga tidak tahu apa-apa mengenai organisasi. Kak Damian lebih tahu jadi keputusan Daddy menjadikan Kak Damian sebagai penerus tidak salah karena Kak Damian memang pantas. Daddy tidak pernah menganggap Kakak orang luar jadi jangan menciptakan jarak seperti itu."


"Yang dikatakan oleh adikmu sangat benar, Damian. Hanya kau yang pantas menjadi penerusku," ucap Jager.


"Tapi apa kau tidak keberatan semua milik Daddy menjadi milikku, Vivi?" tanya Damian memastikan.


Dia tidak mau suatu hari nanti adiknya berubah pikiran dan mengira jika dia merebut semua yang seharusnya menjadi miliknya.


"Apa yang Kak Damian katakan? Tentu aku tidak keberatan. Kakak yang selama ini mengolah perusahaan Daddy dan selalu bersama dengan Daddy. Aku hanya ingin Kakak selalu menjaga Daddy dengan baik," jawab Vivian.


"Itu sudah pasti tanpa perlu kau minta, adikku."


Jager tersenyum dan merangkul bahu putra dan putrinya sambil berkata, "Satu keinginan Daddy. Daddy berharap kalian selalu akur sampai kapan pun walau aku sudah tidak ada nantinya. Aku ingin kalian selalu seperti saudara walaupun kalian tidak memiliki hubungan darah. Kalian harus mengajarkan pada anak-anak kalian nanti untuk tidak saling membenci."


"Itu sudah pasti, Dad," ucap Damian dan Vivian seraya memeluk ayahnya.


Jager bahagia mendengarnya. Damian sangat menghargai adiknya dan mempertimbangkan semua yang akan dia lakukan dengan teliti, sedangkan putrinya tidak serakah dan menyerahkan semuanya pada kakaknya walau dia tahu Damian hanya anak yang dia adopsi.


"Daddy sangat bangga dengan kalian," ucap Jager seraya mendekap putra dan putrinya dengan erat.


"Satu lagi permintaan Daddy, jika Daddy sudah sekarat maka bawa Daddy ke sini karena Daddy ingin mati di sini."


"Dad, jangan berkata seperti itu," Vivian jadi sedih setelah mendengar permintaan ayahnya.


"Daddy pasti akan hidup lebih lama sampai kami punya anak," ucap Damian.


"Daddy tahu, ini hanya permintaan. Baringkan aku di bawah pohon Meadow ini karena aku sudah berjanji dengan Cristiana jika kami akan bertemu lagi di sini."


Vivian mengangguk dan memeluk ayahnya dengan erat begitu juga dengan Damian. Mereka duduk bertiga sambil memandangi hamparan rumput yang luas dan mereka menikmati kebersamaan mereka di sana.


Saat itu tidak juah dari mereka, terlihat mobil Matthew berhenti. Vivian segera bangkit berdiri dan berlari menghampiri Matthew.


Matthew berjalan ke arahnya dan ketika Vivian sudah dekat, Matthew membuka kedua tangannya lebar-lebar dan pada saat itu, Vivian melompat ke dalam pelukannya.


"Apa pikniknya sudah dimulai?" tanya Matthew.


"Baru saja," jawab Vivian yang berada di dalam gendongannya.

__ADS_1


"Berarti aku tidak terlambat," ucap Matthew seraya mencium bibir Vivian.


Jager dan Damian tersenyum melihat kebahagian Vivian, oke, baiklah tapi mereka berdua jomblo.


"Apa Daddy tidak mau menikah lagi?" goda Damian.


"Hush, nanti Cristiana mendengar," jawab Jager.


Damian terkekeh, dia hanya menggoda ayahnya saja.


"Kau sendiri bagaimana, Damian? Kapan kau akan membawa gadis itu pulang ke rumah?"


"Gadis yang mana?" tanya Damian tidak mengerti.


"Jangan berpura-pura, kau memiliki hubungan dengan Ainsley Smith, bukan?"


"Jangan sembarangan berbicara, Dad."


"Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?"


"Kami hanya teman, Dad. Jangan disalahartikan," jawab Damian.


Jager menggeleng, sejak dulu Damian tidak pernah mau berhubungan dengan wanita karena dia terlalu serius menjaga ibunya yang sakit tapi sekarang? Apa Damian tidak mau mencari pasangan hidup dan akan melakukannya setelah dia mati?


"Dengarkan aku, Damian," Jager memandangi putrinya yang sedang berjalan ke arah mereka bersama dengan Matthew.


"Aku tahu kau tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun karena kau menjaga ibumu yang sakit stroke semasa dia masih hidup. Sayuri mengatakan hal itu padaku jadi aku tidak ingin kau menganggap aku sebagai beban yang menghalangimu untuk bahagia. Carilah pacar yang baik, aku tidak perlu kau jaga karena aku sudah sehat. Jadi jangan pikirkan aku tapi pikirkan kebahagiaanmu mulai sekarang," ucap Jager.


Damian tersenyum, memang selama di Jepang dia fokus bekerja dan menjaga ibunya sampai dia tidak punya waktu untuk menjalin hubungan dengan wanita mana pun.


"Baiklah, Dad. Aku akan mulai cari pacar sekarang," jawab Damian.


"Bagus, aku suka gadis itu jadi bawa dia pulang," goda Jager lagi.


"Daddy!" Damian menekan ucapannya, sedangkan Jager hanya tertawa.


Matthew dan Vivian bergabung dengan mereka dan mereka berbincang, sedangkan Vivian membuka keranjang piknik dan mengeluarkan isinya.


Makanan yang dia bawa diletakkan di atas kain piknik dan mereka mulai menikmatinya. Hembusan angin yang sejuk membuat mereka menikmati waktu mereka begitu lama di bawah pohon.


Mereka menikmati makanan sambil berbincang dan setelah itu mereka berbaring di bawah pohon menikmati alam dan angin yang berhembus.


Matthew memeluk Vivian yang sedang berbaring bersama dengannya, mereka tampak bahagia begitu juga dengan Jager. Dia bahagia dengan kebersamaan mereka sedangkan Damian memandangi pohon yang rindang sambil berpikir, dia bilang pada ayahnya akan mencari pacar tapi gadis mana yang harus dia dekati? Sepertinya tidak akan mudah karena dia belum banyak mengenal orang di sana. Apa dia harus ikut kencan buta?

__ADS_1


__ADS_2