
Seorang anak buah Thomas, mengancam Clarina dengan cara meletakkan sebuah pisau di bawah leher Clarina. Clarina sangat ketakutan tapi ketika melihat Matthew, dia terlihat sedikit lega.
Dia tahu sahabatnya pasti akan datang menolongnya tapi dia harap Matthew tidak kalah saat melawan Thomas.
Anak buah Matthew masuk ke dalam dan mereka masih saling mengacungkan pistol mereka ke arah musuh begitu juga yang dilakukan oleh musuh mereka.
"Aku tidak menyangka kau bisa melewati anak buahku tanpa terluka sedikitpun," ucap Thomas seraya melihat mata pedangnya.
"Kau terlalu meremehkan aku, Thomas. Tapi aku akui keberanianmu karena kau berani menantangku secara langsung tidak seperti Gary yang selalu bersembunyi di belakang orang lain, aku memuji atas keberanianmu ini," jawab Matthew.
Thomas menyeringai, tentu saja dia dan Gary berbeda. Walau dia tahu Gary hanya memanfaatkannya saja untuk menyingkirkan Matthew, tapi ini adalah moment yang paling ditunggu oleh Thomas.
"Aku sudah lama menunggu moment seperti ini, Matthew. Di mana aku bisa menebas tubuhmu dan membelahnya menjadi dua, rasanya aku sudah tidak sabar melihat kematianmu dan tubuhmu akan aku lemparkan pada anjing liar. Mereka akan memakan setiap inci dagingmu bahkan tulangmu tidak akan tersisa sedikitpun oleh mereka," ucap Thomas sambil menjilati pedangnya.
"Aku tersanjung mendengarnya, Thomas," Matthew membuka jas yang dia pakai.
"Aku akan menemanimu bermain hari ini tapi jangan terlalu sombong!" ucap Matthew lagi sambil menggulung lengan kemejanya.
"Ambil pedangmu Matthew! Kita akan berduel sampai di antara salah satu dari kita mati! Aku tidak akan berhenti sampai aku bisa membunuhmu jadi bersiaplah!"
Matthew hanya tersenyum, dia suka semangat Thomas. Setidaknya dia lebih baik dari pada si pengecut Gary yang menjadikan orang tidak bersalah sabagai sasaran.
Seorang anak buah Matthew mendekati bosnya dan memberikan sebuah pedang kepada bosnya. Matthew mengambil pedangnya dan membuka sarung yang menutupi mata pedang. Pedang tampak berkilat ketika ditarik keluar dan pedang itu siap meminum darah korbannya.
Anak buah mereka menyingkir tapi mereka tetap waspada dengan senjata api mereka. Mereka tidak tahu siapa yang akan menang saat pertarungan nanti dan mereka harus segera menembak musuh saat mendapat perintah.
Di luar sana Damian dan anak buah Matthew, sudah siap menyergap tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat karena sebilah pisau berada di bawah leher sandera. Lagi pula mereka akan masuk menyerang setelah mendapat aba-aba.
Matthew melemparkan sarung pedangnya ke atas lantai sedangkan Thomas membuka jas yang dia pakai dan mengambil pedangnya.
Mereka siap berduel dan mereka berjalan mendekati musuh mereka. Mereka membuat jarak dan siap untuk memulai pertarungan. Kuda-kuda sudah diambil dan pedang sudah diangkat, mereka saling menatap satu sama lain sebelum mereka memulai.
"Siap untuk mati, Matthew?" tanya Thomas.
"Sangat siap untuk menebasmu, Thomas!" jawab Matthew.
"Jangan sombong karena kau yang akan mati!" teriak Thomas dan dia berlari mendekati Matthew begitu juga yang dilakukan oleh Matthew.
"Trang!" benturan kedua pedang memecah keheningan.
Mereka saling pandang sedangkan mata pedang mereka masih beradu. Anak buah mereka melihat tanpa berkedip dan mereka seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukkan horor dan seperti itulah keadaan saat itu.
"Greeekk!" dua mata pedang saling menggesek dan membuat bulu roma meremang bagi setiap orang yang mendengarnya.
Thomas melangkah mundur begitu juga dengan Matthew, mereka kembali mengangkat pedang mereka yang tajam.
"Permulaan yang bagus tapi kau tidak akan bisa selalu menghindari seranganku!" ucap Thomas.
"Tunjukkan padaku kehebatanmu, Thomas."
Thomas kembali berlari mendekati Matthew sambil berteriak dan Matthew juga berlari mendekati Thomas.
"Trang ... trang ... trang!" Thomas terus menyabetkan pedangnya ke arah Matthew sedangkan Matthew hanya menangkis pedangnya tanpa memberi perlawanan.
Thomas tampak senang karena dilihat bagaimanapun dia sudah menang telak karena Matthew hanya bisa menghindar dan menangkis setiap sabetan pedangnya.
__ADS_1
Thomas menyabetkan pedangnya ke kanan tapi Matthew menangkis pedangnya dan dia kembali menyabetkan pedangnya ke kiri tapi lagi-lagi Matthew menangkisnya. Thomas mulai gusar karena Matthew hanya menangkis setiap sabetan pedangnya.
Bunyi benturan kedua pedang terus terdengar dan Matthew terus melangkah mundur seperti terpojok. Thomas bersorak dalam hati karena kemenangan sudah jadi miliknya. Di saat dia melihat ada celah, Thomas menyabetkan pedangnya ke depan dan ... "Crash" pedang Thomas menggores bagian perut Matthew.
'"Hng, hanya seperti itu kemampuanmu tapi kau berani melawanku!" ucap Thomas dengan sombong.
Matthew tersenyum dan menyentuh luka di perutnya, dia memang sengaja melakukannya untuk melihat kemampuan Thomas.
"Kau mengecewakan aku, Thomas," ucap Matthew sambil menjilati darahnya sendiri.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah memberimu kesempatan tapi kau sia-siakan. Aku membiarkan kau menyerang tapi hanya sebuah goresan yang aku dapat. Bukankah kau bilang ingin membelahku? Tunjukkan kemampuanmu padaku Thomas dan belah aku!"
"Sialan! Jangan sombong kau! Kali ini aku pasti akan memenggal kepalamu!" ucap Thomas kesal.
"Tunjukkan padaku tapi jagalah lenganmu baik-baik karena selanjutnya aku tidak akan memberikan kesempatan lagi padamu!"
"Kau tidak akan pernah bisa melukaiku!" teriak Thomas.
Mereka kembali menyabetkan pedang mereka tapi kali ini situasi berubah. Matthew tidak saja menangkis tapi dia juga menyerang Thomas dan menyabetkan pedangnya dengan cepat. Thomas mulai terpojok dan dia mulai kewalahan menangkis setiap sabetan pedang dari Matthew.
Thomas terus melangkah mundur sedangkan Matthew tidak memberi Thomas celah sedikitpun karena dia terus menyabetkan pedangnya. Beberapa goresan Thomas dapatkan dan dia mulai kewalahan. Kenapa situasi bisa berubah? Bukankah Matthew hanya bisa menangkis serangannya saja tadi? Tapi kenapa justru sekarang dia yang terpojok bahkan dia tidak bisa melihat setiap sabetan pedang yang diberikan oleh Matthew dengan benar.
"Sialan, Matthew Smith! Aku pasti akan membunuhmu!" terika thomas sambil mengayunkan pedangnya.
"Crash!" pedang mengenai sasaran.
"Trang!" pedang jatuh ke atas lantai dengan sebuah potongan lengan.
Thomas berlutut di atas lantai sambil memegangi lengannya yang sudah putus sambil berteriak, darahnya mulai mengalir dan membasahi lantai dan anak buahnya mulai ketakutan melihat kekalahannya.
"Kau sungguh meremehkan aku, Thomas. Aku belajar bermain pedang ketika usiaku tujuh tahun, apa kau pikir kau bisa menebasku dengan mudah?" Matthew berdiri di depan Thomas dan meletakkan pedangnya di leher Thomas.
"Sialan, bunuh semuanya!" teriak Thomas tapi pada saat itu ....
"Prang ... dor ... dor ... dor!" Damian dan anak buah yang berada di luar mendobrak masuk melalui jendela dan menembak anak buah Thomas dan sasaran pertama Damian adalah orang yang sedang menodongkan pisau di leher Clarina.
Wajah Clarina tampak pucat karena sebuah peluru melesat ke arahnya, Clarina menutup matanya dan tampak ketakutan karena dia pikir dia akan mati tertembak tapi ternyata, orang yang menodongkan pisau di bawah lehernya ambruk di sampingnya.
Baku tembak terjadi di dalam sana tapi sayangnya, anak buah Thomas kalah karena selain mendapat serangan mendadak mereka juga mendapat serangan dari anak buah Matthew yang memang sudah mengincar mereka.
Thomas hanya bisa melihat anak buah mati dan kemudian dia tertunduk lesu karena dia sudah kalah telak.
"Bunuh aku sekarang, Matthew," pinta Thomas.
"Kau tidak akan mati dengan mudah, Thomas. Kau sudah berani bekerja sama dengan si pengecut Gary dan menggunakan wajahku saat berbuat kejahatan maka kau juga Gary, tidak akan mati dengan mudah!"
"Bunuh aku sekarang!" teriak Thomas.
"Bawa dia, James. Aku akan membereskan mereka setelah aku menangkap Gary!" perintah Matthew.
"Baik, Master," jawab James dan dia segera melumpuhkan Thomas.
Matthew mengangkat pedangnya dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengelap darah Thomas sedangkan Damian berjalan ke arah Clarina untuk membebaskannya.
__ADS_1
Mata Clarina tidak lepas dari Damian, siapa pria itu? Kenapa dia tidak tahu jika Matthew punya teman setampan itu?
Tali yang mengikat tangan dan kaki Clarina dilepaskan oleh Damian begitu juga dengan lakban yang menutupi mulutnya.
"Apa kau tidak apa-apa, Nona?" tanya Damian basa basi.
"Aku ... aku takut," jawab Clarina seraya memeluk Damian. Pria tampan tidak boleh dilewatkan.
"Sudah tidak apa-apa, kau sudah aman sekarang," ucap Damian.
"Kakiku lemas, tolong gendong aku" pinta Clarina.
"Hah?" Damian jadi canggung.
"James, perintahkan dua orang untuk menggendong Clarina," perintah Matthew.
"Enak saja! Dasar penghancur suasana!" ucap Clarina kesal.
"Dasar kau bodoh! Baru kembali dari Paris tapi sudah tertangkap. Apa kau tidak bisa membedakan mana aku yang asli dan palsu?"
"Hey, aku benar-benar mengira itu adalah kau!" jawab Clarina.
"Ck, sudahlah!" ucap Matthew seraya mengambil ponselnya.
"Tapi, Matth. Dia bilang ayahku tertangkap, apa benar?" tanya Clarina.
"Benar," jawab Matthew singkat.
"Oh no, kau tidak bercada bukan?"
"Tidak karena saat ini San Franscisco City Hall sedang dikepung dan ayahmu ada di sana."
"Oh tidak, Daddy," Clarina tampak khawatir.
"Mich, segera lihat keadaan gedung San Franscisco City Hall," perintah Matthew.
"Baik, Kak," Michael segera meretas dan ketika dia sudah mendapatkan rekaman di gedung San Franscisco City Hall, sebuah ledakan dahsyat terjadi di sana.
"Tempat itu meledak!" ucap Michael.
"Apa kau bilang?"
Meledak? Bagaimana dengan Vivian? Sepertinya dia harus pergi ke sana.
"Damian, aku harus membantu adikmu terlebih dahulu. Kau pergilah bersama dengan James untuk menyelamatkan ayahmu," ucap Matthew.
"Tidak perlu khawatir, aku bisa membawa anak buahku pergi ke sana."
"Baiklah, ayo kita pergi dan seseorang akan mengantarmu, Clarina."
Clarina mengangguk dan mereka segera keluar dari tempat itu, sesuai dengan perintah, James melemparkan beberapa bola dan tidak lama kemudian, tempat itu meledak.
Damian segera pergi bersama dengan James untuk mencari keberadaan Jager Maxton, sedangkan Clarina diantar oleh salah satu anak buah Matthew.
Matthew menggunakan motor menuju gedung San Franscisco City Hall dan dia harap, Vivian baik-baik saja.
__ADS_1