
Beberapa saat lalu, sebelum menerima ajakan makan siang dari Maxton, Vivian sedang mendatangi kantor Scott untuk mengusut kasus kematiannya lebih lanjut.
Bagaimanapun Scott adalah orang yang pernah membantunya dan dia harus menemukan pelaku yang membunuhnya untuk balas budi. Vivian tidak pergi ke sana sendiri dan dia pergi bersama dengan Ana yang memang mendapat tugas itu sejak awal.
Jujur saja, selama menuju ketempat Scott bekerja, Vivian sedikit khawatir akan bertemu dengan Carlk karena pria itu bagaikan hantu yang bisa muncul tiba-tiba.
Sebaiknya dia mulai memikirkan hal ini baik-baik dan menaruh curiga dengan Carlk, kenapa mereka bisa tiba-tiba bertemu? Satu kali mungkin bisa dia maklumkan tapi ini sudah dua kali dan jika sampai tiga kali mereka bertemu tanpa kesengajaan lagi maka dia akan menganggap Carlk mengikutinya selama ini.
Tapi untungnya kekhawatirannya tidak terjadi, jujur saja dia tidak mau bertemu dengan Carlk lagi dan ingin melupakan Carlk untuk selamanya. Dia juga tidak mau membuat Matthew cemburu dan marah hingga menggangu hubungan mereka bahkan setelah menyetujui permintaan Jager untuk makan siang bersama, Vivian menghubungi Matthew untuk mengabarinya jika dia akan pergi menemui Jager dan Damian untuk makan siang. Dia melakukan hal itu agar Matthew tahu siapa yang dia temui dan dia menghubungi Matthew saat Ana tidak ada.
Ketika menerima telephone dari Vivian, Matthew sedang membahas pekerjaan dengan adiknya dan begitu melihat Vivian yang menghubunginya, Matthew langsung menjawab tanpa membuang waktu.
"Ada apa babe? Apa kau rindu denganku?"
"Tidak," jawab Vivian.
"Jadi kau tidak rindu denganku?" goda Matthew.
"Bukan begitu, oh my God stop menggodaku!" ucap Vivian.
Matthew hanya terkekeh, dia memang suka menggoda Vivian dan bisa dia tebak, wajah Vivian pasti sedang memerah saat ini dan memang itulah yang terjadi.
"Ada apa babe? Jika kau tidak rindu denganku lalu ada apa?"
"Matth, aku hanya ingin memberitahumu jika Jager Maxton mengajakku makan siang nanti."
"Oh ya?"
"Ya, Jager dan Damian mengajakku makan siang di Mersea Restaurant and Bar, kau tidak keberatan bukan?"
"Tidak, pergilah temui mereka, aku tidak akan keberatan mengenai hal ini dan aku hanya keberatan jika kau pergi menemui Carlk!"
"Baiklah, aku hanya tidak ingin kau marah karena di sana ada Damian."
Sebuah senyuman menghiasai wajah Matthew, dia sangat senang Vivian mau mengatakan dengan siapa dia akan bertemu dan sepertinya Vivian semakin terbuka.
"Aku senang kau mau mengatakan hal ini padaku babe dan aku harap saat kau bertemu dengan Carlk kau juga langsung mengatakannya padaku."
"Pasti Matth, aku tidak ingin membuatmu marah dan aku tidak ingin kau mengira jika aku menganggapmu sebagai pelarian untuk melupakan Carlk."
"Baiklah, sepertinya nanti malam kau akan mendapat hadiah," ucap Matthew.
"Oh ya? Sepertinya hadiahnya sangat menyenangkan dan aku sudah tidak sabar menantikannya Mr Smith."
"Sekarang sudah nakal ya."
"Kau yang mengajariku," jawab Vivian sedangkan Matthew kembali terkekeh.
__ADS_1
Pada saat itu, Ana sudah kembali. Karena tidak ingin Ana mendengar pembicaraan mereka jadi Vivian segera menyudahi pebicaraan mereka.
Hari ini penyelidikan mereka tidak membuahkan hasil karena menurut rekan sekantor Scott, dia tidak punya musuh. Walaupun tidak membuahkan hasil, mereka akan kembali menyelidiki kasus ini lebih lanjut.
Setelah selesai melakukan penyelidikan, waktu jam makan siang sudah hampir tiba. Vivian meminta Ana kembali sendiri karena dia ingin menemui Jager dan Damian.
Entah mengapa mereka mengajaknya makan siang tapi dia tidak mau memikirkan hal ini. Cukup temui mereka, makan dan setelah itu pergi.
Vivian segera menuju Mersea Restaurant and Bar dan begitu melihat Jager dan Damian, Vivian sangat heran karena Jager tampak bahagia saat melihatnya.
Walaupun terasa aneh tapi dia akan tetap makan siang bersama dengan mereka, lagipula dia sudah berada di sana.
"Selamat siang tuan Max, maaf jika aku terlambat dan membuat kalian menunggu," ucap Vivian basa basi.
"Tidak apa-apa Angel, kami baru saja tiba jadi tidak perlu khawatir," jawab Damian.
"Terima kasih tuan Max," jawab Vivian seraya duduk di depan Jager dan Damian.
"Apa kau sedang sibuk Angel?" tanya Jager.
"Aku selalu sibuk sepanjang waktu tuan Max."
"Baiklah, aku harap kami tidak menggangu pekerjaanmu."
"Tidak ini jam makan siang, aku tidak merasa terganggu sama sekali," jawab Vivian sambil tersenyum.
"Angel, apakah aku tidak boleh tahu dari mana asalmu?" tanya Jager sambil memandangi Vivian penuh harap.
Vivian kembali tersenyum, entah kenapa Jager Maxton selalu menanyakan hal ini dan dia merasa sedikit tidak nyaman.
"Maaf tuan Max, aku tidak bisa menjawabnya," tolak Vivian dengan sopan.
Jager terlihat sedikit kecewa tapi dia tidak akan menyerah untuk mencari tahu lebih jauh mengenai Vivian.
"Apa kedua orangtuamu masih hidup Angel?" tanya Jager lagi.
"Ya, mereka masih ada."
"Apa kami boleh tahu siapa orangtuamu?" tanya Jager lagi dan Damian berusaha menahan ayahnya.
"Dad," Damian menggeleng sebagai isyarat supaya ayahnya tidak terburu-buru jika tidak Vivian akan marah dan pergi.
Vivian memandangi Damian dan Jager secara bergantian, ada apa dengan kedua orang ini?
"Tuan Max, aku datang kemari bukan untuk diintrogasi oleh kalian dan aku datang kemari karena menghargaimu tuan Max tapi jika kalian mengundangku makan siang hanya untuk mengetahui kehidupan pribadi dan identitasku maka sebaiknya aku pergi," ucap Vivian dan dia bangkit berdiri tapi Damian segera menahannya.
"Bukan begitu Angel, jangan salah paham. Maaf kami tidak bermaksud mengintrogasimu, daddy hanya penasaran jadi maafkan kami," ucap Damian.
__ADS_1
"Maafkan aku nak, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman," ucap Jager sambil menghela nafas.
Vivian tersenyum dan kembali duduk, dia jadi tidak tega melihat kesedihan di wajah Jager Maxton. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Matthew, mungkin Jager Maxton rindu dengan anaknya saat melihatnya karena wajahnya yang mirip dengan wajah istrinya.
"Maaf jika aku tidak sopan tuan Max," ucap Vivian.
"Tidak, kamilah yang minta maaf," jawab Damian.
"Baiklah, apa kita bisa mulai? Waktuku tidak banyak karena setelah ini aku harus kembali ke kantor."
Damian mengangguk dan segera memanggil pelayan untuk memesan makanan. Dia membiarkan Vivian memesan makanan apa yang dia mau dan saat makan, Vivian lebih memilih diam karena dia tidak tahu harus membicarakan apa.
Dia menikmati makanannya sambil mendengar percakapan Damian dan Jager dalam bahasa Jepang yang dia tidak mengerti sama sekali, seharusnya dia belajar dari Mioko supaya dia bisa mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
Selama ini dia mendapat tugas diberbagai tempat bahkan saat berbicara dia tidak menggunakan aksen yang digunakan oleh orang Inggris pada umumnya, dia bisa beradaptasi ditempat dia tugaskan sehingga tidak ada yang tahu jika dia dari Inggris. Itu sangat diperlukan agar buronan tidak mengetahui asal usulnya.
Setelah selesai makan, Vivian melihat jam di pergelangan tangannya dan sepertinya dia sudah harus pamit karena waktu jam makan siangnya sudah hampir habis dan dia sudah harus kembali ke kantor.
"Maaf tuan Max, aku sudah harus kembali ke kantor."
"Nak, apa kau mau makan siang dengan kami lagi?" tanya Jager.
"Pasti tuan Max," jawab Vivian sambil tersenyum.
"Aku sangat senang mendengarnya dan maafkan sikapku yang tadi."
"Jangan dipikirkan tuan Max, terima kasih atas makan siangnya," ucap Vivian seraya bangkit berdiri.
Saat Vivian sudah berpamitan dan pergi, Jager sedikit terlihat sedih karena mereka harus berpisah tapi apalah daya, sebelum dia mendapatkan bukti jika Vivian adalah putrinya maka dia harus bersabar dan tidak lama lagi dia akan tahu semuanya.
"Dad, kau membuatnya takut," ucap Damian setelah Vivian pergi.
"Daddy hanya ingin tahu Damian."
"Tapi kita tidak bisa terburu-buru seperti itu dad. Kita harus pelan-pelan dan jika kita terburu-buru, aku khawatir dia shock saat mengetahui kebenarannya."
"Kau benar, maaf daddy selalu terburu-buru."
"Tidak apa-apa, aku tahu daddy sudah tidak sabar begitu juga denganku."
"Baiklah, ayo kita segera pergi," ajak Jager seraya bangkit berdiri.
"Mau ke mana dad?" Damian memandangi ayahnya.
"Matthew Smith, kita akan pergi menemuinya dan minta bantuannya."
"Baiklah, aku akan menemani daddy untuk meminta bantunnya."
__ADS_1
Setelah membayar makanan yang mereka makan, Jager dan Damian segera pergi untuk menemui Matthew. Semoga Matthew mau percaya dengan apa yang mereka katakan dan mau membantu mereka.