Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Extra Part: Tidak Perlu Malu.


__ADS_3

Hari itu, Jager mengunjungi makam istrinya. Hari ini dia mau menemui putrinya dan melihat keadaannya tapi sebelum itu dia mau berbicara dengan istrinya.


Tentu saja dia mau memberi istrinya kabar jika putri mereka sedang hamil dan mereka akan segera punya cucu. Walau istrinya tidak bersama dengannya tapi dia yakin, istrinya pasti bahagia mendengar kabar ini.


Seikat bunga Jager letakkan di depan batu nisan istrinya, sedangkan tangannya mengusap makam istrinya. Jager tersenyum melihat foto istrinya, dia benar-benar bahagia saat ini.


"Cristiana, apa kabarmu, Sayang?" Jager masih mengusap makam istrinya.


"Hari ini aku datang untuk memberimu kabar gembira. Kau tahu? Putri kita sedang hamil dan sebentar lagi kita akan punya cucu. Aku tidak pernah membayangkan hal ini dan aku benar-benar senang. Padahal sewaktu muda aku banyak melakukan kejahatan tapi Tuhan masih baik padaku dan memberikan kesempatan untukku melihat putri kita. Walaupun aku harus kehilangan dirimu tapi aku sangat bersyukur aku masih bisa bersama dengannya bahkan aku masih punya kesempatan untuk mengetahui kabar gembira ini. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk menggendong cucu kita dan aku harap, kau bisa melihat kami nanti dan bahagia," ucap Jager dan dia masih mengusap batu nisan istrinya.


Walau kebersamaan mereka tidak lama tapi kenangan yang telah mereka lalui bersama tidak bisa dia lupakan sampai kapanpun apalagi hanya Cristiana satu-satunya wanita yang dia cintai.


Jager bangkit berdiri ketika Damian menghampirinya, mereka berdiri bersama dan Jager merangkul bahu putranya.


"Adikmu sudah hamil sekarang, jadi kapan kau akan memberikan aku seorang menantu dan cucu?" tanya Jager.


"Aku sedang berusaha, Dad," jawab Damian.


"Oh ya? Apa kau sedang dekat dengan seseorang?" tanya Jager penasaran.


"Aku hanya bilang sedang berusaha bukan berarti aku dekat dengan seseorang, Dad," jawab Damian lagi.


Jager terkekeh, sepertinya putranya tidak memiliki pengalaman dekat dengan wanita dan mungkin dia harus membantu.


"Apa perlu bantuan Daddy?" goda Jager.


"Tidak! Ini memalukan!" tolak Damian.


"Ayolah, Daddy kenal seorang gadis baik."


"Siapa?" tanya Damian penasaran.


"Jadi, apa mau Daddy kenalkan?" Jager masih menggoda putranya.


"Tidak! Sebaiknya kita pergi," ajak Damian.


"Ayolah, tidak perlu malu," Jager mengikutinya langkah putranya.


"Tidak mau, Dad. Aku bisa cari sendiri!"


Jager masih menggoda putranya, sedangkan Damian hanya menggeleng. Memangnya gadis mana yang ayahnya kenal?


Walau begitu dia tidak mau dibantu oleh ayahnya dalam percintaan karena hal itu sangat memalukan.


Mereka segera menuju rumah Matthew untuk melihat keadaan Vivian, sedangkan saat yang bersamaan keluarga Matthew juga datang.


Alice dan Kate membawakan makanan untuk Vivian dan tentunya Ainsley juga datang karena dia sedang tidak pergi ke mana-mana.


Mereka berada di dapur saat itu dan menghidangkan makanan yang mereka bawa untuk Vivian. Matthew sedang pergi ke kantor oleh sebab itu mereka datang untuk menemani Vivian.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu, Sayang. Apa kau masih mual?" Kate bertanya kepada menantunya.


"Aku baik-baik saja, Mom," jawab Vivian sambil tersenyum.


"Aku dengar kau ingin pulang ke Inggris bersama Matthew, apa benar?" tanya Alice.


"Iya, Nenek. Aku ingin mengunjungi keluargaku yang ada di sana dan aku juga ingin mengambil barang-barangku."


"Baiklah, tapi jika keadaanmu kurang baik lebih baik tidak memaksakan diri," ucap Alice lagi.


"Aku tidak apa-apa, percayalah," Vivian tersenyum. Dia tahu mereka pasti sedang mengkhawatirkan keadaannya tapi dia sangat ingin pulang ke Inggris untuk melihat keadaan keluarganya.


Pada saat itu, Jager dan Damian sudah datang. Seorang pelayan mengantar mereka masuk dan ketika melihat mereka, Vivian sangat senang.


"kalian juga ada di sini?" tanya Jager ketika melihat Albert dan Jacob.


"Ya, mereka ingin mengantar makanan," jawab Albert sambil menunjuk ke arah istrinya.


"Dad, kenapa tidak mengabari aku jika kalian mau datang?" Vivian menghampiri ayahnya dan memeluknya.


"Daddy hanya ingin melihat keadaanmu saja, Sayang. Bagaimana, apa kau baik-baik saja?"


"Tentu, Dad," jawab Vivian sambil tersenyum.


Jager dan Damian segera bergabung dengan yang lain, sedangkan Vivian masuk ke dapur karena dia ingin membuat minuman untuk ayah dan kakaknya.


"Kak, mau apa?" tanya Ainsley.


"Membuat minuman untuk Daddy dan Kakak," jawab Vivian.


"Mereka datang?" tanya Ainsley lagi.


"Ya," jawab Vivian sambil mengangguk.


"Berikan padaku, biarkan aku yang melakukannya," Ainsley mengambil gelas yang ada di atas meja.


Vivian melihat Ainsley sambil tersenyum, entah kenapa dia jadi ingin menggoda Ainsley.


"Ainsley, apa kau menyukai kakakku?" tanya Vivian tanpa maksud apa-apa.


"Trang!" sendok yang dipegang oleh Ainsley jatuh dari tangannya.


"A-apa?" Ainsley tampak gugup, sedangan Vivian terkekeh.


"Apa tebakanku benar?" tanya Vivian.


"Ti-tidak! Kakak Ipar jangan sembarangan bicara!" ucap Ainsley dengan wajah bersemu.


"Aku lihat kau memeluk kakakku ketika di rumah sakit. Tidak perlu malu jika memang kau suka," ucap Vivian.

__ADS_1


"Tidak, Kakak Ipar menyebalkan!" Ainsley membawa minuman yang sudah dia buat dan berlalu pergi.


Vivian hanya terkekeh melihatnya, dia kembali bergabung dengan nenek dan ibu mertuanya. Di luar sana, Ainsley meletakkan minuman di atas meja dan duduk di samping Jager Maxton.


Damian sedang membahas sesuatu dengan Albert dan Jacob dan mereka terlihat serius.


"Hy, Girl," Jager menyapa Ainsley yang ada di sampingnya.


"Hy, Uncle," Ainsley tersenyum dengan manis.


"Apa kau sudah punya pacar?"


"Tidak Uncle, tapi aku tidak tertarik dengan pria tua," jawab Ainsley bercanda, sedangkan Jager terkekeh.


"Bukan aku, tapi pria itu," Jager menunjuk ke arah Damian.


"Bagaimana menurutmu pria di sana?" tanya Jager.


Ainsley hanya tersenyum, apa yang mau disampaikan oleh ayah Damian.


"Aku beri tahu, dia juga jomblo sejak lahir," ucap Jager sambil berbisik.


Ainsley terkekeh dan setelah itu dia berkata, "Aku juga jomblo sejak lahir, Uncle."


"Wah, kalian cocok," ucap Jager dan dia tidak menyadari jika Damian melihatnya dengan tatapan curiga.


Apa yang sedang dibicarakan oleh ayahnya bersama dengan Ainsley? Dia benar-benar curiga akan hal itu.


"Hm, Dad," Damian menyela karena dia takut ayahnya bicara yang tidak-tidak dengan Ainsley.


"Aku pergi dulu, Uncle," ucap Ainsley sambil bangkit berdiri.


"Ck, kau mengganggu Daddy saja!" ucap Jager, sedangkan Damian menggeleng.


Saat itu di kantor, Matthew sedang menunggu adiknya yang saat itu sedang sibuk di depan komputernya karena seorang peretas sedang berusaha menyusup ke dalam sistem perusahaan mereka.


"Bagaimana, Mich?" tanya Matthew.


"Sedikit lagi, Kak. Aku jamin orang ini tidak akan bisa menyusup," jawab Michael dan tangannya masih sibuk.


"Siapapun kau, jangan harap bisa dan terlalu cepat seratus tahun untukmu melawanku!" ucap Michael dan dia segera mengirim sebuah virus untuk lawan.


Di tempat yang jauh dari sana, seorang gadis tampak mengerutu sambil mengunyah permen karet karena komputernya tiba-tiba eror.


"Sial! Gagal lagi!" ucap Gadis itu.


Michael mematikan komputernya dan tampak puas. Itu sudah ketiga kalinya seseorang ingin menyusup dan selalu dia gagalkan. Dia rasa orang yang melakukannya adalah orang yang sama dan dia akan bermain dengan orang itu lagi jika dia masih berani menyusup.


Michael segera mengikuti kakaknya pergi dan dia tidak tahu jika suatu hari nanti dia akan bertemu dengan orang itu.

__ADS_1


__ADS_2