
Suara mesin mobil yang menyala dan rasa dingin yang menyentuh dahinya, membangunkan Vivian dari pingsannya.
Vivian segera bangun dengan terburu-buru dan pada saat itu juga, Vivian memegangi kepalanya yang berdenyut dan terasa sakit luar biasa.
"Jangan bangun tiba-tiba babe," ucap Matthew.
Vivian memandangi Matthew dan setelah itu dia memandangi sekelilingnya, mereka berada di dalam mobil tapi mereka masih ada di bandara.
"Kenapa kita ada di mobil Matth?"
"Kau pingsan apa kau tidak ingat?"
"Oh tidak, mommy and daddy," ucap Vivian dan dia segera membuka pintu mobil.
"Babe, jangan keluar!" cegah Matthew tapi Vivian tidak perduli dan sudah berlari pergi memasuki bandara.
"Babe!" teriak Matthew untuk mencegah Vivian tapi Vivian sudah berlari menjauh.
Matthew segera mematikan mesin mobilnya, dia memang sengaja membawa Vivian ke dalam mobil karena situasi di dalam bandara dipenuhi dengan para keluarga korban pesawat yang jatuh.
Mereka terus berdatangan sehingga dia tidak punya tempat untuk membaringkan tubuh Vivian dan selama dia membawa Vivian menuju mobil, ponsel Vivian terus berdering tanpa henti.
Denyutan dan rasa sakit di kepalanya semakin terasa bahkan suhu tubuhnya terasa panas tapi Vivian tidak memperdulikan keadaannya dan berlari mendekati kerumunan dengan berderai air mata. Dia sungguh ingin tahu bagaimana dengan keadaan keluarganya saat ini.
Hatinya semakin dipenuhi perasaan takut apalagi keluarga korban terlihat sedang menangis. Sebuah layar besar yang ada di atas dinding, memunculkan nama-nama penumpang yang menaiki pesawat tersebut dan Vivian berdiri di bawahnya untuk melihat setiap nama yang terdapat di sana dengan teliti.
Matanya tak lepas dari layar televisi dan begitu melihat nama ayah dan juga ibunya, air mata Vivian kembali mengalir dengan deras.
Vivian melangkah mundur sambil bergumam, "Tidak, tidak mungkin!"
Dengan perasaan hancur, Vivian berlari mendekati kerumunan orang-orang yang sedang mencari infomasi karena dia ingin mencari tahu bagaimana keadaan keluarganya.
"Mommy, daddy, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada kalian," ucap Vivian sambil masuk ke dalam kerumunan.
Sementara itu Matthew mencarinya, kemana Vivian pergi? Padahal ada hal penting yang ingin dia bicarakan tapi sebelum dia bisa menjelaskan, Vivian sudah lari.
Seharusnya dia menahan Vivian tadi dan sekarang dia hanya bisa mencarinya diantara kerumunan orang-orang yang ada di bandara karena Vivian meninggalkan ponselnya di mobil.
Vivian berdiri di belakang kerumunan orang-orang yang ingin tahu keberadaan keluarga mereka melalui beberapa petugas yang ada di sana. Walaupun situasi sedang panik tapi mereka berbaris dengan tertib untuk mencari informasi terbaru. Tidak mereka saja, para keluarga korban yang baru tiba mulai berdiri di belakang Vivian.
Ada yang terlihat menangis ada pula yang menenangkan, mereka menunggu informasi dengan sabar tapi ada juga yang tidak sabar untuk mengetahui keberadaan keluarga mereka.
Vivian hanya bisa menunduk dengan perasaan campur aduk, sesekali dia terlihat menghapus air matanya yang terus mengalir sedangkan Matthew mulai mencarinya diantara kerumunan sambil melihat ponselnya.
Karena sulit menemukan Vivian diantara begitu banyak orang jadi dia mencari Vivian menggunakan ponselnya, dia bisa menemukan Vivian dengan mudah dari alat pelacak yang ada di gelang Vivian.
Matthew segera menghampiri barisan orang-orang yang sedang mengantri dan begitu melihat Vivian, dia segera meraih tangan Vivian dan membawanya pergi.
__ADS_1
"Matth, kenapa kau menarikku?!" protes Vivian.
"Kita pulang babe," jawab Matthew seraya menarik Vivian menjauhi kerumunan.
"Apa? Jangan bercanda Matth! Aku ingin mencari tahu keadaan keluargaku tapi kenapa kau mengajak aku pulang?!"
"Aku tahu babe, tapi mereka?"
"Lepaskan aku Matth, aku tidak mau pulang!" Vivian menyela ucapan Matthew dan menarik tangannya.
"Tapi babe, tidak ada gunanya kau berada di sini karena mereka?"
"Stop Matth, jika kau ingin pulang, pulang sana!" teriak Vivian marah sambil menangis.
"Oh my, bisakah kau tidak menyela ucapanku? Aku belum selesai berbicara tapi kau selalu menyela dan tidak mau mendengarkan aku!"
Vivian hanya diam saja sambil menghapus air matanya, sedangkan Matthew mendekati Vivian dan memeluknya.
"Dengar, tidak ada gunanya kita di sini karena mereka baik-baik saja," ucap Matthew seraya mengusap kepala Vivian dengan lembut.
Vivian sangat kaget mendengarnya, apa benar? Apa Matthew tidak sedang bercanda dan mengatakan hal ini semata-mata ingin menghiburnya?
"Bagaimana kau tahu?" tanya Vivian tidak percaya. Dia baru saja melihat nama kedua orangtua dan juga kakeknya di dalam daftar nama penumpang pesawat yang mengalami kecelakaan tapi kenapa Matthew berkata jika mereka baik-baik saja?
"Saat kau pingsan ponselmu terus berbunyi jadi aku menjawabnya, aku kira itu dari siapa tapi ternyata itu dari kakekmu dan dia mengatakan jika mereka tertahan di New York."
"Jika kau tidak percaya kau bisa menghubungi mereka!" ucap Matthew tapi sebelum selesai mendengar ucapannya, Vivian sudah berlari pergi karena dia sudah tidak sabar memastikan apa yang dikatakan oleh Matthew benar atau tidak.
"Ck, kakinya benar-benar cepat!" gerutu Matthew dan dia segera menyusul Vivian.
Ini adalah kabar baik untuk Vivian dan dia juga kaget, ini benar-benar keajaiban. Tadinya dia sempat ragu untuk menjawab panggilan yang masuk ke dalam ponsel Vivian tapi ponsel Vivian terus berbunyi dan akhirnya Matthew memutuskan untuk menjawabnya.
Tapi siapa yang menyangka jika ternyata yang menghubungi Vivian adalah kakeknya dan ternyata mereka baik-baik saja. Vivian tampak tidak sabar berdiri di samping mobil, dia tidak bisa mengambil ponselnya karena pintu mobil dalam keadaan terkunci.
Matthew mendekatinya sambil tersenyum dan begitu pintu mobil terbuka, Vivian segera mengambil ponselnya untuk menghubungi kakeknya.
Dia sangat ingin memastikannya dan sebelum mendengar suara kakek dan kedua orangtuanya, dia tidak akan tenang sama sekali.
Tidak butuh lama, terdengar suara kakeknya menjawab telephone darinya dan saat itu juga Vivian langsung terduduk di kursi mobil dan menangis karena lega.
Dia benar-benar lega, sangat lega ternyata keluarganya baik-baik saja.
"Kakek," ucap Vivian dengan suara bergetar.
"Vivi, kami ada di New York," ucap kakeknya.
"Kalian baik-baik saja? Oh my God, aku kira kalian?" Vivian tidak sanggup melanjutkan ucapannya dan menangis terisak.
__ADS_1
"Kami juga kaget Vivi, tadinya kami memang sudah mau naik ke dalam pesawat itu tapi tiba-tiba saja ada yang memohon pada kami untuk menukar tiketnya karena mereka sedang terburu-buru sedangkan penerbangannya masih harus menunggu beberapa jam lagi. Karena iba, mommy dan daddy mu memberikan tiket mereka dan kami membantu sampai mereka naik pesawat dan setelah itu kami mencari penerbangan lain," jelas kakeknya.
"Syukurlah, syukurlah, aku benar-benar takut kehilangan kalian," Vivian masih menangis dan dia benar-benar lega karena kejadian itu keluarganya baik-baik saja.
"Jangan menangis, karena cuaca buruk jadi pesawat yang kami tumpangi tertahan di New York. Besok pagi kami akan berangkat ke sana jadi jangan menangis."
"Bagaimana dengan mommy dan daddy, kakek?"
"Mereka sedang menghubungi yang lainnya jadi jangan khawatir."
"Aku benar-benar lega kalian baik-baik saja," Vivian menghapus air matanya dan bersyukur dalam hati jika keluarganya baik-baik saja.
"Baiklah, kakek dengar kau ada di bandara jadi segeralah pulang, ini sudah malam dan pria yang berbicara dengan kakek tadi? Katakan padanya, siapkan bokongnya saat kakek tiba besok."
Vivian tersenyum dan memandangi Matthew yang sedang berdiri di depannya, dia sangat bersyukur ada Matthew di sana jika tidak mungkin dia akan seperti orang gila saat ini di bandara.
"Pasti kakek, aku akan membantu kakek memeganginnya nanti" ucap Vivian.
Setelah berbicara dengan kakeknya, Vivian menyimpan ponselnya dan menghampiri Matthew juga memeluknya. Dia benar-benar bersyukur semua baik-baik saja dan dia juga bersyukur ada Matthew di sana.
"Sudah tidak apa-apa bukan?" ucap Matthew seraya mengusap kepalanya.
"Aku benar-benar bersyukur Matth dan ini adalah keajaiban."
"Jadi? Bagaimana jika besok kita ke New York untuk menjemput mereka supaya kau tidak khawatir lagi."
"Ide bagus tapi akan memakan biaya yang besar bukan?"
"Serahkan padaku, kau cukup duduk manis tanpa mengeluarkan uang sepeser pun."
"Yang benar?"
"Yes," jawab Matthew seraya mencium pipinya.
"Aku benar-benar bersyukur Matth," ucap Vivian sambil memeluk Matthew dengan erat.
"Babe," Matthew menyentuh dahi Vivian yang terasa panas sedangkan Vivian tampak diam saja karena staminanya sudah habis dan dia sedang menahan rasa sakit di kepalanya.
"Ck, kau sakit. Ayo kita pulang!" ajak Matthew.
Ini pasti karena Vivian kehujanan selama dua hari berturut-turut apalagi banyak kejadian yang dia alami dan menguras tenaga juga emosinya.
"Aku tidak apa-apa," jawab Vivian.
"Bodoh! Sebaiknya pulang beristirahat. Jika melihat keadaanmu seperti ini maka kakekmu pasti akan menyalahkan aku."
Vivian mengangguk, setidaknya keluarganya baik-baik saja dan karena kejadian ini, dia tidak punya waktu memikirkan permasalahannya dengan Carlk tapi tidak dengan Carlk, dia akan membalas kedua jarinya yang putus oleh Matthew.
__ADS_1