
Di markas, Alex dan beberapa anak buahnya yang ditangkap dibelenggu menggunakan rantai. Tidak ada siapapun di sana selain mereka.
Begitu mereka sadar dari obat bius, mereka kebingungan karena mendapati mereka entah berada di mana. Mereka berusaha melepaskan rantai yang membelengu tangan dan kaki mereka tapi semua itu sia-sia.
Tempat itu sunyi dan sepi, terkadang terdengar suara binatang tapi entah suara binatang apa dan terkadang ada beberapa orang yang berjaga dan memberi mereka makan dan minum.
Mereka meminta dilepaskan tapi tidak ada yang perduli dengan teriakan mereka. Mereka hanya bisa menunggu nasib baik menghampiri mereka itupun jika ada keajaiban tapi sayangnya siapapun yang ditangkap dan masuk ke dalam tempat itu tidak akan pernah keluar lagi untuk selama-lamanya bahkan, keluarga mereka tidak akan pernah mengetahui keberadaan mereka dan mereka akan dianggap orang hilang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang dan waktu mereka sudah tidak banyak lagi karena Malaikat pencabut nyawa sudah ada di depan pintu siap mengeksekusi mereka.
Matthew turun dari mobilnya saat James membukakan pintu untuknya, hari ini dia akan mencari tahu siapa yang mengutus pembunuh itu untuk membunuhnya. Apa mereka ada hubungannya dengan sniper waktu itu?
Dia belum bertemu dengan Maxton untuk membicarakan sniper yang dia tangkap waktu itu dan jika pembunuh yang ada di dalam sana adalah orang bayaran Maxton juga maka dia tidak akan sungkan lagi untuk menemui pria itu dan menantangnya.
Dia bahkan tidak akan ragu untuk menghancurkan organisasi Black King yang dipimpin oleh Maxton. Bagi siapa saja yang berani memercikkan api permusuhan dengannya maka akan menerima akibatnya dan orang-orang seperti itu pasti akan mati di tangannya.
Suara langkah kaki dan suara pintu yang terbuka membuat Alex dan para anak buahnya segera melihat ke arah pintu. Mereka berharap yang datang adalah keajaiban untuk mereka tapi mereka salah karena yang datang adalah Malaikat maut yang akan mencabut nyawa mereka.
Matthew masuk ke dalam ruangan diikuti oleh James yang berjalan di belakangnya dengan beberapa anak buah. Mereka berjalan menghampiri Alex yang sedang berusaha menarik-narik rantai yang membelenggu tangannya.
"Lepaskan kami!" teriak Alex.
"Kau akan aku lepaskan tapi jawab dulu pertanyaanku!" jawab Matthew.
"Lepaskan dulu baru aku akan menjawab pertanyaanmu!"
"Di sini bukan kau yang memberi penawaran dan kau tidak dalam posisi itu jadi sebaiknya kau mengerti dengan situasi yang sedang kau alami dan kau harus tahu di sini aku yang pegang kendali. Lagi pula, jika aku tidak mau melepaskanmu, Apa yang mau kau lakukan?"
"Maka aku tidak akan menjawab pertanyaanmu!" ucap Alex dengan angkuh.
"Hahahahahaha!" Matthew tertawa terbahak-bahak.
"Aku suka semangatmu dan akan aku buat kau mau menjawab pertanyaanku!" ucap Matthew dengan dingin setelah menghentikan tawanya.
Matthew memutar langkahnya dan berdiri membelakangi Alex, "James, pisahkan yang lain! Aku ingin lihat sampai di mana keberaniannya!" perintahnya.
__ADS_1
"Baik Master!"
Sesuai dengan perintah, Alex dipisahkan dari anak buahnya dan ditarik ke sisi ruangan lain yang berdekatan dengan alat-alat penyiksaan yang ada di atas sebuah meja.
Alex memaki dan meludah karena dia tidak terima ditarik seperti seekor babi buruan yang sudah mau dipotong.
"Ba*ingan kalian semua! Lepaskan aku dari sini!" teriaknya.
"James," Matthew berjalan menghampiri Alex, sedangkan James mengangguk tanda mengerti.
Rantai yang membelenggu tangan Alex ditarik hingga tangan pria itu terentang.
"Mau apa kau?!" tanya Alex.
Matthew berdiri di depan Alex dengan seringai di wajahnya dan pada saat itu, James memberikan sebuah benda tajam kepada Matthew.
"Katakan padaku?" Matthew mengangkat dagu Alex menggunakan pisau yang ada di tangannya.
"Siapa yang membayarmu untuk membunuhku?!"
"Cuih!" Alex meludahi Matthew dan setelah itu dia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahaha!" Matthew tertawa sampai membuat Alex heran tapi dalam sekejap mata saja pisau yang ada di tangan Matthew sudah menancap di wajahnya
Alex berteriak dengan keras sampai teriakannya menggema diseluruh ruangan. Anak buahnya yang menyaksikan hal itu ketakutan bahkan saat Matthew menarik pisaunya dan menancapkannya lagi ke wajah Alex mereka seperti melihat Iblis apalagi hal itu tidak dilakukan hanya satu atau dua kali karena Matthew melakukannya berkali-kali sampai daging yang ada di wajah Alex terlepas dan jatuh ke atas lantai.
Suara teriakan Alex terus terdengar dan darah segar membanjiri wajahnya, dia tidak bisa merasakan wajahnya lagi karena sakit luar biasa yang dia rasakan. Ini benar-benar gila, harusnya dia tidak meludahi pria itu tadi.
"Apa kau masih berani meludahiku?!" tanya Matthew dengan dingin.
Alex tertunduk dan menggeleng, sedangkan Matthew menyeringai melihatnya.
"Jawab pertanyaanku jika tidak lidahmu akan aku bakar sampai habis!" ancam Matthew.
Alex diam saja dan mengatur nafasnya, sakit di wajahnya membuat lidahnya menjadi Kelu dan mulutnya sulit dia gerakkan karena sebagian bibirnya sudah hilang.
__ADS_1
"James, lakukan!" perintah Matthew.
James mengangguk dan pada saat itu, beberapa anak buahnya sudah berdiri di depan sebuah mesin dan menyalakan mesin itu.
Sebuah roda mulai berputar dan rantai yang membelenggu tangan Alex mulai ditarik dari arah yang berlawanan.
Rantai semakin menegang dan tangan Alex mulai tertarik ke arah berlawanan. Alex berteriak karena tarikan yang semakin kuat dan dia merasa daging ketiaknya mulai robek akibat tarikan yang semakin kuat.
"Jawab!" bentak Matthew. Apapun yang terjadi dia harus tahu siapa yang ingin membunuhnya.
Alex tidak menjawab dan terus berteriak dan beberapa menit kemudian, tangan kirinya putus akibat tarikan rantai yang berlawanan arah.
"Arrrgghh!" Alex berteriak dan teriakannya kembali memenuhi ruangan dan para anak buahnya ketakutan menyaksikan hal itu.
"Masih tidak mau menjawab?" tanya Matthew sambil memutar-mutar pisau yang berlumuran darah di tangannya.
"Maxton, Maxton yang ingin membunuhmu!" teriak salah satu anak buah Alex yang ketakutan menyaksikan siksaan yang harus Alex terima. Jangan sampai setelah ini mereka mengalami hal seperti itu.
"Maxton?" Matthew menghentikan memainkan pisaunya.
"Sepertinya Maxton benar-benar mengibarkan bendera perang dan aku terima dengan senang hati!" ucapnya.
James menghampiri Matthew dan mengambil pisaunya, sedangkan Matthew berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya yang berlumuran darah dan mencuci wajahnya.
"Bos, tolong lepaskan kami!" teriak anak buah Alex memohon.
James mendekati Matthew dan memberikan handuk bersih untuk bosnya.
"Bagaimana dengan mereka master?"
"Berikan mereka pada hewan peliharaan daddy dan pria itu?" Matthew mengambil handuk yang diberikan James dan melirik ke arah Alex yang sudah tidak berdaya.
"Lemparkan dia kedalam kolam Piranha!" perintahnya.
"Baik master," James segera berlalu pergi dan memerintahkan anak buah yang ada di sana untuk membawa tawanan mereka dan melemparkan mereka ke dalam kandang hewan peliharaan yang ada di sana. Mereka juga membawa tubuh Alex yang sudah tidak berdaya dan melemparkannya kedalam kolam ikan Piranha.
__ADS_1
Teriakan demi teriakan terdengar dari tempat itu di mana para binatang mencabik-cabik daging korbannya begitu juga yang ada di dalam kolam buaya, para buaya tua mulai memperebutkan daging segar yang menjadi menu makan siang mereka, sedangkan tubuh Alex, sudah tenggelam ke dasar kolam kerena ditarik ikan Piranha.
Ketika sudah selesai, Matthew segera pergi bersama dengan James, setelah ini dia pasti akan membuat perhitungan dengan Maxton.