Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Kabar bahagia.


__ADS_3

Waktu cepat berlalu dan banyak yang telah terjadi. Setelah kembali dari berulan madu, Vivian dan Matthew menghadiri acara pelantikan kakaknya sebagai ketua organisasi Black King yang baru untuk menggantikan ayahnya.


Semua berjalan dengan lancar. Damian menjadi pemimpin organisai Black King yang baru dan dia juga mengelola perusahaan ayahnya. Tentu dia akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengecewakan ayah juga adiknya.


Saat itu, Vivian sedang menyiapkan baju untuk Matthew dan meletakkannya di atas ranjang. Setelah menikah, waktunya dia habiskan bersama dengan Matthew dan jika Matthew pergi ke kantor maka dia akan pergi ke rumah ayahnya.


Hari ini dia juga akan pergi ke rumah ayahnya karena dia sudah berjanji akan menemani ayahnya main catur.


Matthew sedang mandi saat dia sedang menyiapkan pakaian. Entah kenapa sejak kemarin dia merasa kurang enak badan tapi Vivian diam saja karena dia tidak mau membuat Matthew khawatir.


Vivian meletakkan jas di atas ranjang dan pada saat itu, Matthew keluar dari kamar mandi dan menghampirinya.


"Babe."


"Hm?"


"Apa hari ini kau mau pergi ke rumah ayahmu lagi?"


"Ya, aku sudah berjanji akan menemani Daddy bermain catur. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, Mommy meminta kita pulang ke rumah jadi aku akan menjemputmu nanti sore," ucap Matthew seraya mengusap perut Vivian.


Entah kenapa Vivian belum juga hamil padahal dia sudah tidak sabar. Sepertinya mereka harus bekerja lebih keras lagi supaya pasukan mereka cepat tumbuh di dalam sana.


"Babe, kanapa pasukan kita belum tumbuh?"


"hey, kita baru menikah tiga bulan!"


"Tapi aku sudah tidak sabar, Sayang."


Vivian memutar tubuhnya dan mengusap wajah Matthew dengan lembut.


"Sabarlah, Matth. Aku rasa tidak lama lagi pasukan kita akan segera terbentuk," ucapnya sambil tersenyum.


"Aku harap bayi kita kembar enam nanti."


"Are you crazy? Bisa kau bayangkan perutku akan sebesar apa jika aku hamil bayi kembar enam?" ucap Vivian.


"Aku rasa perutmu akan sebesar perut Alien," jawab Matthew bercanda.


"Ck, berarti kau Alien jantan!"


Matthew terkekeh dan mengecup bibir Vivian dengan lembut.


"I love you, Babe."


"Me too."


Mereka berciuman dengan mesra dan setelah itu, Matthew memakai bajunya dan Vivian membantu. Dia harus segera pergi ke kantor karena ada rapat penting dengan para Direksi yang harus dia hadiri dengan adiknya.


Setelah selesai mereka keluar dari kamar untuk sarapan. Beberapa jenis makanan sudah terhidang dan Vivian yang membuat semua itu. Jika dia bosan terkadang dia pergi menemui ibu Matthew untuk belajar memasak karena dia ingin membuatkan makanan untuk Matthew setiap hari.


Matthew mengantar Vivian ke rumah ayahnya sebelum berangkat ke kantor. Walaupun Vivian ingin berangkat sendiri menggunakan motor yang dibelikan oleh suaminya, tapi Matthew ingin mengantarnya karena dia melihat wajah Vivian sedikit pucat.


"Babe, kau tidak apa-apa bukan?" tanya Matthew ketika mereka sudah tiba di rumah ayah Vivian.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," jawab Vivian.


"Kau yakin? Wajahmu terlihat pucat, Sayang," Matthew mengusap wajah Vivian dengan lembut.


"Tidak apa-apa, Matth. Kau tidak perlu khawatir."


"Baiklah, aku akan menjemputmu nanti sore."


"Aku akan menunggumu dan tidak akan ke mana-mana."


"Bagus, masuklah. Aku sudah harus pergi."


Vivian mengangguk dan sebelum turun, sebuah ciuman yang mereka dapat. Mobil Matthew sudah berjalan pergi, sedangkan Vivian berjalan memasuki rumah ayahnya.


Entah kenapa saat itu kepalanya terasa pusing padahal masih pagi dan matahari belum bersinar dengan terik. Mungkin dia sedang tidak enak badan saja dan sebaiknya dia beristirahat nanti.


"Dad."

__ADS_1


Vivian memanggil ayahnya ketika sudah masuk ke dalam rumah dan Jager tampak senang karena putrinya sudah datang.


"Daddy sudah menunggumu, Sayang,"


"Mana kak Damian?"


"Di kantor."


"Baiklah, boleh aku istirahat sebentar, Dad? Kepalaku sakit," ucap Vivian.


"Apa kau tidak apa-apa, Sayang?" Jager menghampiri putrinya dan terlihat khawatir.


"Hanya sakit kepala, Daddy tidak perlu khawatir."


Karena kepalanya semakin berdenyut, Vivian masuk ke dalam kamarnya yang sudah disiapkan khusus untuknya. Tadi kepalanya tidak sakit tapi kenapa tiba-tiba saja kepalanya jadi terasa sakit? Tidak hanya itu, dia juga merasa mual sekarang.


Apa dia masuk angin gara-gara semalam dia pulang dari rumah ayahnya naik motor? Sepertinya begitu dan sebaiknya dia beristirahat.


Karena khawatir dengan keadaan putrinya, Jager menghubungi Damian dan memintanya pulang jika tidak ada pekerjaan penting. Tentu saja Damian segera bergegas setelah mendengar keadaan adiknya.


Jager juga meminta Damian membeli beberapa obat dan dia juga meminta seorang pelayan membuatkan sup untuk putrinya.


Vivian berbaring di atas ranjang ketika Jager masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat ingin mengetahui keadaan putrinya dan jika keadaannya tidak juga membaik maka dia akan memanggil seorang dokter untuk memeriksa keadaan putrinya.


Jager duduk di sisi ranjang dan menyentuh dahi putrinya, dia kira putrinya demam tapi ternyata tidak.


"Apa kau baik-baik saja, Fiona? Daddy akan memangil dokter untuk memeriksa keadaanmu jika keadaanmu masih juga kurang baik."


"Tidak apa-apa, Dad. Aku hanya pusing dan mual, setelah aku beristirahat maka keadaanku akan lebih baik."


"Apa kau tidak mau menghubungi Matthew?" tanya ayahnya.


"Tidak, dia ada rapat penting jadi aku tidak mau mengganggunya," jawab Vivian.


"Baiklah, beristirahatlah lagi. Daddy sedang meminta pelayan membuatkan sup untukmu dan sudah meminta Damian membelikan obat."


Vivian tersenyum, padahal dia tidak mau merepotkan ayahnya tapi entah kenapa keadaannya jadi seperti itu.


Saat itu seorang pelayan mengantar sup yang sudah jadi dan ketika melihatnya, Jager segera mengambil sup itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Vivian tidak tidur lagi dan dia baru saja keluar dari kamar mandi karena dia merasa begitu mual. kepalanya sakit dan pandangannya berputar, rasa mualnya juga semakin menjadi.


"Sayang, kau yakin tidak apa-apa?" Jager semakin khawatir.


"Tidak apa-apa, Dad."


"Baiklah, makan sup ini," Jager meletakkan sup yang dia bawa ke atas meja tapi ketika mencium aroma sup itu, Vivian kembali berlari ke dalam kamar mandi karena mual.


Jager tambah khawatir dan merasa sedikit curiga, apakah mungkin putrinya?


"Fiona, apakah kau ...."


"Maaf, Dad. Sepertinya kita tidak bisa bermain catur hari ini," Vivian menyela ucapan ayahnya.


"Jangan dipikirkan, Sayang. Ayo tidur lagi," pinta ayahnya seraya mendekatinya.


Vivian mengangguk dan mencuci wajahnya. Dia hendak mengambil handuk untuk mengeringkan wajahnya tapi tiba-tiba saja pandangannya berputar dan menjadi gelap.


"Fiona!" Jager berteriak ketika melihat tubuh putrinya mau jatuh. Dia segera berlari untuk menangkap tubuh putrinya dan tampak ketakutan.


Di luar sana, Damian sudah kembali. Dia segera berlari menuju kamar adiknya ketika mendengar suara teriakan ayahnya.


"Ada apa?"


"Cepat, Damian. Adikmu pingsan!" ucap ayahnya.


Damian berlari mendekati ayahnya dan menggendong tubuh adiknya yang sudah pingsan.


"Panggil dokter, cepat!" perintah Jager.


Damian menghubungi dokter pribadi mereka setelah membaringkan adiknya, sedangkan Jager duduk di sisi ranjang dan tampak khawatir.


Tidak butuh lama, seorang dokter sudah datang. Jager segera meminta dokter itu memeriksa keadaan putrinya dan dia semakin khawatir.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Dad. Vivi pasti baik-baik saja," Damian mencoba menenangkan ayahnya.


"Daddy tahu, Damian. Daddy hanya sedikit takut," jawab ayahnya.


Vivian tersadar dari pingsanya dan tampak heran karena seorang dokter sedang memeriksa keadaannya. Apa yang terjadi?


"Sebaiknya anda tidak terlalu lelah dan menjaga diri anda baik-baik, Nyonya," ucap dokter itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Vivian.


"Anda sedang hamil."


"Apa?" Vivian sangat kaget mendengarnya begitu juga dengan Jager dan Damian.


"Ha-hamil?" Mata Jager berkaca-kaca dan tidak percaya mendengarnya.


"Ya, sebaiknya tidak membiarkannya mengangkat barang berat," jawab dokter pribadinya.


"Aku akan punya cucu, aku akan punya cucu!" ucap Jager dan tanpa pikir panjang Jager memeluk tubuh Damian dan mengangkatnya ke atas. Dia bahkan memutar Damian karena dia begitu senang.


"Dad!" Damian berteriak karena tiba-tiba ayahnya memeluknya dan memutarnya tapi naas, saat putaran kedua mereka terjungkal ke atas lantai.


"Gubrak!" mereka jatuh dengan keras. Damian berteriak dan Jager meringis, sedangkan Vivian tertawa dan dokter pribadi mereka menggeleng.


"Oh my God, Dad! Kau sudah tua!" ucap Damian.


"Pinggangku, oh," Jager memegangi pinggangnya yang nyeri.


Damian membantu ayahnya untuk berdiri dan sekarang tugas dokter pribadi mereka bertambah.


"Ck, Daddy tidak sadar umur!" ucap Damian.


"Daddy terlalu senang, akhirnya Daddy akan jadi kakek," ucap Jager.


Vivian mengusap perutnya sambil tersenyum. Tidak ingin membuang waktu, Vivian mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan untuk Matthew.


"Pasukan kita sudah jadi, Matth," ini pesan yang dia kirimkan.


Matthew masih rapat ketika Vivian mengirimkan pesan. Dia segera membaca pesan itu dan tampak tidak percaya.


"Kau serius, Babe?" tanya Matthew melalui sebuah pesan yang dia kirimkan.


"Yes," jawab Vivian sambil mengirimkan foto perutnya.


"Yes!" Matthew bersorak senang dan melompat berdiri dari duduknya.


Semua mata melihatnya begitu juga dengan Michael, dia melihat kakaknya dengan heran karena kakaknya tampak begitu gembira.


"Kak."


"Hm, lanjutkan," ucap Matthew karena mereka masih rapat.


"Kenapa kau begitu senang?" bisik Michael setelah kakaknya duduk kembali.


"Pasukanku sudah jadi, Mich."


"Kakak serius?"


"Tentu saja."


"Bagus, aku sudah tidak sabar mengajari keponakanku membuat bom dan meretas."


"Kita berdua yang akan mengajarinya nanti," ucap Matthew sambil terkekeh.


Kabar gembira itu langsung sampai ke telinga Kate dan Alice, mereka begitu senang dan mereka segera mendatangi rumah Jager Maxton untuk melihat keadaan Vivian.


Kabar gembira itu juga sudah sampai pada David Adison dan keluarganya, mereka juga senang tapi mereka tidak bisa datang begitu saja.


Ketika hari sudah siang, Matthew dan keluarganya datang. Dia sangat senang dan menghampiri istrinya yang berbaring di atas ranjang. Vivian tampak bahagia begitu juga dengan Matthew. Buah cinta mereka berdua sudah tumbuh dan mereka akan melengkapi kehidupan mereka.


Matthew mencium bibir Vivian dengan mesra dan dia akan menjaga mereka untuk seumur hidupnya.


Mereka semua benar-benar bahagia apalagi Jager Maxton, tapi sayangnya saat ini dia dalam masalah karena nyeri di pinggangnya.

__ADS_1


__ADS_2