
Vivian sudah diijinkan untuk pulang karena lukanya sudah sembuh dan hari ini dia akan pulang bersama dengan Matthew ke rumahnya tapi sebelum itu, dia mau pergi ke kantor terlebih dahulu untuk bertemu dengan atasannya karena ada yang ingin dia bahas.
Vivian masih berada di rumah sakit merapikan barang-barangnya dan dia meminta tolong kepada Matthew untuk mengurus administrasi selama dia dirawat di sana.
Rasanya jadi aneh, pria yang dia sangka seorang supir dan punya banyak hutang sampai kemarin tiba-tiba bisa membayarkan biaya rumah sakit menggantikannya. Walaupun Matthew berkata dia yang akan membayar dan meminta Vivian untuk tidak memikirkan biayanya, dia akan tetap menggantinya nanti karena dia tidak mau berhutang budi.
Setelah selesai merapikan barang-barangnya, Vivian duduk di sisi ranjang menunggu Matthew sambil mengirim pesan kepada Patrik dan mengatakan jika dia akan kembali bekerja hari ini.
Hal ini tentu membuat Patrik senang karena rekannya bisa kembali bekerja apa lagi ada kasus yang menunggu mereka untuk ditangani.
Begitu selesai, Matthew segera kembali ke dalam ruangan di mana Vivian telah menunggunya, dia bukan pergi membayar biaya rumah sakit karena rumah sakit itu adalah rumah sakit pribadi keluarganya. Dia tidak perlu repot melakukan hal itu, dia hanya ingin berbicara dengan dokter yang menangini Vivian untuk memastikan keadaannya.
Matthew segera kembali setelah memastikan keadan Vivian karena dia sudah tidak sabar membawa Vivian pulang ke rumahnya.
Vivian masih berdiam diri saat Matthew masuk ke dalam dan menghampirinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan babe?"
"Oh tidak ada, apa sudah selesai?" tanya Vivian sambil memandangi wajah Matthew.
"Sudah, ayo kita pergi!" ajak Matthew.
"Thanks, aku akan mengganti uangmu nanti."
"Tidak perlu!" tolak Matthew.
"Tidak boleh menolak dan aku tetap akan menggantinya. Sekarang antarkan aku ke kantor!" pinta Vivian.
"What? Kau akan ke kantor?" Matthew benar-benar tidak percaya.
"Ya, ada kasus penting yang harus aku bahas dengan atasanku!"
"Tapi kau baru saja sembuh babe, sebaiknya beristirahat satu atau dua hari lagi."
"Ck, aku sudah beristirahat selama berhari-hari dan ada kasus penting yang harus aku tangani besok jadi antarkan aku ke kantor."
"Baiklah, tapi jika sudah selesai hubungi aku, aku akan menjemputmu."
"Thanks," ucap Vivian sambil tersenyum.
Matthew menghampiri Vivian dan mencium bibirnya, dia harus sedikit berterima kasih karena berkat kejadian yang dialami Vivian, mereka sudah saling terbuka dan yang membuatnya lebih senang adalah, mulai hari ini Vivian akan tinggal bersama dengannya.
__ADS_1
Rasanya sudah tidak sabar melakukan banyak hal menyenangkan bersama dengan Vivian dan juga mengajarkan banyak hal menyenangkan pada gadis itu.
Karena tidak mau membuang waktu, Vivian meminta Matthew untuk segera mengantarnya ke kantor. Supaya tidak ada yang mencurigainya, Vivian meminta Matthew menghentikan mobilnya agak jauh dari kantornya. Jangan sampai ada rekannya yang melihat jika dia sedang bersama dengan Matthew Smith.
"Babe, hati-hati," ucap Matthew sebelum Vivian hendak turun dari mobilnya.
"Jangan khawatir, hari ini aku hanya membahas kasus dengan atasanku. Terima kasih sudah mengantarku!" Vivian mengecup bibir Matthew sejenak dan membuka pintu.
"Jangan lupa kabari aku jika sudah mau pulang babe, aku akan menjemputmu!" teriak Matthew.
"Yes sir!" jawab Vivian seraya menutup pintu mobil dan berjalan pergi.
Matthew tersenyum dan memandangi Vivian berjalan dengan terburu-buru menuju kantornya dan setelah melihat Vivian masuk, Matthew menjalankan mobilnya dan pergi menuju kantor.
Begitu Vivian masuk ke dalam, dia disambut oleh rekan-rekannya dan mereka mulai menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa menjawab pertanyaan mereka Vivian menghampiri mejanya dan duduk di sana.
"Angel, akhirnya kau kembali juga!" ucap Patrik.
"Maaf jika cuti terlalu lama," jawab Vivian tidak enak hati.
"Bukan begitu Angel, kami sangat menghawatirkanmu apalagi Patrik," ucap salah satu rekannya yang ingin tahu keadaannya.
"Terima Kasih tapi aku baik-baik saja."
"Tidak Patrik, aku melarikan diri dalam keadaan terluka. Aku menyembunyikan diri untuk beberapa waktu karena aku khawatir orang-orang itu mengejarku!" dusta Vivian.
"Benarkah?" tanya semua rekannya yang ada di sana dan mereka melihat ke arah Vivian.
"Tentu saja benar," jawab Vivian seraya memandangi rekan-rekannya dan dia merasa ada yang memandanginya dengan tajam saat itu.
Rasa curiga muncul di hati Vivian, kenapa rekan-rekannya berkumpul untuk mencari tahu siapa yang telah membantunya. Dia benar-benar curiga akan hal ini apalagi sedari tadi dia merasa ada yang memandanginya.
"Oh aku harus menemui atasan," ucap Vivian beralasan.
Dia segera bangkit berdiri dan berjalan pergi menuju lift tapi sebelum itu, Vivian memalingkan wajahnya dan melihat rekan-rekannya yang sedang membubarkan diri tapi satu hal yang dia dapatkan, Patrik masih melihatnya dan belum juga memalingkan matanya.
Vivian berjalan dengan terburu-buru dan entah mengapa dia jadi semakin curiga dengan Patrik. Selama ini Patrik sangat ingin tahu siapa yang membantunya, apakah Patrik punya tujuan?
Karena tidak mau memikirkannya, Vivian segera masuk ke dalam lift yang terbuka untuk menuju ruangan atasannya. Lebih baik dia fokus dengan kasus yang akan dia tangani besok tapi seseorang mengikutinya dari belakang untuk mencari tahu apa yang ingin dibahas oleh Vivian dengan atasan mereka.
Dia harus mendapatkan informasi yang dia butuhkan tapi dia tidak tahu jika Vivian sudah menyadari jika seseorang mengikutinya secara diam-diam.
__ADS_1
Begitu tiba di ruangan atasannya, Vivian mengetuk pintu dengan perlahan dan dari dalam sana terdengar suara seorang pria mempersilahkannya untuk masuk.
"Selamat pagi sir," ucap Vivian seraya memberi hormat.
"Oh Angel, aku senang kau sudah kembali. Mari kita bahas mengenai?" sang kapten menghentikan ucapannya saat melihat tanda dari Vivian yang menunjuk matanya menggunakan dua jarinya dan setelah itu Vivian menunjuk ke arah pintu di mana seseorang memang ingin memasang alat untuk menguping pembicaraan mereka.
Vivian berjalan menuju pintu dan membukanya tapi pada saat itu dua rekannya sudah berdiri di depan pintu sambil membawa beberapa berkas yang mau mereka serahkan pada sang kapten.
"Angel, ada apa?" tanya kedua rekannya.
"Tidak ada apa-apa," Vivian tersenyum dan setelah melihat tidak ada yang mencurigakan dia masuk kembali.
Ketika kedua rekannya sudah pergi, Vivian dan sang kapten mulai membahas kasus yang akan ditangani besok.
"Kapten, bolehkan kasus ini aku yang menanganinya?" pinta Vivian.
"Maksudmu Angel?"
"Aku mulai curiga dengan seseorang yang ada di agensi. Selama ini kita menyusun rencana dengan matang tapi selalu gagal dan buronan yang berinisial M mengalihkan perhatian kita menggunakan bom yang dia sembunyikan. Tidak hanya itu, waktu itu kita hanya mendapat kapal kosong dan sepertinya buronan kita sudah tahu jika kita akan menyergap. Aku curiga jika ada yang membocorkan rencana kita kepada buronan sehingga misi kita gagal!" jelas Vivian panjang lebar.
"Jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan?" tanya sang kapten.
"Jika kapten mempercayakan misi kali ini padaku maka aku akan membawa pasukan dan langsung menyergap tanpa perlu menyusun rencana terlebih dahulu. Aku akan langsung memberi perintah saat itu juga dan jika misi kali ini berhasil berarti memang ada mata-mata diorganisasi yang memantau gerak gerik kita selama ini."
Sang kapten berpikir sejenak dan memandangi Vivian, agen yang di utus dari Inggris bukan agen biasa dan dia percaya Vivian tidak akan salah mengambil keputusan.
"Baiklah Angel, aku serahkan misi ini padamu dan jika memang ada penghianat diorganisasi maka kita harus segera menangkapnya!" ucap sang kapten.
"Terima kasih atas kepercayaannya kapten!" Vivian memberi hormat dan setelah selesai, Vivian keluar dari ruangan dan kembali ke mejanya.
Ketika dia kembali ke tempatnya, tatapan seseorang benar-benar membuatnya curiga dan Vivian merasa dia harus waspada.
Saat itu Patrik menghampirinya dengan segelas kopi ditangannya, dia segera meletakkan kopi itu di depan Vivian.
"Apa yang kau bahas dengan kapten?" tanya Patrik.
Vivian memandangi Patrik dan tersenyum, "Tidak ada hal penting, kapten akan menyediakan rumah dinas baru untukku!" jawab Vivian berdusta.
"Benarkah? Aku kira kalian membahas kasus yang akan kita tangani besok?"
"Tidak!" jawab Vivian lagi sambil tersenyum.
__ADS_1
Patrik menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan pergi, ini aneh, biasanya atasan mereka akan mengumpulkan para agen untuk membuat rencana tapi kenapa kali ini tidak?
Vivian memandangi kepergian Patrik dengan curiga, jika memang ada penghianat diorganisasi dan ternyata Patrik orangnya maka dia akan menangkap Patrik tanpa ragu. Tapi jika benar ada penghianat dia harap bukan Patrik orangnya.