
Malam itu seorang pria sedang berlutut dihadapan bosnya yang sedang duduk di depannya sambil menghisap sebuah cerutu, mata pria itu menatap anak buahnya yang kembali karena gagal membunuh Matthew Smith.
Setelah melarikan diri, pria itu segera mencari bosnya untuk memberi laporan jika mereka gagal dan para rekannya mati dibunuh oleh Matthew Smith dengan kondisi kepala terlepas dari lehernya.
Asap cerutu berhembus dan pria itu diam saja sambil menatap anak buahnya yang gagal menjalankan tugas. Hanya membunuh satu orang saja kenapa mereka gagal? Memangnya sehebat apa Matthew Smith?
"Jadi?" pria itu membuka suaranya dan menghisap cerutunya kembali.
"Ma...maaf bos, aku akan mengumpulkan orang lagi dan kali ini aku tidak akan membuat kesalahan," ucap anak buahnya ketakutan.
"Tapi aku tidak terima kegagalan kau tahu?" ucap pria itu dengan dingin.
"Berikan aku satu kesempatan lagi bos, kali ini aku tidak akan gagal!" ucap anak buahnya ketakutan.
"Tidak ada kesempatan untukmu jadi terimalah kematianmu dan temui para rekanmu!"
"Bos jangan!" teriak anak buahnya tapi suara letusan senjata api dan sebuah peluru sudah melesat ke arah pria itu dan menembus kepalanya.
Tubuh anak buahnya ambruk ke atas lantai dan darah mulai membasahi lantai juga karpet beludru mahal miliknya. Pria itu mematikan api cerutunya dan bangkit berdiri. Sepertinya dia terlalu meremehkan Matthew Smith dan sebaiknya dia mengubah strategi, mencari sekutu atau mencari kelemahan pria itu mungkin harus dia lakukan. Lagi pula semua orang pasti punya kelemahan bukan?
Pada saat itu seorang pria masuk ke dalam diantar oleh seorang pelayan dan pria itu adalah Carlk. Dia datang ke sana untuk membicarakan bisnis dengan Thomas.
"Wow, apa yang baru saja terjadi Thomas?" tanya Carlk saat melihat tubuh seseorang yang sudah tidak bernyawa dan sedang dibereskan oleh anak buah Thomas.
Thomas melirik ke arah Carlk sejenak tapi kemudian dia meraih sebotol minuman, menuangnya ke dalam gelas dan meneguknya dengan cepat untuk menenangkan emosinya di depan rekan bisnisnya.
"Hanya anak buah yang bodoh, selalu gagal menjalankan perintah!" jawab Thomas seraya berjalan menghampiri Carlk yang sudah duduk di sofa.
"Sepertinya ada yang ingin kau habisi Thomas?"
"Yeah, seperti yang kau tebak. Aku sangat ingin membunuh Matthew Smith karena aku sangat membencinya dan dia telah menggagalkan rencanaku untuk mendapatkan putri wali kota!" jawab Thomas sambil membakar sebuah cerutu dengan kemarahan di hari.
__ADS_1
Carlk tersenyum dengan licik, sungguh sebuah kebetulan yang luar biasa.Ternyata mereka punya musuh yang sama.
"Thomas....Thomas, kau terlalu meremehkannya! Untuk menghadapinya kau perlu otak yang cerdik dan trik licik! Kita punya musuh yang sama dan aku juga membencinya. Asal kau tahu, aku sudah mencoba membunuhnya beberapa kali menggunakan orang-orangku bahkan seorang sniper sudah aku kerahkan tapi sayang selalu gagal!" ucap Carlk.
"Sepertinya kau benar, aku terlalu meremehkannya dan sepertinya aku harus benar-benar mencari kelemahannya!" jawab Thomas.
Selagi mereka sedang berbicara tiba-tiba saja ponsel Carlk berbunyi. Pria itu segera meraih ponselnya untuk berbicara dengan seseorang yang menghubunginya.
"Tuan Max, kami gagal!" ucap Ella.
Saat Ella tersadar dia langsung berteriak karena mendapati dia sedang berada di dalam tong sampah. Yang membuatnya berteriak histeris adalah, saat binatang berkaki empat berkeliaran di atas tubuhnya.
Ella mengumpat marah dan memaki. Rasanya dia ingin membunuh Vivian karena membuangnya ke dalam tong sampah? Apa gadis itu mengira dia adalah sampah?
Ketika mendengar laporan dari Ella, api kemarahan menguasai hati Carlk. Ponsel yang ada di tangan dia genggam dengan erat dan jika saja dia tidak sedang di rumah rekan bisnisnya maka sudah dia banting ponselnya ke atas lantai.
"Dasar sampah! kenapa tidak ada yang bekerja dengan benar?!" umpatnya marah apalagi mata-matanya tidak berguna sama sekali. Sepertinya dia harus menghubungi wanita itu.
"Ada apa denganmu Carlk, sepertinya kau juga gagal ingin membunuh seseorang?" tanya Thomas seraya menghembuskan asap dari mulutnya.
"Ck, sepertinya kau menyimpan dendam dengan seseorang selain dengan Matthew Smith."
"Tentu saja Thomas, sebelum orang yang membunuh ayahku mati dengan tragis dan menyedihkan maka dendam ini akan tetap ada. Aku telah menyusun rencana untuk menghasut dan mengadu domba mereka tapi si tua bangka itu sulit ditemui karena penyakitnya!"
"Kenapa kau tidak biarkan saja, bukankah tidak lama lagi dia akan mati Karena penyakitnya?" tanya Thomas dengan heran.
"Kau tidak paham, beberapa tahun lalu aku bertemu dengan seorang gadis dan kami menjalin hubungan. Tapi saat ayahku mati dibunuh oleh baj*ngan itu, aku mulai menyelidiki kematian ayahku dan apa kau tahu apa yang aku dapatkan?" Carlk tersenyum dengan liciknya.
"Hm, sepertinya kisah yang rumit!" jawab Thomas.
"Tidak juga, sekarang dia adalah pionku untuk membalas dendam tapi seseorang selalu membantunya dan dia bisa jadi ancaman terbesar untukku balas dendam!"
__ADS_1
Thomas diam saja dan pada saat itu sebuah ide muncul di kepalanya, mereka tidak saja menjadi rekan bisnis tapi sepertinya mereka bisa menjadi partner untuk menghabisi Matthew Smith.
"Carlk aku punya ide!" ucap Thomas.
"Ide bagus apa yang kau punya Thomas?" Carlk menatap rekan bisnisnya dengan tajam.
"Bagaimana jika kita bekerja sama Carlk?"
"Maksudmu?"
"Kita punya musuh yang sama yaitu Matthew Smith dan kita sudah membencinya sejak lama. Tidak saja menggagalkan rencana kita tapi dia juga saingan bisnis jadi bagaimana jika kita bekerja sama untuk menghabisinya? Saat dia sudah mati maka aku akan membantumu membalas dendam!"
"Ide bagus, tapi kita harus berhati-hati karena dia bukan orang sembarangan!" ucap Carlk.
"Tenang saja, aku hampir melupakan seseorang. Dia akan menjadi pionku dan aku rasa dialah kelemahan terbesar Matthew Smith!" ucap Thomas dengan penuh percaya diri.
"Oh ya, siapa?"
"Clarina. Dia adalah putri wali kota dan sahabat Matthew Smith sejak kecil! Jika bukan karena Matthew Smith dia sudah jadi milikku sekarang dan aku sudah menjadi menantu wali kota! Tapi ba*inga itu menggagalkan semua rencanaku!" jawab Thomas dengan kemarahan di hati.
Carlk menatap Thomas dan berpikir, sepertinya bekerja sama dengan Thomas bukanlah ide buruk. Mereka memiliki musuh yang sama dan dia akan menggunakan kesempatan ini untuk melenyapkan Matthew Smith.
"Jadi, apa rencanamu? Sebaiknya kau membuat rencana yang matang agar kita tidak gagal lagi seperti yang sudah-sudah!"
"Aku yakin kali ini tidak akan gagal!" jawab Thomas sambil tersenyum dengan licik.
Thomas sangat yakin Clarina adalah kelemahan Matthew Smith jadi dia segera mengatakan idenya untuk memanfaatkan Clarina. Walaupun dia mendengar Clarina masih berada di Italia tapi dia akan memancing wanita itu pulang.
Carlk mengangguk mendengar ide cemerlang yang diberikan oleh Thomas, dia akan mengikuti ide Thomas dan mereka akan menyusun rencana yang matang supaya tidak gagal lagi seperti yang sudah-sudah bahkan Thomas berkata dia akan memaksa Clarina pulang dari Italia dan pada saat itu mereka akan menghancurkan Matthew Smith.
"Baiklah, saat menjalankan rencana kita, kau bisa menggunakan sesuatu yang aku buat tapi tunggulah, benda itu belum selesai!" ucap Carlk dan benda yang dibuat oleh sahabatnya akan berguna saat rencana mereka di jalankan.
__ADS_1
Thomas tersenyum dan bangkit berdiri, dia segera menuang minuman untuknya dan Carlk. Mereka mengadukan gelas sampai berbunyi dan meneguk isinya dengan cepat.
Malam itu sebuah konspirasi terbentuk begitu saja padahal mereka hendak membicarakan bisnis tapi karena mereka mempunyai musuh yang sama jadi tidak ada salahnya bekerja sama dan mereka akan memanfaatkan putri wali kota agar rencana untuk membunuh Matthew Smith berhasil.