
Setelah mereka kembali ke kamar, mereka segera bersiap-siap untuk kembali ke California. Satu masalah telah selesai tapi masalah lain telah menunggu mereka saat mereka sudah tiba di California nanti.
Tentu ini jadi problem baru bagi mereka yang pastinya, Marta yang paling takut putrinya diambil dari mereka.
Entah siapa yang mengaku sebagai orangtua Vivian dan dia tidak rela putri yang dibesarkannya dan yang sangat disayanginya diambil begitu saja.
Selama menuju bandara International Jhon F. Kennedy, wajah Marta tampak murung dan rasanya dia ingin mengajak Vivian kembali ke Inggris. Tapi seandainya dia melakukan hal itu dia juga tidak bisa mengubah kenyataan jika Vivian bukan putrinya.
Jika bisa memilih dia sangat bersedia menjai ibu yang melahirkan Vivian tapi sayang, Vivian hanya bayi yang dibawa pulang oleh ayahnya saat menangani bentrokan.
Saat mereka tiba, pesawat pribadi Matthew sudah siap. Mereka segera naik ke dalam pesawat dan tidak lama kemudian pesawat terbang menuju California.
Di dalam pesawat, Vivian duduk bersama dengan keluarganya karena dia ingin dekat dengan mereka. Mereka sudah lama tidak bertemu dan dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya selama di perjalanan tapi bukan itu saja, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ibunya bilang bahwa kakeknya yang membawanya pulang jadi dia ingin tahu dari kakeknya, dimana kakeknya menemukan dirinya dan inilah saatnya bertanya.
"Kakek," Vivian memberanikan diri, bagaimanapun dia tidak bisa menghindari masalah ini.
"Ada apa Vivi?"
"Mommy bilang kakek yang membawaku pulang, apa benar?" tanya Vivian sambil memandangi kakeknya.
"Benar, kakek yang menemukanmu saat itu dan kakek yang membawamu pulang," jawab David tanpa ragu.
"Sebenarnya apa yang terjadi kakek?" tanya Vivian penasaran.
David tersenyum dan mengusap kepala Vivian, dia tahu Vivian pasti sulit menerima hal ini tapi memang mereka tidak bisa menyembunyikannya lagi.
"Bagaimana jika kita bahas hal ini saat kita bertemu dengan orang yang mengaku sebagai orangtuamu?" ucap David.
"Benar Vivi, kita bahas hal ini nanti setelah bertemu dengan orang itu tapi sekarang katakan pada kami, siapa yang mengaku sebagai orangtuamu?" tanya ayahnya.
"Dia seorang pria tua dan aku mencurigainya sebagai buronan yang aku cari. karena dia benci dengan penegak hukum jadi dia tidak mau menemuiku tapi Matthew membantuku agar kami bisa bertemu tapi siapa yang menyangka, dia sangat kaget melihatku karena wajahku mirip dengan istrinya yang sudah tiada dan tidak hanya itu saja, dia bilang putrinya memiliki tanda lahir di belakang telinga seperti yang aku punya, "jelas Vivian.
David diam saja, memang wajah Vivian sangat mirip dengan wanita yang melindunginya saat dia menemukannya dan bisa dia simpulkan, wanita itu adalah ibu Vivian.
"Kenapa kau mencurigainya Vivi?" tanya ibu pula.
"Mom, dia seorang pemimpin organisai Black King dan dia adalah?" Vivian menunduk, bagaimana dia mengatakannya jika Jager Maxton adalah seorang mafia?
David memandangi cucunya dengan heran, seorang pemimpin organisasi? Jangan katakan jika di dalam darah Vivian mengalir darah seorang mafia.
"Vivi, jangan katakan jika orang yang mengaku sebagai ayahmu adalah seorang mafia," ucap David.
Marta dan Charles saling pandang sedangkan Vivian mengangguk, memang itu kenyataannya dan dia tidak ingin membohongi keluarganya.
"Oh my God, bagaimana ini dad, aku tidak mau menyerahkan Vivian pada seorang penjahat," ucap Marta.
__ADS_1
"Jika Vivian diambil olehnya, apa Vivian akan menjadi mafia seperti dirinya?" ucap Charles pula.
"Diam!" ucap David dengan lantang.
Ini benar-benar hal mengejutkan bagi mereka, jadi Vivian adalah putri seorang mafia? Tidak saja berhubungan dengan mafia tapi ternyata di dalam darah Vivian juga mengalir darah seorang mafia.
"Mom, dad, aku masih putri kalian bukan?" tanya Vivian dengan wajah sedih.
"Tentu saja sayang, sampai kapanpun kau adalah putri kami," jawab Marta seraya memeluk putrinya.
"Kita bahas masalah ini nanti setelah bertemu dengan orang itu, jika benar Vivian adalah putrinya kita tidak bisa mengubah apapun tapi kakek sangat berharap padamu Vivi, jika dia memang ayahmu, kakek harap kau tidak mengikuti jejaknya."
"Tentu saja kakek, aku berjanji pada kalian semua jika aku tidak akan mengikuti jejaknya. Lagi pula dia punya seorang putra dan dia yang akan menggantikan posisinya, bukan aku." jawab Vivian.
Bagaimanapun Damian adalah putra Jager Maxton dan dia adalah kakaknya, tentu dia tidak mau berebut kekuasaan dan lagi pula, dia tidak berminat menjadi pemimpin organisasi Black King.
"Baiklah, kakek ingin beristirahat dan kita bahas masalah ini lebih lanjut setelah kita bertemu dengannya," David bangkit berdiri dan dia berjalan menuju sebuah kamar.
"Mom, dad, kalian juga beristirahatlah. Perjalanan masih panjang dan aku ingin mencari Matthew," ucap Vivian.
Charles dan Marta mengangguk sedangkan Vivian berlalu pergi menuju kamar dimana Matthew menunggunya.
Begitu pintu kamar terbuka, Matthew tersenyum melihat Vivian dan mengulurkan tangannya.
"Kemari babe."
"Maaf meninggalkanmu sendirian Matth."
Vivian naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam pelukan Matthew, sedangkan Matthew mengusap kepalanya dan mencium dahinya.
"Matth."
"Hm?"
"Setelah tiba di California nanti, keluargaku tinggal dimana? Tidak mungkin bukan kita meninggalkan mereka di hotel?"
"Kau tidak perlu khawatir babe, aku sudah menyiapkan tempat untuk mereka."
"Oh ya?"
"Yes, aku sudah memerintahkan James membersihkan rumah lama nenekku. Mereka akan nyaman tinggal di sana."
"Terima kasih Matth, kau bahkan sudah memikirkan hal ini sebelum aku mengutarakannya."
"Tentu saja babe, selama kau bersama denganku, kau tidak perlu menghawatirkan apapun."
"Thanks," Vivian mengecup bibir Matthew sejenak.
__ADS_1
"Oh my, ingat dengan tantangan kita bukan?"
"Tentu, tapi ada yang ingin aku tanyakan padamu Matth."
"Apa itu babe?"
"Kau bilang nenekmu mantan polisi, apa benar?" tanya Vivian, dia penasaran dengan hal ini.
"Yes, nenekku memang mantan polisi dan ayah nenekku mantan FBI."
"Wow, benarkah?" Vivian langsung duduk di atas ranjang.
"Ya, mereka memang penegak hukum dan apa kau tahu apa profesi ibuku dulu?" Matthew memeluk Vivian dari belakang dan mencium lehernya.
"Apa ibumu juga mantan polisi?"
"No, kau tahu profesi paling rendah apa?"
"Tidak mungkin!" ucap Vivian tidak percaya.
"Yes babe, ibuku sama sepertimu. Dia juga anak adopsi tapi dia dibesarkan oleh orang yang salah. Ibuku dijadikan alat untuk mencuri oleh orang yang membesarkannya saat itu."
"Oh my God!" Vivian menutup mulutnya dan tampak tidak percaya.
"Masa kecilku kurang bagus babe tapi jika kau mau mendengarnya maka aku akan menceritakannya padamu."
"Sepertinya ini cerita yang panjang," ucap Vivian.
"Yes, mau mendengarnya?"
"Tentu, tapi sebelum itu bagaimana jika kita? Aku ingin mencobanya di dalam pesawat," Vivian mengigit bibirnya menggoda.
"Oh aku hampir lupa!"
Matthew membaringkan Vivian ke atas ranjang dan mencium bibirnya sedangkan Vivian membalas ciumannya.
"Ingat babe, jangan berisik jika tidak mau didengar oleh keluargamu," bisik Matthew sambil mengigit daun telinga Vivian.
"Itu tergantung permainanmu Mr Smith."
"Kau menantangku sayang?"
"Yes, buat aku terbang karena sentuhan dan permainanmu Matth, aku sangat menginginkanmu."
"Seperti keinginanmu babe," ucap Matthew.
Matthew kembali mencium bibir Vivian dan tangan mereka mulai sibuk begitu juga dengan lidah mereka, desahan mereka terdengar memenuhi kamar dan seperti yang Vivian inginkan, Matthew membuatnya terbang dengan permainannya dan mereka tampak bahagia karena sensasi nikmat yang mereka rasakan.
__ADS_1
Selama diperjalanan Mereka menghabiskan waktu berdua di dalam kamar, tidak saja bercinta tapi juga bercerita. Matthew menceritakan masa kecilnya pada Vivian sebelum bertemu dengan ayahnya dan masa itu adalah masa paling sulit bagi mereka.
Vivian tampak antusias mendengarnya dan dia tidak menyangka Matthew pernah mengalami hal sulit dulu tapi begitulah kehidupan, semua bisa tiba-tiba berubah tanpa kita inginkan dan sebentar lagi, dia akan tahu jati dirinya setelah keluarganya bertemu dengan Jager Maxton.